Forsan Salaf

Beranda » Kalam Salaf » Harmonisasi Hati dan Jasmani

Harmonisasi Hati dan Jasmani

3305867559_a3f32d1317_oKalam Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi

Shalat merupakan identitas sejati seorang muslim. Shalat inilah yang menjadi pembeda Islam dengan syirik. Lebih dari itu, shalat adalah kendaraan yang disediakan Sang Khalik bagi tiap pribadi muslim agar bisa “terbang” dan berkomunikasi dengan-Nya tiap hari. Sesuai tuntunan baginda Nabi SAW, Shalat adalah kinerja hati dan jasmani yang laras, bukan gerak raga yang kosong, sekalipun masih ditolerir dalam syara’. Berdiri, ruku’, i’tidal dan sujud adalah refleksi ketaqwaan dalam ranah fisik. Adapun khusuk, hudhur dan tadabbur, itulah dialog sebenarnya antara muslim dengan Rabbul ‘Alamiin. Berikut kami ketengahkan ulasan yang dalam mengenai hakikat shalat dari seorang ulama yang telah mencapai puncak pengetahuan pada abad keduabelas Hijriyah, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi. “Ketahuilah, Islam laksana rumah yang dibangun dengan lima pilar utama, syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Pada pilar pertama terdapat satu gerbang dengan dua lorong yang berfungsi sebagai jalan untuk memasuki rumah. Setelah syahadat, shalatlah yang utama. Menyusul puasa ramadhan, zakat dan haji. Tunaikanlah lima kewajiban ini didasari kesadaran hati. Sebab sarana paling utama bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada penciptanya adalah kelima kewajiban ini. Jagalah shalat lima waktu dan kenalilah hak-haknya. Pelajari teori-teori hukum fikihnya, yang wajib maupun yang sunah. Anda harus mengetahui kedudukan shalat dalam agama, laksana kepala dalam rangkaian raga kita. Manusia mustahil hidup tanpa berkepala, begitu pula bila shalat ditinggalkannya, maka cahaya iman di kalbu seorang muslim pun niscaya padam. Sholat adalah tiang agama. Hadis lain menyebutkan bila seorang hamba berdiri untuk shalat, Allah SWT menyingkap tirai penyekat antara diri-Nya dengan hamba. Allah SWT akan menyambutnya dengan hadirat-Nya yang mulia. Sedangkan para malaikat di sekeliling-Nya sontak berdiri, lalu beterbangan ke langit-langit untuk larut bersama si hamba dalam shalat. Kemudian mereka mengamini doa-doa yang dipanjatkan si hamba seusai shalat. Berbagai kebaikan akan dikucurkan dari kolong-kolong langit ke ubun-ubun hamba yang tengah mendirikan shalat. Lalu terdengar seruan lantang, “Andaikata orang yang sedang bermunajat menyadari, kepada siapakah ia bermunajat, niscaya ia takkan menolehkan pandangannya. Sesungguhnya pintu-pintu langit dibuka bagi orang-orang yang melaksanakan shalat. Dan di hadapan para malaikat, Allah SWT senantiasa membangga-banggakan ketulusan orang yang shalat.” Dalam Taurat, Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah kalian enggan mendirikan sholat di hadapan-Ku sembari menangis sedu. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah ‘azza wajalla yang senantiasa bersemayam di hati kalian, dan di alam ghaib nanti, kalian akan menyaksikan cahaya-Ku.” Disebutkan pula bahwa ketika seorang muslim melaksanakan shalat dua rakaat, sepuluh ribu jenis malaikat merasa takjub kepadanya, tiap satu jenis terdiri dari sepuluh ribu malaikat. Dan Allah akan membanggakan muslim itu di hadapan seratus ribu malaikat-Nya. Dalam kitab Jami’ Asbabil Khairat, karya Syaikh Muhammad al-‘Imrani, tercantum sebuah hadis riwayat Ibnu Abbas yang berbunyi, “Islam ini ibarat sebatang pohon berbuah rindang di pelataran rumah. Iman adalah akarnya, salat batangnya, puasa dahannya, zakat rantingnya, jihad kuncup bunganya Dan budi pekerti adalah buahnya. Tunaikanlah salat dengan bagus. Raihlah kesempurnaannya dengan memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, sunah-sunah, serta adab-adabnya. Juga dengan mengetahui kepastian waktunya, senantiasa mengingatnya, dan berupaya melaksanakannya di awal waktu, Dalam shalat kita juga harus khusuk, hudhur dan ikhlas. Jangan memecah fokus shalat kepada hal lain. Tuangkan seluruh pikiran, gerakan, dan konsentrasi pada satu titik, yakni Allah SWT semata. Berusahalah seoptimal mungkin melaksanakan shalat dengan cara demikian seraya memohon kepada-Nya agar selalu diberi petunjuk dan kekuatan.

KESEMPURNAAN SHALAT

Kesempurnaan shalat bertalian pula dengan kesempurnaan thaharah (kesucian) pada pakaian, badan dan tempat shalat. Karenanya, jalankanlah keseluruhan sunah dan adab bersuci tanpa dibayang-bayangi rasa was-was. Sebuah hadis shahih menuturkan, “Barangsiapa berwudu, lalu membaguskan wudunya, maka dosa-dosanya berkeluaran dari anggota wudunya itu. Jadinya, ia akan memasuki shalat dalam keadaan steril (bersih) dari dosa.” Shalat yang sempurna bisa diwujudkan dengan menyegerakan pelaksanaannya. Awal waktu adalah ridha Allah, sedang akhir waktu adalah ampunan-Nya. Terpenting pula, kumandangkanlah azan dan iqamah sebelum shalat. Pasalnya, setan-setan akan lari berhamburan dari kita manakala seruan azan didengungkan, seperti gambaran salah satu hadis. Hati-hatilah. Hindari was-was dan bisikan-bisikan nafs dalam shalat. Hadirkan hati bersama Allah SWT dengan sikap khusuk dan penuh adab. Sejatinya, sholat yang tidak disertai kehadiran hati lebih layak menuai azab dari Allah SWT. Dalam hadis Nabi SAW, “Tiadalah seorang hamba memperoleh faedah shalatnya kecuali bagian yang ia hayati.” Agar bisa khusuk dalam shalat, hindarilah ketergesaan. Shalatlah dengan perlahan dan tenang. Lakukan ruku’ dengan rentang waktu yang lama. Demikian pula sujud serta duduk setelahnya. Perlu diketahui, orang yang tidak menyempurnakan ruku’, sujud, dan khusuknya dalam shalat bisa dikategorikan sebagai “pencuri”. Ingat, laksanakanlah shalat lima waktu secara berjamaah. Nilai shalat berjamaah melebihi shalat sendirian dengan selisih dua puluh tujuh derajat. Tidaklah cenderung meninggalkan jamaah kecuali orang-orang yang hatinya disemayami sifat nifaq. Nabi SAW pernah mewartakan, “Mari, aku beritahukan kepada kalian mengenai hal-hal yang bisa memperkenankan Allah SWT menghapus dosa-dosa dan meninggikan derajat-derajat, diantaranya adalah mengerjakan wudhu’ kala situasi kurang mengenakkan, banyaknya langkah menuju masjid, dan penantian dari satu shalat ke shalat berikutnya. Upayakan selalu shalat pada shaf pertama, dan luruskanlah shafnya. Karena shaf yang lurus adalah bagian dari kesempurnaan fadhilah berjamaah. Berjamaah sangat dianjurkan dalam shalat lima waktu. Khususnya di waktu isyak dan shubuh. Sebuah hadis memaparkan, Siapa yang melaksanakan shalat isyak dengan berjamaah, maka sama artinya ia memakmurkan separuh malam dengan sholat, dan siapa yang melaksanakan shalat shubuh dengan berjamaah, maka sama artinya ia memakmurkan seluruh malam. Sedang hadis yang lain mengimbuhi, siapa yang melaksanakan keduanya dengan berjamaah, maka ia dalam naungan Allah SWT sampai pagi dan petang hari. Shalat lima waktu kian sempurna manakala diiringi sunah rawatibnya, qabliyah maupun ba’diyah. Shalat sunah berfungsi sebagai penambal kekurangan shalat fardu. Shalat-shalat sunah yang muakkad diantaranya adalah shalat witir, shalat dua hari raya, shalat dua gerhana, istisqa’, dhuha, dan shalat sunah antara maghrib dan isya’. Fadhilah-fadhilah shalat-shalat tersebut sangatlah masyhur. Demikian pula shalat tasbih yang berkeutamaan luar biasa dan shalat malam. Nabi SAW berseru, “Laksanakanlah shalat malam, sebab shalat malam adalah tradisi kaum shalihin, sarana pendekatan diri kepada tuhan kalian, penebus dosa-dosa, penangkal maksiat dan pengusir penyakit dari jasmani kita.” Di salah satu hadis shahihnya, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya diantara malam ada satu momen. Tidaklah seorang muslim berdoa baik untuk urusan dunia maupun akhirat tepat pada momen tersebut kecuali Allah SWT pasti akan mengabulkan permintaannya. Momen itu hadir di setiap malam.”

JANGAN MENINGGALKAN SHALAT

Meninggalkan shalat? Wal’iyadzu billahi min zalik. Tidak dimungkiri, perbuatan itu adalah pelanggaran yang serius dalam Islam. Hadis-hadis menghukumi pelakunya kufur dan lepas dari naungan Allah SWT serta rasul-Nya. Orang-orang yang meninggalkan shalat lima waktu, keberkahan umur dan rejekinya akan disirnakan Allah SWT. Doa-doa orang shaleh tidak berlaku untuknya, apalagi doanya sendiri. Amal perbuatan baiknya tidak diganjar. Ia akan mati dalam keadaan haus, lapar dan terhina. Kuburnya menyempit dan gelap gulita. Allah SWT takkan sudi memandangnya apalagi membersihkannya. Dan yang paling menakutkan, sudah sediakan baginya azab yang mahadahsyat. (hadits) Esensi shalat adalah hudhur, tafahum (penghayatan), pengagungan, pengharapan dan ketulus-ikhlasan kepada Allah SWT. Sebuah hadis melukiskan bahwa Allah SWT berkenan menyambut orang yang shalat selama ia tidak menoleh. Hadis yang lain menyebutkan bahwa Allah SWT takkan memandang shalat yang di dalamnya si pelaku tidak menghadirkan hatinya. Hal senada dituturkan oleh Ibnu Abbas, “Dua rakaat dengan durasi sedang disertai tafakur lebih utama daripada berdiri sepanjang malam sedangkan hati dalam keadaan lupa.”


5 Komentar

  1. Haryanto mengatakan:

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Alhamdulillah , tulisan ini menyejukan hatiku.terima kasih banyak kepada Admin website ini serta penulisnya( Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi)Semoga dilimpahkan pahala yang berlimpah. dan semoga ilmu yang disampaikan ini dapat bermanfaat buat diri saya. Amin.

    Sekedar saran untuk admin untuk Ayat-ayat Qur’an dan hadist Tolong di tampilkan dong supaya pembaca mudah menghapal dan memahami bahasa arabnya .

    Salam
    Haryanto

    Note : Mohon Maaf kalau tulisan ini tak berkenan.

  2. Akhi mengatakan:

    Asalamu alaikum..mau tanya, istri saya kalau shola dzuhur diakhir waktu (wkt dzuhur blm hbs)karena skalian menanti sholat asar dan isyak juga begitu sekalian menanti shubuh soalnya kalau mau sholat pasti mandi (maklum pnya ank kecil jd repot jaga kesucian dan biar nggak mandi terus dan hal tsb apakah baik dan kalo saya bisa diawal waktu soale ikut jamaah d mesjid tapi..saya ragu2 dgn imamnya soal imamnya masuk takbir melafalkan Allohu akbar dah selesai tp tangannya belum sempurna/sendakep jawanya dan ragu soal tuma’ninah di waktu i’tidal soalnya tangan si imam masih dlm keadaan ketawehan/gerak sambi baca doa i’tidal dan apakah saya terus ikut imam ? Sebelumnya syukro kasir atas jwbnnya, jazakumulloh..!

  3. forsan salaf mengatakan:

    @ akhi, waalaikumsalam,
    Pada dasarnya, tidak wajib mandi untuk menghilangkan najis, apalagi masih diragukan kenajisannya, karena hukum najis tidak diberikan kepada suatu benda kecuali telah yakin akan kenajisannya.
    Sedangkan waktu pelaksanaan shalat yang paling utama adalah di awal waktu yang disebut dengan WAKTU FADHILAH, hanya saja diperbolehkan bagi siapa saja untuk mengakhirkan shalatnya selama masih dalam waktu yang ditentukan hingga tidak ada bagian dari shalat yang di luar waktunya. Oleh karena itu, kami sarankan bagi istri anda agar tidak mandai setiap akan shalat demi hilangnya perasaan was-was akan kenajisan badannya setelah bersentuhan dengan si bayi, dan bisa mengerjakan shalat di awal waktu. Dalam permasalahan ini alangkah baiknya anda baca artikel yang sudah kami muat yang berjudul :”DIMANAKAH SHALATNYA PEREMPUAN” atau bisa langsung klik disini
    Dalam tatacara takbirotul ihrom, terdapat beberapa cara dikalangan ulama’, namun cara yang paling utama adalah melafadhkan takbir ketika mulai mengangkat kedua tangan dan berakhir pelafadhannya ketika berada dipuncak mengangkat tangan yaitu ketika kedua tangan berada di sejajar kepala. Kemudian menurunkan kedua tangan dengan tanpa bacaan takbir. Oleh karena itu, shalat imam dengan pelaksanaan takbir seperti yang anda sebutkan tetap sah, sehingga anda tetap bisa meneruskan shalat berjamaah dengannya hingga selesai.
    Tuma’niah adalah berhenti sejenak pada rukun tersebut dengan ukuran subhanallah,maka apabila imam telah membaca doa i’tidal berarti dia telah tumakninah,
    Dengan demikian anda bisa meneruskan untuk berjamaah dengan imam tersebut.

  4. Akhi mengatakan:

    Terima ksh ats jwbnnya..oya sblmnya minta maaf krn msh ada pentanyaan.! Apakah stlh mengucapkan lfdz Allohu akbar itu sudah masuk dlm sholat dan ketika dlm shlt katanya gak boleh gerak smpe 3gerakan dan disini imam sudah selesai melfdzkan Allohu akbar tp tangan masih d atas. Apakah itu tdk termasuk gerakan yg sia sia dlm shlt dan masalah tumakninah dlm i’tidal ustad sy pernah bilang kalau i’tidal hrs anteng(tuma’ninah) dan kesunatannya tangan diatas perut dibawah dada dan tangan gak boleh memantul apalagi memantulnya smpe kebelakang(melewati batas badan kita) dan boleh memantul ke belakang asal tdk ke dpn lg(tangan di pantat) masalahnya tangan kanan termasuk 1grkn, kiri 1grkn jd =2 grkan dan jika tangan memantul ke blkng dan ke dpn lg di hitung 4grakan krn tangan sdh melewati batas bdn dan yg sering saya lihat adalah sprti itu. maaf ya..krn saya ingin tau mungkin ada yg membolehkan hal semacm itu secara syariat . Maturnuwun sak dereng ipun

  5. forsan salaf mengatakan:

    @ akhi, Tatacara takbirotul ihrom dalam kaitannya pengkombinasian antara ucapan takbir dan gerakan mengangkat kedua tangan yang paling utama adalah seperti dalam komentar di atas yaitu selesainya bacaan takbir ketika tangan berada di puncak mengangkat. Oleh karena itu, gerakan mengembalikannya ke bawah bukanlah termasuk gerakan sia-sia.
    Dalam kesunahan i’tidal yaitu setelah mengangkat kedua tangan, dengan melepaskan tangan lurus sejajar dengan anggota badan, dan bukan di sedekapkan di atas perut di bawah dada.
    Adapun permasalahan gerakan kedua tangan ketika di angkat, gerakan tangan ke belakang kembali ke depan selama bersambung maka dihitung sebagai satu gerakan. Sehingga kedua tangan yang bergerak ke belakang lalu berlanjut ke depan dihitung dua gerakan yang berarti tidak membatalkan shalat. Berbeda dengan kaki, antara kaki yang kiri dan kanan dalam melangkah sekalipun melangkah satu langkah hingga kedua kaki sejajar, maka dihitung dua gerakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: