Forsan Salaf

Beranda » Headline » Kala Musim Haji Bersemi

Kala Musim Haji Bersemi

كعبةMusim haji telah tiba. Kota suci Mekah digeruduk lagi oleh jutaan muslimin dari seantero jagad. Kulit putih, kulit hitam, kulit coklat, kulit kuning,semuanya, tumpah ruah di kitaran Baitullah, Ka’bah, di bulan ini.

Thawaf, sa’i, lempar jumrah, serta wukuf Arafah akan memarakkan Zul Hijjah di tanah Haram sana. Lautan manusia bergelombang kain ihram serba putih niscaya kian mengentalkan nuansa islami yang teduh dan damai. Aduhai, alangkah beruntungnya orang yang hadir di sana.

Tidak bisa dibantah. Haji, sebagai rukun islam kelima, wajib dikerjakan oleh muslim yang telah berkemampuan. Patokan kemampuan ini diurai dengan panjang lebar oleh ilmu fikih. Simak saja tausiyah Habib Abdullah bin Husein bin Thahir berikut ini.

“Bergegaslah menunaikan ibadah haji dan umrah kala kalian sudah berkesanggupan. Awas, jangan diakhir-akhirkan, jangan pula berleha dan mengulur waktu pelaksanaan keduanya. Allah SWT berfirman,

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Baginda Nabi SAW mewanti-wanti, “Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan yang memadai untuk pergi ke masjidil haram namun ia tak jua berhaji, maka terserah, ia menghendaki mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani.”

HAJI DENGAN ILMU

Setiap ibadah ada ilmunya. Begitu pula Haji. Agar pelaksanaannya berjalan dengan benar dan lancar, alangkah bijaknya bila kita mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Apa sajakah itu? simak saja lanjutan uraian Habib Abdullah berikut,

“Jika kalian berniat melaksanakan haji, mula-mula, persiapkan bekal cukup dari harta yang halal. Lalu, jika kalian mampu, bantulah terlebih dahulu orang-orang kurang mampu sekitarmu. Sebab, esensi haji adalah perkataan bagus dan semangat untuk berbagi.”

“Bekali pula diri kalian dengan pengetahuan fikih haji,  agar kalian bisa melaksanakan prosesi secara sempurna dan terhindar dari kerusakan ibadah. Lazimilah wirid-wirid serta zikir-zikir yang disunnahkan kala bepergian atau berhaji, seperti doa turun dari kendaraan, naik kendaraan, memandangi kota-kota dan lain sebagainya. Bacalah wirid-wirid yang sekiranya tidak membebani diri kalian. Jikalau kalian tidak menghafal satu wirid pun, kalian cukup berujar

اَللَّهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه  وسلم  وَأَعُوذُ بِكَ مِمَّا ا سْتَعَا ذَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه  وسلم

”Ya Allah, aku minta kepada-Mu segala kebaikan yang pernah diminta oleh hamba, sekaligus nabi-Mu, Muhammad SAW. dan aku berlindung kepada-Mu dari segala yang pernah dimintakan perlindungan kepada-Mu oleh nabi-Mu, Muhammad SAW.”

Usai melaksanakan haji, jangan lupa menziarahi masjid kebesaran baginda Nabi SAW. Sambangi pula tempat-tempat bernilai sejarah lainnya. Perbanyak salawat kepada Nabi SAW di perjalanan, di kota Madinah, dan di setiap keadaan kalian. Dan berucaplah dengan lisan dan hati kalian setiap saatnya, dalam aktifitas maupun diam, “Ya Allah, karunialah aku kesempurnaan dalam melaksanakan ajaran Nabi SAW, dhahir maupun bathin, dalam keadaan sehat dan selamat, dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Pengasih.”

HARUS DENGAN AKHLAK

Benar adanya, berhaji kurang afdhal bila tidak disertai mampir ke pusara baginda Nabi SAW. sebab, Ka’bah dan pusara baginda nabi adalah dua monumen yang tak bisa dipisahkan. Kita beroleh hidayah dan bisa berkiblat ke Ka’bah adalah berkat perjuangan beliau SAW. Bisa mengunjungi kedua tempat itu adalah anugerah yang luar bisa. Begitu pula mengunjungi tempat-tempat bernilai sejarah lainnya. Habib Abdullah menasehatkan,

“Jika seseorang ditakdirkan oleh Allah SWT untuk sampai ke tempat-tempat yang mulia dan penuh berkah, maka seyogianya ia memuji kebesaran-Nya dan mensyukuri karunia itu. Janganlah sampai ia lupa diri dan melanggar etika kepantasan di tempat-tempat tersebut. Jangan sampai pula ia bermalas-malasan dan membuang waktu. Akan tetapi, hendaklah ia sebisa mungkin melaksanakan adab yang baik dalam tindak-tanduknya, dhahir dan bathin, dan menjalankan ibadah dengan cara yang paling sempurna. Terpenting lagi, hendaklah ia berprasangka baik kepada semua orang, dan tidak meremehkan siapa pun. Sebab, di Haramain, dosa kecil nilainya amat besar. Sebagaimana pula nilai pahala dilipatgandakan di situ.” Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik la Syarika lak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: