Forsan Salaf

Beranda » Headline » Manusia : Ciptaan Tanpa Cela

Manusia : Ciptaan Tanpa Cela

11Manusia adalah mukjizat― Sebuah kreasi indah yang belum bisa digantikan sampai sekarang. Penciptanya pun sungguh kreator yang amat handal dan sempurna. Ia menyempurnakan setiap detail kecil dari bagian-bagiannya. Tidak ada satu pun bagian yang tercipta tanpa fungsi. Semuanya bersatu, berintegrasi dan bekerja sama dengan baik. Tentu hal ini mengundang rasa takjub dan decak kagum dalam benak kita : Alangkah indahnya susunan tubuh manusia, dan alangkah sempurnanya Dzat yang menciptakan produk unggulan seperti ini.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizqi dan yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al-Israa’ 70). Tentu saja kita juga memiliki kekurangan, akan tetapi fitrah kita adalah sempurna. Dalam ayat diatas Allah telah menegaskan bahwa kita diunggulkan dari makhlukNya yang lain. Oleh karena itu syukur merupakan syarat mutlak yang harus kita tunjukkan kepadaNya. Bagaimana tidak ? kita hanya diciptakan dari tanah, bahkan melalui sepercik air hina, lalu kemudian dibentuk dengan sungguh amat sempurna. Kita juga di-plot sebagai pemimpin seluruh makhluk setelah ruh ditiupkan ke tubuh. Maha Suci Allah …..

Penciptaan manusia adalah mukjizat karena mengandung jutaan keajaiban yang menjadi keistimewaan ciptaanNya. Setiap organ memiliki mukjizat yang memiliki bagian-bagian yang semuanya adalah mukjizat. Mukjizat detak jantung, kemampuan berpikir, tingkah laku, makan, pencernaan, absorbsi, minum, pembuangan, pendengaran, penglihatan, gerak dan diam, kondisi jaga dan tidur, semua sarat dengan mukjizat. Kita hanya bisa mengatakan bahwa manusia adalah mukjizat raksasa yang memiliki jutaan keajaiban.

Mungkin kita pernah menyaksikan acara di sebuah televisi swasta yang berjudul Souvenirs of the 20th Century (kenang-kenangan abad 20). Dalam acara itu ditunjukkan aneka macam penemuan mulai dari mesin, sistem komunikasi, alat perang, alat transportasi dan sebagainya. Amat menarik memang melihat bagaimana manusia mampu menemukan alat maupun mesin-mesin canggih. Taruh saja permisalan ketika pada tahun 1770 Matthew Boulton dan James Watt menemukan mesin uap. Seluruh pelosok dunia terpesona. Para petani di Inggris tidak lagi membajak lahan pertanian mereka dengan tangan, namun dengan mini-traktor yang dijalankan oleh mesin uap. Dengan mesin ini pula manusia kala itu bisa menjalankan kereta api, sehingga kuda tak lagi teramat dibutuhkan. Revolusi industri pun bergulir di Inggris. Bahkan pada akhirnya semua kawasan Eropa menjadi negara industri.

Aneka macam kegiatan industri yang sebelumnya dijalankan dengan tenaga manusia kontan berubah menjadi tugas mesin. Hebat memang! Tapi coba perhatikan lebih seksama. Tak lama setelah itu Rudolph Diesel menemukan mesin diesel yang jauh lebih efesien dan canggih. Lalu menyusul mesin yang satu dan yang lainnya. Suatu pertanda bahwa penemuan-penemuan sebelumnya tidaklah sempurna. Ketika suatu mesin yang lebih canggih ditemukan, sama artinya dengan menjelaskan bahwa penemuan terdahulunya tidaklah sempurna. Ada sesuatu yang harus diperbaharui atau ada sesuatu yang harus ditambah. Lalu bagaimana dengan kita ? adakah makhluk yang tercipta lebih sempurna dan menggantikan kedudukan kita ? Untuk itu kiranya pantas jika kita, manusia, menyandang predikat Souvenir of All Centuries (kenang-kenangan sepanjang jaman).

’Hi-Robot’, sebuah robot yang baru-baru ini dipamerkan di Jepang mungkin membuat para peneliti robot takjub. Robot ini mampu mengenali pemiliknya dan bisa membunyikan alarm ketika orang asing tertangkap basah sedang mencuri di rumahnya. Jika kita amati lebih detail, kita akan mendapati banyak sekali kekurangan. Ribuan perangkat elektronik, kabel dan mungkin ratusan perangkat lunak tersusun didalamnya. Tapi dengan satu kerusakan saja robot itu akan terganggu fungsinya dan tak mampu membenahi dirinya sendiri. Seakan ia diciptakan hanya dengan satu atau beberapa fungsi saja. Sedangkan kita, dari satu sel ke sel lainnya, berkumpul menjadi satu dengan bermacam-macam fungsi dan kemampuan memperbarui diri (homeostasis). Maha Besar Allah …..

سَنُرِيهِمْ آَيَاتِنَا فِي الْآَفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagimu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu. ” (Al-Fushshilat : 53)

Sungguh sulit meneliti tubuh kita ini, karena susunan yang teramat rumit tetapi saling bekerja sama dengan sinergis, saling menjaga dan mempertahankan diri. Sistem ini mencerminkan makna kedisiplinan, kesungguhan dan ketaatan. Para ilmuwan kagum melihat penemuan-penemuan ini. Jumlah miliaran sel dan berbagai organ membentuk satu kesatuan tubuh manusia, semuanya bekerjasama dengan rumit dan akurat. Bekerja dengan giat dan ikhlas menunaikan seluruh aktivitas yang dilakukan oleh seorang manusia.

Maha Suci Allah, Pencipta paling baik yang telah menciptakan manusia dan memerintahkannya untuk memikirkan tentang dirinya sebagai sarana untuk menyadari betapa agung ciptaanNya. Kini kemajuan berbagai ilmu modern telah menyingkap berbagai realitas ilmu, manusia tidak mampu kecuali hanya bersujud di hadapan keagunganNya. Bahkan para sufi mengatakan siapa yang mampu mengenali jati dirinya sendiri maka ia akan mampu mengenali Khaliknya, kemudian akan membuat ruhnya mi’raj (bersentuhan) dengan Sang Agung.

Mungkin sedikit gambaran untuk Anda, dalam pencernaan kita terdapat sekitar satu miliar sel yang menghasilkan zat asam lambung. Dalam setiap cm2 usus kita terdapat 36000 enzim untuk menyerap nutrisi dari makanan yang telah dicerna, sementara dalam organ lidah terdapat sekitar 9000 perangkat lunak yang berfungsi untuk merasakan dan membedakan rasa manis, masam, pahit dan asin.

Jantung dalam tubuh kita adalah organ pemompa yang tidak pernah berhenti. Mulai bekerja sejak pertama ruh ditiupkan ke dalam jasad manusia dan berhenti bersamaan keluarnya ruh menghadap Sang Pencipta. Dalam satu menit jantung berdetak rata-rata 60 – 80 kali, lebih dari seratus ribu kali sehari, dengan memompa darah sekitar 8000 liter. Jika dihitung selama hidup, jantung kita memompa darah rata-rata 56 juta galon, dan dalam setahun berdetak sekitar 40 juta kali.

Urat saraf dalam tubuh kita sekitar 13-16 miliar sel. Pusatnya adalah sel saraf otak yang mengkonsumsi glukosa (gula) saja. Sementara darah yang dibutuhkan setiap hari tidak kurang dari 1000 liter. Jika kita menyusun sel-sel urat saraf dalam tubuh kita ini menjadi satu garis lurus, maka panjangnya berlipat ganda dari jarak antara bumi dan bulan.

Sebelah ginjal memiliki satu juta bagian yang bertugas untuk membersihkan darah atau dikenal dengan istilah Nephron. Dalam jangka dua puluh empat jam, jaringan ginjal ini mampu memfilter sekitar 1800 liter darah dan kemudian disaring menjadi 180 liter saja. Jumlah itu kemudian kembali diserap ke dalam saluran-saluran dalam ginjal dan hanya sekitar 1,5 liter saja yang keluar darinya berupa air kencing.

Sementara gelembung filter udara dalam paru-paru berjumlah sekitar 750 juta. Semuanya bertugas membersihkan darah dari gas sisa (karbondioksida). Oksigen kemudian disebarkan ke seluruh bagian tubuh. Jika jutaan filter ini dibentangkan, maka lebarnya sekitar tujuh puluh meter kubik. Tetapi dalam keadaan normal tubuh ini tidak membutuhkan lebih dari sepersepuluhnya. Firman Allah :

صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ

(Begitulah) ciptaan Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan kokoh.” (An-Naml : 88). Dalam surat yang lain, Luqman ayat 11, Allah menegaskan :

هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah kepadaKu apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahanmu selain Allah. Bahkan, orang-orang dzalim itu berada dalam kesesatan yang nyata.”

Sungguh Allah telah membuat perumpamaan-perumpamaan dan pertanda buat kita dan hanya orang-orang yang berilmulah yang mampu menangkap semua tanda-tanda ini. Coba Anda perhatikan seekor lebah! Binatang ini hanya memiliki sistem saraf yang amat sederhana, bahkan tidak mempunyai akal. Namun, ia mampu membuat sarangnya yang berbentuk heksagonal (segi enam). Tidak ada satu pun lebah di dunia ini yang salah membuat sarangnya berbentuk segi lima atau segi empat. Pertanyaanya adalah mengapa ? karena Allah sendirilah yang mengajarkan kepada lebah yang kemudian dijadikan insting atau naluri kebinatangan olehnya. Jika lebah saja mampu menangkap sinyal Ilahi yang datang dari Tuhannya, lalu mengapa kita tidak ? padahal kita memiliki akal yang jutaan kali lebih sempurna. Dan bukankah Allah telah menurunkan kitabNya yang furqan sebagai sinyal yang wajib kita tangkap ?

Apa yang telah disebutkan diatas hanyalah sebagian kecil dari jutaan mukjizat yang diberikan Allah kepada kita. Bahkan bisa dikatakan bahwa mukjizat yang belum diketahui dalam tubuh kita hingga saat ini tak terhitung jumlahnya. Setiap kali para ilmuwan berhasil membuka satu pintu, maka akan terbentang dihadapannya berlapis-lapis pintu yang belum terbuka. Maha Besar Allah …..

Lantas, setelah kita mengetahui dan menyaksikan keajaiban-keajaiban raksasa itu, masihkah kita mengingkarinya ? Ingkar kepada nikmat Allah bukan hanya berarti menolak kebenaran itu namun juga ketika kita tidak mensyukurinya. Syukur kepadaNya berarti kita harus mempergunakan mukjizat-mukjizat itu dengan cara menyibukkan diri kita dengan ibadah. Bukankah kita diciptakan ke dunia hanya untuk beribadah kepadaNya ?

Allah menjanjikan kepada kita jika kita mau mendekat padaNya satu jengkal niscaya Ia akan datang pada kita satu hasta. Sungguh amat pemurah Tuhan kita, hanya saja kita belum mau tersentuh dengan sinyal IlahNya. Teruslah mensyukuri nikmatNya sembari selalu meminta pertolongan atas kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat. Ketika angin berhembus dengan kencang dan petir menggelegar serta langit diliputi oleh awan hitam, maka kebutuhan yang melekat dalam diri manusia saat itu adalah kembali kepada Allah untuk memohon pertolonganNya. Janganlah berbuat ingkar kepadaNya, karena sesungguhnya hati tak akan pernah merasa merana kecuali ia ingkar kepada Tuhannya.

Hasan Al-Basri pernah berkata : ”Wahai anak Adam, ketika Nabi Musa memprotes Khidir karena perbuatan-perbuatannya dalam tiga kali kesempatan, Khidir kemudian berkata, ”Inilah perpisahan antara kamu dan aku.” Lantas, bagaimana dengan kita yang tidak patuh kepada Tuhan berkali-kali dalam satu hari ? Apakah kita semua merasa aman dan yakin bahwa Dia (Allah) tidak akan berfirman kepada kita,

قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ

Inilah perpisahan antara kamu dan Aku.”

Achmad Anies Shahab


3 Komentar

  1. Humairoh mengatakan:

    Subkhanallaah… Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluknya dengan sangat-sangat sempurna dan tak terhitung nilainya…
    Artikel ini sangat bagus sekali…Terimakasih Wassalam.

  2. MuhammadAlkaff mengatakan:

    Ana cuman mw ngucapin assalamualaikum

  3. Naf mengatakan:

    ijin copas ya Akhi…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: