Forsan Salaf

Beranda » Artikel » ِAhlul Bait Keturunan Rasulullah SAW

ِAhlul Bait Keturunan Rasulullah SAW

ahlubaitSyubhat :

Banyak orang yang mengaku mencintai ahlul bait akan tetapi membenci para istri Rasulullah SAW.  Mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul bait dalam ayat :

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33)

”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (Al Ahzab : 33 )

Hanyalah Sayidina Ali, Fatimah, Hasan dan Husain r.a, sesuai dengan suatu riwayat yang menceritakan bahwa ketika ayat tersebut turun di rumah Umi Salamah (salah satu istri Rasul), Dia menanyakan apakah dia termasuk dalam ahlul bait, Rasul menjawab “Tetaplah di tempatmu, engkau berada dalam kebaikan”, dari situ mereka membuat kesimpulan bahwa Istri Rasul bukanlah termasuk ahlul bait.

Terdapat pula kaum yang mempertanyakan penisbatan nasab Sayidina Hasan dan Husain kepada Rasulullah karena  dalam islam nasab seseorang diambil dari jalur ayah bukan Ibu, sedangkan nasab mereka bersambung kepada Rasulullah melalui jalur ibu mereka yaitu Sayidatuna Fatimah bukan melalui jalur ayah mereka.

Kalaupun mereka termasuk ahlul bait ataupun keluarga Nabi, lantas benarkah mereka menjadi mulia karena memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah, bukankah islam hanya  memandang ketakwaan sebagai patokan keutamaan seseorang bukan dengan nasabnya sebagaimana firman Allah SWT :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al Hujurat : 13 )

Kami Menjawab

Makna Ahlul Bait

Secara harfiyah arti Ahlul Bait adalah penghuni rumah atau kerabat. Berarti ahlul bait Rasul adalah semua penghuni rumah Rasul, dari sini menjadi jelas bahwa istri-istri Beliau termasuk di dalamnya(1). Oleh karena itu tidak diragukan bahwa ahlil bait dalam ayat :

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33)

”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (Al Ahzab : 33 )

Mencakup istri-istri Beliau. Selain itu ayat-ayat yang ada sebelum dan sesudah ayat ini berisi mengenai petunjuk Allah terhadap istri-istri Nabi. Akan tetapi jika yang dimaksud dengan ahlul bait dalam ayat ini hanya istri-istri beliau saja seperti yang dikatakan oleh sebagian ahli tafsir,  maka akan terdapat sedikit kemusykilan karena kata ganti yang digunakan dalam ayat ini adalah kata ganti untuk laki-laki ((كُم bukan untuk wanita (كنّ). berarti yang dimaksud dengan ahlul bait bukan hanya istri-istri beliau saja akan tetapi mencakup juga keluarga Rasul yang lain (dalam bahasa arab, kata ganti laki-laki jamak bisa juga digunakan untuk sekumpulan laki-laki dan wanita, berbeda dengan kata ganti wanita jamak yang hanya bisa digunakan untuk sekelompok wanita saja), mereka adalah Sayidatuna Fatimah, Sayidina Ali, Hasan dan Husain, ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi:

عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه وسلم قال  نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه وسلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا النبي صلى الله عليه وسلم فاطمة وحسنا وحسينا فجللهم بكساء وعلي خلف ظهره فجلله بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فاذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا مَعَهُمْ يا نَبِيَّ اللَّهِ قال أَنْتِ على مَكَانِكِ وَأَنْتِ على خَيْرٍ قال هذا حَدِيثٌ غَرِيبٌ من حديث عَطَاءٍ عن عُمَرَ بن أبي سَلَمَةَ

“Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Rasulullah saw, berkata “ayat ini turun kepada Nabi saw di rumah Umi Salamah yaitu ayat ”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”, kemudian Nabi memanggil Fatimah, Hasan dan Husain, dan menaungi mereka dengan kain kisa`, ketika itu Ali berada di belakang punggungnya kemudian Rasul menaunginya pula dengan kain kisa`, kemudian berkata “ Wahai Allah, inilah Ahlil baitku maka hilangkanlah dari mereka kotoran dan sucikanlah mereka”. Umu Salamah pun berkata “apakah aku bersama mereka wahai rasulullah?”, Rasulullah menjawab “Engkau berada di tempatmu dan engkau berada dalam kebaikan”” (2).

Perkataan Rasulullah kepada Umi Salamah “Engkau berada di kedudukanmu dan engkau berada dalam kebaikan” tidak berarti bahwa istri Rasulullah bukan termasuk dalam ahlul bait akan tetapi maksudnya adalah Umu salamah sudah memiliki kedudukan sebagai ahlil bait karena dia adalah istri Rasul oleh karena itu Rasul berkata “dan engkau berada dalam kebaikan”. Selain itu tidak mungkin Rasulullah memasukkan Umi salamah ke dalam  naungan kisa` karena disana ada Sayidina Ali yang merupakan lelaki ajnabi baginya.

Termasuk dalam lingkup ahlul bait adalah paman-paman beliau yang muslim begitu juga semua keluarga nabi yang diharamkan untuk menerima zakat, ini sesuai dengan perkataan Nabi kepada cucunya ketika mengeluarkan kurma zakat dari mulutnya :

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ آلَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم لَا يَأْكُلُونَ الصَّدَقَةَ  ) صحيح البخاري – (2 / 541(

“Apakah engkau tahu bahwa keluarga Muhammad tidak memakan shadaqah (zakat)” (HR Bukhari)

Dari hadits ini bisa kita ketahui bahwa keluarga Nabi (آل النبي) adalah mereka yang diharamkan untuk menerima zakat, yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthalib menurut madzhab Syafii, berarti para paman-paman beliau termasuk keluarga nabi yang harus dihormati.

Jika mereka termasuk آل النبي, berarti mereka termasuk juga dalam ahlul bait nabi karena secara bahasa arti آل tak berbeda dengan Ahli yaitu kerabat. Oleh karena itu sebagian ahli bahasa menganggap  tidak ada perbedaan antara istilah ahlu dan Al (آل). Ini bisa dilihat dari tashghir keduannya ke dalam satu lafadz yang sama yaitu اهيل (3).

Nasab sayidina Hasan dan Husain

Sedangkan mengenai nasab Sayidina Hasan dan Husain, yang dinisbatkan kepada Rasulullah melalui jalur ibu mereka yaitu Sayidatuna Fatimah.  Hal ini merupakan kekhususan mereka, ini berdasarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw :

عن جَابِرٍ رضي اللَّهُ عنه قال قال رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم  إِنَّ اللَّهَ عز وجل جَعَلَ ذُرِّيَّةَ كل نَبِيٍّ في صُلْبِهِ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ ذُرِّيَّتِي في صُلْبِ عَلِيِّ بن أبي طَالِبٍ رضي اللَّهُ عنه

“Dari Jabir t berkata” Rasululah saw bersabda : Sesungguhnya Allah telah menjadikan keturunan setiap nabi dalam sulbinya masing-masing dan sesungguhnya Allah menjadikan keturunanku dalam sulbi Ali bin Abi Thalib”.(4)

Akan tetapi tidak semua keturunan Sayidina Ali bin Abi Thalib nasabnya disambungkan kepada Rasulullah. Karena penisbatan ini hanya dikhususkan bagi keturunan Sayidina Ali dari Sayidatuna Fatimah, putri Rasulullah sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat lain :

عن عُمَرَ رضي اللَّهُ عنه قال سمعت رَسُولَ اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم يقول  كُلُّ بني أُنْثَى فإن عَصَبَتَهُمْ لأَبِيهِمْ ما خَلا وَلَدَ فَاطِمَةَ فَإِنِّي أنا عَصَبَتَهُمْ وأنا أَبُوهُمْ

“Dari Umar, berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, setiap anak dari seorang wanita dinisbatkan kepada ayahnya kecuali anak Fatimah karena sesungguhnya akulah ashabah mereka dan akulah ayah mereka”.(5)

Disamping itu, dalil lain yang menjelaskan akan tetapnya keturunan Rasulullah dan sekaligus menjadi ahlu bait beliau yaitu :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّتِهِ يَوْمَ عَرَفَةَ وَهُوَ عَلَى نَاقَتِهِ الْقَصْوَاءِ يَخْطُبُ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا كِتَابَ اللَّهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي

Dari Jabir bin Abdillah berkata : aku melihat Rasulullah SAW ketika haji di hari Arafah sedangkan beliau ada di atas ontanya berkhutbah dan aku mendengar beliau berkata :” wahai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan pada diri kalian jika kalian mengikutinya maka tidak akan tersesat selamanya yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan keturunanku ahlubaitku “ (H.R. Tirmidzi & Ahmad,).

Dalam riwayat lain:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَكْبَرُ مِنَ الآخَرِ كِتَابُ اللَّهِ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الأَرْضِ وَعِتْرَتِى أَهْلُ بَيْتِى وَإِنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَىَّ الْحَوْضَ »

Dari Abi Sa’id Al-Khudzri berkata :” Rasulullah SAW bersabda : aku tinggalkan pada diri kalian 2 hal, salah satunya lebih besar dari yang lain, yaitu kitabullah (al-Qur’an) sebuah tali penghubung yang dibentangkan dari langit ke bumi, dan keturunannku ahlu bait-ku, sesungguhnya keduanya tidak akan terputus hingga datang sewaktu di telaga Haudh “(H.R. Tirmidzi, Ahmad, Ibn Abi Syaibah, Abi Ya’la, dan lain-lain).

Hadits di atas menjelaskan secara gamblang bahwa :

i.            Keturunan beliau tidak terputus hingga hari kiamat, karena beliau menyatakan dengan ‘itroh (keturunan) yaitu keturunan dari sayyidah Fatimah, putri beliau yang diperjelas dengan pernyataan beliau :” keduanya (al-Qur’an dan keturunan beliau) tidak akan terputus hingga waktu di telaga Haudh”, karena tidak ada telaga Haudh kecuali di hari kiamat. (6)

ii.            Semua dari keturunan beliau (anak-anak dari sydt Fatimah dan keturunannya) termasuk Ahlubait dan tidak ada pengkhususan ahlu bait kepada beberapa orang dari keturunan beliau karena beliau tidak men-takhsis sama sekali.

Dengan demikian keturunan dari putri-putri Nabi yang lain meskipun masih bisa dikatakan sebagai dzuriyah Rasul  akan tetapi nasabnya tidak tersambung kepada Rasulullah. Begitu juga anak dari wanita keturunan siti Fatimah yang menikah lelaki yang bukan ahlul bait, maka nasabnya disandarkan kepada ayah mereka bukan kepada Ibunya.

Ayat taqwa

Dalam islam hubungan kekerabatan dengan orang-orang shaleh merupakan anugrah yang patut untuk disyukuri. Dalam Alqur`an Allah Berfirman :

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu” ( Al Kahfi : 82)

Kedua anak yatim tersebut hartanya terjaga karena kesholehan orang tua mereka, diceritakan oleh sebagian ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan ابوهما (ayahnya) dalam ayat adalah kakek ketujuh dari pihak ibu(7). Jika ini keadaan mereka maka bagaimana dengan keadaan keturunan pemimpin para shalihin, Rasulullah saw.

Hal ini tidak bertentangan dengan ayat :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al Hujurat : 13 )

Jika kita perhatikan potongan ayat sebelumnya  yaitu :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13)

“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Al Hujurat : 13 )

Menjadi jelas bahwa ayat ini tidak menafikan keutamaan nasab karena didalamnya Allah berfirman Bahwa Dia telah membagi manusia kedalam beberapa Syu`ub dan qabilah, sedangkan Syu`ub adalah garis keturunan yang tinggi dan qabilah adalah garis keturunan yang berada di bawah Syu’ub(7). Ini menunjukkan bahwa keutamaan nasab diakui dalam islam akan tetapi keutamaan tersebut menjadi tidak berarti jika tidak dibarengi dengan ketakwaan, oleh karena itu di akhir ayat tersebut Allah berfirman “.Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”.

Dalam hadits sendiri banyak sekali isyarat mengenai hal ini(9), diantaranya adalah perkataan Rasulullah saw :

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ من وَلَدِ إسماعيل وَاصْطَفَى قُرَيْشًا من كِنَانَةَ وَاصْطَفَى من قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي من بَنِي هَاشِمٍ )صحيح مسلم – 4 / 1782)

“Sesungguhnya Allah memilih Bani Kinanah dari keturunan Ismail, dan memilih Quraisy dari kinanah dan memilih Bani Hasyim dari quraisy dan memilih aku dari Bani Hasyim” (HR Muslim)

Hadits Ini menunjukkan keutamaan nasab Quraisy dan Bani Hasyim, dibandingkan dengan suku lainnya jelas keutamaan di sini semata-mata dari segi keturunan saja.

Oleh karena itu tidak benar jika dikatakan bahwa hubungan kekerabatan dengan Rasulullah tidak bisa bermanfaat sama sekali karena Rasulullah saw sendiri pernah bersabda  :

كل سبب ونسب منقطع يوم القيامة إلا ما كان من سببي )سنن البيهقي الكبرى – (7 / 63(

“Setiap sebab dan nasab akan terputus di hari qiyamat kecuali sebabku dan nasabku”(Baihaqi)(10)

Ini menunjukkan bahwa hubungan  kekerabatan dengan Rasulullah memiliki manfaat di hari kiamat.

Referensi

(1)المحكم والمحيط الأعظم – (4 / 355)

( وهُمْ أهَلاتٌ حَوْلَ قَيْسِ بنِ عاصِمٍ  إذا أدَلجُوا بالليلِ يَدْعونَ كَوْثَرَا )  قال سيبويه : وقالوا : أهْلاتٌ ….. الى ان قال وأهلُ المذهب : من يدين به .  وأهلُ الأمر : ولاته . وأهلُ البيت : سكانه . وأهلُ بيت النبي صلى الله عليه وسلم : أزواجه وبناته وصهره ، اعني عليا عليه السلام ، وقيل : نساء النبي صلى الله عليه وسلم ، والرجال الذين هم آله . وفي التنزيل : ) إنما يُريدُ اللهُ لِيُذْهِبُ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أهْلَ البَيْتِ ( القراءة أهل بالنصب على المدح ، كما قال : بك الله نرجو الفضل ، وسبحانك الله العظيم ، وعلى النداء ، كأنه قال : يا أهْلَ البيت ، وقوله تعالى لنوح عليه السلام : ) إنَّهُ لَيْسَ مِنْ أهْلِكَ ( قال الزجاج : أراد ليس من أهلِك الذين وعدتك أن أنجيتهم ، قال : ويجوز أن يكون : ليس من أهل دينك .  وأهْلُ كل نبي : أمته .

المصباح المنير – (1 / 28)

( أهل ) الرجل ( يأهل ) و ( يأهل ) ( أهولا ) إذا تزوج و ( تأهل ) كذلك ويطلق ( الأهل ) على الزوجة و ( الأهل ) أهل البيت والأصل فيه القرابة وقد أطلق على الأتباع و ( أهل ) البلد من استوطنه و ( أهل ) العلم من اتصف به والجمع ( الأهلون ) وربما قيل ( الأهالي ) و ( أهل ) الثناء والمجد في الدعاء منصوب على النداء ويجوز رفعه خبر مبتدأ محذوف أي أنت أهل و ( الأهلي ) من الدواب ما ألف المنازل وهو ( أهل ) للإكرام أي مستحق له وقولهم ( أهلا وسهلا ومرحبا ) معناه أتيت قوما أهلا وموضعا سهلا واسعا فابسط نفسك واستأنس ولا تستوحش و ( الإهالة ) بالكسر الودك المذاب و ( استأهلها ) أكلها ويقال ( استأهل ) بمعنى استحق

(2)سنن الترمذي – (5 / 663)

حدثنا قتيبة حدثنا محمد بن سليمان الأصبهاني عن يحيى بن عبيد عن عطاء بن أبي رباح عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه وسلم قال  نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه وسلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا النبي صلى الله عليه وسلم فاطمة وحسنا وحسينا فجللهم بكساء وعلي خلف ظهره فجلله بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فاذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا مَعَهُمْ يا نَبِيَّ اللَّهِ قال أَنْتِ على مَكَانِكِ وَأَنْتِ على خَيْرٍ قال هذا حَدِيثٌ غَرِيبٌ من حديث عَطَاءٍ عن عُمَرَ بن أبي سَلَمَةَ

صحيح مسلم – (4 / 1883)

حدثنا أبو بَكْرِ بن أبي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بن عبد اللَّهِ بن نُمَيْرٍ واللفظ لِأَبِي بَكْرٍ قالا حدثنا محمد بن بِشْرٍ عن زكريا عن مُصْعَبِ بن شَيْبَةَ عن صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ قالت قالت عَائِشَةُ  خَرَجَ النبي صلى الله عليه وسلم غَدَاةً وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ من شَعْرٍ أَسْوَدَ فَجَاءَ الْحَسَنُ بن عَلِيٍّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ جاء الْحُسَيْنُ فَدَخَلَ معه ثُمَّ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا ثُمَّ جاء عَلِيٌّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ قال { إنما يُرِيدُ الله لِيُذْهِبَ عَنْكُمْ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا }

سنن البيهقي الكبرى – (2 / 149(

80 أخبرنا أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي طاهر الدقاق ببغداد أنبأ أحمد بن عثمان الآدمي ثنا محمد بن عثمان بن أبي شيبة ثنا أبي ثنا محمد بن بشر العبدي ثنا زكريا بن أبي زائدة ثنا مصعب بن شيبة عن صفيه بنت شيبة عن عائشة رضي الله عنها قالت  خرج النبي صلى الله عليه وسلم ذات غداة وعليه مرط مرحل من شعر أسود فجاء الحسن فأدخله معه ثم جاء الحسين فأدخله معه ثم جاءت فاطمة فأدخلها معه ثم جاء علي فأدخله معه ثم قال إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا رواه مسلم في الصحيح عن أبي بكر بن أبي شيبة وغيره عن محمد بن بشر

الدر المنثور – (6 / 605)

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يمر بباب فاطمة رضي الله عنها اذا خرج إلى صلاة الفجر ويقول الصلاة يا أهل البيت الصلاة { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا }    وأخرج مسلم عن زيد بن أرقم رضي الله عنه    أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أذكركم الله في أهل بيتي فقيل : لزيد رضي الله عنه : ومن أهل بيته أليس نساؤه من أهل بيته قال : نساؤه من أهل بيته ولكن أهل بيته من حرم الصدقة بعده آل علي وآل عقيل وآل جعفر

(3)تهذيب اللغة – (ج 5 / ص 200)

وقالت طائفة: الآل والأهل، واحد.واحتجوا بأن ” الآل ” إذا صُغِّر قالوا: أُهَيل، فكان الهمزة هاء، كقولهم: هنرت الثوب وأَنرته، إذا جعلت له علماً.وروى الفراء عن الكسائي في تصغير ” آل ” : أُوَيْل.قال أبو العباس: فقد زالت تلك العلة وصار الآل والأهل أصلين لمعنيين، فيدخل في الصلاة كل من اتبع النبي صلى الله عليه وسلم، قرابة كان أو غير قرابة.

(4) المعجم الكبير – (3 / 43)

0 حدثنا محمد بن عُثْمَانَ بن أبي شَيْبَةَ ثنا عُبَادَةُ بن زِيَادٍ الأَسَدِيُّ ثنا يحيى بن الْعَلاءِ الرَّازِيُّ عن جَعْفَرِ بن مُحَمَّدٍ عن أبيه عن جَابِرٍ رضي اللَّهُ عنه قال قال رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم  إِنَّ اللَّهَ عز وجل جَعَلَ ذُرِّيَّةَ كل نَبِيٍّ في صُلْبِهِ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ ذُرِّيَّتِي في صُلْبِ عَلِيِّ بن أبي طَالِبٍ رضي اللَّهُ عنه

(5)المعجم الكبير للطبراني – (ج 3 / ص 73(

2565- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن زَكَرِيَّا الْغَلابِيُّ ، حَدَّثَنَا بِشْرُ بن مِهْرَانَ ، حَدَّثَنَا شَرِيكُ بن عَبْدِ اللَّهِ ، عَنْ شَبِيبِ بن غَرْقَدَةَ ، عَنِ الْمُسْتَظِلِّ بن حُصَيْنٍ ، عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” كُلُّ بني أُنْثَى فَإِنَّ عَصَبَتَهُمْ لأَبِيهِمْ ، مَا خَلا وَلَدَ فَاطِمَةَ فَإِنِّي أَنَا عَصَبَتَهُمْ ، وَأَنَا أَبُوهُمْ “.

المقاصد الحسنة السخاوي– (ج 1 / ص 172)

حديث: كل بني آدم ينتمون إلى عصبة أبيهم إلا ولد فاطمة فإني أنا أبوهم وأنا عصبتهم، الطبراني في الكبير من طريق عثمان بن أبي شيبة عن جرير عن شيبة بن نعامة عن فاطمة ابنة الحسين عن جدتها فاطمة الكبرى به مرفوعاً، وكذا أخرجه أبو يعلى ومن طريقه الديلمي في مسنده عن عثمان بن أبي شيبة بلفظ: لكل بني آدم عصبة ينتمون إليه إلا ولدي فاطمة فأنا وليهما وعصبتهما، ولم ينفرد به ابن أبي شيبة بل رواه الخطيب في تاريخه من طريق محمد ابن أحمد بن يزيد بن أبي العوام حدثنا أبي حدثنا جرير بلفظ: كل بني آدم ينتمون إلى عصبتهم إلا ولد فاطمة فإني أنا أبوهم وأنا عصبتهم، ومن طريق حسين الأشقر عن جرير بنحوه ولكن شيبة ضعيف، ورواية فاطمة عن جدتها مرسلة، ولكن له شاهد عند الطبراني في ترجمة الحسن من الكبير أيضاً من طريق يحيى بن العلاء الرازي عن جعفر بن محمد عن أبيه عن جابر مرفوعاً: إن الله جعفر ذرية كل نبي في صله وإن الله جعل ذريتي في صلب علي، ويروى أيضاً عن ابن باس كما كتبته في ارتقاء الغرف وبعضها يقوي بعضاً وقول ابن الجوزي في العلل المتناهية: إنه لا يصح ليس بجيد، وفيه دليل لاختصاصه صلى الله عليه وسلم بذلك كما أوضحته في بعض الأجوبة بل وفي مصنفي في أهل البيت.

الفوائد المجموعة للشوكاني بتحقيق المعلمي الشوكاني – (ج 1 / ص 189)

_ حديث : كل بني آدم ينتمون إلى عصبة أبيهم ، إلا ولد فاطمة فإنني أنا أبوهم ، وأنا عصبتهم . قال في المقاصد : فيه إرسال وضعف ، ولكن له شاهد عن جابر ، رفعه : إن الله جعل ذرية كل نبي من صلبه ، وإن الله جعل ذريتي في صلب علي ، وبعضها يقوي بعضا .وقال ابن الجوزي : إنه لا يصح .

التيسير بشرح الجامع الصغير – (2 / 212)

وقال ك + صحيح + فقال الذهبي + بل فيه لين + ( كل بني أم ينتمون إلى عصبة إلا ولد فاطمة فأنا وليهم وأنا عصبتهم ) ومن خصائصه أن أولاد بناته ينسبون إليه بخلاف غيره وأولاد بنات بناته لا يشاركون أولاد الحسنين في الانتساب إليه وإن كانوا من ذريته ( طب عن فاطمة الزهراء ) + بإسناد ضعيف + ووهم المؤلف ( كل بني أنثى فإن عصبتهم لأبيهم ما خلا ولد فاطمة فإني أنا عصبتهم وأنا أبوهم ) انظر كيف خص التعصيب بأولادها دون أختيها ولذلك ذهب جمع إلى أن ابن الشريفة غير شريف إذا لم يكن أبوه شريفاً

(6) لسان العرب – (ج 4 / ص 536)

والعامة تَظُنُّ أَنها ولدُ الرجل خاصة وأَن عترة رسولُ الله صلى الله عليه وسلم ولدُ فاطمة رضي الله عنها هذا قول ابن سيده وقال الأَزهري رحمه الله وفي حديث زيد بن ثابت قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم إِني تارك فيكم الثَّقَلَينِ خَلْفي كتابَ الله وعتْرتي فإِنهما لن يتفرّقا حتى يَرِدا عليّ الحوض وقال قال محمد بن إِسحق وهذا حديث صحيح ورفعَه نحوَه زيدُ بن أَرقم وأَبو سعيد الخدري وفي بعضها إِنِّي تاركٌ فيكم الثَّقَلْين كتابَ الله وعِتْرَتي أَهلَ بيتي فجعل العترة أَهلَ البيت وقال أَبو عبيد وغيره عِتْرةُ الرجل وأُسْرَتُه وفَصِيلتُه رهطه الأَدْنَون ابن الأَثير عِتْرةُ الرجل أَخَصُّ أَقارِبه وقال ابن الأَعرابي العِتْرة ولدُ الرجل وذريته وعِقُبُه من صُلْبه قال فعِتْرةُ النبي صلى الله عليه وسلم وولدُ فاطمة البَتُول عليها السلام وروي عن أَبي سعيد قال العِتْرةُ ساقُ الشجرة قال وعِتْرةُ النبي صلى الله عليه وسلم عبدُ المطلب ولده وقيل عِتْرتُه أَهل بيته الأَقربون وهم أَولاده وعليٌّ وأَولاده وقيل عِتْرتُه الأَقربون والأَبعدون منهم

تحفة الأحوذي – (ج 9 / ص 203)

” إِنِّي تَرَكْت فِيكُمْ مَنْ إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ ” أَيْ اِقْتَدَيْتُمْ بِهِ وَاتَّبَعْتُمُوهُ . وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ : ” تَرَكْت فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ” أَيْ إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ عِلْمًا وَعَمَلًا

” كِتَابَ اللَّهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي” قَالَ التُّورْبَشْتِيُّ عِتْرَةُ الرَّجُلِ أَهْلُ بَيْتِهِ وَرَهْطُهُ الْأَدْنَوْنَ وَلِاسْتِعْمَالِهِمْ الْعِتْرَةَ عَلَى أَنْحَاءَ كَثِيرَةٍ بَيَّنَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ ” أَهْلَ بَيْتِي ” لِيُعْلَمَ أَنَّهُ أَرَادَ بِذَلِكَ نَسْلَهُ وَعِصَابَتَهُ الْأَدْنَيْنَ وَأَزْوَاجَهُ اِنْتَهَى . قَالَ الْقَارِي وَالْمُرَادُ بِالْأَخْذِ بِهِمْ التَّمَسُّكُ بِمَحَبَّتِهِمْ وَمُحَافَظَةُ حُرْمَتِهِمْ وَالْعَمَلُ بِرِوَايَتِهِمْ وَالِاعْتِمَادُ عَلَى مَقَالَتِهِمْ وَهُوَ لَا يُنَافِي أَخْذَ السُّنَّةِ مِنْ غَيْرِهِمْ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَصْحَابِي كَالنُّجُومِ بِأَيِّهِمْ اِقْتَدَيْتُمْ اِهْتَدَيْتُمْ ” وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى { فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ } وَقَالَ اِبْنُ الْمَلَكِ : التَّمَسُّكُ بِالْكِتَابِ الْعَمَلُ بِمَا فِيهِ وَهُوَ الِائْتِمَارُ بِأَوَامِرِ اللَّهِ وَالِانْتِهَاءُ عَنْ نَوَاهِيهِ ، وَمَعْنَى التَّمَسُّكُ بِالْعِتْرَةِ مَحَبَّتُهُمْ وَالِاهْتِدَاءُ بِهَدْيِهِمْ وَسِيرَتِهِمْ ، زَادَ السَّيِّدُ جَمَالُ الدِّينِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مُخَالِفًا لِلدِّينِ .

(7)زاد المسير – (5 / 182)

قوله تعالى وكان أبوهما صالحا قال ابن عباس حفظا بصلاح أبيهما ولم يذكر منهما صلاحا وقال جعفر بن محمد عليه السلام كان بينهما وبين ذلك الأب الصالح سبعة آباء وقال مقاتل كان أبوهما ذا أمانة

فتح القدير – (3 / 304)

{ وكان أبوهما صالحا } فكان صلاحه مقتضيا لرعاية ولديه وحفظ مالهما قيل هو الذى دفنه وقيل هو الأب السابع من عند الدافن له وقيل العاشر

تفسير البغوي – (3 / 177)

( وكان أبوهما صالحا ) قيل كان اسمه كاشح وكان من الأتقياء قال ابن عباس حفظا بصلاح أبيهما وقيل كان بينهما وبين الأب الصالح سبعة آباء قال محمد بن المنكدر إن الله يحفظ بصلاح العبد ولده وولد ولده وعترته وعشيرته وأهل دويرات حوله فما يزالون في حفظ الله ما دام فيهم قال سعيد بن المسيب إني لأصلي فأذكر ولدي فأزيد في صلاتي قوله عز وجل ( فأراد ربك أن يبلغا أشدهما ) أي يبلغا ويعقلا وقيل أن يدركا شدتهما وقوتهما وقيل ثمان عشرة سنة

(8)تفسير الجلالين – (1 / 687)

{ يأيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى } آدم وحواء { وجعلناكم شعوبا } جمع شعب بفتح الشين هو أعلى طبقات النسب { وقبائل } هي دون الشعوب وبعدها العمائر ثم البطون ثم الأفخاذ ثم الفصائل آخرها مثاله خزيمة شعب كنانة قبيلة قريش عمارة بكسر العين قصي بطن هاشم فخذ العباس فصيلة { لتعارفوا } حذف منه إحدى التاءين ليعرف بعضكم بعضا لا لتفاخروا بعلو النسب وإنما الفخر بالتقوى { إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم } بكم { خبير } ببواطنكم

(9)صحيح مسلم – (4 / 1782)

2276 حدثنا محمد بن مِهْرَانَ الرَّازِيُّ وَمُحَمَّدُ بن عبد الرحمن بن سَهْمٍ جميعا عن الْوَلِيدِ قال بن مِهْرَانَ حدثنا الْوَلِيدُ بن مُسْلِمٍ حدثنا الْأَوْزَاعِيُّ عن أبي عَمَّارٍ شَدَّادٍ أَنَّهُ سمع وَاثِلَةَ بن الْأَسْقَعِ يقول سمعت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول  إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ من وَلَدِ إسماعيل وَاصْطَفَى قُرَيْشًا من كِنَانَةَ وَاصْطَفَى من قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي من بَنِي هَاشِمٍ

شرح النووي على صحيح مسلم – (15 / 36)

( باب فضل نسب النبي صلى الله عليه وسلم ( وتسليم الحجر عليه قبل النبوة)  2276 قوله صلى الله عليه وسلم ( إن الله اصطفى كنانة ) إلى آخره استدل به أصحابنا على أن غير قريش من العرب ليس بكفء لهم ولا غير بني هاشم كفؤ لهم إلا بني المطلب فانهم هم وبنو هاشم شيء واحد كما صرح به في الحديث الصحيح والله أعلم قوله صلى الله عليه وسلم

سنن الترمذي – (5 / 583)

5 حدثنا خَلَّادُ بن أَسْلَمَ حدثنا محمد بن مُصْعَبٍ حدثنا الْأَوْزَاعِيُّ عن أبي عَمَّارٍ عن وَاثِلَةَ بن الْأَسْقَعِ رضي الله عنه قال قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى من وَلَدِ إبراهيم إسماعيل وَاصْطَفَى من وَلَدِ إسماعيل بَنِي كِنَانَةَ وَاصْطَفَى من بَنِي كِنَانَةَ قُرَيْشًا وَاصْطَفَى من قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي من بَنِي هَاشِمٍ قال أبو عِيسَى هذا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

(10)سنن البيهقى – (ج 2 / ص 104)

– أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِاللَّهِ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ يَعْقُوبَ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ عِصْمَةَ قَالاَ حَدَّثَنَا السَّرِىُّ بْنُ خُزَيْمَةَ حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا وُهَيْبُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِىِّ بْنِ الْحُسَيْنِ ح وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ : مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنِى أَبُو جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَلِىِّ بْنِ الْحُسَيْنِ قَالَ : لَمَّا تَزَوَّجَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أُمَّ كُلْثُومٍ بِنْتَ عَلِىٍّ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَتَى مَجْلِسًا فِى مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَيْنَ الْقَبْرِ وَالْمِنْبَرِ لِلْمُهَاجِرِينَ لَمْ يَكُنْ يَجْلِسُ فِيهِ غَيْرُهُمْ فَدَعَوْا لَهُ بِالْبَرَكَةِ. فَقَالَ : أَمَا وَاللَّهِ مَا دَعَانِى إِلَى تَزْوِيجِهَا إِلاَّ أَنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« كُلُّ سَبَبٍ وَنَسَبٍ مُنْقَطِعٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ مَا كَانَ مِنْ سَبَبِى وَنَسَبِى ». لَفْظُ حَدِيثِ ابْنِ إِسْحَاقَ وَهُوَ مُرْسَلٌ حَسَنٌ وَقَدْ رُوِىَ مِنْ أَوْجُهٍ أُخَرَ مَوْصُولاً وَمُرْسَلاً.

مسند أحمد – (ج 4 / ص 323)

(18907) 19114- حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ ، مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ جَعْفَرٍ ، حَدَّثَتْنَا أُمُّ بَكْرٍ بِنْتُ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ ، عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ ، عَنِ الْمِسْوَرِ ، أَنَّهُ بَعَثَ إِلَيْهِ حَسَنُ بْنُ حَسَنٍ يَخْطُبُ ابْنَتَهُ ، فَقَالَ لَهُ : قُلْ لَهُ : فَلْيَلْقَنِي فِي الْعَتَمَةِ ، قَالَ : فَلَقِيَهُ ، فَحَمِدَ الْمِسْوَرُ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ : أَمَّا بَعْدُ ، وَاللَّهِ مَا مِنْ نَسَبٍ ، وَلاَ سَبَبٍ ، وَلاَ صِهْرٍ ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ سَبَبِكُمْ وَصِهْرِكُمْ ، وَلَكِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فَاطِمَةُ مُضْغَةٌ مِنِّي ، يَقْبِضُنِي مَا قَبَضَهَا ، وَيَبْسُطُنِي مَا بَسَطَهَا ، وَإِنَّ الأَنْسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَنْقَطِعُ غَيْرَ نَسَبِي ، وَسَبَبِي ، وَصِهْرِي ، وَعِنْدَكَ ابْنَتُهَا وَلَوْ زَوَّجْتُكَ لَقَبَضَهَا ذَلِكَ قَالَ : فَانْطَلَقَ عَاذِرًا لَهُ.

المستدرك – (ج 3 / ص 153)

4684 – حدثنا الحسن بن يعقوب و إبراهيم بن عصمة العدلان قالا : ثنا السري بن خزيمة ثنا معلى بن راشد ثنا وهيب بن خالد عن جعفر بن محمد عن أبيه عن علي بن الحسين أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه خطب إلى علي رضي الله عنه أم كلثوم فقال : انكحنيها فقال علي إني أرصدها لابن أخي عبد الله بن جعفر فقال عمر انكحينها فو الله ما من الناس أحد يرصد من أمرها ما أرصده فأنكحه علي فأتى عمر المهاجرين فقال : ألا تهنوني فقالوا بمن يا أمير المؤمنين فقال بأم كلثوم بنت علي و ابنة فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم إني سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول كل نسب و سبب ينقطع يوم القيامة إلا ما كان من سببي و نسبي فأحببت أن يكون بيني و بين رسول الله صلى الله عليه و سلم نسب و سبب  هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه تعليق الذهبي قي التلخيص : منقطع


43 Komentar

  1. Aremania mengatakan:

    Sebenarnya anak cucu Rasul saw banyak bertebaran di seantero nusantara. Mereka turut bahu-membahu berjuang menyebarkan risalah Islam kepada penduduk nusantara, kjhusunya Jawa, yang saat itu masih lekat dengan pengaruh-pengaruh klenik, mistik, khurofat dan sebagainya.

    Meskipun begitu, masih ada sebagian orang yang menyangsikan adanya ahlulbait di Indonesia, khususnya orang-orang yang dinamakan atau dipanggil oleh masyarakat dengan sebutan Habaib.

    Gelar Habib (jamaknya Habaib) telah berlaku di Hadramut semenjak abad 11 hingga 14 H. Menurut istilah Habib adalah orang yang nasabnya bersambung dengan Alwi bin Ubaidillah. Istilah ini mulai berlaku pada masa Abdurrahman Al Athas. Beliau menciptakan istilah ini dengan tujuan menarik rasa cinta yang tulus dari orang mukmin yang membenarkan akan kewajiban mencintai ahlulbait mengalahkan pada yang lainnya sebagaimana hal itu diterangkan Qur`an dan Hadits.

    Ada juga sebagian orang yang memberikan sebutan kepada anak cucu Rasul dengan istilah Sayyid atau Syarif. Menurut sebagian ulama istilah Sayyid dan Syarif mempunyai perbedaan. Sayyid, kata mereka, adalah orang yang mencapai keduduklan tinggi dalam bidang kelimuan dan kewalian (meskipun bukan golongan Asyrof).

    Sedangkan istilah Syarif khusus diperuntukkan bagi mereka keturunan Imam Hasan dan Imam Husain. Keterangan semacam ini dituangkan oleh Syekh Abdullah baas Wadan dalam kitab Syarh Kutbah Thohiroh.

    Eksisitensi ahlulbait telah mengakar lama di lubuk masyarakat Islam Indonesia. Siapa pun tidak ada yang meragukan kesuksesan dakwah Wali Songo yang hampir semuanya merupakan anak cucu Rasul.

  2. Alumni Dalwa mengatakan:

    aremania>allah yubariek fiekum insyAllah..
    frsan>apa yg tlah di printahkan baginda agar kita slalu brpegang teguh kpd ahlu bait adlah benar&tdk di ragukan lgi..lalu bgaimana dgn sbagian glongan yg mngaku sbgai madzhab ahlu bait tpi ia mngajak&mngajarkan suatu yg brtentangan dgn anjuran baginda..pakah kita msih toleran&simpatisan kpda mreka…wallahu A’lam..syukran..

  3. m hakim mengatakan:

    very-very good……………

  4. حسن سروري mengatakan:

    أحسن كما أحسن الله اليك بارك الله في علومك

  5. kholidil amin mengatakan:

    menurut saya artikel ini sangat bagus dan bermanfaat sekali….

    I hope forsansalaf can continue to provide articles and useful information for all of us

  6. aldj mengatakan:

    andai saja ummat ini berpegang kepada alquran n mereka(ahlulbait) maka ummat ini pasti tdk akan terpecahbelah,n menjadi ummat yg satu.
    sayang yg terjadi tdk seperti itu.
    se-olah2 sebagian ilmu n tauladan dari mereka telah hilang,sehingga ummat ini sebagian berpegang kepada yg bukan dari mereka,

  7. Firman mengatakan:

    Pernahkah kita berfikir bahwa dalam sholat kita kita selalu membaca shalawat kepada rasulullah dan keluarga. “Semoga keselamatan dan rahmat Allah selalu beserta Rasulullah dan anak keturunannya” itulah yang selalu kita doakan minimal 17 kali dalam sehari semalam. Dan ini terus dilakukan oleh ratusan juta orang diseluruh dunia. Pastilah Allah akan terus memberikan keselamatan dan bimbingan secara terus menerus kepada anak cucu rasulullah dalam jalan yang lurus, jalan kebenaran apalagi yang turut mendoakannya juga adalah manusia yang paling bertakwa, paling dekat di sisi Allah ialah sang kekasih Allah baginda Rasulullah Muhammad SAW.
    Disaat begitu banyak aliran,golongan, harakah Islam yang saling mengklaim merekalah yang paling benar, merekalah pejuang Islam dan paling mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Di saat itu pula mereka telah membagi Islam ke 72 golongan, saling berfirqoh saling menyalahkan dan saling menjatuhkan. Sejarah Islam sudah banyak berlumuran darah sesama saudara seiman, padahal pertumpahan darah sesama muslim adalah haram.Cucu rasulullah Husein dengan rela menyerahkan posisi khalifah kepada Muawiyah bin Abu Sufyan agar tidak lagi terjadi pertumpahan darah sesama muslim, untuk menjaga kemaslahatan ummat dan walaupun pada akhirnya pula harus menyerahkan nyawanya juga karena diracun. Begitu pula dengan Hasan syahid ditangan para algojo pasukan Yazid bin Muawiyah yang hanya mengejar kedudukan duniawi.
    Saya bertanya sekarang siapa yang lebih merasa diberi petunjuk hidayah dan jalan kebenaran selain Rasulullah dan anak cucu keturunannya? Apakah anda?
    Niscaya dalam waktu yang dekat akan datang seorang lelaki keturunan Rasulullah yang akan menyatukan kembali ummat ini yang berserak-serak dalam ke khilafahan a’la minhajin nubuwwah. Jadi persiapkan diri dan keluarga kita, dan jadilah seorang muslim yang haq. amien Insha Allah

  8. mugiwara mengatakan:

    Assalamu’alaikum, izin copas mas admin…insyaAllah bermanfaat.

    sekalian nanya: saya pernah dengar dari seorang teman (dari gurunya) ungkapan bahwa Ahlul bait “seperti kapalnya Nabi Nuh as” bagi umat Rosululloh, yang ikut akan selamat dan yang tidak akan tenggelam. adakah penjelasan mengenai hal ini???

    syukron kalau ada yang mau menjelaskan.

  9. AbuNual mengatakan:

    Makalah yg bagus,tp banyak terjadi polemik dlm benak kami

  10. protes mengatakan:

    Pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanyalah bunda Fatimah, sementara anaknya Saidina Hasan dan Husein bukan lagi pewaris dari tahta AHLUL BAIT.

    DALILNYA
    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?(Itu adalah) rahmat Allah dan kebrkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa:’Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah Ibu Nabi Musa As. atau ya Saudara Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW. Sedangkan sesudah ayar 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. isteri plus anak-anak beliau.

    Coba baca catatan kaki dari kitab: Al Quran dan Terjemahannya, maka ahlulbaik yaitu hanya ruang lingkup keluarga rumah tangga MUHAMMAD RASULULLAH SAW. Dan jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas, maka ruang lingkup ahlul bait tsb. menjadi:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki.

    Khusus anak lelaki beliau, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Seandainya ada anak lelaki beliau yang berkeluarga, ada anak lelaki pula, wah ini masalah pewaris tahta ‘ahlul bait’ akan semakin seru. Inilah salah satu mukjizat, mengapa Saidina Muhammad SAW tak diberi oleh Allah SWT anak lelaki sampai dewasa dan berketurunan. Pasti, perebutan tahta ahlul baitnya dahsyat jadinya.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidak mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam. Lalu, apakah anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita nasabkan kepada Bunda Fatimah, ya jika merujuk pada Al Quran tidak bisalah.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, maka karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya. Jadi tidak sistim nasab itu berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari kembali ke nasab laki-laki.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanyalah bunda Fatimah, sementara anaknya Saidina Hasan dan Husein bukan lagi pewaris dari tahta AHLUL BAIT.

    Ya jika Saidina Hasan dan Husein saja bukan Ahlul Bait, pastilah anak-anaknya otomatis bukan pewaris Ahlul Bait juga. Tutuplah debat masalah Ahlul Bait ini, karena fihak-fihak yang mengklaim mereka keturunan ahlul bait itu sebenarnya tidak ada karena tahta ahlul bait memang tak diwariskan lagi

  11. Firman mengatakan:

    Untuk Protes@ Janganlah menafsirkan ayat al qur’an dengan hanya menggunakan terjemahan saja pelajari kitab2 hadits juga yang lebih bisa menjelaskan perihal ini daripada menafsirkan ayat sesuai dengan keinginan dan hajat kita. Saat ini sudah terlampau banyak orang yang memposisikan dirinya sebagai mujtahid, padahal persyaratan untuk menjadi seorang mujtahid itu adalah harus hapal sekian ribu hadits, hapal al quran dan makna dengan berbagai macam tafsir dari kitab-kitab tafsir yang mashyur,kitab2 para imam besarpun harus sudah dikuasainya. Jadi sudah sejauh mana ilmu kita sehingga berani memutuskan suatu hukum atau perkara yang ulama terdahulu sudah putuskan…

  12. elfasi mengatakan:

    @ protes, wahhh wahhh…hebat banget bisa menyimpulkan sendiri tanpa menggunakan dasar hadits atau pendapat seorang ahli tafsir,….emank dididik untuk bisa mengeluarkan pendapat sndiri dan udah gak butuh lagi ama pendapatnya para ulama ya..???, jadinya gini sangat janggal dan tidak tepat sama sekali bahkan semakin Nampak bgitu dangkal keilmuannya…
    ana akan coba mengungkap kejanggalan dan kesalahan dalam membuat kesimpulan sehingga terkesan ceroboh, sbg berikut :
    1. Dalam ayat2 yang anda sebutkan di atas tidak ada satupun yang menyatakan bahwa ahlubait hanya terkhususkan pada orang yang anda sebutkan, sehingga bisa berarti secara umum sedangkan orang yang anda sebutkan hanyalah sebagian dari ahlubaitnya.
    2. Anda telah mengarahkan kalimat yang bersifat umum (ahlubait) pada ayat tathir ahlubait Nabi tanpa melihat asbabunuzul ayat tersebut dan tanpa memandang dari segi hadits atau lainnya yang bisa mentafsirkan maksud kalimat tersebut…karena yagn pasti ulama terjadi perbedaan penafsiran dalam mengartikan ahlubait dalam ayat tathir tersebut, menurut Ibn Abaas pada istri2 Nabi melihat dari ayat sebelumnya, namun menurut Abi Sa’id al-khusri yagn didukung dari banyak para tabi’in seperti Qotadah, Mujahid dan lainnya, yang dimaksud dengan ahlu bait dalam tersebut adalah ahlu kisa’yaitu syd ali, sydt Fatimah, syd Hasan dan syd husein dengan memandang pada hadits seperti yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi diatas…ana rasa yang demikian telah dipaparkan begitu jelas oleh forsansalaf dalam artikel diatas, hanya saja anda yang tidak faham atau kurang bisa memahaminya…??
    3. Anda telah berani membuat kesimpulan secara umum padahal sekalipun terjadi perbedaan penafsiran , namun itu hanyalah pada ayat tathir saja. Sedangkan anda mengartikan secara umum bahwa ahlubait Nabi hanyalah istri2 dan anak2 Nabi yang justru akan bertentangan dengan hadits riwayat Tirmidzi di atas…
    4. Anda telah salah dalam sejarah dimana anda katakan bahwa Ayah Rasulullah syd Abdullah bin Abdul Mutthlib adalah anak tunggal, padahal jika anda baca kitab siroh, maka akan anda dapatkan keterangan bahwa syd Abdullah bersaudara kandung dengan Abu Tholib dan Zubair bin Abdul Muttholib dari ibu satu yaitu Fatimah bin ‘Amr bin ‘A’idz….
    5. Anda tidak mengerti sama sekali tentang takhsis nasab Rasulullah SAW dengan sydt Fatimah bagaimana Rasulullah mengkhususkan nasab beliau dari syd Fatimah tidak akan terputus, serta pengkhususan jalur perempuan pada keturunan Rasulullah dari jalur perempuan hanyalah pada sydt Fatimah saja dan tidak pada lainnya setelah beliau..
    Kesalahan anda in mungkin karena anda tidak membaca hadits2 dengan banyak riwayat yang menjelaskannnya sebagaimana yang disebutkan sebagiannya oleh forsansalaf di atas….atau anda tidak memahami atau bahkan tidak mengakui keberadaan hadits tersebut ….????
    Ana peringatkan kepada anda, jangan sekali2 mengikuti jejak pendahulu anda di web ini yang telah banyak memlintir dalil, atau mentafsiri suatu dalil tanpa dasar melainkan menggunakan pemahaman sendiri yang justru bertentangan dengan pendapat para ulama’..
    @ all, liat nih bagaimana si protes udah berani memberikan kesimpulan sepihak dan tanpa dasar, dengan hanya modal akalnya saja yang masih minim pengetahuan lalu mencoba untuk membuat pendapat yang justru bertentangan dengan maksud dari ayat dan hadits2 Nabi…
    Inilah mereka, membawa dalil untuk agar kita beranggapan bahwa mereka ilmiah, tp malah sebaliknya justru banyak memelintir maksud dari dalil itu sendiri karena kebiasaan mereka mentafsiri dengan akal mereka sendiri tanpa memandang pendapat para ulama’ yang telah berkompeten di dalamnya…

  13. bambang condet mengatakan:

    MARI KITA MENUJU TAQWA DAN AKHLAK RASULULLAH SAW….SEDIKIT TAPI ISTIQOMAH….YAA..ROBB BUKA PINTU HATI KAMI SEMUA SEMOGA DAPAT MENJALANKAN SUNAH-SUNAH RASULMU..AAMIIN

  14. aldj mengatakan:

    tulisan @protes dlm menafsirkan tdk lah menggunakan akal(elfasi(?))
    tp menggunakan sebatas pengetahuannya n hawa nafsunya(KRN DENGKI TRHDP KEUTAMAAN AHLULBAIT),
    satu dalil saja sebenarnya bisa mematahkan hawa nafsu @protes
    yaitu ayat sebelumnya ttg istri2 nabi sama sekali tdk ada korelasinya dgn ayat ttg ahlulbait,krn penyebutan sebelumnya terhadap istri2 nabi adalah “ANKUNA” sedang ayat ttg ahlulbait adalah “ANKUM”

  15. Ummati mengatakan:

    si PROTES itu mewakili paham apa ya, sepertinya Wahabi yang anti ahlul bait? Kok provokatif amat ya? Awas teman-teman semuanya, janganlah terpancing hasutannya ….. Wahabi emang ngajarin kayak gitu sejak Wahabi kudeta kepada Syarif Husain (ahlul bait) di Makkah, yang mana mereka dibantu Laurence seorang gay Yahudi. Sejak itu Wahabi membuat rekayasa cerita sakan Ahlul bait tidak ada, atau tamat.

  16. elfan mengatakan:

    Kalau kita baca masalah Ahlul Bait, maka saya lihat dasarnya selain hadits Nabi Muhammad SAW adalah QS. 33:33. Tapi dalam tulisan tidak pernah diuji dengan makna QS. 33:4-5 yang memuat dengan tegas bahwa nasab itu hanya dari garis lelaki bukan perempuan.

    Lalu, apakah kita berani mengatakan bahwa Saidina Hasan dan Saidina Husein kita tambah dengan bin Fatimah? Atau, apakah kita berani menghilangkan nasab Saidina Ali bin Abi Thalib atas anak-anaknya Saidina Hasan atau Saidina Husein?

    Jadi apa yang ditulis oleh si Protes tersebut di atas, saya kira perlu dikaji lebih dalam lagi, karena masalah ‘nasab’ itu sangat penting. Terbukti, mengapa sampai seorang anak angkat Nabi Muhammad SAW namanya diabadikan dalam Al Quran? Mengapa, Nabi Isa As. ditambah dengan bin Maryam dsb.

  17. elfasi mengatakan:

    @ elfan, anda rupanya tidak mngerti sama sekali tentang takhsis (sifat khusus pada nasab Nabi)….
    Ayat yang anda maksudkan yaitu QS. 33:4-5 sebenarnya tidaklah menjelaskan secara tegas akan nasab diambil dari jalur ayah, karena lebih menfokuskan pada memberikan nasab kepada anak angkat, padahal tidak ada hubungan sama sekali…walaupun kita arahkan sebagai dalil jalur nasab dari sisi ayah, namun itu adalah berlaku secara umum, adapun Nasab Nabi, maka dijelaskan dari hadits riwayat Tirmidzi di atas, karena tidaklah mungkin perkataan Nabi bertentangan dengan ayat karena perkataan beliau juga bersumber dari Allah SWT….Hal ini tidak lain adalah ditujukan sebagai takhsis (pemberian sifat khusus) pada nasab beliau dimana bisa diambil dari jalur perempuan yaitu khusus pada sydt Fatimah dan tidak yang lainnya dari putri2 beliau….

  18. bambang condet mengatakan:

    yaa.akhina semuanya.waspada dengan Iblis dan balatentara syethan yang telah nyata akan mengganggu manusia….apalagi umat Nabi Muhammad SAW..yang rentan akan godaan nya….Yaa..Robb lindungi hamba-hambamu yang mencintai RasulNYA dan keluarganya….yaa Robb bukalah Hati hamba-hambamu umat Nabi Muhammad SAW yang tak mengerti cinta padaNYa dan keluarganya…smoga mereka cinta akan sunahNYa..cinta akan TAWDHUnya..cinta akan AKHLAQNYA.dll..yaa Robb ampuni hambamu yang zholim..ini

  19. aldj mengatakan:

    doktrin wahabi terhadap menghilangkan keutamaan keluarga rosul berhasil mereka terapkan,tapi keberhasilan mereka hanya utk mereka2 yg diliputi hatinya atas dasar kedengkian n kejahilan.
    mereka memulai dgn menshahihkan hadits2 palsu berkenaan dgn keutamaan lwn2 dr ahlulbait,dan memutarbalikan keutamaan2 ahlulbait baik itu dlm alquran atw pun hadits2 palsu.
    lihatlah doktrin mereka yg mengatakan bhw maulud n tawasul adalah bidah,knp?
    krn didlm maulud n tawasul didlmnya ada memuji keutamaan2 ahlulbait.
    bahkan lebih parah lg mereka mencoba mencari2 celah utk melemahkan posisi ahlulbait dgn membuat riwayat2 palsu dgn cara sadar atw tdk mereka telah menghina rosul,dgn mengatakan bhw orang tua rosul adalah musyrik.naudzubillah…
    sesungguh allah telah memberikan keutamaan yg lebih kpd ahlulbait dari pada manusia lainnya bkn hanya dikarnakan nasab yg berhub dgn rosul saw.
    tapi juga allah memberi tahu kpd semua ummat,bhw rosul adalah manusia utama yg tdk ada bandingannya,sehingga allah menganugrahkan rosul saw dgn turunan2 yg mulia lebih mulia dr pada turunan2 yg lain,turunan yg menjadi pemimpim ummat manusia dlm jalan yg lurus.(doa nabi ibrahim)
    sehingga hanya turunan ini sajalah yg terjaga seperti terjaganya alquran(al hadits) yg kedua2nya bersama2 ditelaga haud menemui rosul(al hadits).
    sadarlah bhw keutamaan mereka tdk lah sebanding dgn keutamaan manusia lainnya walawpun sahabat ra

  20. bin Muhammad mengatakan:

    numpang lewat…..

    artikel yang bagus…. sebenernya g usah diperdebatkan lagi…. dalil2nya udah ok koq… yang prostes aja, kurang kerjaan. Ehhh… tau2 malah buka aibnya sendiri…

    pak admin. mungkin akan lebih baik, jika dicantumkan juga, marga2 ahlul bait/habaib yg ada pada saat sekarang ini. karena d drh kami banyak orang mengaku2 ahlul bait. padahal bukan. dan ini sangat memprihatinkan…

    Thanks yaaa….
    Forsansalaf.barakaallahu fikk

  21. ana mengatakan:

    dikotaku ada seorang ulama cukup terkenal namanya mbah mangli,dan beliau sekarang sudah wafat,tadinya beliau menganut paham wahabi menurut informasi,bahkan menduduki jabatan yang tinggi,tapi Alloh memberikan hidayah kepada beliau melalui perantara ulama2 ahli sunnah yg mengatakan bahwa beliau insyalloh akan jadi ulama besar,ternyata benar apa kata para ulama besar tadi,beliua menjadi ulama besar sblum wafat,dalam benak beliau muncul kebanyakan yg mempunyai karomah2 dalam kewalian kok dari ahli sunnah,bukan dari golongan wahabi,maka beliau berbalik menjadi golongan ahli sunnah,dan beliau mempunyai karomah2 dalam hidupnya,salah satu contoh beliau tahu seumpama kalau ada tamu yg akan datang dan kpentingannya,sebelum tamu mengutarakan,mbah mangli sudah ngasih jawabannya dan keperluannya dan ada lagi karomah yg lain

  22. Assalaamu’alaikum.
    Saya teringat surat ali ‘imraan 31.

    Anna->Mbah Mangli Magelang? MasyaaAllah Beliau-semoga Allah menyayanginya- beliau tetangga saya (satu kecamatan). Jika benar Mbah Mangli Magelang saya harap buat ukhty Anna hati-hati dengan informasi-terlepas benar atau tidaknya-. Mbah Mangli adalah ulama yang masyhur di daerah kami-dan saya belum pernah mendengar beliau menganut paham selain Ahlu as Sunnah wa al Jamaa’ah. WaAllohua’lam

    Buat admin->saya mohon Izin memasang link ini di blog saya. Jazaakumulloh

  23. iwih mengatakan:

    mudah2an Allah tunjukkan jalan kepada kaum wahabi yg menyesatkan aqidah para pemuda/pemudi yg ada disekolah2 dan kampus2….sudah sangat jelas jalan yg diberikan para habaib menuju jalan para ulama salaf dan harus kita ikuti rel mereka….allahumma sholliwasalim ‘alaih….

  24. nasrof mengatakan:

    @forsan

    Ada beberapa pertanyaan yg mengganjal;

    1. Jika isteri-isteri, dan paman termasuk ahlul bait yang dimaksudkan dalam Al-Ahdzab: 33, maka apa makna kalimat ini?

    …….Kemudian Rasul menaunginya pula dengan kain kisa`, kemudian berkata“ Wahai Allah, inilah Ahlil baitku maka hilangkanlah dari mereka kotoran dan sucikanlah mereka”

    Mengumpulkan keempat manusia mulia tsb dalam 1 kain kisa dan penunjukan Nabi saw kepada mereka sebagai Ahlulbait Nabi saw menjadi tidak perlu bukan? Toh yg dimaksud Ahlulbait bukan cuman mereka.

    2. Mengapa mas mensyaratkan paman Nabi saw harus muslim? Apakah syaratnya hanya sekedar muslim? Tolong mas sampaikan ke saya jika ada lagi syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Ahlulbait yang dimaksud dalam Al-Ahdzab: 33.

    3. Doa dan permintaan Nabi saw agar Ahlulbait Beliau dihilangkan dari kotoran dan disucikan apakah dikabulkan Allah swt?

    Salam

  25. elfan mengatakan:

    Kalau kita lihat silsilah Saidina Muhammad SAW, maka jelas ada benang merah ttg nasab tsb. Hasyim, ayah dari Abdul Muthalib, kakek dari Saidina Muhammad SAW. Abdul Muthalib adalah anak tunggal krn. orang tuanya, Hasyim meninggal sebelum Abdul Muthalib lahir.Tapi, anak Abdul Muthalib banyak, yang bungsu Abdullah, orang tua Saidina Muhammad SAW, juga wafat sebelum Saidina Muhammad SAW lahir. Berarti, Saidina Muhammad SAW anak tunggal juga.

    Lalu, anak lelaki Saidina Muhammad SAW dengan Bunda Khadijah, baik Ibrahim maupun Abdullah, lahir keduanya juga tidak hidup lama krn meninggal sebelum dewasa. Karena itu, wajarlah pihak kelompok musuh dari Nabi Muhammad SAW slalu mencela akan putusnya nasab beliau krn tidak ada anak laki-lakinya yang sebagai penerus nasabnya. Bayangkanlah, jika ada anak lelaki beliau sempat dewasa dan mempunyai keturunan, entah bagaimana para penerus dinasti Saidina Muhammad SAW dimata pandangan umat, pastilah selalu disanjung-sanjung.

    Inilah mukjizat Allah SWT pada Nabi kita Muhammad SAW, nasab beliau diputuskan supaya tidsak ada yang mengklaim ‘mereka’ adalah keturunan dari Saidina Muhammad SAW, yang lebih dikenal dengan sebutan ‘keturunan nabi atau keturunan rasul’. Jadi jika merujuk pada QS. 33:4-5 jelas bahwa nasab itu hanya diambil dari pihak laki-laki bukan perempuan.

    Apabila dikaitkan dengan kajian kita tentang ahlul bait, dengan beberapa surat dan ayat-ayat Al Quran, otomatis mahkota ‘ahlul bait’ dari keluarga Saidina Muhammad SAW itu terputus sampai Bunda Fatimah saja. Artinya anak-anak dari Saidina Ali bin Abi Thalib, otomatis hanya bernasab pada Saidina Ali bin Abi Thalib sehingga tidak mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Apa hikmahnya semua skenario Allah SWT di atas, baik kelompok Syiah maupun habaib yang sama-sama mengaku keturunan ‘ahlul bait’ tidak perlu bertengkar lagi karena mahkota ‘ahlul bait’ yang diperebutkannya itu memang ‘sudah’ tak ada lagi.

    Oleh karena itu, wahai umat Islam, wahai umat Muhammad SAW, tak perlu memperebutkan dinasti ‘keturunan’-nya, karena di sinilah letak keadilan Allah SWT Yang Maha Adil, besok dihadapan Allah SWT kita akan mempertanggungjawabkan diri kita masing-masing, tak ada pilih kasih, ooo itu keturunan ini, oo itu keturunan itu dsb

  26. nasrof mengatakan:

    @elfan

    Bayangkanlah, jika ada anak lelaki beliau sempat dewasa dan mempunyai keturunan, entah bagaimana para penerus dinasti Saidina Muhammad SAW dimata pandangan umat, pastilah selalu disanjung-sanjung.

    Yg pasti ini bukan hikmah dibalik tidak adanya penerus laki-laki dari Nabi saw. Perkara sanjung-menyanjung adalah perkara yg manusiawi dan tidak ada larang tentangnya. Semua tokoh yang kita idolakan selalu kita sanjung-sanjung. Sayyidina Abubakar, Umar, Utsman, Sayyidah ‘Aisyah, Imam Ali tetap selalu disanjung. Bahkan Yazid pun yang konon zalim dan berprilaku buruk tidak luput dari sanjungan.

    Inilah mukjizat Allah SWT pada Nabi kita Muhammad SAW, nasab beliau diputuskan supaya tidak ada yang mengklaim ‘mereka’ adalah keturunan dari Saidina Muhammad SAW

    Setahu sy hal ini bukan termasuk mu’jizat karena semua manusia mampu dan biasa terjadi. Apakah mas tidak dapat membedakan mana Mu’jizat mana Ketetapan? Dan anggapan mas bahwa dzuriat Nabi saw akan mengklaim nasab entah muncul dari hati yang mana? Klaim? Buat apa? Wong tidak diklaim pun memang sdh dzuriat? Jika mas tidak percaya, maka itu urusan mas.

    Jadi jika merujuk pada QS. 33:4-5 jelas bahwa nasab itu hanya diambil dari pihak laki-laki bukan perempuan.

    Silakan saja ditafsirkan demikian. Mas boleh menafsirkan apa saja.

    Apabila dikaitkan dengan kajian kita tentang ahlul bait, dengan beberapa surat dan ayat-ayat Al Quran, otomatis mahkota ‘ahlul bait’ dari keluarga Saidina Muhammad SAW itu terputus sampai Bunda Fatimah saja. Artinya anak-anak dari Saidina Ali bin Abi Thalib, otomatis hanya bernasab pada Saidina Ali bin Abi Thalib sehingga tidak mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Tidak ada takhta-takhtaan. Penetapan Ahlulbait itu dari Allah dan Rasul-Nya. Kan sdh ada nashnya?

    Apa hikmahnya semua skenario Allah SWT di atas, baik kelompok Syiah maupun habaib yang sama-sama mengaku keturunan ‘ahlul bait’ tidak perlu bertengkar lagi

    Tidak ada yg bertengkar siapa2 yg pantas disebut dzuriat. Semua memiliki bukti dari silsilah yang menyambung ke Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah. Jika mas tidak memiliki silsilah spt ini, maka itu urusan mas. Bukan urusan dzuriat Nabi saw.

    karena mahkota ‘ahlul bait’ yang diperebutkannya itu memang ‘sudah’ tak ada lagi.

    Yang disebut Ahlulbait adalah sekelompok manusia suci yang sdh disebutkan oleh Nabi saw dan Allah swt. Apakah mas tidak bisa membaca?

    Oleh karena itu, wahai umat Islam, wahai umat Muhammad SAW, tak perlu memperebutkan dinasti ‘keturunan’-nya,

    Tidak ada yang memperebutkan. Semua sudah ada ketetapannya.

    karena di sinilah letak keadilan Allah SWT Yang Maha Adil

    Terus menyambungnya nasab Nabi saw dari Sayyidah Fatimah hingga sekarang ini adalah karena Maha Adilnya Allah swt. Jangan mengklaim bahwa mas paham bagaimana sifat Maha Adilnya Allah swt.

    besok dihadapan Allah SWT kita akan mempertanggungjawabkan diri kita masing-masing

    Bagaimana menurut mas dengan seorang anak? Tidakkah mereka berhak menuntut orang tuanya karena kedurhakaannya kepada Allah swt? Bagaimana dgn seorang isteri? Tidakkah mereka berhak menuntut suaminya karena membiarkannya melakukan maksiat? Bagaimana dgn seorang murid? Tidakkah mereka berhak menuntut gurunya karena telah menyelewengkannya dari jalan Allah swt?

    tak ada pilih kasih, ooo itu keturunan ini, oo itu keturunan itu dsb

    Tidak ada istilah pilih kasih di akhirat, semua hanya menunggu dan berharap syafa’at dan Rahmat Allah swt. Apakah mas mau menuntut Allah swt jika ada segelintir manusia yang mendapat kemudahan di akhirat sementara mas mendapat kesukaran? Mas pikir amal mas cukup mampu untuk menuntut Allah swt dan Rasul-Nya?

    Jika pertanyaan2 mas muncul dari iri hati dan kedengkian, maka segeralah bertaubat dan mohon ampun kepada Nabi Muhammad saw. Jika muncul dari ketidaktahuan, maka bacalah buku2 dan bertanyalah kepada para Habib Yang Mulia.

    Salam

  27. aldj mengatakan:

    @elfan
    kitab suci(?) anda ada surah al kautsar?
    wahabi klu bicara nasab isinya cuma kedengkian

  28. elfasi mengatakan:

    @ elfan, wahhhh anda rupanya anda tidak mempunyai jawaban lain ya hingga mengulang2 kembali jawaban yang sudah ana tampilkan pada artikel “ AHLUL BAIT PENEBAR RAHMAT BUKAN LAKNAT” tertanggal – 7 October 2010 at 15:05, padahal dalam komentar tersebut anda telah melakukan kesalahan besar dalam hal sejarah islam yang menunjukkan bahwa anda tidak mengerti sama sekali tentang sejarah, khususnya tentang nasab Rasulullah SAW, kesalahan anda dalam komentar anda pada artikel tersebut adalah :
    1. Anda katakan bahwa Hasyim adalah anak tunggal padahal Abdimanaf memiliki 4 org anak laki2 yaitu Hasyim, Muttholib, Abdisyams n Naufal.
    2. Anda katakan bahwa syd Ali bin Abi tholib adalah keponakan Rasulullah, padahal beliau adalah sepupu Rasulullah krn Abi tholib saudara kandung dengan ayah Rasulullah Abdullah.
    3. Sekarang masih anda tampilkan apa yang belum ana tunjukkan sebagai kesalahan anda juga yaitu anda katakan bahwa kakek Nabi Abdul Muttholib adalah anak tunggal dari Hasyim. Padahal perlu anda ketahui bahwa : syd Hasyim bin Abdi Manaf memiliki 4 anak laki2 yaitu Abdul Muttholib, Asad, Abu Shoifi dan Nadhlah, dan 5 anak perempuan yaitu Syifa’, Kholidah, Dhoifah, Ruqoyyah dan Hayyah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Hisyam dan dinukil oleh Ibn Katsir dalam kitab as-Sirah an- Nabawiyyah.
    Betapa dangkalnya pengetahuan anda tentang keluarga dan nasab Rasulullah dan bnyaknya kesalahan anda lalu anda membuat persepsi sendiri bahwa Keturunan Rasulullah telah terputus ??? Bisakah persepsi anda dengan bukti yang tidak sesuai dengan kenyataan ini diterima n dipertanggung jawabkan…???…Org Bodoh ajah bakal menolak mentah2 persepsi anda seperti ini mas…..
    Sedangkan dalil2 setelahnya sangat menunjukkan anda tidak mengerti sama sekali tentang takhsis ayat hanya pada nasab Rasulullah SAW dengan banyaknya riwayat yang menyatakan bahwa keturunan Rasulullah masih tetap ada hingga hari kiamat.
    pesan saya mas, jangan keburu berkomentar sebelum menyiapkan dengan sempurna, hingga tidak terjadi lagi kesalahan yang fatal seperti ini….

  29. zakysegaf mengatakan:

    @Allahumma sholli wasallim ‘ala sayyidina muhammadin miftaahi baabi ROHMATILLAH….
    Koq Kliatannya ada yg janggan n aneh ketika ana membaca sebutan BUNDA khodijah,BUNDA fatimah,dan BUNDA BUNDA yg laen telinga ana jd geli…..:)

    • اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِفْتَاحِ بَابِ رَحْمَةِ اللّٰهِ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللّٰهِ صَلاَةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ بِدَوَامِ مُلْكِ اللّٰهِ

  30. Joni mengatakan:

    AslmWrWb,
    Saya termasuk yang meyakini adanya ahlul bait sampai saat ini, dari garis Sayyidah Fatimah. Keyakinan kaum ahlus sunnah mengenai hal ini jelas.
    Habib Ali Kwitang, Habib Zen, Habib Salim Jindan mempunyai pangkat yang tinggi. Mereka dan yang serupa mereka, tidak butuh dihormati orang. Orang-oranglah yang perlu menghormati mereka, agar mendapatkan barokah dari Allah.

    Perkara ada habib yang mencari-cari penghormatan orang, itu masalah dia sendiri. Cukuplah Allah bagi kita.

    Kewalian sudah barang tentu tidak bisa dilihat dari pakaian, sorban ataupun popularitas. Adakalanya begitu tersembunyi.

    Wass,
    J

    • اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِفْتَاحِ بَابِ رَحْمَةِ اللّٰهِ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللّٰهِ صَلاَةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ بِدَوَامِ مُلْكِ اللّٰهِ

  31. zakiey mengatakan:

    org yg bnci kpd fathimah, berarti benci terhadap Rosulullah SAW.
    Org yg menyakiti Fathimah, berarti menyakiti Rosulullah SAW.
    kl sdh org tersebut punya kedengkian, kebencian dan suka menyakiti Fathimah dan keturunannya, maka org yg merasa sakit tiada lain dan tiada bukan adalah Rosulullah SAW..!!!
    dlm hadist qudsi Allah berfirman, brg siapa yg mengganggu (menyakiti) wali ku, maka aku umumkan untuk berperang dg orang tersebut.
    bagaimana bila org tersebut punya kedengkian terhadapRosulullah SAW??
    kira 2 Allah akan mengumumkan apa??

  32. aldj mengatakan:

    @joni
    merka bukan ahlulbait…mrk ittrah ahlulbait
    klu ada habaib(djuriat) yg ga benar ks tau baik2,krn rosul sendiri yg akan menghukum mrk
    “andai(pstx tdk mungkin)fatimah mencuri akan aku potong tanganx”
    lihat tulisan “aku”.bukan orang lain.
    begitu jg para habaib yg ga benar.
    orang awam ditugaskan oleh rosul utk mencintai bukan menyakiti(ayat mawaddah)

  33. Abdullah Hasan mengatakan:

    ayyuhal Ikhwah…cintailah Arrosul Saw krn cintamu pd Allah Swt, dan cintailah keturunan Arrosul saw krn cintamu padanya,smg ini cukup bagi akal fikiran dan nafsu kita sbg prinsip hidup. hadaanalloh …amin

  34. Ummu Fathimah mengatakan:

    @ abdullah hasan, sya kira komentar cukup baik

  35. dayak mengatakan:

    @ all :
    1.bagi yg memiliki garis keturunan yg mulia, jadilah anda spt pendahulu kalian / tdk kluar dr jalanx, jgn sesekali kalian mmbuat para leluhur kecewa atas perbuatan kalian .
    2.bagi yg lain : jadilah anda spt sahabat salman alfarisi yg cinta dg nabi sampai seakan2 dianggap spt keluargax sndri. Insya allah akalian akan berkumpul dg nabi n para keturunanx krn cinta kalian kpd nya.

  36. aldj mengatakan:

    @dayak
    amiin ya robbal alamin

  37. abdul chalim mengatakan:

    Cinta kepada Ahlibaiyt Rosul adalah sebuah kepastian dan keyakinan yg hakiki pada tubuh dan jiwa tiap muslim ? tapi cinta kepadaNya bukan faktor utama tapi sebagai penyeimbang antara Taqwa kepada Alloh dan Rosulnya.
    Jangan sekali-kali kaum muslim menghujat dan ngerasyani hlibayt Rosul dan menyemohkan dihadapan hal layak tapi kita bisa menyimpan dalam dalam tentang kekurangan yg dimiliki ahliwayt rosul ?
    saya yakin dan seyakinnya tidak ada ahli bayt rosul yg menyimpang dari Datuknya. dalam pandangan hdiup saya
    Cintai mereka seperti engkau menyintai rosul masih hidup

  38. zen mengatakan:

    cucu baginda nabi saja di bunuh, keluarga nya di bantai,padahal mereka tau dan mereka juga muslim, jd sampe kpn pun mereka tdk akan pernah terima anak cucu nabi menjadi panutan dan dihormati. semoga mereka mendapat hidayah. aminnn

  39. awam mengatakan:

    maaf saya awam sekali, jadi yg tinggalkan Rasulullah SAW itu Al Quran dan Hadits atau Al Quran dan keturunannya?

  40. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِفْتَاحِ بَابِ رَحْمَةِ اللّٰهِ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللّٰهِ صَلاَةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ بِدَوَامِ مُلْكِ اللّٰهِ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: