Forsan Salaf

Beranda » Kalam Salaf » Menyemai Berkah Birrul Walidain

Menyemai Berkah Birrul Walidain

3582357380_c030727b3b_oKalam Habib Segaf bin Muhammad bin Umar as-Segaf

Syahdan, Pada suatu kamis pagi, Al-Qutub Habib Segaf bin Muhammad bin Umar as-Segaf, memberikan dars ilmiah bertema bakti kepada kedua orang tua di majlis taklimnya, di kubah Habib Abdullah bin Ali as-Segaf yang di simak bejibun orang.
Ia membuka darsnya dengan memberikan tahdir (peringatan) kepada hadirin, “Hati-hati. Jangan pernah mendurhakai kedua orang tua. Sebab amarah mereka memantik azab Allah SWT yang kontan, tidak ditunda. Jika mau, kutunjukkan kepada kalian orang-orang yang dulunya durhaka kepada orang tua agar kalian tahu bagaimana kenaasan kini selalu menggelayuti mereka.” Habib Segaf mengulang ancamannya ini berkali-kali dengan amat serius. Beliau terus melanjutkan, “Barangsiapa menghendaki kebahagiaan di dunia dan akhirat, hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya. Sungguh, aku telah merasakannya.” Kemudian beliau menyebut sejumlah nama dari orang-orang yang dikenal berbakti kepada orang tua disertai kisah bahagianya, berkat orang tua tentunya.
“Setiap perbuatan yang dilakukan seseorang terhadap kedua orang tuanya, kelak akan dibalas oleh anak-anaknya. Demi Allah, aku telah menyaksikan semua itu dengan jelas.” Jelas Habib Segaf.

HAKIKAT BIRRUL WALIDAIN
“Meminta yang berlebihan kepada kedua orang tua termasuk durhaka.” lanjut beliau. “Bakti dalam hati lebih utama dari bakti dengan tingkah laku. Maksudnya, rasa bakti dan hormat kepada orang tua harus terus bersemayam di hati, sedang lisan dan tubuh sekadar pelaksana. Dalam keyakinanku, bakti yang hakiki adalah menempatkan orang tua diatas diri kita sendiri, bahkan anak-anak kita. Hatta seumpama kita disuruh memilih, siapa yang sebaiknya meninggal, anak atau orang tua kita, Maka, meninggalnya anak kita lebih kita harap daripada meninggalnya orang tua kita. Nah inilah birrul walidain yang sejati.
Jangan sangsi, kebahagiaan abadi bakal diraih dengan bakti kepada orang tua. Mereka, para pemilik mata batin menyaksikan sendiri bukti shahihnya.
Coba perhatikan firman Allah SWT berikut ini,

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Lukman;14)
Di ayat ini Allah SWT memakai redaksi (wa) yang berarti “dan” sebagai konjungsi, bukan (tsumma) yang berarti “kemudian”. Maksudnya kurang lebih-wallahu a’lam, syukur kepada Allah SWT tidaklah cukup bila tidak beriring dengan syukur kepada kedua orang tua. Sebab mereka berdua berperan sebagai sebab wujudnya kita.
Barangsiapa menelaahi al-Qur’an dan mencermati kandungan ayat-ayatnya dengan seksama, ia akan yakin bahwa bakti kepada kedua orang tua adalah sumber segala kebajikan dan merupakan amal yang paling utama. Dalam risalah qusairiyah diceritakan, dahulu ada seorang lelaki yang suka berbuat nista. Hari-harinya selalu diisi dengan maksiat. Suatu hari ia sakit parah. Merasa ajalnya dekat, ia berwasiat kepada ibundanya. “Wahai ibuku, jika aku mati, jangan beritahu siapapun perihal kematianku, sebab semua orang sudah pasti bakal mencelaku. Aku mohon juga, injakkan kaki ibu di salah satu telingaku, lalu berujarlah, “ini balasan orang bejat yang suka bermaksiat.” Lalu bayarlah beberapa orang untuk memandikan, mengkafani lalu menguburkanku. Jika aku sudah di dalam kubur, berdirilah di kuburanku dan berserulah tiga kali, “Wahai tuhanku, sesungguhnya aku meridhai anakku ini. maka, ridhailah dia!”
Ketika si anak meninggal, sang ibu melaksanakan semua wasiatnya. Terakhir, ia berdiri di atas pusara buah hatinya dan menyerukan kalimat yang telah dipesankan seraya menengadahkan tangan. Tak dinyana, baru saja sang ibu selesai munajat, ia mendengar kumandang suara dari langit. “Aku ridha kepada anakmu”
Aku ketengahkan kisah ini kembali sebagai teladan bagi kalian yang mengharapkan kebahagiaan akhirat. Soalnya, kini kebanyakan dari kita sudah lupa akan nilai birrul walidain. Padahal, kebanyakan musibah dan bencana yang menimpa kita saat ini adalah akibat perbuatan durhaka kepada ibu-bapak. Ya, saat ini uququl walidain merajalela. Jadinya, orang-orang masa kini tak mendapatkan keberkahan, baik di dunia maupun akhirat.
Durhaka kepada kedua orang tua tergolong dosa besar. Tak ada amal yang bisa menebusnya, kecuali tobat yang benar-benar tulus. Maka, kuperingatkan diriku sendiri secara khusus, serta semua orang, agar berusaha sekuat tenaga berbakti kepada orang tua selagi masih ada, kedua-duanya atau salah satunya. Sebab tak lama lagi mereka akan meninggalkan kita. Mari manfaatkan kesempatan yang ada untuk berbakti, agar kita beruntung di dunia dan akhirat.

birr walidainHARTA ATAU IBU!
Suatu kali, aku berjalan mengiringi guruku, Habib Hamid bin Umar. Pada kesempatan itu, beliau membicarakan ihwal birrul walidain dengan panjang lebar. Kemudian beliau berkisah mengenai dua lelaki bersaudara dengan ibu mereka yang memiliki harta lumayan melimpah. Mereka berunding, kira-kira sang ibu yang kini menua akan tinggal bersama siapa. Salah satu dari mereka usul, “Begini saja. Ibu tinggal bersamamu. Sedang seluruh harta kubawa, atau sebaliknya. Mana yang kau pilih?” lelaki satunya dengan lugas menjawab, “Kamu bawa saja ibu. Sedang harta itu bersamaku.” Saudaranya menjawab, “Baiklah, terimakasih”
Usai sekian lama, lelaki yang membawa harta benda mengalami kebangkrutan hingga jatuh miskin, sedang lelaki yang merawat ibunya lambat laun menjadi kaya raya hingga mampu membeli seluruh harta ibunya yang diambil saudaranya. “Lihat, kini ibu beserta harta bersamaku. Sedang kamu, tak beribu dan tak berharta.” Selorohnya. Lihat dan camkan betapa agungnya berkah birrul walidain.
Bila kalian merasa durhaka kepada orang tua, sementara mereka telah meninggal dunia, kalian bisa menebusnya dengan menyambung tali kekerabatan mereka atau menganjangsanai sahabat-sahabat mereka. Bisa juga dengan bersedekah yang pahalanya diperuntukkan mereka, banyak-banyak beristighfar untuk mereka, dan menyesali perbuatan durhaka kalian dulu. Mudah-mudahan dengan semua itu kalian bisa dimaafkan oleh Allah SWT hingga dimasukkan dalam golongan orang-orang yang berbakti kepada orang tua.
Ayahandaku pernah berwasiat, “Anak-anakku. Yang kuberikan kepada kalian hanyalah niat yang baik. Aku tak pernah memukul atau menghardik kalian. Yang ditakdirkan baik, biarlah jadi baik. Tak pernah aku memerintahkan kalian, sekalipun untuk menuangkan air. Sebab aku takut dan iba, barangkali kalian akan enggan hingga bisa dinilai durhaka karenanya.”
Lihatlah bentuk rahmat dan kasih sayang para salaf kepada anak-anak mereka. Perhatikan, bagaimana tarbiyah mereka memupuk pekerti anak-anak agar benih-benih durhaka tidak bersemi di hati mereka sejak dini. Baginda Rasul SAW bersabda, “Allah SWT merahmati seorang ayah yang membantu putranya berbakti.” Dari hadis ini kita bisa menarik simpul kesadaran, bahwa perlu pula bagi orang tua untuk menjaga sikap dan mendidik anak-anak agar mereka tidak durhaka. Toh durhaka itu akan berimbas pada dirinya sendiri.” Siapa menanam, dia menuai.


26 Komentar

  1. sadam mengatakan:

    bagaimana cara kita untuk menasehati orang tua sedangkan beliau sulit untuk di nasehati.,apalagi jika yang menasehati beliau adalah anaknya sendiri yang masih kecil

    • forsan salaf mengatakan:

      Kami rasa tidak tepat kalau disebut menasehati orang tua, lebih pasnya mengingatkan orang tua, karena lupa bisa terjadi pada siapa pun. Bagi yang ingat jangan membiarkan kekeliruan tersebut. Tentunya dengan cara yang terbaik, tanpa mengurangi rasa hormat pada orang tua dan menyinggung perasaannya.

  2. abdulloh mengatakan:

    Setiap orang tua pasti menghendaki atas kebaikan anaknya, baik di dunia maupun di akhirat. Namun kalau toh ada kejadian dimana ada kasus kekerasan baik fisik maupun psikis dari orang tua kepada anaknya itu tidak dapat dijadikan hujjah bahwa bertentangan dengan itu semua.

    Kalau orang tua kita menyuruh kepada yang tidak di ridhoi oleh Alloh, maka janganlah menurut.

    LA THO’ATA LIMAKHLUQIN FI MA’SIATIL KHOLIQ

  3. Muhammad Yasir mengatakan:

    masya Allah, terima kasih atas postingannya

  4. ana mengatakan:

    bagaimana jika orang tua melakukan suatu kemungkaran, kita sebagai anak sudah mengingatkannya yang tentu saja dengan cara yang halus tetapi dengan berbagai alasan mereka tidak bisa meninggalkan kemungkaran tersebut, misalnya saja orang tua melakukan pencurian seperti korupsi yang otomatis hasil pencurian tersebut juga akan menurun kepada anaknya dan tidak bisa dihindari, bisa dalam bentuk makanan, pakaian dll padahal anaknya mengingkari kemungkaran tersebut dalam hatinya. apa yang harus dilakukan seorang anak?. apakah harus pergi dari rumah supaya terhindar dari makanan maupun barang lainnya yang haram sedangkan orang tua tidak meridloi anak tersebut keluar dari rumah kecuali dengan persyaratan tertentu yang belum bisa dilaksanakan, apalagi anak tersebut tidak tahu harus menuju kemana?

  5. forsan salaf mengatakan:

    jika mengetahui dengan pasti bahwa yang dimakan adalah harta hasil korupsi, maka tidak boleh taat kepada siapapun dalam bermaksiat kepada Allah. Namun jika Anda merasa ada hasil korupsi yang anda makan (tidak yakin), maka sebaiknya anda menghindari dengan cara sekiranya orang tua tidak marah atau tersinggung. Tapi jika tidak dapat menghindari, maka makanlah seminimal mungkin dengan memperbanyak istighfar kepada Allah.

  6. budi mengatakan:

    semoga rahmat senantiasa menaungi ibu dan bapak kita….

  7. hermawan mengatakan:

    Memang, orang tua adalah jimat kita. Selamat dan tidaknya kita sangat bergantung pada keridhaan mereka berdua. Rabbanaghfir lana waliwalidiina…

  8. forsan salaf mengatakan:

    amin..ya.. robbal ‘alamin….

  9. yayak mengatakan:

    birrul walidain kunci kebahagian dunia akhirat, amin

  10. husein mengatakan:

    bila bapak/ibu kita telah meninggal. kaef cara berbakti kepada mereka….?

  11. abu mustofa mengatakan:

    Assalamu ‘Alaikum

    Memang benar..
    Ridhonya Allah adalah Ridhonya Orang Tua kita
    Mungkin kalau kita ibaratkan.
    Kalau ada orang tua kita yang tidak melaksanakan perintah ALLAH.
    Beliau seperti Al QUR’AN YANG SUDAH JELEK & RUSAK.
    Kita tetep harus mengagungkannya dan memeliharanya serta menghormayinya

  12. ana mengatakan:

    Assalamu’alaikum Wr Wb

    Al QUR’AN YANG SUDAH JELEK & RUSAK,
    tetep harus diagungkan, dipelihara & dihormati meskipun tidak bisa dibaca.
    seperti orang tua yang tidak melaksanakan perintah ALLAH, tetep harus diagungkan, di pelihara & dihormati meskipun tidak bisa ditaati karena seringkali permintaannya melanggar perintah & larangan Allah,
    lalu bagaimana bila orangtua jadi tak ridho & marah karena kita tidak menaatinya?.
    Pada prakteknya hal ini akan menjadi sesuatu yang sangat sulit bagi seorang anak, kalopun tidak terjatuh kedalam daerah hitam, kita dapat terjatuh ke area abu – abu yang menyebabkan kita ragu – ragu.
    bahkan orang tua yang seperti ini akan banyak menghalangi kebaikan bagi anaknya.
    Sungguh berbahagialah seorang anak yang memiliki orangtua seperti Luqman,yang merupakan murid dari seribu nabi dan guru dari seribu nabi, yang selalu memanggil putranya dengan panggilan bunayya, yang selalu menasehati putranya agar bertaqwa.

  13. Aladin mengatakan:

    @husein+all:
    Dlm hadist di sbtkan Cara brbakti kpd ke 2 org tua yg sdh meninggal:
    1.mendo’akanx
    2.memintakan ampun.
    3.melaksanakan wasiatx.
    4.menyambung tali persaudaraan yg prnh dijalinnya.
    ABU LAIST AS-SAMARQANDI prnh ditanya:
    Jika ke 2 org tua meninggal dlm keadaan murka kpd anakx,apakah mgkn bg anak mendapatkan ridhox ketika keduax sdh meninggal?
    As-samarqandi mnjwb : iya dg 3 hal.
    1.hendakx si anak berusaha mnjdi org yg soleh,krn tdk ada sesuatu yg paling dicintai oleh ke 2 org tua dr pada kesolehanx.
    2.menyambung tali persaudaraan dg kerabat n teman2 nya.
    3.memintakan ampun,mendo’akan n bersedekah utk keduax (tanbihul gofilin hal 129)
    intinya: kesuksesan ada pd org tua,sampai hb ali habsy prnh brkata pd ibux : wahai ibu,jika ibu tdk punya uang aku rela utk dijual.

  14. Someone mengatakan:

    Saya memiliki seorang Ayah yg memiliki tabiat yg sangat dibandingkan orang tua pada umumnya. Ibu saya sudah meninggal beberapa bulan yg lalu.
    Dulu ketika Ibu sakit keras, justru Ayah saya memarah-marahi dan berbuat kasar pada Ibu saya. Barang kali ini menyebabkan tekanan batin pada Ibu dan penyakitnya bertambah parah.
    Tabiat Ayah saya memang sangat berbeda dgn org tua kebanyakan, orang yg sangat kaku, cenderung merasa benar sendiri, sangat sulit bahkan rasanya tidak pernah mau mendengar pendapat org lain, tidak pernah merasa bersalah akan kematian ibu.
    Sampai sekarang saya blm pernah sekalipun melihat ayah saya shalat.
    Sedangkan ibu saya insyaAllah termasuk orang yg taat beribadah. Dulu ketika Ibu sehat sering mengikuti kegiatan2 keagamaan.
    Saya kadang bingung harus bersikap seperti apa kepada Ayah saya. Bagi saya secara tidak langsung ayah sayalah yang menyebabkan ibu menderita dan ditambah sampai sekarang tidak mau beribadah padahal usia sudah tergolong lansia.
    Perasaan saya terhadap ayah saya campur aduk antara kasihan (sudah lansia tapi blm mdpt hidayah utk mau beribadah), benci (bila teringat penderitaan ibu saya).
    (Beruntunglah bila saudara2 memiliki orang tua yang taat beribadah)
    Bagaimanakah saya harus bersikap kepada ayah saya???

  15. forsan salaf mengatakan:

    @ some one, ujian anda saat ini memang besar, tapi ketika anda lulus dari ujian besar berarti anda meraih nilai besar. Karena itu tetaplah melaksanakan kewajiban anak terhadap orang tua (berbakti) sambil berusaha untuk kesadaran orang tua anda juga berdoa memohon kepada yang Maha Kuasa untuk memberi petunjuk kepada orang tua anda. Semoga Allah memberi kekuatan kepada anda menghadapi ujian ini dan memberikan hidayahNya kepada orang tua anda

  16. Anez mengatakan:

    ibu saya meninggal tiga tahun lalu…, beliau berwasiat kepada saya untuk menjaga ibu bapaknya yaitu kakek dan nenek saya… sedangkan sebelum meninggal ibu telah bercerai dengan ayah, ayah sudah punya istri dan anak dua… mana yang harus saya utamakan terlebih dulu? wasiat ibu ato berbakti kepada ayah… soalnya keduanya terpisah jarak yang jauh dan sudah tidak mungkin saya mencampuri urusan ayah saya lagi… takut ada salah paham sama sodara dan ibu tiri saya, mohon penjelasan dari team forsansalf…

  17. forsan salaf mengatakan:

    @ Anez, Kewajiban anak adalah berbakti kepada kedua orang tua walaupun keduanya atau salah satunya telah meninggal dunia. Termasuk bakti anak kepada orang tua adalah melaksanakan wasiat orang tua sebelum meninggal disamping taat, patuh dan hormat kepada mereka dan memberikan nafkah jika tidak mampu.
    Oleh karena itu, yang harus anda lakukan adalah melaksanakan wasiat orang tua menjaga kakek-nenek dengan tetap berhubungan dengan ayah anda dan mengirimkan nafkahnya jika tidak mampu.

  18. Abu Rayyan mengatakan:

    Assalaamu’alaikum Wr. Wb
    Team Forsan yg dirahmati Allah, saya mau tanya:
    Apa hukumnya ibadah haji dengan niat untuk hajinya ortu yg sudah meninggal? (ket: ortu & anak belum haji)

    Syukron atas jawabannya

    Wassalaamu’alaikum Wr. Wb

  19. forsan salaf mengatakan:

    @ Abu Rayyan, wa’alaikum salam Wr, Wb.
    Ibadah Haji bisa dilakukan oleh diri sendiri dan juga oleh orang lain apabila tidak mampu.
    Syarat haji jika dilakukan oleh orang lain adalah wakil (anak yang menghajikan orang tuanya) sudah gugur haji wajibnya. Namun jika si anak masih memiliki kewajiban haji, maka haji yang dilakukan diperuntukkan bagi anak (bukan orang tua), walaupun berniat untuk orang tua.

  20. Abu Rayyan mengatakan:

    Jazakumulloh Khoiron Katsiiro,
    Selanjutnya saya ingin bertanya tentang pendidikan anak (mohon maaf jika tidak ada hubungannya dengan judul artikel diatas), sebagai berikut:
    Saya pernah mendengar bahwa jika saat kita sholat, kita bersentuhan dengan anak laki-laki yg belum khitan hukumnya batal sholatnya, karena anak laki-laki yg belum khitan statusnya adalah MUTANAJIS (pembawa najis), pertanyaan saya:

    1. Apa yang dimaksud ‘bersentuhan” ? Apakah cukup bersinggungan ? Atau ikut gerakan sholat kita (misal: anak bergelayut di pundak kita saat kita sujud dan duduk)

    2. Apa batasan “bersentuhan” ? antara kulit dengan kulit ? bagaimana jika terlindung pakaian (tidak sampai terkena kulit)

    3. Apa beda hukumnya barang NAJIS dengan MUTANAJIS? contoh diluar sholat

    Terima kasih atas jawabannya. Semoga Allah SWT membalas kebaikan team Forsansalaf.

    Wassalaamualaikum Wr Wb

  21. forsan salaf mengatakan:

    @ abu rayan, wa’alaikum salam Wr. Wb.
    Anak yang masih belum dikhitan, jika tidak disucikan hingga dibawah qulfah (kulit penutup kemaluan yang dipotong ketika khitan), maka najis kencing masih tersisa. Jika demikian, maka anak tersebut masih membawa najis di daerah dhohirnya.
    Bagi orang yang shalat, tidak diperbolehkan membawa sesuatu yang najis. Dalam hal ini, ada pebedaan antara benda najis dan barang yang terdapat najisnya. Jika barang itu najis seperti bangkai atau kotoran, maka tidak diperbolehkan walau hanya menyentuh. Akan tetapi jika barang yang terdapat najisnya seperti anak kecil yang belum khitan, maka bisa membatalkan shalat jika membawanya (seperti menggenggam tangan atau pakaiannya, atau si anak bergelayutan padanya) tapi tidak dengan hanya menyentuhnya walaupun dengan tanpa penghalang.
    Istilah najis dan mutanajjis secara spesifik memiliki perbedaan yaitu : NAJIS dikhususkan untuk benda yang asalnya najis seperti kotoran, kencing, dll. Sedangkan MUTANAJJIS adalah benda yang suci namun terkena najis seperti air suci kejatuhan najis hingga dihukumi najis, atau benda suci terciprat najis.

  22. Abu Rayyan mengatakan:

    Syukron atas jawabannya
    Ada yg msh belum jelas, mohon penjelasannya:
    1. Kita sudah wudlu dan mau sholat, tp sebelum sholat kita menggendong anak (yg belum khitan), bagaimana status wudlu kita? apa bisa langsung sholat? ato bersuci dulu (wudlu lagi)?
    2. Apakah boleh mengajak anak (yg belum khitan) masuk kedlm masjid?

  23. forsan salaf mengatakan:

    @ abu rayan, hal-hal yang membatalkan wudhu’ ada 4, yaitu:
    1. Keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur.
    2. Hilangnya akal karena tidur atau lainnya.
    3. Bertemunya antara kulit laki-laki dan perempuan yang ajnabi.
    4. Menyentuh qubul atau dubur manusia dengan telapak tangan.
    Sehingga, menggendong atau menyentuh anak yang belum dikhitan tidak membatalkan wudhu’.
    Adapun membawa anak kecil yang belum dikhitan ke dalam masjid diperbolehkan selama bisa menjaganya dari mengotori masjid atau membuat gaduh. Namun jika tidak bisa menjaganya hingga menghilangkan kehormatan masjid, maka diharamkan.

  24. nurul huda mengatakan:

    Ass.Wr.Wb. maaf ustad / ustadah , meski sudah ada keterangan, namun kami ingin penjelasan yg lebih jelas.
    a. batalkah solat kita karena bersentuhan dengan anak kecil yg belum disunat ( mohon dijelaskan dasar fiqihnya )
    b. bagaimana hukumnya solat sunat ketika khotib sedang berkhotbah, mohon dijelaskan juga dasar / dalilnya .
    terimakasih. Wassalamualaikun Wr.Wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: