Forsan Salaf

Beranda » Majelis Ifta' » Shalat Dengan Mukenah Transparan

Shalat Dengan Mukenah Transparan

mukennahAssalamualaikum.
spt pd zaman skrng pada pake mukena SUTRA KACA, itu hukumnya bgmn ?
Wassalamualaikum.

From : kharisah almawahib <kharisahalmawahib@yahoo.co.id>
FORSAN SALAF menjawab :

Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Diantara syarat sah shalat adalah menutup aurat dengan sesuatu yang bisa menutup warna kulit walaupun tipis dan ketat. Mukenah sutra kaca jika transparan (tampak warna kulit), maka tidak sah, kecuali jika menggunakan pakaian yang menutup warna kulit sebelum memakai mukenah, maka sah.

Adapun menggunakan sutra bagi kaum hawa diperbolehkan secara mutlak dan haram bagi laki-laki jika murni sutra atau campuran dengan selain sutra namun kadar sutra lebih banyak.

المقدمة الحضرمية (72)

وشَرْطُ السَّاتِرِ مَا يَمْنَعُ لَوْنَ البَشَرَةِ وَلَوْ مَاءً كَدِراً لا خَيْمَةً ضَيِّقَةً وَظُلْمَةً،

المهذب ج1 ض93

فَصْلٌ: وَيَجِبُ سَتْرُ العَوْرَةِ بِمَا لاَ يَصِفُ البَشَرَةَ، مِنْ ثَوْبٍ صَفِيقٍ، أَوْ جَلْدٍ، أَوْ وَرَقٍ، فَإنْ سَتَرَ بِمَا يَظْهَرُ مِنْهِ لَوْنُ البَشَرَةِ مِنْ ثَوْبٍ رَقِيقٍ ، لَمْ يَجُزْ، لأَنَّ السَّتْرَ لاَ يَحْصُلُ بِذَلِكَ

منهاج القويم ج1 ص 126

وشرط الساتر) في الصلاة وخارجها أن يشمل المستور لبساً ونحوه مع ستر اللون، فيكفي (ما يمنع) إدراك (لون البشرة، ولو) حَكَى الحجم ، كسروال ضيق، لكنه للمرأة مكروه، وخلاف الأولى للرجل، أو كان غير ساتر لحجم الأعضاء كأن كان طيناً ولو لم يعتد به الستر، كأن كان (ماء كدراً) أو صافياً تراكمت خطرته حتى منعت الرؤية، وحفرة أو خابية ضيقي رأس يستران الواقف فيهما، وإن وجد ثوباً لحصول المقصود بذلك، بخلاف ما لا يشمل المستور كذلك، ومن ثَمّ قال (لا خيمة ضيقة وظلمة وما يحكي لون البشرة، بأن يعرف به بياضها من سوادها، كزجاج ومهلهل وماء صاف، لأن مقصود الستر لا يحصل بذلك، كالأصباغ التي لا جرم لها من نحو حمرة أو صفرة وإن ستر اللون، لأنها لا تعدّ ساتراً، وتتصور الصلاة في الماء فيمن يمكنه الركوع والسجود فيه وفيمن يومى بهما، وفي الصلاة على الجنازة، ولو قدر على الصلاة فيه والسجود في الشط لم يلزمه، بل له الإيماء به، ويجب على فاقد نحو الثوب الستر بالطين وإن رق والماء الكدر، ويكفي بلحاف فيه اثنان وإن حصلت مماسة محرمة.

مغني المحتاج /4/94

فلقول حذيفة: «نهانا رسولُ الله عن لبس الحرير والديباج وأن نجلس عليه» رواه البخاري، ولخبر أبي داود بإسناد صحيح: أنه أخذ في يمينه قطعة حرير وفي شماله قطعة ذهب وقال: «هَذَانِ ـــــ أي استعمالهما ـــــ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي حِلٌّ لإنَاثِهِمْ» وعلّل الإمامُ و الغزالي الحرمة على الرجل بأن في الحرير خنوثة لا تليق بشهامة الرجل. وقيل: يجوز الجلوس عليه؛ ويردّه الحديث المتقدم. (ويحلّ للمرأة لبسه) وقد انعقد الإجماع بعد عبد الله بن الزبير عليه. (والأصح تحريم افتراشها) للسرف والخيلاء، بخلاف اللبس فإنه يزينها ويدعو إلى الميل إليها ووطئها فيؤدّي إلى ما طلبه الشارع، وهو كثر التناسل. والثاني: يحل كلبسه كما مرَّ في خبر: «حِلٌّ لإنَاثِهِمْ» وسيأتي تصحيحه.

روضة الطالبين ج 1ص 450

وحكي في إباحته وجهان. وفي المركب من الحرير وغيره طريقان . المذهب والذي قطع به الجمهور: أنه إن كان الحرير أكثر وزناً، حرم، وإن كان غيره أكثر، لم يحرم، وإن استويا، لم يحرم على الأصح. والطريق الثاني قاله القَفال : إن ظهر الحرير، حرم وإن قل وزنه، وإن استتر، لم يحرم وإن كثر وزنه.


10 Komentar

  1. muhammad husen mengatakan:

    Adakah pendapat ulama didalam madzhab imam syafi,i yang membolehkan membaca alfatihah hanya dengan menggerakan lisannya saja dan tidak terdengar telinganya sendiri?

  2. forsan salaf mengatakan:

    @ muhammad husen, salah satu syarat sahnya bacaan al-Fatihah dalam shalat adalah dengan sekiranya terdengar suaranya oleh dirinya sendiri walaupun tidak terdengar oleh orang didekatnya . Oleh karena itu, jika hanya menggerakkan lisan tidak sah karena tidak dinamakan membaca. Kami sampai sekarang masih belum menemukan pendapat dalam madzhab Syafi’i yang menyatakan bahwa bacaan Fatihah cukup dengan menggerakkan lisan saja.

  3. Muhammad husen mengatakan:

    Bagaiman hukumnya seorang perempuan yg sholat dgn memakai celana panjang sebagai ganti mukenah,
    Boleh apa tidak?
    Syukron ustd..

  4. forsan salaf mengatakan:

    @ muhammad husen, Syarat sahnya shalat adalah menutup aurat dengan segala pakaian sekiranya memenuhi persyaratannya. Oleh karena itu, shalat menggunakan celana ataukah mukenah selama menutup auratnya, maka shalatnya sah.
    Namun dipandang dari adap dengan Allah, maka hal demikian kurang pantas (tidak bisa membedakan antara menghadap Allah dengan makhluk) dan tidak melakukan apa yang disukai oleh Rasulullah SAW yaitu shalat dengan pakaian putih.

  5. muhammad fauzan mengatakan:

    Assalamulaikum ustazd.ana mau tanya pertanyaan nya begini sekitar satu bulan yang lalu orang tua ustazd kami disini meninggal dunia. pada waktu mau menguburkan ditunda, kerana harus menunggu azan dimasjid kerana harus bertepatan dengan azan itu sendiri padahal sipelayat keluputan untuk keutaan sholt berjamaah kerna acara pemakaman tadi nah pertanyaan ana apa memang ada dalil alquran ,hadist,kitab2ulama yang memperbuat begitu tolong jelaskan sejelasnya syukron atas jawaban nya

  6. forsan salaf mengatakan:

    @ muhammad husen, wa’alaikum salam Wr. Wb.
    Kami belum menemukan keterangan sepeti itu, baik dari hadits ataukah pendapat ulama’, justru yang ada adalah dianjurkan untuk bersegera menguburkannya. Dan menguburkan siang lebih utama daripada malam hari, kecuali jika dikhawatirkan terjadi peruabahan pada diri mayit.

  7. Santhos mengatakan:

    Aslmu alaikum wr wb. Mhon maaf,kalo mgkn sblmnya sdh ada pembahasan ttg solat jamak dan qosor.sy prnh pergi keluar kota brsma seorg ustadz,brgkt sblm duhur dg niat menjamak takhir duhur dan ashar.alhmdulillah sampe tujuan msi dlm wkt solat duhur(sekitar jam 2 siang)tp ustadz tsb ttp menjamak solatnya.dan diwkt solat magrib dan isya ustd tsb jg menjamak takhir solatnya.krn sy org awam ikut aj kt ustadz.mhon pnjelasanya ttg hal ini,soalnya kami tdk berani menanyakan kpd ustadz tsb.terima kasih…

  8. forsan salaf mengatakan:

    @santos,wa’alaikum salam.
    jamak taqdim dipebolehkan bagi musafir dengan 4 syarat :
    1.memulai sholat yg pertama (dhuhur dulu kemudian ashar)
    2.niat jamak pada sholat yg pertama
    3.tidak dipisah dg waktu yg lama
    4.belum sampai batas kota/masih musafir
    jika sudah memenuhi syarat diatas maka diperbolehkan jamak taqdim bagi musafir,karena anda dan ustadz anda sudah dikatakan musafir maka diperbolehkan untuk menjamak,selama syarat2 diatas terpenuhi
    syarat jamak takkhir adalah :
    1.niat untuk menjamak sholat di waktu yg pertama (maghrib)
    2.masih dalam keadaan musafir (belum masuk batas kota)
    jadi sholat yg anda & ustad anda kerjakan sah slama syarat tersebut dipenuhi

  9. Samsul arifin mengatakan:

    Assalammu’alaikum wr.wb. Saya mo tanya ustadz. Bolehkah uang yg kita niatkan utk zakat maal kemudian kita gunakan utk berkurban (membeli hewan kurban) ? Terima kasih atas jawabannya.

  10. forsan salaf mengatakan:

    samsul arifin@ wa’alaikum salam wr. wb.
    Zakat maal setelah di kalkulasikan jumlah yang harus dikeluarkan menjadi dzimmah (tanggungan) dari pemilik harta yang bisa dikeluarkan dari uang milik dia yang manapun. Namun jika sejumlah uang sudah ditentukan menjadi zakatnya, maka uang itu telah menjadi hak dari fakir miskin (mustahiq zakat) sehingga tidak bisa di tashorrufkan (dipergunakan) untuk kepentingan lainnya. Berbeda halnya jika belum menentukannya, maka masih berupa tanggungan yang bisa dipenuhi dengan uangnya yang manapun, maka boleh baginya untuk mempergunakannya membeli hewan kurban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: