Forsan Salaf

Beranda » Majelis Ifta' » Status Orang Tua Rasulullah, Muslim atau Kafir?

Status Orang Tua Rasulullah, Muslim atau Kafir?

sunAhmad dawilah <dawileh@yahoo.co.id>

ass ana mau tanya menurut akidah habaib bagaimana hukum orang tua nabi mukmin ato musrik?

FORSAN SALAF menjawab :

Dalil golongan yang menyatakan orang tua Nabi masuk neraka adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Hammad :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “ Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka” . maka ketika orang tersebut hendak beranjak, rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.

Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad perowi hadits di atas diragukan oleh para ahli hadits dan hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh  :

“اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّّرْهُ بِالنَّارِ”

Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah SAW “ dimana ayahku ?, Rasulullah SAW menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun menawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “

Riwayat di atas tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka.

Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadits lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad.

Dalil mereka yang lain hadits yang berbunyi :

لَيْتَ شِعْرِي مَا فَعَلَ أَبَوَايَ

Demi Allah, bagaimana keadaan orang tuaku ?

Kemudian turun ayat yang berbunyi :

{ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم }

Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.

Jawaban :

Ayat itu tidak tepat untuk kedua orang tua Nabi karena ayat sebelum dan sesudahnya berkaitan dengan ahlul kitab,  yaitu :

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) (Q.S. Albaqarah : 40)

sampai ayat 129 :

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Semua ayat-ayat itu menceritakan ahli kitab (yahudi).

Bantahan di atas juga diperkuat dengan firman Allah SWT :

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

Kedua orang tua Nabi wafat pada masa fatroh (kekosongan dari seorang Nabi/Rosul). Berarti keduanya dinyatakan selamat.

Imam Fakhrurrozi menyatakan bahwa semua orang tua para Nabi muslim. Dengan dasar berikut :

  • Al-Qur’an surat As-Syu’ara’ : 218-219 :

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.

Sebagian ulama’  mentafsiri ayat di atas bahwa cahaya Nabi berpindah dari nenek moyang yang ahli sujud (muslim) ke orang yang ahli sujud lainnya, begitu seterusnya sampai dilahirkan ayah bundanya.

Adapun Azar yang secara jelas mati kafir, sebagian ulama’ menyatakan bukanlah bapak Nabi Ibrohim yang sebenarnya tetapi dia adalah bapak asuhNya dan juga pamanNya.

  • Hadits Nabi SAW :

قال رسول الله  (( لم ازل انقل من اصلاب الطاهرين الى ارحام الطاهرات ))

“ aku (Muhammad SAW) selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula”

Jelas sekali Rasulullah SAW menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang beliau adalah orang-orang yang suci bukan orang-orang musyrik karena mereka dinyatakan najis dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”

  • Nama ayah Nabi Abdullah, cukup membuktikan bahwa beliau beriman kepada Allah bukan penyembah berhala.

Jika anda ingin mengetahui lebih banyak, maka bacalah kitab Masaliku al-hunafa fi waalidai al-Musthafa” karangan Imam Suyuthi.


36 Komentar

  1. abdulloh mengatakan:

    Khusnudhon adalah kunci orang menjadi mulya.

    Tidaklah salah dan tidaklah jelek ketika orang ingin mengetahui dimana orang tua nabi setelah kematiannya. Tapi alangkah kita akan menjadi orang yang bijaksana ketika kita senantiasa berusaha untuk berhati-hati dalam hidup ini dengan iman dan islam kita, sehingga mudah2an insya Alloh kita mati dengan membawa iman dan islam sebagai modal masuk syurga Alloh SWT.

  2. ahmad dawileh mengatakan:

    yang menggap hammad lemah cuma imam suyuti seorang dan k banyakan menggap kuat

  3. elfasi mengatakan:

    @ ahmad, perlu Anda ketahui, riwayat hadits muslim tu cuman riwayat dari HAMMAD, adapun seperti hadits riwayat MA’MAR tu mempunyai riwayat banyak, sehingga kalopun hadits HAMMAD dinyatakan shohih, tetap hadits riwayat MA’MAR lebih kuat. Jika ada pertentangan dua hadits, maka wajib didahulukan yang lebih kuat. Selain itu,jika kita katakan hadits HAMMAD sohih, maka banyak bertentangan dari hadits2 lainnya dan lagi dimungkinkan hadits tersebut dimansukh dengan ayat :

    وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا

    jadi jangan memandang hanya pada satu hadits saja walaupun shohih dengan melupakan hadits lain yang sangat banyak dan lebih kuat.

  4. Abdurrahman mengatakan:

    Memangnya kenapa dengan riwayat muslim bukankah 2 hadis tersebut tidak bertentangan mengapa langsung riwayat muslima antum hilangkan adapun orang tua nabi dalam masa fatrah maka itu tidak teranggap karena disana masih ada sisa2 orang yang mengikuti peninggalan agama Ibrahim seperti Suraqah ibn Malik dan bukankah dulu da abu lulu’an yg Rasuullulah melihatnya di neraka karena merubah agama ibrahim.Sedangkan kitab Imam Suyuthi tersebut sudah dibantah oleh para ulama. Akan tetapi Imam Suyuti hanya terpeleset dalam masalah ini,mengapa antum tidak meriwatkan hadis yang terakhir shahih apa palsu

  5. Abubakar mengatakan:

    بسم الله الرحمن الرحيم

    ana rasa sudah jelas dan cukup hadist dari Shahih Imam Muslim diatas yg menjelaskan bahwa orang tua nabi berada di neraka.

    antm beralasan orang tua nabi hidup dalam masa kekosongan?
    lalu nabi Isa itu siapa???

    semoga Allah meluruskan segala kebenaran.

  6. assegaffo mengatakan:

    ass.wr.wb
    dasar pertama kita yaitu ihtirom untuk haknya nabi,jika kita saja g senang apabila orang tua kita menjadi bahan gunjingan,apa lagi ini yang di omongkan adalah orang tua nabi,kita di anjurkan mengingat kebaikan orang yang sudah meninggal maka jangan sampai perkataan kita membuat sakit hati nabi,masi banyak kemuliaan yang bisa di bahas
    sesungguhnya tidak ada orang yang membahas masalah ini terlalu dalam kecuali karena di hatinya ada penyakit,semoga yang soerti ini bs cepat sadar n terobati hatinya.
    wass.wr.wb.

  7. muhammadon mengatakan:

    @Abu Bakar, Abdurrahman, Ahmad Dawilah:
    kenapa anda-anda sekalian hanya berpegang dengan hadits Hammad? kenapa tidak melihat pada hadits yang lain? padahal di situ banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan bahwa orang tua nabi adalah orang-orang pilihan tuhan.
    Imam Muslim dan Imam Turmudzi meriwayatkan hadits yang telah mereka sahihkan dari Watsilah bin Asqa’ RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
    إن الله اصطفى من ولد إبراهيم إسماعيل واصطفى من ولد اسماعيل كنانة واصطفى من كنانة قريشا واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم
    sesungguhnya Allah telah memilih Ismail dari turunan Ibrahim dan memilih Kinanah dari turunan Ismail dan memilih Quraisy dari turunan Kinanah dan memilih Bani Hasyim dari turunan Quraisy dan memilih Aku dari turunan Bani Hasyim.
    bahkan dari hadits ini Syekh Ibn Taimiyah berkata: Ketentuan hadits di atas menunjukkan bahwa Ismail dan turunannya adalah orang-orang pilihan dari keturunan Ibrahim.
    Imam Turmudzi meriwayatkan hadits dan membaguskannya dari ‘Abbas bin Abdulmuttholib RA bahwa Nabi SAW bersabda:
    إن الله خلق الخلق فجعلني من خير فرقهم ثم تخير القبائل فجعلني في خير قبيلة ثم تخير البيوت فجعلني في خير بيوتهم فأنا خيرهم نفسا وخيرهم بيتا
    Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk dan menjadikan Aku dari golongan yang paling baik kemudian Allah memilih suku dan menjadikan Aku dari suku yang terbaik kemudian memilih rumah dan menjadikan dalam rumah terbaik mereka. Maka Aku adalah yang paling baik jiwanya dan paling baik rumahnya.
    Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitabnya “Dalailun Nubuwwah” dari Anas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
    أنا محمد بن عبد الله بن عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف بن قصي بن كلاب بن مرة بن كعب بن لؤي بن غالب بن فهر بن مالك بن النضر بن كنانة بن خزيمة بن مدركة بن إلياس بن مضر بن نزار بن معد بن عدنان. وما افترق الناس فرقتين إلا جعلني الله في خيرهما فأخرجت من بين أبوي ولم يصبني شيء من عهر الجاهلية وخرجت من نكاح ولم أخرج من سفاح من لدن آدم حتى انتهيت إلى أبي وأمي فأنا خيركم نسبا وخيركم أبا
    Aku adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdil Mutthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Gholib bin Fihr bin Malik bin Al-Nadlr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudlor bin Nizar bin Ma’d bin ‘Adnan. Dan tidaklah terpisah golongan manusia kecuali Allah telah menjadikan Aku dalam yang terbaik dari dua golongan tersebut. Maka Aku dikeluarkan dari kedua orang tuaku dan tidak mengenaiku sesuatupun dari kebejatan jahiliyah. Dan Aku keluar dari pernikahan dan tidaklah Aku keluar dari perzinaan dari mulai Nabi Adam sampai pada ayah ibuku. Maka Aku adalah yang terbaik dari kalian dari sisi nasab dan orang tua.
    Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang menjelaskan tentang orang-orang tua Nabi SAW. Bahwa mereka adalah pilihan Allah SWT. Tidakkah anda melihat kalimat إن الله اصطفى (sesungguhnya Allah memilih) apakah Allah akan memilih orang kafir sedangkan di sana ada orang yang beriman? Apakah Allah memilih penduduk neraka jika di sana ada penduduk surga? Padahal orang tua Nabi adalah orang-orang pilihan!
    Belum lagi tafsir-tafsir ayat yang tidak mungkin akan kita sebutkan di sini secara keseluruhan.
    Makanya jangan memandang satu hadits kemudian meninggalkan hadits-hadits yang lain.
    Dan hadits-hadits di atas sudah sangat cukup jelas menunjukkan bahwa orang tua Nabi adalah orang-orang pilihan.

  8. muhibbin mengatakan:

    @ Abu bakar,
    الحمد لله رب العالمين
    perlu anda ketahui, bukanlah maksud masa fatroh (kekosongan) itu masa kekosongan dari seorang Nabi (utusan) sehingga semua orang yang mati di masa itu selamat. Akan tetapi, maksudnya adalah tidak sampainya dakwah Nabi-Nabi sebelumnya (لم تبلغه الدعوة), sehingga hanya orang yang tidak sampai kepadanya dakwah saja yang selamat bukan semua orang yang mati di masa tersebut. Adapun orang tua Nabi dan banyak dari orang Makkah tidak sampai kepada mereka dakwah. Bukankah nabi yang paling dekat masanya dengan nabi Muhammad hanya nabi Isa padahal jarak antara keduanya sekitar 600 tahun apalagi dari masanya Nabi Ibrohim yang lebih dari 3000 tahun, sehingga kebodohan melanda orang-orang arab di masa itu sampai di katakan masa jahiliyah. Dakwahnya Nabi Isa kan ada didaerah Syam, dan gak sampai ke daerah Makkah. Buktinya ketika diutusnya Nabi Muhammad, orang-orang Makkah begitu heran sebagaimana dinyatakan di dalam Al-Qur’an :
    أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا
    “Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?”
    Seandainya mereka telah mengetahui akan diutusnya seorang nabi, maka mereka tidak akan merasa keheranan ketika diutsunya Nabi Muhammad. Kalopun ada yang mengetahui akan dakwah Nabi-nabi sebelumnya, maka itu tidaklah merata pada semua orang Arab Makkah.
    Adapun orang yang telah sampai kepadanya dakwah Nabi sebelumnya akan tetapi tetap dalam kekufuran seperti para ahli kitab yang telah menerima dakwah dari Nabi Isa as, maka mereka masuk neraka.
    Intinya : tidak semua yang mati di masa fatroh menjadi orang yang selamat, akan tetapi hanya orang yang tidak sampai kepadanya dakwah Nabi-Nabi sebelumnya. Berarti, orang tua Nabi termasuk orang-orang yang selamat.
    kalo anda tanya Nabi Isa tu siapa ?, jawbannya beliau seorang Nabi bagi ummatnya kaum bani isro’il dan dakwahnya tidak sampai ke daerah Arab.

  9. Wong Djowo mengatakan:

    @Saudara Abdurrahman.
    Sepertinya Anda keseleo lidah (atau keseleo otak?). Anda katakan Imam Suyuthi itu “terpeleset”. Siapa yang terpeleset? Jangan-jangan Anda. Cuma mereka-reka karena gak pernah buka kitabnya. Sedang kami, Alhamdulillah, bukannya sombong, punya kitabnya dan sudah mengkajinya berulang2. Dan bukan suatu kebetulan bila di kitab itu ada pernyataan Imam Suyuthi yang sangat pas melukiskan karakter manusia sejenis Anda. Coba simak!

    وإن كان المجادل ممن يكتب الحديث ولا فقه عنده يقال له قد قالت الأقدمون المحدث بلا فقه كعطار غير طبيب فالأدوية حاصلة في دكانه ولا يدري لماذا تصلح والفقيه بلا حديث كطبيب ليس بعطار يعرف ما تصلح له الأدوية إلا أنها ليست عنده.‏
    وإني بحمد الله قد اجتمع عندي الحديث والفقه والأصول وسائر الآلات من العربية والمعاني والبيان وغير ذلك فأنا أعرف كيف أتكلم وكيف أقول وكيف استدل وكيف ارجح وأما أنت يا أخي وفقني الله وإياك فلا يصلح لك ذلك لأنك لا تدري الفقه ولا الأصول ولا شيئا من الآلات والكلام في الحديث والاستدلال به ليس بالهين ولا يحل الإقدام على التكلم فيه لمن لم يجمع هذه العلوم فاقتصر على ما آتاك الله وهو أنك إذا سئلت عن حديث تقول ورد أو لم يرد وصححه الحفاظ وحسنوه وضعفوه ولا يحل لك في الإفتاء سوى هذا القدر وخل ما عدا ذلك لأهله:
    لا تحسب المجد تمرا أنت آكله * لن تبلغ المجد حتى تلعق الصبرا
    (مسالك الحنفا في والدي المصطفى ص: 67)

    “Jika si pendebat itu pelajar hadis yang tidak memahami fiqh, maka bilang padanya: Para salaf terdahulu berkata. “ahli hadis yang tak mengerti fiqh layakmya penjual obat yang bukan dokter, dia punya obat namun tak tahu kegunaan obat itu. Sebaliknya, ahli fiqh yang tak memahami hadis ibarat dokter yang tidak punya obat. Ia mengerti betul kegunaan obat tapi tak memilikinya.”
    Sedangkan saya, Alhamdulillah, telah menguasai beragam ilmu: hadits, fiqh, usul fiqh, dan ilmu-ilmu bahasa Arab, ilmu ma’ani, bayan dan lain-lain. Aku tahu bagaimana harus bicara, bagaimana mengutip dalil, dan bagaimana menarjih dalil.
    Sedangkan engkau-semoga Allah memberikan taufiq-Nya padamu dan padaku-belum layak untuk hal seperti itu.
    Engkau kurang menguasai fiqh, usul fiqh, juga ilmu-ilmu alat (bahasa arab). Bicara hadis dan mengambil dalil bukanlah hal yang remeh. Bagi yang belum menguasai ilmu-ilmu yang telah kusebut di atas, dilarang membicarakan ini (keimanan ayah bunda baginda Rasul).
    Cukuplah kau bahas ilmu yang diberikan Allah kepadamu. Bila kau ditanya mengenai suatu hadis, cukuplah katakan, Ini warid ini tidak, hadis itu disahihkan para ahli hadis, dinilai hasan, atau dhaif. Tak patut bagimu melampaui semua itu. Serahkanlah yang lain pada ahlinya.
    “Jangan kau anggap kemuliaan itu sebutir kurma yang tinggal kau makan
    Tak kan kau capai kemuliaan itu sebelum kau kecap obat yang pahit”

    (Masalikul hunafa hal. 67)
    Masih lum percaya?…..
    Longok Scan kitabnya di sini
    Tuh… Kan!
    MAKANYA klo ngaji jgn ama om GOOGLE, GRAMEDIA, YAHOO, de-el-el yang gaK jelas siapa orang nulis. Cari guru yang mempunyai sanad yang jelas, supaya bisa dipertanggungjawabkan ilmunya..

    Semoga lain kali tidak TERPELANTING…eh TERPELESET lagi.

  10. abunawas mengatakan:

    waduuuuuuuuuuuh…. mana tuh orang yang ngomong terpeleset … jangan2 dia yang terpeleset,buktinya dia smpe skrng gak muncul-muncul,atau mungkin mulutnya yang terpeleset.

  11. fuad alkatiri mengatakan:

    SUDAH JELAS BAGAIMANA KEDU2KAN ORTU NABI SAW,DAN YG ADA DI DLM IMAM MUSLIM SUDAH DISEBUTKAN ILLAHNYA,JD DNG PENUH TAKDIM PD ROSUL KITA MEYAKINI BAHWASANNYA ORTU NABI SAW TERSELAMATKAN DARI NERAKA.HANYA ORANG2 YANG ADA PENYAKIT HATI SAJA YANG MASIH MENYATAKAN ORTU NABI SAW DI NERAKA.NAUDZU BILLAH HI MINDALIK.TAUBAT…..JNG HARAP MENDAPAT SYAFAAT NABI BILA QT KURANG AJAR PD BELIAU….TP REPOT ORANG2 YANG MENYATAKAN ORTU NABI DI NERAKA MEREKA JUGA G NGAKUI ADANYA SYAFAAT NABI…MAKANYA SEKALI LG TAUBAT YA…..

  12. arifrahman mengatakan:

    assalamu’alaikum wr wb
    berdasarkan beberapa argumen yang diperkuat dengan dalil naqli yang dapat dipertanggung jawaabkan, dapat diketahui bahwasanya pernyataan yang kuat adalah orang tua nabi manusia pilihan, silsilahnya pun dari abdullah sampai nabi adam AS adalah manusia pilihan.

  13. Ahmad mengatakan:

    Bismillah..
    Syaikh Al-Qhadhi salah seorang imam dari madzhab Malikiyyah pernah ditnya tentang bahwa orantua Nabi Saw berada di neraka. Maka beliau menjawab ” MAL’UN (terlaknat org itu) karena Allah Swt berfirman :
    إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا
    ” Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasulul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia dan di akherat dan menyiapkan untuk mereka adzab yang hina “.
    Adakah yang lebih menyakiti hati Rasulullah Saw dari mengatakan bahwa orangtua Rasul Saw berada di neraka ?
    Nabi Saw melarang membicarakan jelek kepada orang yang sudah mati dan memeintahkan menutup lisan jika jika sahabat dipermasalahkan, maka menjaga lisan dari mempermasalahkna orantua Nabi Saw lebih berhak.

    Renugkanlah kisah shohih ini, bahwasanya seoarang pembantu Rasul yang bernama Barkah pernah meminum air kencing Rasul Saw yg ada di dalam bejana. Kemudian Nabi Saw menanyakannya ” Manakah air yg ada di dalam bejana ini ? Barkah menjawab ” Aku minum wahai Rasul ” Lalu apa yg dijawab oleh Rasul Saw ? ” Jika demikian perutmu tidak disentuh oleh api neraka “.
    Kemudian pernah Ibnu Zubair dierintahkan oleh Rasul Saw membuang darah bekas cantuk Rasul Saw. Namun Ibnu Zubair malah meminum darah tersebut. Ketika ditanya oleh Rasul Saw ” Sudahka kau buang darah bekas cantukku wahai Ibnu Zubair ? ” sudah wahai Rasul “. ” Di mana ? ia menjawab ” Dalam perutku “. apa yg dikatakan Rasul Saw ? beliau bersabda ” Barangsiapa yg darahnya bercampur dengan darahku, maka ia tidak akan masuk neraka “.
    Kisah kisah ini disebutkan dalam Hadist-Hadist shohih yg diriwayatkan Daru Quthni.
    Dari kisah ini menunjukkan bahwa hukum kelebihan dalam tubuh Nabi Saw adalah suci, tidak najis karena Rasul tdk memerintahkan Barkag dan Ibnu Zubair untuk menyuci mulutnya. Dan hal ini juga menunjukkan bahwa satu tetes dari kelebihan tubuh Nabi Saw yang masuk ke dalam perut orang lain dapat menyelamatkannya dari api nereka. Lalu bagaimana dengan seseoang yg darah dan daging Nabi Saw berasal darinya ??

  14. Abu-abu mengatakan:

    Jika kita merasa sakit hati sahabat Nabi saw direndahkan, maka bagaimana pula merendahkan martabat (baca: mengkafirkan)orang tua Nabi?

    Salam

  15. cah njeporo mengatakan:

    @Abu Bakar, Abdurrahman, Ahmad Dawilah:

    Berkata syaikhul islam ibn taimiyah dlm mustholahul hadis (18/44), yg artinya kurang lebih: khobar/hadist itu adakalanya
    1.diketahui kejujuranya rowy
    2.diketahui kebohonganya rowy (dalm arti, hadist yg diceritakan rowy tdk sesuai dg alqur’an, sunnah, atau ijma’), mk hadist yg d critkan rowy spt ini tdk bisa dianggap kebenarannya.

    Coba perhatikan hadist yg antum jadikan hujjah:
    Apabila kita mau menela’ahi lebih dalam lagi tentang hadist ( إنّ إبي وأباك فى النار) dan (إستأذنت ربّي لأستغفر لأمّي), mk qt akn mndptkn hadist ke 2 tsbt bertentangan dg alqur’an, sunnah, dan ijma’. sehingga tdk bisa dijadikan hujjah sbgmn pendapatnya imam ibnu taimiyah.

    1.bertentangan dg alqur’an
    diantaranya adlh firman allah وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا (15الأسراء) dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.

    2.bertentangan dg hadist
    diceritakan dr abi sa’id alkhudry: rasulullah saw bersabda: “org yg celaka dizaman fatroh dia akan berkata: ya Allah, tdk ada yg datang kpdku baik kitab maupun rasul, kmdian dia mmbca ayt alqur’an رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آَيَاتِكَ وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (47القصص) “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan sehingga kami akan termasuk menjadi orang-orang mukmin.”

    3.bertentangan dg ijma’
    Berkata syaikhul islam ibn taimiyah dlm mustholahul hadis (11/676)
    والجمهور من السلف والخلف على أن ما كانوا فيه قبل مجيء الرسول صلى الله عليه وسلم من الشرك والجاهلية شيأ قبيحا, وكان شرّا لكن لا يستحقون العذاب إلاّ بعد مجيء الرسول.- إلى أن قال- وعلى هذا عامة السلف وأكثر المسلمين. وعليه يدل الكتاب والسنة. فإن فيهما بيان أنّ ما عليه الكفار شرّ وقبيح وسيء قبل الرسل وإن كاتوا لايستحقون العقوبة

    Mnurut jumhur salaf dan kholaf, org2 jahiliyah, syirik itu jelek sekali tetapi tdk berhak diadzab kecuali stlh datangnya rasul. Ini pendpatnya org2 salaf dn kebanyakan org muslim, karena ini sesuai dg alqur’an dn hadist yg mnerangkan bahwa org kafir itu jelek sekali walaupun sblm kedatangan seorg rasul tdk berhak untk diadzab.

    Didalam ktb assohih d sbutkn, sesungguhnya shbt hudzaifah brkt kpd rasulullah saw: ya rasulallah dulu kita dlm keadaan jahiliyah dn diliputi dg kejelekan, kmdian Allah datang kpd kami dg membawa kebaikan ini, apkh stlh kebaikan ini ada kejelekan? Beliau saw brkta: ya. Yaitu org yg mengajak kepintu2 jahanam, brg siapa yg mengikutinya maka dia akn terjerumus kedalamnya. Ma’na dr hadist d bwh ini,
    وفى الصحيح أن حذيفة قال : ( يا رسول الله ! إنا كنا فى جاهلية وشر فجاء نا الله بهذا الخير فهل بعد هذا الخير من شرّ ؟ قال: نعم. دعاة على أبواب جهنم. من أجابهم إليها قذفوه فيها

    Berkata syaikhul islam ibn taimiyah dlm AL-USHUL (19/215):
    ( فلم يبق فرد يدخل النار إلاّ وقد جاءهم نذير, فمن لم يأته نذير لم يدخل النار ) ذَلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ
    Artinya: tdk ada seorg yg masuk neraka kecuali telah datang org yg memberi peringatan, brg siapa yg tdk dtang kpdanya org yg memberi peringatan maka dia tdk akan masuk neraka. Dg dalil ayt alqur’an “Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah (Maksudnya: penduduk suatu kota tidak akan diazab, sebelum diutus seorang rasul yang akan memberi peringatan kepada mereka.)”

    Dari Keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa bahwa HADIST jika BERTENTANGAN DG ALQUR’AN, HADIST dan IJMA’, MK HADIST TERSEBUT TIDAK BISA DITERIMA Walaupun berada di sohihain, sbgmn ketetapan para ulama’. (Fathul ‘alim finajati abawaiyin nabiyil karim hal:8)

    Apalagi ada banyak hadist yg bisa dibuat hujjah tentang selamatnya kedua orang tua nabi muhammad saw dan masuk surga.

  16. Dimas Joko mengatakan:

    aku org yg msh bau badannya, mg dgn urun rembug di sini, badanku yg bau bs tertutup oleh bau kalian yang sewangi kesturi…
    aku udah membaca dan sdg berusaha verifikasi argumen2 anda semua, mg dimudahkan…
    klo aku yg rendah boleh mengingatkan, tidak semua orangtua nabi itu muslim. ini sekaligus kritik bg yg menyatakan bahwa semua ortu nabi itu muslim. ayah Ibrahim as siapa? dia kafir kan? at Taubah ayat 114 jelas membuktikannya berikut hadits2 yang menjelaskannya.
    coba juga cermati al Baqarah ayat 62 berikut tafsirnya…
    ada bbrp dr argumentasi kalian itu msh lemah dan kdg bangunan pondasinya rentan. sengaja tdk kusebutkan bukan krn aku mengelak tp agar kalian semua kembali mawas diri (iya, termasuk diriku tentu)
    aku melihat kalian itu kalo sdg membahas suatu persoalan, kdg melebar kemana2 n jd bertengkar. msg2 merasa plg benar. pertanyaan yg mgk lbh penting ialah, “Apakah ortu Nabi saw masuk surga/neraka itu termasuk urusan aqidah?”
    Allah memilih Bani Hasyim dari sekian banyak klan Quraisy. tdk berarti semua org Bani Hasyim itu mulia. Allah memilih keturunan Abdul Muthalib, bukan berarti semua anak Abdul Muthalib itu muslim, krn Abu Thalib jelas masuk neraka (At Taubah ayat 113).
    Yaa ‘Alimul Ghaib, hadirkan seorg ulama yg tawadhu’, jujur dan adil agar perkara ini bs terang benderang dan kami, yg bersaudara krn Engkau dan Nabi-Mu tdk melulu berselisih paham…
    Kapan Islam bs jaya utk kali kedua kalo gene caranya??
    Hanya sekedar memberi nasehat, “Bukankah agama itu nasehat?’
    maap klo aku yang bau, menyinggung anda sekalian.🙂

  17. Abu Naufal mengatakan:

    Kafirkah Kedua Orang Tua Nabi ?

    Tidak dipungkiri bahwa kedudukan para Nabi dan Rasul itu tinggi di mata Allah ta’ala. Namun hal itu bukanlah sebagai jaminan bahwa seluruh keluarga Nabi dan Rasul mendapatkan petunjuk dan keselamatan serta aman dari ancaman siksa neraka karena keterkaitan hubungan keluarga dan nasab.

    Allah telah berfirman tentang kekafiran anak Nabi Nuh ‘alaihis-salaam yang akhirnya termasuk orang-orang yang ditenggelamkan Allah bersama orang-orang kafir :

    وَقِيلَ يَأَرْضُ ابْلَعِي مَآءَكِ وَيَسَمَآءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَآءُ وَقُضِيَ الأمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيّ وَقِيلَ بُعْداً لّلْقَوْمِ الظّالِمِينَ * وَنَادَى نُوحٌ رّبّهُ فَقَالَ رَبّ إِنّ ابُنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنّ وَعْدَكَ الْحَقّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ * قَالَ يَنُوحُ إِنّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِـي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنّيَ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

    Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim “. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” [QS. Huud : 44-46].

    Allah juga berfirman tentang keingkaran Azar ayah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam :

    وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ إِلاّ عَن مّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيّاهُ فَلَمّا تَبَيّنَ لَهُ أَنّهُ عَدُوّ للّهِ تَبَرّأَ مِنْهُ إِنّ إِبْرَاهِيمَ لأوّاهٌ حَلِيمٌ

    “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun” [QS. At-Taubah : 114].

    Dan Allah pun berfirman tentang istri Nabi Luth sebagai orang yang dibinasakan oleh adzab Allah :

    فَأَنجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلاّ امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

    Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). [QS. Al-A’raf : 83].

    Tidak terkecuali hal itu terjadi pada kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Mereka berdua – sesuai dengan kehendak kauni Allah ta’ala – mati dalam keadaan kafir. Hal itu ditegaskan oleh beberapa nash di antaranya :

    Al-Qur’an Al-Kariim

    مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

    “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam” [QS. At-Taubah : 113].

    Asbabun-nuzul (sebab-sebab turunnya) ayat ini adalah berkaitan dengan permohonan Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam kepada Allah ta’ala untuk memintakan ampun ibunya (namun kemudian Allah tidak mengijinkannya) [Lihat Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir QS. At-Taubah : 113].

    As-Sunnah Ash-Shahiihah

    1.
    Dari Anas radliyallaahu ’anhu :

    أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

    Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada ?”. Beliau menjawab : “Di neraka”. Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. [HR. Muslim no. 203, Abu Dawud no. 4718, Ahmad no. 13861, Ibnu Hibban no. 578, Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa no. 13856, Abu ‘Awanah no. 289, dan Abu Ya’la no. 3516].

    Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

    فيه : أَن من مات على الكفر فهو في النار , ولا تنفعه قرابة المقربين , وفيه أَن من مات في الفترة على ما كانت عليه العرب من عبادة الأَوثان فهو من أَهل النار , وليس هذا مؤَاخذة قبل بلوغ الدعوة , فإِن هؤُلاءِ كانت قد بلغتهم دعوة إِبراهيم وغيره من الأَنبياء صلوات الله تعالى وسلامه عليهم

    “Di dalam hadits tersebut [yaitu hadits : إن أبي وأباك في النار – ”Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”] terdapat pengertian bahwa orang yang meninggal dunia dalam keadaan kafir, maka dia akan masuk neraka. Dan kedekatannya dengan orang-orang yang mendekatkan diri (dengan Allah) tidak memberikan manfaat kepadanya. Selain itu, hadits tersebut juga mengandung makna bahwa orang yang meninggal dunia pada masa dimana bangsa Arab tenggelam dalam penyembahan berhala, maka diapun masuk penghuni neraka. Hal itu bukan termasuk pemberian siksaan terhadapnya sebelum penyampaian dakwah, karena kepada mereka telah disampaikan dakwah Ibrahim dan juga para Nabi yang lain shalawaatullaah wa salaamuhu ‘alaihim” [Syarah Shahih Muslim oleh An-Nawawi juz 3 hal. 79 melalui perantara Naqdu Masaalikis-Suyuthi fii Waalidayil-Musthafaa oleh Dr. Ahmad bin Shalih Az-Zahrani hal. 26, Cet. 1425 H].

    2.
    Dari Abi Hurairah radliyallaahu ’anhu ia berkata :

    قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي

    Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Sesungguhnya aku telah memohon ijin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku, dan Ia tidak mengijinkanku. Namun Ia mengijinkan aku untuk menziarahi kuburnya” [HR. Muslim no. 976, Abu Dawud no. 3234, An-Nasa’i no. 2034, Ibnu Majah no. 1572, dan Ahmad no. 9686].

    Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata :

    وأبواه كانا مشركين, بدليل ما أخبرنا

    ”Sesungguhnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam adalah musyrik dengan dalil apa yang telah kami bawakan….”. (Kemudian beliau membawakan dalil hadits dalam Shahih Muslim di atas – no. 203 dan 976 – di atas) [Lihat As-Sunanul-Kubraa juz 7 Bab Nikaahi Ahlisy-Syirk wa Thalaaqihim] [1].

    Al-’Allamah Syamsul-Haq ’Adhim ’Abadi berkata :

    فلم يأذن لي :‏‏ لأنها كافرة والاستغفار للكافرين لا يجوز

    ”Sabda beliau shallallaahu ’alaihi wasallam ”Dan Ia tidak mengijinkanku” adalah disebabkan Aminah adalah seorang yang kafir, sedangkan memintakan ampun terhadap orang yang kafir adalah tidak diperbolehkan” [’Aunul-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Kitaabul-Janaaiz, Baab Fii Ziyaaratil-Qubuur]. [2]

    3.
    Dari Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu ia berkata :

    جاء ابنا مليكة – وهما من الأنصار – فقالا: يَا رَسولَ الله إنَ أمَنَا كَانَت تحفظ عَلَى البَعل وَتكرم الضَيف، وَقَد وئدت في الجَاهليَة فَأَينَ أمنَا؟ فَقَالَ: أمكمَا في النَار. فَقَامَا وَقَد شَق ذَلكَ عَلَيهمَا، فَدَعَاهمَا رَسول الله صَلَى الله عَلَيه وَسَلَمَ فَرَجَعَا، فَقَالَ: أَلا أَنَ أمي مَعَ أمكمَا

    Datang dua orang anak laki-laki Mulaikah – mereka berdua dari kalangan Anshar – lalu berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibu kami semasa hidupnya memelihara onta dan memuliakan tamu. Dia dibunuh di jaman Jahiliyyah. Dimana ibu kami sekarang berada ?”. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Di neraka”. Lalu mereka berdiri dan merasa berat mendengar perkataan beliau. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggil keduanya lalu berkata : “Bukankah ibuku bersama ibu kalian berdua (di neraka) ?” [Lihat Tafsir Ad-Durrul-Mantsur juz 4 halaman 298 – Diriwayatkan oleh Ahmad no. 3787, Thabarani dalam Al-Kabiir 10/98-99 no. 10017, Al-Bazzar 4/175 no. 3478, dan yang lainnya; shahih].

    Ijma’

    1.
    Al-Imam Ibnul-Jauzi berkata :

    وأما عبد الله فإنه مات ورسول الله صلى الله عليه وسلم حمل ولا خلاف أنه مات كافراً، وكذلك آمنة ماتت ولرسول الله صلى الله عليه وسلم ست سنين

    ”Adapun ’Abdullah (ayah Nabi), ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam masih berada dalam kandungan, dan ia mati dalam keadaan kafir tanpa ada khilaf. Begitu pula Aminah (tentang kekafirannya tanpa ada khilaf), dimana ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berusia enam tahun” [Al-Maudlu’aat juz 1 hal. 283].

    2.
    Al-’Allamah ’Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qaari telah menukil adanya ijma’ tentang kafirnya kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dengan perkataannya :

    وأما الإجماع فقد اتفق السلف والخلف من الصحابة والتابعين والأئمة الأربعة وسائر المجتهدين على ذلك من غير إظهار خلاف لما هنالك والخلاف من اللاحق لا يقدح في الإجماع السابق سواء يكون من جنس المخالف أو صنف الموافق

    ”Adapun ijma’, maka sungguh ulama salaf dan khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, imam empat, serta seluruh mujtahidin telah bersepakat tentang hal tersebut (kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam) tanpa adanya khilaf. Jika memang terdapat khilaf setelah adanya ijma’, maka tidak mengurangi nilai ijma’ yang telah terjadi sebelumnya. Sama saja apakah hal itu terjadi pada orang-orang menyelisihi ijma’ (di era setelahnya) atau dari orang-orang yang telah bersepakat (yang kemudian ia berubah pendapat menyelisihi ijma’) [Adillatu Mu’taqad Abi Haniifah hal. 7 – download dari http://www.alsoufia.com/%5D.

    Al-Imam Abu Hanifah berkata :

    ووالدا رسول الله مات على الكفر

    ”Dan kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mati dalam keadaan kafir” [Al-Adillatul-Mu’taqad Abi Haniifah hal. 1 – download dari http://www.alsoufia.com/%5D.

    Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thabari berkata dalam Tafsir-nya ketika menjelaskan QS. Al-Baqarah : 119 :

    فإن فـي استـحالة الشكّ من الرسول علـيه السلام فـي أن أهل الشرك من أهل الـجحيـم, وأن أبويه كانا منهم

    ”Semua ini berdasar atas keyakinan dari Rasulullah ’alaihis-salaam bahwa orang-orang musyrik itu akan masuk Neraka Jahim dan kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam termasuk bagian dari mereka”.

    Al-Imam Ibnul-Jauzi berkata ketika berhujjah dengan hadits ”Sesungguhnya aku telah memohon ijin Rabb-ku untuk memintakan ampun ibuku” ; yaitu berdasarkan kenyataan bahwa Aminah bukanlah seorang wanita mukminah” [Al-Maudlu’aat juz 1 hal. 284].

    Beberapa imam ahli hadits pun memasukkan hadits-hadits yang disebutkan di atas dalam Bab-Bab yang tegas menunjukkan fiqh (pemahaman) dan i’tiqad mereka tentang kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam. Misalnya, Al-Imam Muslim memasukkannya dalam Bab [بيان أن من مات على الكفر فهو في النار ولا تناله شفاعة ولا تنفعه قرابة المقربين] “Penjelasan bahwasannya siapa saja meninggal dalam kekafiran maka ia berada di neraka dan ia akan memperoleh syafa’at dan tidak bermanfaat baginya hubungan kekerabatan”. Al-Imam Ibnu Majah memasukkannya dalam Bab [ما جاء في زيارة قبور المشركين] ”Apa-Apa yang Datang Mengenai Ziyarah ke Kubur Orang-Orang Musyrik”. Al-Imam An-Nasa’i memasukkannya dalam Bab [زيارة قبر المشرك] ”Ziyarah ke Kubur Orang-Orang Musyrik. Dan yang lainnya.

    Keterangan di atas adalah hujjah yang sangat jelas yang menunjukkan kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam. Namun, sebagian orang-orang yang datang belakangan menolak ’aqidah ini dimana mereka membuat khilaf setelah adanya ijma’ (tentang kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam). Mereka mengklaim bahwa kedua orang tua beliau termasuk ahli surga. Yang paling menonjol dalam membela pendapat ini adalah Al-Haafidh As-Suyuthi. Ia telah menulis beberapa judul khusus yang membahas tentang status kedua orang tua Nabi seperti : Masaalikul-Hunafaa fii Waalidayal-Musthafaa, At-Ta’dhiim wal-Minnah fii Anna Abawai Rasuulillah fil-Jannah, As-Subulul-Jaliyyah fil-Aabaail-’’Aliyyah, dan lain-lain.

    Bantahan terhadap Syubuhaat

    1.
    Mereka menganggap bahwa kedua orang tua nabi termasuk ahli fatrah sehingga mereka dimaafkan.

    Kita Jawab :

    Definisi fatrah menurut bahasa kelemahan dan penurunan [Lisaanul-’Arab oleh Ibnul-Mandhur 5/43]. Adapun secara istilah, maka fatrah bermakna tenggang waktu antara dua orang Rasul, dimana ia tidak mendapati Rasul pertama dan tidak pula menjumpai Rasul kedua” [Jam’ul-Jawaami’ 1/63]. Hal ini seperti selang waktu antara Nabi Nuh dan Idris ’alaihimas-salaam serta seperti selang waktu antara Nabi ’Isa ’alaihis-salaam dan Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam. Definisi ini dikuatkan oleh firman Allah ta’ala :

    يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلا نَذِيرٍ

    Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan” [QS. Al-Maaidah : 19].

    Ahli fatrah terbagi menjadi dua macam :

    – Yang telah sampai kepadanya ajaran Nabi.
    – Yang tidak sampai kepadanya ajaran/dakwah Nabi dan dia dalam keadaan lalai.

    Golongan pertama di atas dibagi menjadi dua, yaitu : Pertama, Yang sampai kepadanya dakwah dan dia bertauhid serta tidak berbuat syirik. Maka mereka dihukumi seperti ahlul-islam/ahlul-iman. Contohnya adalah Waraqah bin Naufal, Qus bin Saa’idah, Zaid bin ’Amr bin Naufal, dan yang lainnya. Kedua, Yang tidak sampai kepadanya dakwah namun ia merubah ajaran dan berbuat syirik. Golongan ini tidaklah disebut sebagai ahlul-islam/ahlul iman. Tidak ada perselisihan di antara ulama bahwa mereka merupakan ahli neraka. Contohnya adalah ’Amr bin Luhay [3], Abdullah bin Ja’dan, shahiibul-mihjan, kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, Abu Thalib, dan yang lainnya.

    Golongan kedua, maka mereka akan diuji oleh Allah kelak di hari kiamat.

    Kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memang termasuk ahli fatrah, namun telah sampai kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam. Maka, mereka tidaklah dimaafkan akan kekafiran mereka sehingga layak sebagai ahli neraka.

    2.
    Hadits-hadits yang menceritakan tentang dihidupkannya kembali kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ke dunia, lalu mereka beriman kepada ajaran beliau.

    Di antara hadits-hadits tersebut adalah :

    عن عائشة رضي الله عنها قالت: حج بنا رسول الله حجة الوداع ، فمرّ بي على عقبة الحجون وهو باكٍ حزين مغتم فنزل فمكث عني طويلاً ثم عاد إلي وهو فرِحٌ مبتسم ، فقلت له فقال : ذهبت لقبر أمي فسألت الله أن يحييها فأحياها فآمنت بي وردها الله

    Dari ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam melakukan haji bersama kami dalam haji wada’. Beliau melewati satu tempat yang bernama Hajun dalam keadaan menangis dan sedih. Lalu beliau shallallaahu ’alaihi wasallam turun dan menjauh lama dariku kemudian kembali kepadaku dalam keadaan gembira dan tersenyum. Maka akupun bertanya kepada beliau (tentang apa yang terjadi), dan beliau pun menjawab : ”Aku pergi ke kuburan ibuku untuk berdoa kepada Allah agar Ia menghidupkannya kembali. Maka Allah pun menghidupkannya dan mengembalikan ke dunia dan beriman kepadaku” [Diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dalam An-Nasikh wal-Mansukh no. 656, Al-Jauzaqaani dalam Al-Abaathil 1/222, dan Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat 1/283-284].

    Hadits ini tidak shahih karena perawi yang bernama Muhammad bin Yahya Az-Zuhri dan Abu Zinaad. Tentang Abu Zinaad, maka telah berkata Yahya bin Ma’in : Ia bukanlah orang yang dijadikan hujjah oleh Ashhaabul-Hadiits, tidak ada apapanya”. Ahmad berkata : ”Orang yang goncang haditsnya (mudltharibul-hadiits)”. Berkata Ibnul-Madiinii : ”Menurut para shahabat kami ia adalah seorang yang dla’if”. Ia juga berkata pula : ”Aku melihat Abdurrahman bin Mahdi menulis haditsnya”. An-Nasa;i berkata : ”Haditsnya tidak boleh dijadikan hujjah”. Ibnu ’Adi berkata : ”Ia termasuk orang yang ditulis haditsnya” [silakan lihat selengkapnya dalam Tahdzibut-Tahdzib]. Ringkasnya, maka ia termasuk perawi yang ditulis haditsnya namun riwayatnya sangat lemah jika ia bersendirian.

    Adapun Muhammad bin Yahya Az-Zuhri, maka Ad-Daruquthni berkata : ”Matruk”. Ia juga berkata : ”Munkarul-Hadits, ia dituduh memalsukan hadits” [lihat selengkapnya dalam Lisaanul-Miizaan 4/234].

    Dengan melihat kelemahan itu, maka para ahli hadits menyimpulkan sebagai berikut : Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat (1/284) berkata : ”Palsu tanpa ragu lagi”. Ad-Daruquthni dalam Lisaanul Mizan (biografi ’Ali bin Ahmad Al-Ka’by) : ”Munkar lagi bathil”. Ibnu ’Asakir dalam Lisanul-Mizan (4/111) : ”Hadits munkar”. Adz-Dzahabi berkata (dalam biografi ’Abdul-Wahhab bin Musa) : ”Hadits ini adalah dusta”.

    عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا كان يوم القيامة شفعت لأبي وأمي وعمي أبي طالب وأخ لي كان في الجاهلية

    Dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Pada hari kiamat nanti aku akan memberi syafa’at kepada ayahku, ibuku, pamanku Abu Thalib, dan saudaraku di waktu Jahiliyyah” [Diriwayatkan oleh Tamam Ar-Razi dalam Al-Fawaaid 2/45].

    Hadits ini adalah palsu karena rawi yang bernama Al-Waliid bin Salamah. Ia adalah pemalsu lagi ditinggalkan haditsnya [lihat Al-Majruhiin oleh Ibnu Hibban 3/80 dan Mizaanul-I’tidaal oleh Adz-Dzahabi 4/339]. Pembahasan selengkapnya hadits ini dapat dibaca dalam Silsilah Al-Ahaadits Adl-Dla’iifah wal-Ma’udluu’ah oleh Asy-Syaikh Al-Albani no. 322.

    عن علي مرفوعاً : « هبط جبريل علي فقال إن الله يقرئك السلام ويقول إني حرمت النار على صلبٍ أنزلك وبطنٍ حملك وحجرٍ كفلك »

    Dari ’Ali radliyallaahu ’anhu secara marfu’ : ”Jibril turun kepadaku dan berkata : ’Sesungguhnya Allah mengucapkan salaam dan berfirman : Sesungguhnya Aku haramkan neraka bagi tulang rusuk yang telah mengeluarkanmu (yaitu Abdullah), perut yang mengandungmu (yaitu Aminah), dan pangkuan yang merawatmu (yaitu Abu Thalib)” [Diriwayatkan oleh Al-Jauzaqaani dalam Al-Abaathil 1/222-223 dan Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat 1/283].

    Hadits ini adalah palsu (maudlu’) tanpa ada keraguan sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat (1/283) dan Adz-Dzahabi dalam Ahaadiitsul-Mukhtarah no. 67.

    Dan hadits lain yang senada yang tidak lepas dari status sangat lemah, munkar, atau palsu.

    3.
    Hadits-hadits yang menjelaskan tentang kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dinasakh (dihapus) oleh hadits-hadits yang menjelaskan tentang berimannya kedua orang tua beliau.

    Kita jawab :

    Klaim nasakh hanyalah diterima bila nash naasikh (penghapus) berderajat shahih. Namun, kedudukan haditsnya yang dianggap naasikh adalah sebagaimana yang kita lihat (sangat lemah, munkar, atau palsu). Maka bagaimana bisa diterima hadits shahih di-nasakh oleh hadits yang kedudukannya sangat jauh di bawahnya ? Itu yang pertama. Adapun yang kedua, nasakh hanyalah ada dalam masalah-masalah hukum, bukan dalam masalah khabar. Walhasil, anggapan nasakh adalah anggapan yang sangat lemah.

    Pada akhirnya, orang-orang yang menolak hal ini berhujjah dengan dalil-dalil yang sangat lemah. Penyelisihan dalam perkara ini bukan termasuk khilaf yang diterima dalam Islam (karena tidak didasari oleh hujjahyang kuat). Orang-orang Syi’ah berada pada barisan terdepan dalam memperjuangkan pendapat bathil ini. Di susul kemudian sebagian habaaib (orang yang mengaku keturunan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam) dimana mereka menginginkan atas pendapat itu agar orang berkeyakinan tentang kemuliaan kedudukan mereka sebagai keturunan Rasulullah. Hakekatnya, motif dua golongan ini adalah sama. Kultus individu.

    Keturunan Nabi adalah nasab yang mulia dalam Islam. Akan tetapi hal itu bukanlah jaminan – sekali lagi – bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam surga dan selamat dari api neraka. Allah hanya akan menilai seseorang – termasuk mereka yang mengaku memiliki nasab mulia – dari amalnya. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

    وَمَنْ بَطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

    “Barangsiapa yang lambat amalnya, maka kemuliaan nasabnya tidak bisa mempercepatnya” [HR. Muslim – Arba’un Nawawiyyah no. 36].

    Abul-Jauzaa’ 1429

    ==============

    Catatan kaki :

    [1] Perkataan Imam Al-Baihaqi tentang kekafiran kedua orang tua Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam juga dapat ditemui dalam kitab Dalaailun-Nubuwwah juz 1 hal. 192, Daarul-Kutub, Cet. I, 1405 H, tahqiq : Dr. Abdul-Mu’thi Al-Qal’aji].

    [2] Karena ibu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam termasuk orang-orang kafir. Allah telah melarang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kaum mukminin secara umum untuk memintakan ampun orang-orang yang meninggal dalam keadaan kafir sebagaimana firman-Nya :

    مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

    “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam” [QS. At-Taubah : 113].

    [3] Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata :

    قال النبي صلى الله عليه وسلم رأيت عمرو بن عامر بن لحي الخزاعي يجر قصبه في النار وكان أول من سيب السوائب

    Telah berkata Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Aku melihat ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i menarik-narik ususnya di neraka. Dia adalah orang pertama yang melepaskan onta-onta (untuk dipersembahkan kepada berhala)” [HR. Bukhari no. 3333 – tartib maktabah sahab, Muslim no. 2856].

    Nisbah Al-Khuzaa’i merupakan nisbah kepada sebuah suku besar Arab, yaitu Bani Khuza’ah. Ibnu Katsir menjelaskan sebagai berikut :

    عمرو هذا هو ابن لحي بن قمعة, أحد رؤساء خزاعة الذين ولوا البيت بعد جرهم وكان أول من غير دين إبراهيم الخليل, فأدخل الأصنام إلى الحجاز, ودعا الرعاع من الناس إلى عبادتها والتقرب بها, وشرع لهم هذه الشرائع الجاهلية في الأنعام وغيرها

    “‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuza’i merupakan salah satu pemimpin Khuza’ah yang memegang kekuasaan atas Ka’bah setelah Kabilah Jurhum. Ia adalah orang yang pertama kali mengubah agama Ibrahim (atas bangsa Arab). Ia memasukkan berhala-berhala ke Hijaz, lalu menyeru kepada beberapa orang jahil untuk menyembahnya dan bertaqarrub dengannya, dan ia membuat beberapa ketentuan jahiliyyah ini bagi mereka yang berkenaan dengan binatang ternak dan lain-lain……” [lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/148 QS. Al-Maidah ayat 103].

    (Abu Al-Jauzaa’)

  18. Abu Naufal mengatakan:

    Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

    فيه : أَن من مات على الكفر فهو في النار , ولا تنفعه قرابة المقربين , وفيه أَن من مات في الفترة على ما كانت عليه العرب من عبادة الأَوثان فهو من أَهل النار , وليس هذا مؤَاخذة قبل بلوغ الدعوة , فإِن هؤُلاءِ كانت قد بلغتهم دعوة إِبراهيم وغيره من الأَنبياء صلوات الله تعالى وسلامه عليهم

    “Di dalam hadits tersebut [yaitu hadits : إن أبي وأباك في النار – ”Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”] terdapat pengertian bahwa orang yang meninggal dunia dalam keadaan kafir, maka dia akan masuk neraka. Dan kedekatannya dengan orang-orang yang mendekatkan diri (dengan Allah) tidak memberikan manfaat kepadanya. Selain itu, hadits tersebut juga mengandung makna bahwa orang yang meninggal dunia pada masa dimana bangsa Arab tenggelam dalam penyembahan berhala, maka diapun masuk penghuni neraka. Hal itu bukan termasuk pemberian siksaan terhadapnya sebelum penyampaian dakwah, karena kepada mereka telah disampaikan dakwah Ibrahim dan juga para Nabi yang lain shalawaatullaah wa salaamuhu ‘alaihim” [Syarah Shahih Muslim oleh An-Nawawi juz 3 hal. 79 melalui perantara Naqdu Masaalikis-Suyuthi fii Waalidayil-Musthafaa oleh Dr. Ahmad bin Shalih Az-Zahrani hal. 26, Cet. 1425 H].
    ABu Naufal, “Dari penjelasan Imam Nawawi ini mk kita ketahui kekeliruan besar dr manusia yang menyangka orang yg meninggal di zaman sebelum Nabi termasuk zaman Fatroh (kekosongan)mk dia tdk akan masuk neraka. . . karena mereka keliru memahami maksud zaman tsb yakni zaman di mana mereka tdk diutusnya Nabi/Rasul kpd mereka. . namun bukankah dakwah para Nabi dan Rosul telah sampai yang dibawa oleh ulama2 mereka? Sebagaimana Pendeta2 yang beriman kpd kedatangan Nabi Muhammad pdhl mereka hidup di zaman tdk diutus Nabi? Mereka ini para Da’i yg menyebakan ajaran para Nabi dan Rasul. . demikian pula dg kaum Quraisy dan kabilah makkah lainnnya mengenal ajaran Nabi Ibrahim (Haji, QUrban dll) namun mereka kemudian menyimpang?…
    Jk Memaksakan mkn ini mk konsekuensinya Raja dan para pengejar pemuda Ashhabul Kahfi juga tdk kafir krn mereka hidup di zaman antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad???? Tetapi mengapa para AshHabul Kahfi dipuji sedang Raja dan pengikutnya dicela?. . .
    Mk benarlah ucapan Imam Nawawi di atas bhw Dakwah Nabi Ibrahim telah sampai kepada mereka dan turunan2 mereka lalu mereka menyimpang sebagaimana dakwah Nabi Adam telah sampai pada turunannya namun kemudian mereka menyimpang dan kafir shg diutusnya Rasul pertama Nuh alaihi Sallam…
    Perihal : aku (Muhammad SAW) selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula”
    Anggaplah hadits shohih. . mk makna sulbi yang suci adl para orang tua Nabi terjaga dari perbuatan Zina…. mk semua keturunan mereka jauh dari Zina… (silakan membaca keterangan para ulama.”
    Jika demikian sesungguhnya Nasab Qobil pembunuh Nabi dan Kan’an anak Nuh lebih mulia dari Nabi Muhammad karena orang tuanya Nabi dan Rasul shg sulbi2 merekapun sangat suci.. tetapi ini tdk menjamin mereka ahli surga….
    Maka alangkah lemahnya hujjah-hujjah sanggahan mereka di atas thd ayat 2 Al QUr’an dan Hadits-hadits Nabi

  19. Abu Naufal mengatakan:

    Afwan. . salah ketik maksudnya Qobil pembunuh anak Nabi Adam, Habil

  20. forsan salaf mengatakan:

    @ abu naufal, mohon maaf, artikel anda yang pertama tidak kami approve dikarenakan salah alamat. Website ini bukanlah milik al-Habib Mundzir al-Musawa, dan jika anda ingin mengetahui website ini, silahkan anda baca profil kami pada page “tentang kami” di atas. Namun kami masih mengaprrove artikel anda yang kedua untuk bisa didiskusikan bersama disini.

  21. elfasi mengatakan:

    @ abu naufal, silahkan anda liat pada artikel di atas, telah dibahas juga riwayat Imam Muslim, bahwa hanya diriwayatkan oleh imam Muslim dari Hammad, sehingga para ahli hadits sendiri menyangsikannya sbg hujjah akan kekafiran orang tua Nabi.

    ”Adapun ’Abdullah (ayah Nabi), ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam masih berada dalam kandungan, dan ia mati dalam keadaan kafir tanpa ada khilaf. Begitu pula Aminah (tentang kekafirannya tanpa ada khilaf), dimana ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berusia enam tahun” [Al-Maudlu’aat juz 1 hal. 283].

    mas, pernyataan bahwa tidak ada khilaf perlu ditinjau lagi krn masih banyak ulama’2 yang menyatakan bahwa orang tua Nabi selamat seperti Imam Suyuthi sampai mengarang Risalah khusus yang dinamakan “Masaliku al-hunafa fi waalidai al-Musthafa “

    Kedua, Yang tidak sampai kepadanya dakwah namun ia merubah ajaran dan berbuat syirik. Golongan ini tidaklah disebut sebagai ahlul-islam/ahlul iman. Tidak ada perselisihan di antara ulama bahwa mereka merupakan ahli neraka. Contohnya adalah ’Amr bin Luhay [3], Abdullah bin Ja’dan, shahiibul-mihjan, kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, Abu Thalib, dan yang lainnya. Golongan kedua, maka mereka akan diuji oleh Allah kelak di hari kiamat. Kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memang termasuk ahli fatrah, namun telah sampai kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam. Maka, mereka tidaklah dimaafkan akan kekafiran mereka sehingga layak sebagai ahli neraka.

    Mas, dari mana anda katakan bahwa orang tua Nabi termasuk golongan ‘Amr bin Luha…??, padahal tidak ada riwayat satupun yang menyatakan bahwa orang tua Nabi melakukan kesyirikan dan tidak sesuai dengan syari’at nabi Ibrohim….sebagaimana yang dipaparkan oleh Imam Suyuthi dalam kitabnya di atas….
    Sedangkan pernyataan dr Imam Nawawi sebagaimana dalam syarh hadits muslimnya berikut :
    وَفِيهِ أَنَّ مَنْ مَاتَ فِي الْفَتْرَة عَلَى مَا كَانَتْ عَلَيْهِ الْعَرَب مِنْ عِبَادَة الْأَوْثَان فَهُوَ مِنْ أَهْل النَّار وَلَيْسَ هَذَا مُؤَاخَذَة قَبْل بُلُوغ الدَّعْوَة ، فَإِنَّ هَؤُلَاءِ كَانَتْ قَدْ بَلَغَتْهُمْ دَعْوَة إِبْرَاهِيم وَغَيْره مِنْ الْأَنْبِيَاء صَلَوَات اللَّه تَعَالَى وَسَلَامه عَلَيْهِمْ
    Imam Nawawi semula menyatakan bahwa orang Arab termasuk ahlu fatroh, tapi selanjutnya beliau menyatakan bahwa telah sampai kepada mereka dakwah dari Nabi Ibrohim dan Nabi2 sebelumnya. Disini memunculkan kemusykilan sebagai berikut :
    1. Terjadi pertentangan pada pernyataan beliau dengan pengertian dari ahlu fatroh….dimana ahlu fatroh adalah kaum yang tidak diutus pada mereka seorang Nabi seperti kaum arab dimana tidak ada Nabi setelah Nabi Isa dan Nabi Isa tidaklah diutus untuk kaum Arab melainkan hanya untuk kaum Nasrani…. Klo dakwah dari Nabi Ibrohim, sungguh sngat jauh kurun antara Nabi Ibrohim dengan masa jahiliyah yaitu lebih dari 3000 thn, sehingga hampir tidak ada yang tau akan ajaran Nabi Ibrohim tentang keberadaan seorang Rasul, hal ini dibuktikan bagaimana reaksi orang arab waktu itu ketika Nabi mengumandangkan kenabiannya dimana mereka begitu kaget, sehingga menyatakan :
    أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا
    “ apakah Allah akan mengutus manusia sebagai Rasul (utusan) “
    2. Imam Nawawi hanya membatasi orang yang masuk neraka adalah orang arab yang menyembah berhala, sehingga orang tua Nabi tidak masuk didalamnya, karena mereka tidak pernah sama sekali menyembahnya….
    Jika anda katakan bahwa orang arab telah mendapati dakwah dari pendeta Nasrani untuk Tauhid…. Maka sungguh anda tidak mengerti tentang ahlu fatroh…
    Imam Izzuddin bin Abdissalam menyatakan bahwa semua nabi sebelum Nabi Muhammad diutus khusus untuk kaumnya, sehingga semua orang yang bukan kaumnya menjadi ahlu fatroh. Dari sini anda bisa menyimpulkan bahwa orang tua Nabi adalah termasuk ahlu fatroh karena bukan termasuk kaum dari Nabi Isa as…..
    Lagian mas, walaupun Imam Nawawi menyatakan seperti itu, tp anda bukanlah benar2 karena mengikuti beliau dan menjadikan beliau sebagai panutan, tp hanya sebatas ingin memperkuat pendapat anda, buktinya gimana menurut anda dengan pendapat Imam Nawawi yang menyatakan bahwa bid’ah terbagi menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah madzmumah….???? Apakah anda akan mengikutinya juga..????

    Klaim nasakh hanyalah diterima bila nash naasikh (penghapus) berderajat shahih. Namun, kedudukan haditsnya yang dianggap naasikh adalah sebagaimana yang kita lihat (sangat lemah, munkar, atau palsu). Maka bagaimana bisa diterima hadits shahih di-nasakh oleh hadits yang kedudukannya sangat jauh di bawahnya ? Itu yang pertama. Adapun yang kedua, nasakh hanyalah ada dalam masalah-masalah hukum, bukan dalam masalah khabar. Walhasil, anggapan nasakh adalah anggapan yang sangat lemah.

    Mas, coba anda liat di artikel di atas apakah di tuliskan tentang nasikh dan mansukh ??? yang ada justru keterangan bahwa hadits yang menyatakan orang tua Nabi kafir hanya satu riwayat imam Muslim saja dan dari jalur Hammad yang diragukan oleh sebagian ahli hadits…..
    Pernyataan anda ini justru memberikan kesan bahwa anda sudah mentarjih hadits2 Nabi dengan perbekalan dan kemampuan tentang hadits yang masih sangat jauh seperti anda ini….apakah boleh mentarjih hadits dari orang yang tidak mengenal hadits..????

    Perihal : aku (Muhammad SAW) selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula” .Anggaplah hadits shohih. . mk makna sulbi yang suci adl para orang tua Nabi terjaga dari perbuatan Zina…. mk semua keturunan mereka jauh dari Zina… (silakan membaca keterangan para ulama.”

    Mas, anda mentafsirkan pernyataan “ dari sulbi2 orang yang suci” dengan “ tidak pernah berzina” sungguh tafsir tanpa dalil sama sekali, bagaimana tidak, justru maksud yang paling tepat dari hadits itu adalah dari sulbi orang yang beriman bukan orang kafir karena Allah telah berfirman :
    { إِنَّمَا المشركون نَجَسٌ } [ التوبة : 28 ]
    “ sesunnguhnya orang musyrik itu najis”
    Sangat jelas sekali bagaimana Allah menyatakan bahwa orang kafir adalah najis, sedangkan Nabi menyatakan bahwa beliau dipindah2 dari sulbi orang2 yang suci. ( Lihat tafsir Al-Alusi juz 5 hal 388)
    Dan bagaimana juga Allah menjelaskan dalam al-Qur’an :
    { الذى يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِى الساجدين } [ الشعراء : 218 ، 219 ] .
    Dalam tafsir ar-Rozi dijelaskan mengeni penafsiran ayat ini sebagai berikut :
    قيل معناه : إنه كان ينقل روحه من ساجد إلى ساجد وبهذا التقدير : فالآية دالة على أن جميع آباء محمد عليه السلام كانوا مسلمين . وحينئذ يجب القطع بأن والد إبراهيم عليه السلام كان مسلماً .
    “maknanya adalah : bahwa Allah memindah ruhnya Nabi dari orang yang bersujud (muslim) kepada orang yang bersujud” . maka ayat secara jelas menjelaskan bahwa semua ayah para Nabi adalah muslim, dan memastikan bahwa ayah nabi Ibrohim adalah muslim (bukan Azar)”

  22. muhibbin mengatakan:

    @ abu naufal, anda rupanya tipe org yg lebih membanggakan diri anda drpd Nabi anda… buktix anda katakan nasab Qobil dan Ka’an lebih baik dari nasab Nabi, artinya bapak dan ibu anda lebih mulia daripada bapak dan ibu Nabi…… maaf ya, kami gk mau menerima, bapak Ibu Nabi lebih mulia dr bapak ibu abu naufal… dan anda rupanya alergi ama yg namanya habaib…. anda katakan mereka org2 yg mengaku cucu Nabi serta merka bisa masuk neraka, emangnya anda gk tau diri anda..???? yg jelas, anda bukan cucu Nabi dan tidak ada satupun jaminan anda masuk surga….
    Bravo habaib cucu Nabi…..!!!! kami pecinta kalian, truskan perjuangan kalian sprti kakek2 kalian yg menjadikan orang tua kami menjadi orang yang beriman.. semoga dgn mencintai kalian, kamipun menjadi orang yg dicintai oleh kakek kalian, Nabi Muhammad SAW….

  23. kang mas messi mengatakan:

    Gampang kok membuktikan bahwa ayah Nabi saw tdk kafir. Tidak usah pake segala macam hadits yg terus dipertentangkan. Pake otak masing2 saja. Kecuali otaknya bermasalah.

    Coba saja lihat nama beliau. ABDULLAH. Darimana nama itu muncul kalau bukan karna penghambaannya kepada Allah swt? Darimana nama MUHAMMAD muncul kalau bukan orang2 tua beliau telah mendapatkan ilham/wahyu dari Allah swt?

  24. Salafi mengatakan:

    Yang Jelas Segera Bubarkan Faham Wahhaby yang mengaku Salafy dan Kembali kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah !!!

  25. jebod mengatakan:

    Terlalu……… sungguh terlalu dan tdk beradab sama sekali orang2 yg beranggapan bahkan meyakini bhw ortu Nabi SAW tdk selamat ( di neraka)……
    Allah Swt berfirman :

    إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

    ” Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasulul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia dan di akherat dan menyiapkan untuk mereka adzab yang hina “.

    bertobatlah dr anggapan dan keyakinan tsb…….

  26. Santhos mengatakan:

    Perenungan…
    – jika ada org laen brkta kpd anda”org tuamu adlh kafir”,ap yg anda lakukan?
    – jika anda pny org tua yg blm solat dan melakukan sesaji ato memandikan keris dg kembang,apakah anda akan berkata”org tuaku kafir dan akan msuk neraka”.jika demikian apakah anda trmsuk anak yg soleh yg mau mndoakan org tua?
    – jika anda mengaku seorg muslim yg ber-nabikan Muhammad SAAW,apakah anda msh meragukan kemuliaan lesan Rosulullah?dan mshkah anda menganggap doa beliau tdk di kabulkan?jika demikian anda blm sepenuhnya menganggap Rosulullah sbg manusia yg paling sempurna.
    – kalo Nabi di lahirkan dr org kafir,berarti pernikahanya-pun adlh zina.anaknya-pun adlh anak haram.pantaskah anak haram di jdikan seorg nabi?
    – islam mengajarkan akhlak mulia.setinggi apapun ilmu tanpa akhlak,bagaikan buih di atas air.akan lenyap tertiup angin.

  27. aldj mengatakan:

    artikel yg menarik,masing2 memberikan dalil2 hadits,n masing2 merasa bhw haditsnya kuat.
    tapi satu yg dilupakan,oleh orang2 salafi wahaby ini,
    berikan bukti ttg perbuatan mereka yg bhw mereka orang tua nabi adalah “musyrik”,
    adakah anda wahai wahabi mendapatkan berita bhw mereka pernah menyembah berhala?.
    tdk heran kaum wahabi ini bisa dikatakan agama tersendiri,
    1.krn nabi mereka beda dgn nabi kita,nabi mereka ayah n ibunya musrik
    2.tuhan merka ada rambutnya n bertulang rusuk
    3.tuhan mereka bertempat n duduk dikursi,kursi tsb kursi yg murahan,krn bisa berbunyi tanda sdh reyot
    4.mereka membenci rosulullah n keluarganya
    5.dan mereka kaum wahabi pendongeng,krn hidup mereka di bumi yg ceper
    6.akal merka rusak krn mereka hidup dialam yg bumi mereka sebagai pusat tata surya,matahari mereka beredar mengelilingi bumi

    dan lihatlah kpd anda2 yg fanatik kpd imam nawawi,anda bisa melihat posisi imam nawawi trhdp keluarga rosul.

  28. El_Muhibbin mengatakan:

    Yang dipermasalahkan ini kan kata abi yang terdapat hadits yang dimaksud kan.nah ana akan jelaskan.

    Bagi anda yang muslim tentunya anda mempunya Al-Qur’an dan Insya Allah anda membacannya setiap hari meskipun satu ayat.

    Nah ada pertanyaan dari ana buat anda yang mengatakan bahwa ayah nabi itu kafir alias masuk neraka.

    Nah silahkan anda membuka Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 133

    Disitu terdapat kata aba,kita juga mengetahui siapakah ayah dari Nabi Ya’kub A.s itu adalah siapa. Tapi yang menjadi permasalah itu bukan disitunya tetapi disitu terdapat kata aba tetapi disitu terdapat namanya Nabi Ismail A.s dan kita juga mengetahui Nabi Ismail A.s itu siapanya Nabi Ya’kub A.s pamannya Nabi Ya’kub A.s kan…?. Tetapi kenapa di Al-Qur’an disebut dengan sebutan aba,padahal kata aba yang masyhur dikenal oleh khalayak orang adalah ayah dari anak kandung.Tetapi inilah keindahan dari bahasa Al-Qur’an Al-Karim . Maka dari itu berhati-hatilah anda dalam mengkaji ilmu agama ( islam ) terlebih-lebih menganai keluarga Rasulullah S.A.W,keluarga kita sendiri dikata-katain saja kita marah apalagi dikatakan kafir dan itu orang tua kita,terus bagaimana dengan orang tuanya Rasulullah S.A.W. Anda harus teliti kalo mau mempelajari ilmu apalagi menafsirkan jangan grudak gruduk nanti TERPELESET kayak ( ABDURRAHMAN ) yang diatas itu. Soalnya banyak sekali ayat-ayat yang masih perlu dijelaskan terlebih dahulu,contohnya hadits ini. Maka bisa disimpulkan bahwasannya kata aba/abi yang terkandung didalam Al-Qur’an maupun hadits sekalipun karena semua sumbernya satu yaitu dari Allah S.W.T. Jadi yang dimaksud dari hadits mengenai kata abi wa abuka fi nar adalah yang dimaksud kata abi/aba itu adalah abu lahab dan kita juga mengetahui bahwasannya abu lahab itu ditempatkan dimana. Ana g berani nerusin ketikan ana dimana tempat abu lahab itu dimana demi menjaga perasaannya Rasulullah S.A.W,ana takut melukai perasaannya hati Rasulullah S.A.W karena abulahab bagaimanapun adalah pamannya Rasulullah S.A.W sendiri. Trus bagaimandengan orang yang berani dengan terang-terangan dan tanpa rasa takut mengatakan bahwasannya orang tua Rasulullah S.A.W yaitu abanya Rasulullah S.A.W yakni Abdullah berada dineraka,apa g tambah sakit hatinya Rasulullah S.A.W?. Kita sendiri aja kalo orang tua kita dikatakan fi nar alias kafir saja kita marah dan sakit hati terus bagaimana dengan abahanya Rasulullah S.A.W yang dibegitukan…??. Dan kita juga mengetahui bagaimana sanksi yang akan diberikan oleh Allah S.W.T kepada orang yang telah menyakiti hati Rasulullah S.A.W. Iya kalo betul orang tua Rasulullah S.A.W benar-benar masuk neraka,tapi kalo tidak gimana…?. Mbok ya mikiiiiiiiiiiiiiiiiiirrr….!!!!!

  29. uyhaw mengatakan:

    Abu Naufal, kamu lancang amat

  30. Dan bagi anda yg mengatakan, sungguh lancang dan tdk beradab org yg mengatakan bhw org tua Nabi adalah kafir dan masuk Neraka.. Maka sadarlah, sesungguhnya yg anda vonis sebagai org lancang dan biadab adalah Nabi sendiri, krn bliau yg mengucapkannya.. Sadarlah, akal harus tunduk kpd Qur’an dan Sunnah..

  31. elfasi mengatakan:

    @ Ahlus Sunnah Al-Guroba’, Mas ana heran dengan anda yang biasanya dengan getolnya dalam penggunaan hadits yang shohih dengan sekiranya tidak dipermasalahkan lagi para perowi hadits sehingga bisa digunakan sebagai hujjah anda, namun anda tidak komentar sama sekali dengan hadits tentang keadaan orang tua Nabi, padahal sudah dijelaskan secara gamblang oleh forsansalaf di atas dan telah didukung dengan dalil lainnya yang sangat kuat baik dari ayat al-Qur’an atau hadits-hadits Nabi…
    Yang jadi pertanyaan, kenapa anda begitu getolnya dalam menyatakan orang tua Nabi kafir dengan dalil anda yang minim tersebut…???

  32. nasrof mengatakan:

    @ahlussunnah alghuroba’

    Ada yg menanyakan ke Wahaby, bagaimana mungkin orang tua Nabi saw kafir karena namanya ABDULLAH (HAMBA ALLAH) dan AMINAH (WANITA YANG AMANAH). Jika sampeyan punya akal budi tentu akan mengherankan bagi sampeyan bukan? Darimana nama itu muncul?

    Salam

  33. younedi mengatakan:

    BAGI YG NGOTOT BAHWA ORTU NABI SAW “KAFIR/MUSRYIK ” dengan dalil ayat at-taubah 113 maka saya persilahakan mana asbabun nuzul ayat at-taubah yg benar ? Apakah buat abu thalib ? buat ibunda nabi saw ? atau buat org islam yg mendoakan orang tuanya yg sudah mati dalam keadaan kafir ? silahkan dijawab bagi. Ini hadistnya :

    1. Pertama: ayat itu turun tentang Abu Thalib
    Diriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyab dari bapaknya, ia berkata; “Tatkala kematian mendekati Abu Thalib, datanglah Rasulullah kepadanya sedangkan di sisinya ada Abdullah Ibn Umayyah dan Abu Jahl. Maka Rasulullah pun berkatanya, ‘Wahai Pamanku, ucapkanlah Laa ilaaha illallah. Suatu kalimat yang akan aku jadikan bukti untuk membelamu di sisi Allah. ‘ Maka Abdullah Ibn Umayyah dan Abu Jahl pun berkata kepada Abu Thalib, ‘Apakah engkau membenci agamanya Abdulmuthalib? ‘ Nabi pun mengulangi lagi perkataan sebelumnya, namun keduanya pun mengulangi pula perkataan mereka sebelumnya. Akhirnya, ucapan terakhirnya adalah dia di atas agama Abdulmuthalib dan enggan untuk mengucapkan Laa ilaaha illallah. Maka Nabi pun berkata,

    “Sungguh aku akan memohonkan ampun untukmu selama tidak dilarang. ” Maka Allah pun menurunkan ayat:
    “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. ” (QS. At-Taubah: 113)

    Dan Allah menurunkan perihal Abu Thalib:
    “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, ” (QS. Al-Qashshash: 56)

  34. younedi mengatakan:

    2. Kedua: ayat itu turun tentang ibu Nabi kita (Aminah)
    Buraidah menceritakan, bahwa ketika saya sedang bersama dengan Nabi saw. dalam suatu perjalanan, tiba-tiba beliau berhenti di Asfan. Lalu Rasulullah saw. melihat kuburan ibunya untuk itu beliau berwudu terlebih dahulu kemudian membacakan doa dan terus menangis. Setelah itu beliau bersabda, “Sesungguhnya aku telah meminta izin kepada Rabbku supaya diperkenankan memintakan ampun buat ibuku, akan tetapi Dia melarangku.” Maka pada saat itu turunlah firman-Nya, “Tiada sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik…” (Q.S. At-Taubah 113)
    3.Ketiga: ayat itu turun tentang sebagian para sahabat yang mendoakan orang tua mereka yang mati di atas kekufuran
    A. Musnad Ahmad 732: (Bab musnad ali ra) Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Adam Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Abu Al Khalil dari Ali, dia berkata; aku mendengar seseorang memohonkan ampunan untuk kedua orang tuanya yang musyrik, maka aku berkata; “Apakah boleh seseorang memohonkan ampunan untuk kedua orang tuanya yang musyrik?” Kemudian dia menjawab; “Bukankah Ibrahim memohonkan ampunan untuk kedua orang tuanya?” Maka aku ceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga turunlah ayat; (Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan kepada (Allah) bagi orang-orang musyrik), sampai ayat; (Maka Ibrahim berlepas diri darinya.) (Q S At Taubah: 113-114)

  35. younedi mengatakan:

    3B. Musnad Ahmad 1031: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Sufyan, menurut jalur yang lain; telah menceritakan kepada kami Abdurrahman berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Abu Al Khalil dari Ali Radhiallah ‘anhu berkata; Saya mendengar seseorang memintakan ampun untuk kedua orang tuanya yang masih musyrik, maka saya bertanya; “Kamu memintakan ampun untuk kedua orang tuamu padahal keduanya adalah musyrik?” Dia menyanggahnya; “Bukankah Ibrahim juga memintakan ampun untuk bapaknya padahal dia musyrik.” Hal itu saya sampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka turunlah ayat: (Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, …” sampai akhir ayat dan ayat setelahnya. Abdurrahman berkata; Maka Allah menurunkan ayat: (Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah Karena suatu janji yang Telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yg sangat lembut hatinya lagi penyantun. ) ( QS. at-taubah 113-114)

    PERTANYAANNYA ADALAH :
    1. Jika anda wahai akhi menganggap hadist buraidah adalah hadist shahih ( yg menyatakan ibunda nabi saw mati dalam keadaan kafir atau musryik) maka bisakah antum menentukan dari ketiga asbabun nuzul surat at-taubah 113 ini mana yg benar ?
    a. apakah surat tersebut turun kepada abu thalib ?
    b. apakah surat tersebut turun kepada ibu rasulullah aminah as ?
    c. apakah surat tersebut turun kepada rasulullah atas kejadian seorang muslim yg mendoakan oranmg tuannya yg masih kafir/musryik

    ditunggu jawabnya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: