Forsan Salaf

Beranda » Majelis Ifta' » Mengqodho’i Shalat Orang Yang Meninggal

Mengqodho’i Shalat Orang Yang Meninggal

qodhoAssalaamualaikum Wr. Wb

Ibu saya telah wafat, sebelum wafat, ibu saya sakit stroke. Kondisi Ibu saya sangat lemah, dan kesadarannya juga tidak penuh, kira2x selama 3 minggu, Ibu saya dirawat di RS, sebelum akhirnya beliau wafat. Beliau wafat sekitar jam 7 mlm, malam jumat legi, tgl 23 Rajab kemarin. Yang ingin saya tanyakan:

1. Apakah wajib mengqodlo ibadah sholat Ibu saya selama sakit?

2. Bagaimana wafatnya ibu, dimana beliau tdk bisa mengucap kalimat ALLAH, karena kondisi kesadaran beliau yg lemah, tapi disaat menjelang wafatnya, saya mengaji dan menuntun dengan kalimat thoyyibah (ALLAH, istighfar, tahlil, syahadat) terus menerus.

Terima kasih atas jawabannya

Wassalamualaikum Wr. Wb

FORSAN SALAF menjawab :

Hukum mengqodhoi shalat orang yang meninggal ada perbedaan pendapat dikalangan ulama’. Sebagian mereka mengatakan tidak boleh mengqodhoi dan tidak ada kewajiban membayar fidyah karena tidak adanya nash. Namun menurut sebagian yang lainnya seperti Imam As-Subuki boleh untuk mengqodhoi bahkan beliau sendiri mengerjakannya untuk kerabat beliau yang meninggal. Bahkan dinukil oleh Ibn Burhan dari qoul qodim bahwa wajib bagi wali untuk mengqodhoi shalat dari mayit jika si mayit meninggalkan warisan harta.

Adapun seorang muslim jika wafat tetap dihukumi mati dalam keadaan islam sekalipun tidak mengucapkan syahadatain, selama tidak ada tanda-tanda yang tampak atas kekafirannya.

إعانة الطالبين ج1  ص20

ونص عبارته هناك: (فائدة) من مات وعليه صلاة فلا قضاء ولا فدية. وفي قول ـ كجمع مجتهدين ـ أنها تقضى عنه لخبر البخاري وغيره، ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا، وفعل به السبكي عن بعض أقاربه. ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي إن خلف تركة أن يصلى عنه، كالصوم. وفي وجه ـ عليه كثيرون من أصحابنا ـ أنه يطعم عن كل صلاة مداً. وقال المحب الطبري : يصل للميت كل عبادة تفعل، واجبة أو مندوبة. وفي شرح المختار لمؤلفه: مذهب أهل السنة، أن للإِنسان أن يجعل ثواب عمله وصلاته لغيره ويصله. اهـ. وقوله: لم تقض ولم تفد عنه وعند الإِمام أبي حنيفة رضي الله عنه: تفدى عنه إذا أوصى بها ولا تقضى عنه. ونص عبارة الدر مع الأصل: ولو مات وعليه صلوات فائتة، وأوصى بالكفارة، يعطى لكل صلاة نصف صاع من بر كالفطرة، وكذا حكم الوتر والصوم. وإنما يعطى من ثلث ماله، ولو لم يترك مالاً يستقرض وارثه نصف صاع مثلاً ويدفعه للفقير ثم يدفعه الفقير للوارث، ثم وثم حتى يتم. ولو قضاها وارثه بأمره لم يجز لأنها عبادة بدنية. اهـ. وكتب العلامة الشامي ما نصه: قوله: يستقرض وارثه نصف صاع أي أو قيمة ذلك. اهـ.


2 Komentar

  1. Syam mengatakan:

    Syukron Katsiir atas jawabnnya

    Mudah2an kita semua selalu mendapatkan rahmat dan taufikNya.

  2. forsan salaf mengatakan:

    @ syam, terima kasih , mudah2an bisa memberikan satu manfaat bagi kita dan semua umat muslimin… Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: