Forsan Salaf

Beranda » Headline » Menggapai Kesucian di Hari `Idul Fitri

Menggapai Kesucian di Hari `Idul Fitri

idulFitri_1430Idul Fitri dapat kita maknai sebagai kembali kepada kesucian. Satu bulan penuh kita berusaha membersihkan hati dari niat yang buruk, dendam, benci, iri hati dan penyakit hati lainnya. Dalam satu bulan ini pula kita berusaha membersihkan kehormatan diri dari tindak-tanduk maksiat, dosa dan kefasikan hingga akhirnya menyucikan harta kita dari barang haram dan syubhat lewat zakat fitrah. Tidaklah asing bila puasa dijadikan sebagai sarana penyucian diri, proses Tazkiyatu al Nafsi:.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (*) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh, berbahagialah orang yang mensucikan dirinya dan celakalah orang yang mencemarinya.” (Al Syams [91]: 9-10)

Sehubungan dengan tujuan penyucian, ada empat hal yang mesti kita sucikan dan bersihkan.

Pertama, penyucian diri. Coba perhatikan kisah Sumayyah, seorang sahabat wanita yang sudah tua renta lagi lemah. Dia mendapatkan siksaan bertubi-tubi yang dilakukan dedengkot Kafir Quraish. Begitu hebatnya siksaan yang menimpa dirinya, hingga Rasul mengizinkannya  untuk mengucapkan kalimat kufur. Namun Sumayyah justru menyambut izin Rasul itu dengan ungkapan yang membuat geram tokoh-tokoh Quraish. Ia berkata:

“Sampaikanlah salamku kepada Rasulullah; sesungguhnya Sumayyah yang telah Allah sucikan hatinya dengan iman, tidak akan sanggup mengotori lidahnya dengan kata-kata kufur.”

Abu Jahal yang sedari awal telah bernafsu menghabisi nyawa Sumayyah semakin mendapatkan pembenaran untuk mengakhiri hidupnya usai mendengar penuturannya. Abu Jahal dengan bengisnya menusukkan tombak ke rahim Sumayyah. Akhirnya Sumayyah menjadi wanita pertama yang menjadi martir dalam Islam.

Inilah penyucian pertama, penyucian diri.

Kedua, penyucian moral. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dan Abu Dawud yang menceritakan seorang wanita yang mengaku telah melakukan perbuatan zina. Ia berkata kepada Rasul:

“Ya Rasululah, aku sudah berzinah, sucikan aku.”

Ia meminta Rasululah saw menghukumnya dengan hukuman mati. Rasululllah menolak dan menyuruhnya datang keesokan harinya. Esoknya ia datang dan meyakinkan Rasul bahwa ia telah hamil.

“Pulanglah,” kata Rasul saw, “sampai engkau melahirkan anakmu.” Setelah melahirkan ia datang lagi dengan bayi merah yang dibungkus kain. Rasul yang penyayang menolaknya, “Pulanglah, susukan anakmu sampai engkau sapih.” Setelah sekian lama, ia datang lagi dengan bayi dan sekerat roti.

“Ini, ya Nabi Allah, sudah kusapih, dan ia sudah makan makanan.”

Nabi menyuruh seorang sahabat merawat anak wanita itu. Beliau menetapkan hukuman rajam. Ketika darahnya membersit dan mengenai wajah Khalid, Khalid memaki wanita itu. Rasulullah murka, “Hai Khalid, berlaku ramahlah. Demi dzat yang diriku ada di tanganNya, wanita ini telah bertaubat dengan suatu taubat (taubat yang begitu suci) sehingga kalau ada pendosa besar bertaubat dengan taubatnya,  Allah akan mengampuni dosanya.”

Wanita Ghamidiyah ini tidak sanggup hidup memikul dosa. Ia memilih menyucikan dirinya dengan hukum Islam. Ia memilih taubat.

Dalam hal ini, menarik untuk mengutip ucapan Imam Husain: “Lebih baik mati dalam kehormatan daripada hidup dalam kehinaan.” Inilah yang dimaksud dengan Tazkiyah Al Farj, penyucian kehormatan, penyucian moral.

Ketiga, penyucian harta. Marilah kita tengok kisah wanita berikutnya terkait  proses penyucian harta. Adalah Sayyidah Fatimah, wanita suci yang mendapat gelar sebagai Sayyidatu al Nisa` fi Al `Alamin, yang pernah bernadzar puasa tiga hari demi kesembuhan kedua buah hatinya yang sedang sakit, Al Hasan dan Al Husain ra.

Namun, dalam rentetan hari-hari itu, setiap hendak berbuka datang ke kediamannya seseorang dari tiga kalangan, orang miskin, mantan tawanan perang dan anak yatim dengan kebutuhan yang sama yaitu meminta belas kasih.

Di hari pertama, ketika mau berbuka, seorang miskin berdiri di pintu rumah, “Wahai keluarga Muhammad, aku ini orang Islam yang miskin. Berilah makanan padaku, semoga Allah menjamu kalian dengan hidangan surga.” Fatimah menyerahkan seluruh makanan dan menghabiskan malam dalam keadaan lapar. Pada hari kedua dan ketiga terjadi peristiwa yang sama. Hanya kali ini yang muncul adalah mantan tawanan dan anak yatim.

Pada hari keempat, Imam Ali membawa Al Hasan dan Al Husain menemui Nabi saw. Nabi yang mulia melihat kedua cucunya gemetar karena lapar bak anak burung yang kedinginan. Sesudah itu, Nabi menemui Fatimah di mihrabnya. Matanya sudah cekung. Nabi segera memeluk putrinya, “Ya Allah, tolonglah keluarga Muhammad yang hampir kelaparan ini.” Waktu itu turunlah ayat dalam surah Al Insan 5-12.

Inilah proses penyucian harta. Seberat apapun beban yang harus ditanggung, toh ia tidak sampai hati membiarkan saudaranya sengsara dalam kemiskinan, kelaparan dan ketidakberdayaan. Keluarga Nabi (Ahlul Bait) di atas telah memberikan tauladan kepada kita untuk mempunyai empati dan solidaritas sosial kepada sesama. Sungguh sebuah fragmen yang menakjubkan. Demikianlah Islam mengajarkan ‘konsep manusia sempurna’. Sebuah konsep yang mengilustrasikan bagaimana seorang mukmin perlu memiliki kepekaan dan kepedulian atas ketimpangan yang dialami oleh sesamanya.

Keempat, penyucian kekuasaan. Arti dan maksud penyucian kekuasaan adalah bagaimana sebuah kekuasaan mampu mentransmisikan keyakinan, nilai-nilai, ideologi, sekaligus dasar-dasar perjuangan. Kekuasaan mestilah dibimbing oleh nilai-nilai ketrampilan dan kerakyatan. Salah satu potret indah penyucian kekuasaan ini ada pada seorang “singa padang pasir”, Sayidina Umar bin Khathtab ra.

Suatu ketika, Gubernur Azarbaijan, Uthbah bin Farqad, mengirimkan makanan bernama hisbah, terbuat dari minyak samin dan kurma kepada Umar. Katanya, “Kalau kita kirimkan makanan ini kepada Amirul Mukminin Umar bin Khaththab di Madinah, ia akan senang.” Sejurus kemudian, ia menyuruh rakyatnya membikin makanan tersebut dengan kadar yang lebih enak.

Setelah rampung proses pembuatannya, ia mengutus dua kurir ke Madinah untuk menyerahkan makanan itu ke Umar. Sang khalifah membuka dan mencicipinya, “Makanan apa ini?”, tanya Umar

“Makanan ini namanya hisbah. Makanan paling lezat di Azerbaijan,” jawab sang kurir.

“Apakah seluruh rakyat Azerbaijan bisa menikmati makanan ini?”, Tanya Umar kembali.

“Tidak. Tidak semua bisa menikmatinya.”

Wajah sang khalifah langsung memerah pertanda marah. Ia segera memerintahkan kedua utusan itu untuk membawa kembali hisbah ke negerinya. Kepada gubernurnya ia menulis, “Saya orang pertama yang merasakan lapar kalau rakyat kelaparan dan orang terakhir yang merasakan kenyang kalau mereka kenyang. Makanan semanis ini dan selezat ini bukan dibuat dari uang ayah dan ibumu. Kenyangkan perut rakyatmu dengan makanan ini sebelum engkau mengenyangkan perutmu.”

Inilah Tazkiyatus Sulthah (penyucian kekuasaan) dari kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, dan golongan. Dan sahabat Umar, sebagai seorang penguasa lebih memilih hidup bersahaja dan sederhana. Beliau membersihkan lingkaran kekuasaannya dari pencemaran berupa KKN. Bagi beliau yang dijuluki sebagai Al Fârûq ini, hidup bukanlah sekedar berjalan, makan dan tidur. Demikian pula mati bukan hanya dikuburkan di dalam tanah. Itu bukanlah hidup dan bukan pula kematian. Namun, hidup adalah mati yang menaklukkan sedang mati ialah hidup yang ditaklukkan.

Oleh karena itu, marilah kita gunakan momentum Idul Fitri 1429 H ini sebagai media pengejewantahan empat penyucian: penyucian diri, moral, harta dan kekuasaan. Semua pihak harus berperan aktif dalam menyemai kesucian di pelbagai sektor kehidupan. Kisah Sumayyah telah memberikan contoh dan pelajaran kepada semua pihak untuk memegang teguh prinsip keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Sumayyah telah mengajari kita untuk menjaga hati dan lidah dari ucapan-ucapan yang berbau fitnah, menggunjing, menyakiti orang lain, dan mengafirkan yang tidak sepaham.

Periksa hati kita, tidakkah kita sering memelihara di dalamnya perasaan dengki, sombong, iri hati, dendam dan niat jelek? Lihatlah pula keadaan Fatimah. Ia dan keluarganya memilih lapar daripada membiarkan orang lain lapar. Namun sayang, kita sering mengotori harta kita dengan merampas dan menginjak-injak hak orang lain. Tidak ketinggalan Umar yang mengajari para pemimpin masa kini agar menyampaikan amanah, memberikan kesejahteraan dan pelayanan terbaik demi membahagiakan rakyat yang dipimpin. Bukan malah menyelewengkan amanah yang berakibat kepada kesengsaraan, kemiskinan dan kepapaan.

Akhirnya, marilah kita kembali, bertaubat berserah diri pada aturan Allah, petunjuk Rasul dan keteladanan para Salaf guna menuju ridha ilahi. Ali Akbar bin Agil


3 Komentar

  1. abdulloh mengatakan:

    Alhamdulillah tiba sudah hari yang dinanti saat diri kembali suci. Mudah2an senantiasa Alloh merahmati. Selamat hari raya idul fitri 1430 H semoga bersih dosa dan hati. Amin

  2. forsan salaf mengatakan:

    amin, kami dari segenap kru forsan salaf mengucapkan minal ‘aidin wal fa’izin, mohon maaf lahir dan batin.

  3. hasan achmad mengatakan:

    minal aidzin wal faidzin..kullu am wa antum bi khair..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: