Forsan Salaf

Beranda » Artikel » Menghargai Diri Orang Lain Apa-adanya

Menghargai Diri Orang Lain Apa-adanya

tawadhu'Termasuk menentang takdir adalah manakala seseorang menjelekkan saudaranya dengan perkara (catat) yang di luar kehendaknya

(Imam Abdullah Al Haddad)

Dalam bentang kehidupan umat manusia pasti ada yang hidup dalam keadaan sehat, sakit, kaya, miskin, demikian seterusnya rona-rona hidup. Mereka ada yang catat, postur tubuhnya kurus kerempeng, atawa hidup dalam kepapaan. Akan tetapi semuanya tidak dinilai oleh Allah dari segi fisiknya.

Maka dari itu, setiap sikap yang berwujud dalam meremehkan, menghina dan memandang sebelah mata orang-orang yang cacat, sakit, dan miskin di atas termasuk tindakan yang berbahaya yaitu menentang takdir.

Siagakan diri kita dari menghina orang lain. Tidak ada jaminan bahwa diri kita yang dha`if ini lebih baik dari orang yang kita lecehkan. Bisa jadi, dalam pandangan manusia, seseorang itu jelek fisiknya, melarat namun dia malah mendapatkan kemulian dari kekurangannya tersebut. Itu sebabnya baginda Nabi saw menerangkan dalam sebuah haditsnya :

الفُقَرَاءُ جُلَسَاءُ اللهِ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Orang-orang fakir itu adalah “teman duduknya” Allah di hari kiamat.”

Bersandar dari hadits di atas, kita diajari ternyata kemelaratan justru menjadi sebab kemuliaan. Oleh karena itu, banyak didapati di antara hamba-hamba Allah swt yang tergolek sakit yang dengan sakitnya tersebut ia meraih derajat di sisi Allah. Sebagai contoh cukup kiranya kisah Nabi Ayyub, sosok Nabi yang ditimpa aneka macam penyakit yang ternyata mendapat kemulian. Lihat pula kabar sahabat Nabi yang bernama Imran bin Hushain, ia meraih maqam sebab kesabarannya ditimpa penyakit. Dia terkena penyakit beser hingga tergolek tidak berdaya.

Suatu ketika dia berkata kepada Nabi yang intinya meminta doa kesembuhan, “Ya Rasulullah, doakan aku ini supaya sembuh.” Nabi memberi pilihan, “Imran kalau engkau kudoakan, engkau akan disembuhkan oleh Allah tapi kalau engkau (mau) bersabar, maka malaikat mendatangimu setiap hari guna memberi salam.” Tanpa ragu-ragu lagi, Imran mengambil pilihan kedua yang ditawarkan oleh Rasul.

Mungkin, kita sering merasa iba kepada mereka yang tertimpa suatu penyakit namun sebenarnya orang yang sakit mendapatkan pangkat dari Allah. Karenanya, jangan lagi ada perasaan yang menggelayut di benak bahwa yang sehat  lebih mulia daripada yang sakit; yang kaya lebih mulia daripada yang melarat. Kita sudah tahu kedudukan Imran bin Hushain yang saban hari didatangi malaikat juga kesabaran Nabi Ayyub yang diganjar dengan kedudukan mentereng di sisi-Nya, tinggal kita sekarang, masihkah  sampai hati kita mengina orang lain, senangkah diri ini bila saudara kita mendapat musibah? Ibnu Abbas memberikan komentarnya tentang firman Allah :

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang Telah mereka kerjakan ada (tertulis). dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (QS. [18]:49)

Kata Ibnu Abbas, tidak meninggalkan yang kecil adalah At Tabassum bil istihza` bil Mukmin (senyuman sinis yang bernada hinaan kepada orang mukmin), dan tidak (pula) yang besar adalah Al Qahqahah (tertawa terbahak-bahak menghina orang muslim).

Dalam firman-Nya yang lain,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka Telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

HINDARI SIKAP RASIS

Allah swt berfirman dalam surah Al Hujuraat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Serta janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.”

Untuk diketahui, ayat ini turun karena ada segelintir orang menghina sahabat Nabi semisal Bilal, `Ammar bin Yasir, Salman Al Farisi, Mus`ab bin `Umair, Shuhaib Al Rumi, sebagai golongan orang-orang yang melarat. Mereka menganggap golongan Abu Lahab, Abu Jahal adalah lebih mulia. Mereka lupa kemuliaan itu adalah dengan iman. Berkata seorang penyair :

لَقَدْ رَفَعَ الإِسْلاَمُ سَلْمَانَ فَارِسٍ *وَقَدْ وَضَعَ الشِّرْكُ النَّسِيْبَ أبَاَ لَهَبٍ

Sungguh Islam telah mengangkat derajat kemulian Salman Al Farisi

Sedang kemusyrikkan telah meluluhlantakan kemulian nasab si Abu Lahab

Sudah saatnya kita tanggalkan sikap menghina seseorang tersebab kesukuan, kebangsaan, warna kulit, dan tampilan luarnya. Toh, yang wajahnya tampan dan cantik, paling tidak untuk sekarang ini, belum tentu berlanjut di kemudian hari. Begitu pula yang kini merasa sehat belum tentu besok juga demikian.

Di lain kesempatan, Rasul saw bersabda :

“Cukup sebagai perbuatan jelek bagi seseorang itu dengan menghina saudaranya yang muslim”.

Di antara sahabat-sahabat Nabi ada yang disebut Ashhabus Suffah, mereka tidak punya rumah, pekerjaan tidak ada, tidurnya di pelataran masjid –meminjam istilah orang sekarang- “kaum gelandangan”. Tapi bagaimana Allah berpesan kepada Nabi tentang mereka:

“Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.(QS.[18]: 28)

Menghargai Kebaikan

Alih-alih Rasul menghina orang, sekelas makanan pun tak pernah menjadi sasaran hinaan beliau. Semua yang keluar dari mulut Rasul adalah bersih, penuh dengan samudera hikmah, tidak ada cacian sama sekali. Diriwayatkan:

مَا عَابَ النَّبِيُّ طَعَامًا قَطُّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

“Nabi sama sekali tidak pernah menghina satu makanan. Bila beliau suka beliau makan, bila tidak beliau tinggalkan (tidak memakannya).”

Ketika Rasul masuk ke salah satu rumah istrinya, beliau bertanya : “Apakah ada makanan?”

“Oh, ada ya Rasulullah, roti gandum

”Apa ada kuanya?”.

“Tidak ada.”

“Apa yang ada?”

“Hanya cukak.”

Rasul berkata, “Kua yang paling nikmat adalah cukak.”

Memang Islam tidak merestui penghinaan kepada siapa saja. Islam mengajarkan untuk menghargai orang lain. Islam juga memerintahkan untuk melihat kebaikan bukan pada siapa dirinya di masa lalu.

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ قَدْ تَابَ مِنْهُ لَمْ يَمُتْ حَتىَّ يَعْمَلَهُ (حديث)

“Barangsiapa menjelek-jelekkan saudaranya perbuatan dosa yang ia sudah taubat darinya, tidaklah ia mati sampai ia melakukan dosa tersebut.”

Seperti terlampir dalam altar sejarah manusia agung yaitu Sayyidina Hasan ra. di mana ia pernah berjalan melewati sekelompok kaum dhu`afa yang sedang makan. Orang miskin tersebut sembari berbasa-basi mewarkan makan kepada Hasan. Hasan turun dari kendaraannya, makan bersama mereka. Kaum dhu`afa kaget tidak kepalang. Pikir mereka, “Orang yang sangat mulia sudi benar duduk bersama kita.”

Akhirnya, Hasan mengundang mereka untuk datang ke rumahnya keesokan harinya. Esok harinya sudah dipersiapkan makanan yang lezat sebagai bentuk penghargaan Hasan kepada kaum dhu`afa yang telah menghargai Hasan. Beliau ingin membalas kebaikan mereka atas dirinya.

Pernah Siti Aisyah duduk bersama Nabi kemudian lewat seorang wanita yang postur tubuhnya pendek. Begitu datang, Siti Aisyah mencibir postur tubuh si wanita tadi, “Perempuan ini pendeknya segini, wahai Rasul.” Nabi tidak suka pernyataan Aisyah dan memberi tanggapan serius, “Bekas omonganmu jika ditunjukkan hakikatnya dengan kamu ludahkan ke lautan, maka lautan tersebut akan mengeluarkan bau anyir.”

Perhatikan tanggapan serius Nabi tersebut. Celakanya, cacian sekarang dijadikan “madzhab”. Namanya “madzhab” mencaci. Yang dicaci adalah para  sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali; yang dicaci adalah kaum shalihin, Imam Ghazali, Syekh Abdulkadir Al Jailani. Makanan saja tidak boleh dicaci apalagi Sayidina abu Bakar dan sahabat lainnya. Ali Akbar bin Agil


1 Komentar

  1. zen mengatakan:

    mudahnya orang mencaci, tapi tidak mampu mengkoreksi diri sendiri. sungguh masa yang yang sangat memperihatinkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: