Forsan Salaf

Beranda » Majelis Ifta' » Hukum Tawassul

Hukum Tawassul

2076109774_cd53bdb5f6_oAssalamu alaikum wr. Wb.

Mau tanya ni, hukum mengamalkan tawassul kepada para wali itu gimana? Boleh
nggak? Trims

dr. Zul

Palu Sulawesi tengah

FORSAN SALAF menjawab :

“Tawassul” dari segi bahasa dari kata “wasilah” yang berarti ‘darajah’ (kedudukan), ‘qurbah’ (kedekatan), atau dari ‘washlah’ (penyampai dan penghubung). Dalam istilah syariat Islam tawassul dikenal sebagai sarana penghubung kepada Allah melalui ketaatan.

Contoh: orang sakit datang ke dokter, dia menjadikan dokter sebagai perantara untuk mendapatkan kesembuhan dengan tetap meyakini bahwa pemberi kesembuhan adalah Allah Swt. Begitu pula seorang murid membaca buku atau belajar kepada seorang guru, maka dia menjadikan buku dan guru sebagai perantara untuk meraih ilmu. Sedangkan ilmu pada hakikatnya dari Allah Swt.

Apabila diyakini dokter pemberi kesembuhan atau buku dan guru pemberi ilmu, maka dihukumi sebagai kesyirikan terhadap Allah.

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadanya.” (QS Al-Ma’idah: 35).

Perintah dari Allah di atas untuk mencari wasilah (perantara) mendekat diri kepada-Nya disebutkan secara mutlak (dalam bentuk ketaatan). Dalam kitab tafsir Asshowy diterangkan “Termasuk kesesatan dan kerugian yang nyata apabila mengkafirkan kaum muslimin karena berziarah ke makam para wali Allah, dengan menuduh bahwa ziarah merupakan penyembahan kepada selain Allah. Tidak! bahkan termasuk bentuk cinta karena Allah, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Saw

اَلاَ لاَ إِيْمانَ لِمَن لاَ مَحبةَ له والوسيلة له التي قال الله فيها وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

“Ingatlah ! tidak ada iman bagi orang yang tidak ada cinta, dan wasillah kepadanya yang dikatakan Al-Qur’an “dan carilah wasilah menuju Allah”. (As-Showi ala Tafsir jalalain juz 1 hal. 372)

Macam-Macam Tawassul :

a)        Tawassul Dengan Amal Solih

Hadits  riwayat Imam Bukhori No. 2111 hal. 40 juz 8 menceritakan tiga orang yang terperangkap di dalam goa yang tertutup batu besar. Mereka keluar dengan selamat setelah memohon kepada Allah dengan wasilah amal-amal soleh mereka.

b)        Tawassul Dengan Orang Solih Yang Hidup

Disebutkan dalam sohih Bukhori

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ

Diriwayatkan dari Anas bin Malik sesungguhnya Umar bin Khatthab RA ketika masyarakat tertimpa paceklik, dia meminta hujan kepada Allah dengan wasilah Abbas bin Abdul Mutthalib, dia berdo’a “Ya Allah! Dulu kami bertawassul kepada-Mu dengan perantara Nabi kami, lalu kami diberi hujan. Kini kami bertawassul kepadamu dengan perantara paman Nabi kami, berikanlah kami hujan”. Perawi hadits mengatakan “Mereka pun diberi hujan.”. HR Bukhory : 4/99.

Jelas sekali bahwa Sayidina Umar r.a. memohon kepada Allah dengan wasilah bbas, paman Rasulullah SAW padahal Sayidina Umar lebih utama dari Abbas dan dapat memohon kepada Allah tanpa wasilah

c)        Tawassul Dengan Orang yang  telah meninggal.

Dari Sayyidina Ali kr. “Sesungguhnya Nabi Saw ketika mengubur Fatimah binti Asad, ibu dari Sayyidina Ali Ra. Nabi mengatakan “Ya Allah! dengan Hakku dan Hak para nabi sebelumku ampunilah ibu setelah ibuku (wanita yang mengasuh Nabi sepeninggal Ibu-Nya)”. {HR. Thabrany dalam kitab Ausat juz 1 hal. 152}. Pada hadits tersebut Nabi betawassul dengan para nabi yang sudah meninggal.

d)        Tawassul Dengan Yang Belum Wujud.

Allah berfirman :

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ

“Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu”.(QS Al-Baqarah 89)

Diriwayatkan bahwa kaum Yahudi memohon pertolongan untuk mengalahkan kaum Aus dan Khazraj dengan wasilah Nabi Muhammad SAW yang kala itu belum diutus dan mereka diberi kemenangan oleh Allah, Akan tetapi setelah beliau diutus sebagai Rasul mereka mengkufurinya. (Tafsir Attobari juz2 hal.333)

Disebutkan pula

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « لما اقترف آدم الخطيئة قال : يا رب أسألك بحق محمد لما غفرت لي ، فقال الله : يا آدم ، وكيف عرفت محمدا ولم أخلقه ؟ قال : يا رب ، لأنك لما خلقتني بيدك ونفخت في من روحك رفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوبا لا إله إلا الله محمد رسول الله فعلمت أنك لم تضف إلى اسمك إلا أحب الخلق إليك

Dalam hadits yang diriwayatkan Umar bin Khatthab Ra. Rasullulah bersabda “Ketika Nabi Adam melakukan kesalahan, Beliau berkata, “Wahai Tuhanku! aku meminta kepada-Mu dengan Hak Muhammad ampuni aku”. Kemudian Allah menjawab “Wahai Adam! bagaimana kamu mengetahui tentang  Muhammad padahal Aku belum menciptakan-Nya?”. Adam berkata “Wahai Tuhanku! karena ketika Engkau ciptakan aku dengan kekuasaan-Mu dan Kau tiupkan ruh ke dalam diriku, setelah aku mengangkat kepalaku, aku melihat pada tiang Arsy tertulis “Lailaha illallah Muhammad Rasullullah” maka aku pun meyakini, tidaklah Kau sandarkan sebuah nama pada nama-Mu kecuali mahluk yang paling Engkau cintai”. {HR. Hakim dalam kitab Mustadrok juz 10 hal. 7. dan dishohihkan oleh al-Hafidz As-Suyuthy dalam kitab khosois an-Nabawiyyah, Imam baihaqy dalam kitab Dalailun Nubuwwah, Imam  al-Qasthalany dan Zarqany dalam kitab al-Mawahib al-Ladzunniyah juz 2 hal. 62, dan Imam As-Subky dalam kitab Syifa’us Siqom}.

Ini adalah bukti bahwa Nabi Adam pun menjadikan Rasulullah SAW sebagai wasilah sehinga Allah menerima tobatnya, padahal beliau belum diwujudkan oleh Allah SWT.

e)        Tawassul Dengan Benda Mati

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 248 :

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آَيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آَلُ مُوسَى وَآَلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman”.

Al Hafidz Ibn Kasir dalam kitab tarikh mengatakan: “Ibn Jarir berkata: “Bani Israil apabila berperang melawan musuh, mereka membawa tabut, dan mereka mendapatkan kemenangan berkat tabut, yang berisi bekas peninggalan keluarga Musa dan Imran””.

Ibn Kasir mengatakan pula dalam kitab tafsirnya “Tabut itu berisi tongkat Nabi Musa dan Nabi Harun serta baju Nabi Harun, sebagaian ulama mengatakan tongkat dan dua sandal”.

Apabila bertawassul dengan bekas peninggalan para Nabi, Allah SWT ridho dengan perbuaatan mereka dengan mengembalikan tabut itu ke tangan mereka setelah lama hilang, karena kemaksiatan mereka dan menjadikan tabut itu tanda keabsahan kerajaan Tholut, padahal isi tabut adalah benda-benda mati maka apakah menjadi syirik bila kita bertawassul dengan sebaik-baik Nabi?

Kesalahfahaman Kelompok Penentang Tawassul Dalam Memahami Ayat & Hadits

Sebagian orang mengatakan bahwa tawassul hukumnya haram dan menyebabkan kesyirikan, karena perbuatan ini sama dengan perbuatan orang musyrik, berdasarkan firman Allah Swt

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Artinya “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya “.Az Zumar : 3

Sebenarnya ayat di atas tidaklah tepat jika ditujukan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah karena ayat itu diturunkan untuk menjelaskan kelicikan orang-orang musyrik di dalam membela diri mereka terhadap sesembahan mereka yaitu berhala-berhala yang sebenarnya mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu berkuasa memberi manfat dan mendatangkan bahaya. Sedangkan orang yang beriman meyakini bahwa semua manfaat dan bahaya semata dari Allah.

Selain itu kalimat ما نعبدهم الا ليقربونا artinya kami tidak menyembah berhala-berhala itu kecuali untuk mendekatkan diri kami kepada Allah. Apakah sama yang diyakini orang yang bertawasul ?, Tidak, mereka menyembah kepada Allah dan tidak menyembah kepada selain Allah dan mereka tidak menjadikan apa yang mereka tawassuli untuk mendekatkan diri kepada Allah, mereka meminta kepada Allah berkat orang-orang yang soleh yang telah diridhoi oleh Allah.

Salah besar jika melarang tawassul dengan ayat di atas. Yang lebih mengggelikan, ayat yang ditujukan kepada musyrikin ini, mereka gunakan untuk menyerang orang-orang beriman yang meng-esakan Allah. Imam Bukhori berkata “Ini adalah perbuatan orang khawarij. Mereka mengambil ayat untuk orang kafir kemudian menimpakan ayat tersebut kepada muslimin dengan tanpa dalil dan disertai fanatik yang keterlaluan “. {lihat kitab Mas’alatul al-Washilah karya Muhammad Zaky Ibrohim hal. 8}.

:Mereka juga salah di dalam memahami hadits

اذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Apabila kamu meminta tolong maka minta tolonglah kepada Allah” {HR. Turmudzy juz 9 hal. 56}

Dinyatakan hadits di atas dalil untuk mengharamkan bertawasul.

Sebenarnya hadits ini mengingatkan bahwa semua datangnya dari Allah Swt. Jelasnya, bila kamu meminta kepada salah satu mahluk, maka tetaplah berkeyakinan semuanya dari Allah Swt bukan larangan untuk meminta kepada selain Allah sebagaimana zhohir hadits. Sesuai dengan hadits berikut,

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ

“Ketahuilah seandainya semua umat berkumpul untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah Swt kepadamu. Apabila mereka berkumpul untuk membahayakan kamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali dengan  sesuatu yang telah Allah tentukan atasmu”. {HR. Turmudzy juz 9 hal. 56}

Bandingkan ! hadits Nabi yang berbunyi :

لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ

“Janganlah bergaul dengan kecuali orang mu’min dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertqwa” {HR. Abi Daud juz 12 hal. 458}

Apakah hadits ini sebagai larangan bagi kita untuk bergaul dengan orang kafir dan memberi makan orang yang tidak betaqwa itu haram ?. Tidak ! hadits di atas peringatan “janganlah disamakan bergaul dengan orang yang kafir dengan bergaul dengan orang yang beriman, dan lebih perhatikanlah membantu orang yang bertaqwa dari pada selainnya”. Hadits tersebut hanyalah anjuran, bukan kewajiban.

Sebenarnya banyak sekali dalil-dalil tentang diperbolehkannya tawasul bahkan menjadi suatu anjuran, tapi yang di atas kiranya menjadi cukup sebagai pemikiran tentang kekurang fahaman mereka terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits serta kefanatikan mereka terhadap pendapat diri sendiri tanpa menghargai pendapat orang lain yang lebih tinggi ilmu dan kesolehannya. Wallahu A’lam

اللهم اَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَاَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، آمـين.     والله اعلم


107 Komentar

  1. ali mengatakan:

    Alhamdulillah…

    Sebenarnya saya dulu pernah didebat oleh seorang teman yang menyatakan bahwa tawasul itu haram. Saya berusaha menjelaskan namun dia malah menyerang saya habis2an dengan ayat2 diatas yang seharusnya itu untuk orang kafir dan bukan untuk orang yang beriman. Akhirnya sayapun diam karena saya tidak punya dasar yang kuat. Dengan adanya pertanyaan ini paling tidak membantu menambah keyakinan saya bahwa tawasul itu tidak haram bahkan dianjurkan.

    Semoga saudara2 kita yang lain yang mengharamkan tawasul, diberikan hidayah oleh Allah sehingga bisa memahami makna yang sebenarnya dari tawasul… Amin…

  2. Abu-abu mengatakan:

    Salam kenal,

    Pemaparan yg bagus. Bagi saudara2 kita pembenci tawassul hendaknya menjadi bahan renungan dan sanggahlah dgn santun dan terarah jika kurang sepakat. Namun hendaknya nyatakanlah dgn tegas, tawassul kepada mereka2 (orang shaleh) yg telah wafat apakah termasuk syirik, haram atau tdk berfaedah?
    Sepanjang diskusi sy dgn para anti tawassul mereka gamang dlm menentukan hukum tawassul ini.

    Salam

  3. Abu salma mengatakan:

    Banyak perbedaan pendapat dalam masalah tawasul,mari kita sama2 belajar mendalami hadist sebagai referensi karna banyak hadist dho’if yg di jadikan rujukan dalam masalah tawasul ini,dan jangan taqlid berlebihan,karna ini masalah akidah kita harus hati2,ulama manusia biasa yg tak luput dari salah,kalu ragu tinggalkan,jangan sampai menyesal nanti,ingat ini akidah,bukan furu.Jadi hati,jngn sampai sombong dengan ilmu kita,wallohual’lam

  4. cah njeporo mengatakan:

    @abu salma: apakah tidak jelas yg d terangkan d atas, dari alqur’an dan hadist ?? serta kesalah fahaman penentang tawasul juga disebutkan??? dan hadistnya itu sohih disebutkan dlm sohoh bukhori muslim,
    imam nawawi berkata: “semua ulama’ rodhiyallahu ‘anhum sepakat, bahwasanya yang paling asoh-asohnya kitab setelah alqur’anul ‘aziz adalah shohihain (bukhorio&muslim)dan semua ulama’ menyetujuinya ” (muwazanah bainal bukhoiri muslim 1/14), terus sohih menurut kamu itu yg bagaimana ??? tolong baca lagi artikel d atas sekaligus dicermati dg baik-baik !!

    Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35).
    Ayat ini jelas menganjurkan kita untuk mengambil sebuah perantara antara kita dengan Allah, dan Rasul saw adalah sebaik baik perantara,
    dan beliau saw sendiri bersabda :
    “Barangsiapa yang mendengar adzan lalu menjawab dengan doa : “Wahai Allah Tuhan Pemilik Dakwah yang sempurna ini, dan shalat yang dijalankan ini, berilah Muhammad(saw) hak menjadi perantara dan limpahkan anugerah, dan bangkitkan untuknya Kedudukan yang terpuji sebagaimana yang telah kau janjikan padanya”. Maka halal baginya syafaatku” (Shahih Bukhari hadits no.589 dan hadits no.4442

    Hadits ini jelas bahwa Rasul saw menunjukkan bahwa beliau saw tak melarang tawassul pada beliau saw, bahkan orang yang mendoakan hak tawassul untuk beliau saw sudah dijanjikan syafaat beliau saw. Rasul sendiri tdk melarang, apakh qt akan melarang perkara yg tdk d haramkan oleh rasul ???

    Riwayat lain ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dengan syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

    Tawassul merupakan salah satu amalan yang tidak pernah diharamkan oleh Rasulullah saw, tak pula oleh ijma para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tak pula oleh para tabi’in dan bahkan oleh para ulama serta imam-imam besar Muhadditsin, bahkan Allah memerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, sahabat radhiyallahu’anhum mengamalkannya. wallahu a’lam bisshowab

  5. Kuricak mengatakan:

    WAHABIYUN dan para anti tawasul, pada kemana kok pada enggak nongol..?? apa sudah pada ikutan tawasul..??? syukurlah kalo udah pada taubat mah…

  6. ala kadarnya mengatakan:

    assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,,Subhanallah alhamdulillah nambah ilmu lg nich.syukron katsiron atas penjelasannya…apapun kata para wahabi “emang gue pikirin”🙂

  7. forsan salaf mengatakan:

    @ ala kadarnya, wa’alaikum salam Wr. Wb.
    alhamdulillah, mudah-mudahan bisa memberikan manfaat bagi kita semua, dan menambahi wawasan kita tentang akidah yang benar. amin.

  8. lelaki mengatakan:

    saya masih ragu dengan tawassul kepada orang yang telah meninggal. Kalau misalnya meminta didoakan kepada Orang yang kita anggap sholeh, saya cukup sering melakukan, kalau kepada orang yang telah meninggal, saya masih ragu. Bagaimana?

  9. abu-abu mengatakan:

    Tawassul itu sesungguhnya ditujukan kepada kemuliaan seseorang dan kedekatannya kepada Allah swt bukan ke jasad. Nabi saw dan orang2 yang shalih dengan kemuliaan dan kedudukan mereka di sisi Tuhan, merupakan penyambung dan perantara kebutuhan umatnya. Sesungguhnya Allah swt senang bila kita memuji dan mengagungkan orang-orang yang dicintai-Nya. Kalau sdh memahami hal ini, sdh tdk ada lagi dikotomi apakah orang tsb sdh meninggal atau msh hidup karena kemuliaan tdk mengenal kematian. Ia menjadi ruh yg tetap hidup di sisi Tuhannya. Hal inilah yg tidak diketahui dan tak disadari oleh mereka yang anti tawassul.

  10. Eddy mengatakan:

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Bertawassul kepada orang yang meninggal itu hakikatnya bukannya si orang yang meninggal itu yang mendoakan kita.
    Tapi kita yang kirim doa kpd beliau, sebagai wujud kita dalam menghormati jasa-jasa beliau selama hidup di dunia.

    mengenai faham dari saudara – saudara yang bermanhaj salaf dari golongan wahabi, saya itu paling senang dg mereka. kenapa begitu, karena saya itu juga senang lihat kebo di bonbin. Asalkan bukan pendapat dari golongan mereka sendiri pasti di seruduk. dicari-cari kelemahannya.

  11. kumbara mengatakan:

    wah-wah….
    coba lihat sekali lg qur’an dan hadist sebagai sanggahan bertawassul tersebut…
    kalo dalil2 itu tdk cukup apa lg yg kalian (ahli tawassul) akan berpegang padanya.

    AKAL…?
    Akal mana yg bisa menerima “kalo minta kepada Allah secara langsung aja sampai mengapa harus lewat perantara” lihat kembali hadist,

    “Ketahuilah seandainya semua umat berkumpul untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah Swt kepadamu. Apabila mereka berkumpul untuk membahayakan kamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan atasmu”. {HR. Turmudzy juz 9 hal. 56}

    kurang apa lagi…???

    “Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Apabila kamu meminta tolong maka minta tolonglah kepada Allah” {HR. Turmudzy juz 9 hal. 56}

    kurang jelas bagai mana lagi..?

    apakah ketika berdoa di kuburan para wali do’a akan mustajabah? apakh dengan menyebut nama2 mereka (org2 yg telah meninggal) sebagai perantara do’a akan mustajabah?

    cukuplah minta kepada Allah karena hanya Allah saja yg dapat mengabulkan doa.

    Qur’an:
    “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya “.Az Zumar : 3

    maka ketika ada orang di zaman sekarang melakukan ritual2 (yang tidak disyariatkan) dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah maka sesungguhnya sama lah dia seperti orang2 musrikin 14 abad yang lalu.

    kalau anda mau percaya bahwa hadist2 yg digunakan sebagai pembelaan mereka (ahli tawassul) adalah hadist2 palsu, klik link berikut:
    http://muslim.or.id/aqidah/hadits-atsar-dan-kisah-dhaif-dan-palsu-seputar-tawassul-1-hadits-hadits-lemah-dan-palsu.html

  12. miko mengatakan:

    @ mas kumbara, yang jadi rujukan dhoif atau shohih itu stempelnya albani ya? coba albani ditanya berapa hadist yang dia hapal? bagaimana tukang jam dipercaya sebagai pentashih hadist,kalo taklid dengan albani jangan buta-butalah.

  13. kumbara mengatakan:

    ok sebagian seperti yg anda sebut ada “stempelnya albani”, tp lihat dan bacalah lg, albani sebagian juga hanya menyampaikan/meneruskan pendapat para ulama besar lain semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qoyyim dan lain-lain.

    adapun seputar tawassul ini telah diulas “Jilid 1-6” yang dipublikasikan lewat website muslim.or.id, mudah2an belum nambah.

    pemikiran gampangnya begini… kita semua sepakat bahwa pemahaman yang benar adalah pemahaman sesuai quran dan sunnah (tentunya hadis shahih) yang di anut oleh para salafus soleh. karena merekalah umat terbaik yang Allah sendiri telah katakan dalam alquran dan juga Rosulullah dlam hadisnya. oleh karena itu ketika ada perbedaan/kontradiksi antara quran dengan hadis dengan hadis shahih lainnya tentu pada akhirnya harus digugurkan hadis yang bertentangan dngan quran dan hadis shahih yang lain tersebut.

    siapa albani?? siapa pun orangnya ketika apa yang dikatakan benar patutlah untuk diikuti apalagi dalam perkara agama. karena kita tidak mengikut orang tetapi perkataanya.

    Oleh sebab itulah Imam Syafii berpesan bahwa “hadis yang shohih adalah mazhab ku”. Begitu juga adanya pengertian dari pernyataan semua ulama bahwa jika ada pendapat mereka yang bertentangan dengan hadis, maka mereka berpesan agar ditinggalkan pendapat mereka. Dan Imam Malik menyatakan “Siapa saja bisa diterima dan di tolak pendapatnya kecuali si empunya kubur ini (yakni Rosulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam).”

  14. cah njeporo mengatakan:

    @kumbara: besok nte d akhirat meminta pertolongan(tawasul)kepada para nabi apa ga’??? atau nte akan mengandalakan amal kamu sndiri dan berani meminta kpd Allah langsung disa’at kejadian yang menakutkan dihari qiyammat kelak?? kok menganggap tawasul ini musryik…
    didalam sbuah hadist sohih yg mutawatir, tentang hadist syafa’at diterangkan:

    “Sesungguhnya kelak dihari qiyamat matahari didekatkan dengan kepala, sehingga keringat mereka mencapai separu telinga, pada saat-saat dahsyat itulah manusia berbondong bondong meminta pertolongan dengan adam kemudian musa, kmdian nabi Muhammad saw, maka beliau memberi syafa’at kpd mereka agar diputusi dengan segera, kemudian beliau berjalan hingga memegang pegangan pintu, maka dihari itulah Allah memberikan kedudukan yg terpuji kpd beliau saw, sehingga beliau dipuji oleh seluruh makhluq” (HR. bukhori muslim 194) aukama qol

    *Hadist ini jelas sekali bahwa orang-orang bertawasul dg Rasulullah disa’at kesusahan dan menakutkan, seandainya tawasul itu kufur maka tidak mungkin Rasulullah memberikan syafa’at untuk mereka, dan sudah diketahui bahwa syafa’at dihari qiyamat tidak di dapatkan oleh orang-orang kafir, dan seandainya didalam tawasul ada unsur kesyirikan maka tentu Rasulullah menjelaskan kpd para sahabat ketika hadist tsb beliau sampaikan kpd mreka. Jika memang tdk ada unsur kesyirikan maka hukumnya tawasul tsb dianjurkan didunia dan akhirat. (mausu’ah yusufiyah 99)

    coba sebutkan dalil shorih yang mengharamkan tawasul!!! jangan mensyrikan atau mengharamkan sesuatu yg tdk d haramkan oleh Allah dan rasulnya!!!

  15. abu-abu mengatakan:

    @kumbara

    Agar otak anda terbuka, begini saja. Apakah selama hidup anda, anda tdk pernah berharap, memohon & meminta kepada sesama manusia? Kepada orang tua, misalnya, kepada teman, kepada dokter atau kepada guru anda? Terus apakah meminta kepada mrk lantas menjadi syirik?

  16. kumbara mengatakan:

    @cah njeporo & abu-abu

    “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan (itu).” (Yunus: 18)

    “Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafaat pun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa.” (al-An’am: 51)

    “Bahkan mereka mengambil sesembahan selain Allah sebagai pemberi syafa’at. Katakanlah: “Apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?” Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (az-Zumar: 43-44)

    “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari padaNya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (as-Sajdah: 4)

    “…Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya…” (al-Baqarah: 255)

    “Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (an-Najm: 26)

    Jelaslah bahwa syafaat itu hanya milik Allah semata. Tidak ada yang berhak memberikan syafaat kecuali dengan seizin-Nya dan tidak akan mendapatkan syafaat kecuali orang yang diridlai-Nya. Untuk itu, bagi seorang yang cerdas dia hanya akan meminta syafaat kepada pemiliknya yakni kepada Allah Subhanahu wata ‘ala saja. Pinta lah syafaat kepada Allah syafaat nabi-Nya, syafaat malaikat-Nya. kemudian ketahuilah Malaikat atau Nabi Muhammad Shallallahu‘alaihi wa sallam pun harus mendapatkan izin dari pemilik syafaat itu sendiri untuk bisa memberikan syafaat kepada ummatnya.

    Adapun meminta kepada selain Allah untuk mendapatkan pembelaan di hari kiamat, maka ini adalah inti dari kesyirikan yang terjadi pada zaman jahiliyah yaitu zaman kebodohan.

    @abu-abu meminta kepada yang orang hidup tidaklah tercela dalam agama kita Islam seperti meminta didoakan, meminta pertolongan dll. tetapi ketika kita minta sesuatu (menjadikan sesuatu sebgai perantara dalam meminta kepada Allah) kepada seorang yg telah mati atau pun benda mati ini lah inti kesyirikan itu.

    Silahkan anda fikirkan.

  17. cah njeporo mengatakan:

    @kumbara: “Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Apabila kamu meminta tolong maka minta tolonglah kepada Allah” {HR. Turmudzy juz 9 hal. 56}.

    Yang di maksud dalam hadist ini bukan berarti dilarang mminta pertolongan(tawasul) dengan selain Allah, tpi yg d larang yaitu jika dia meminta pertolongan kepada makhluq dan menyakini yang memberi manfa’at dan madhorot adalah makhluq tsb, maka ini yang tdk d perbolehkan dan tdk d benarkan oleh syari’at dan org ini jauh dari rahmatnya Allah..
    Tapi kalau hanya sekedar meminta tolong kpd makhluq/wali dan masih tetap berkeyakinan, mempercayai bahwa yg bisa memberi manfa’at dan madhorot datangnya dari Allah, maka ini d perbolehkan, karena Allah menjalakan pertolongan hambanya kadang itu lewat perantara maupun tidak lewat perantara.(jawahirul lu’luiyyah 184). sblm berkomentar buka tafsir hadisnya, spy g tmbah klihatan bdohnya.
    sedangkan kita bertawasul tetap menyakini yg mndtangkan manfa’at adlh Allah. apa spt ini musryik???

    Tawasul itu untuk mempercepat pertolongan dari Allah, eh malah d syirikkan.
    gambaranya begini: tarolah ana mahu cari dana ke bpk pemerintah untk bangun madrsah misalx, tapi ana kan g bgitu mngenal sm pemerintahnya. Mungkin kalau ana langsung minta bantuan k bpk pmrintah mungkin perminta’an ana tidak d gubris bahkan bisa-bisa d usir.
    Caranya gmn spy dpt dana tsb??? Maka ana minta bantuan k bpk kepala desa, dari kepala desa k kecamatan, trus k kabupaten dan akhirnya sampai k tangan pemerintah, baru dana akan dikucurkan dari bpk pmrntah.

    Begitu juga kita bertawasul kpd wali yg sdh jelas-jelas dekat dg Allah, mka pertolongan langsung d turunkan oleh Allah. Karena yg mnta adalah kekasihnya.

  18. abu-abu mengatakan:

    @Kumbara

    meminta kepada yang orang hidup tidaklah tercela dalam agama kita Islam seperti meminta didoakan, meminta pertolongan dll. tetapi ketika kita minta sesuatu (menjadikan sesuatu sebgai perantara dalam meminta kepada Allah) kepada seorang yg telah mati atau pun benda mati ini lah inti kesyirikan itu

    Jadi maksud anda meminta kepada yg masih hidup karena mrk mampu mengabulkannya maka bukan dikatakan syirik, sementara kepada mrk yg telah wafat karena tdk mampu mengabulkan maka itu menjadi syirik. Begitukah?

    Salam

  19. kumbara mengatakan:

    @cah njeporo
    Astaghfirullah… pemahaman anda sungguh sangat parah, Allah Azza wa Jalla anda sama kan dengan mahkluk. Insyaflah…. tinggalkan ustadz2 anda yang mengajarkan analogi seperti itu. berhati-hatilah terhadap bacaan dari kitab2 anda.

    sesungguhnya ancaman Allah Jalla wa A’la cuma 1 buat orang2 yang menyekutukannya dengan sesuatu yakni kekal didalam neraka. berhati-hatilah dan perbanyak do’a agar diselamatkan dalam beragama.

    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, siapa yang berbahagia karena mendapat syafa’atmu di hari kiamat nanti?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Abu Hurairah, aku merasa tidak ada yang bertanya kepadaku tentang hal ini selain engkau. Yang aku lihat, ini karena semangatmu mempelajari hadits. Yang berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya.” (HR. Bukhari no. 99)

    Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan mengenai hadits ini, “Inilah sebab utama (paling besar) yang membuat seseorang bisa mendapatkan syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dengan memurnikan tauhid. Hal ini berkebalikan dengan kelakukan orang-orang musyrik yang meyakini bahwa syafa’at itu diperoleh dengan menjadikan para wali dan para hamba selain Allah sebagai syafi’ (pemberi syafa’at).
    Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membalikkan sangkaan mereka (orang-orang musyrik) yang dusta. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa sebab memperoleh syafa’at adalah dengan memurnikan tauhid. Dengan melakukan hal ini, barulah Allah mengizinkan pemberi syafa’at (syafi’) untuk memberikan syafa’at. Sungguh ini adalah kebodohan orang-orang musyrik. Mereka berkeyakinan bahwa siapa yang menjadikan para wali sebagai pemberi syafa’at, maka para wali tersebut akan memberi manfaat (dengan menolong mereka) di sisi Allah. Sebagaimana mereka menyangka bahwa para raja bisa menolong mereka karena adanya rekomendasi dari pembantu mereka. Padahal tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali melalui izin Allah. Tidak ada izin dari-Nya selain pada orang yang Dia ridhoi perkataan dan amalnya.” (Madarijus Salikin, 1/341, Maktabah Syamilah).

    Imam Nawawi Rohimahullah berkata: “Kesyirikan bani Adam sering kali bersumber dari dua hal pokok. yang pertama adalah mengagungkan kubur orang saleh dan membuat patung atau gambar mereka dengan tujuan mencari berkah….(Majmu’ al-Fatawa, 17/460)

    apalagi yang dapat sy bagikan buat anda, sungguh ayat2 quran dan hadis beserta pemahaman dari ulama terpercaya telah disampaikan. mudah2an Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kita pemahaman ilmu agama sehingga kita dapat beramal sesuai tuntunan quran dan sunnah.

  20. rio mengatakan:

    lho brarti minta doa ke orang tua, minta didoakan kalo ada rekan ke mekah, minta tolong ama orang lain itu juga haram ya…jadi lebih baik kalian tak usah berperang mana yang haram dan halal terkait dengan tawasul, karena bila kalian berdebat dengan emosi sebenarnya setan itu menari2 diatas dan didepan mata hati kalian. Ya sudahlah yang mau tawasul silahkan, yang mengharamkan tawasul ya silahkan. Hanya Allah SWT yang menilai, kalian itu semua hanya manusia, silahkan dalil yang sama2 kuat kalian perdebatkan. Tapi apakah adanya hadits dan dalil itu hanya digunakan untuk menyerang yang lain? lantas apakah dengan membawa benih kebencian itulah kalian merasa benar? janganlah menjudge ini itu, karena selama kalian masih belum Lillahita’alaa dalam beribadah. Pahamilah isinya…jangan ribut masalah kulitnya.wassalaam

  21. abdullah 73 mengatakan:

    (bukan bermaksud menggurui) dan maaf kalau terlalu panjang.
    for Rio :
    Kan Kumbara kayaknya sudah menjelaskan bahwa meminta doa yang tidak diperbolehkan kepada yang sudah mati sedangkan yang meminta doa kepada yang masih hidup itu diperbolehkan.

    For cah njeporo :
    Kalau meyakini bahwa tawasul kepada yang sudah mati diperbolehkan kenapa tanggung-tanggung tidak bertawasul kepada Rosulullah SAW, mungkin nanti sampeyan beranalogi Rosul SAW kan tidak kenal saya

    FOR OTHERS my brothers in Islam
    MARI KITA DIRENUNGKAN :
    1. Umar RA ketika terjadi kelaparan meminta tawasul dg doa Abbas bin Abdul Mutholib setelah wafatnya Rosulullah InsyaAllah terdapat dl hadist SHOHIH bukhori bab Istisqo (bukan dg bertawasul kepada Rosulullah SAW) padahal jelas2 kita yakini bersama bahwa Rosulullah jauh lebih mulia dari Abbas RA
    –> kalau bertawasul kpd yang mati dibolehkan maka Umar RA dl keadaan genting tsb (bukan meminta jodoh, kekayaan, dll)–> MESTINYA Umar RA akan bertawasul dg kemuliaan dan keagungan Rosul SAW
    2. Coba dicermati sekali lagi riwayat dari imam Bukhori tentang tafsir Ibn Abbas mengenai asal muasal KESYIRIKAN pada kaum Nuh AS,
    (bukankah berawal dari pengagungan / ghuluw kepada orang sholeh ??)
    3. Terjadi PERTENTANGAN antara orang-orang yang MENGHARAMKAN bertawasul (kpd orang yang mati) dg orang yang MEMBOLEHKAN.
    Keduanya membawakan dalil dari masing-masing pihak yang shohih menurut keduanya.
    Mari kita cermati (ini yang saya ambil semoga kita senantiasa diberi hidayah Allah untuk mengikuti kebenaran) :
    Kalau saya (yang masih awam) saya mengikuti ulama yang MENGHARAMKAN dikarenakan :
    1. Dalil yang mereka bawa shahih dari Qur’an dan sunnah (Walaupun Ulama yang membolehkan juga membawakan dalil yang shohih juga menurut mereka)
    2. Para Ulama yang mengharamkan (pihak ke 1) mejelaskan bahwa bertawasul kepada yang sudah meninggal bisa berakibat LEBIH JAUH yaitu MENUJU ke kesyirikan bahkan bisa menuju ke SYIRIK AKBAR (padahal kita tahu bersama bahwa syirik akbar bisa mengakibatkan kita KEKAL di neraka wal iyyadzu billah)
    3. Sedangkan ulama yang membolehkan (pihak ke 2) menjelaskan bahwa kita “DIPERBOLEHKAN” untuk berdoa dengan bertawasul kepada orang yang sudah meninggal dg harapan bisa dipercepat proses dikabulkannya doa.

    Dari noint no 2 & 3 bisa saya ambil pelajaran :
    – Kalau kebenaran di pihak yang MENGHARAMKAN maka akan sangat beruntung orang yang mengikutinya karena MANFAATnya sangat besar yaitu terhindar dari KEKEKALAN di neraka sedangkan MUDLOROTnya paling-paling hanya tertunda doa kita di dunia jika kebenaran pada pihak ke 2 (di lain pihat ALLAH telah berjanji bahwa dia akan mengabulkan doa hambanya yang meminta kepadanya , dan janji ALLAH pasti BENAR)
    – jika kebenaran di pihak yang MEMBOLEHKAN maka orang yang akan mengikutinya akan mendapat MANFAAT yaitu dipercepatnya doa (dari pengamatan dilapangan yang diminta orang-orang yang berziarah ke kubur para wali adalah meminta JODOH , RIZKI, ANAK dan hal duniawi lainnya) dan MUDLOROTNYA kita akan kekal di NERAKA jika ternyata kebenaran pada pihak ke 1.

    Silahkan bapak-bapak & ibu ibu sekalian analisa karena RESIKONYA sangat berat sehingga kita harus pandai-pandai MEMILIH dan MEMILAH,

    Semoga ini sebagai sumbangsih saya kepada semua rekan-rekan dan saudara saya sesama muslim dan sebagai sarana saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

  22. cah njeporo mengatakan:

    @abdullah 73: Kan Kumbara kayaknya sudah menjelaskan bahwa meminta doa yang tidak diperbolehkan kepada yang sudah mati sedangkan yang meminta doa kepada yang masih hidup itu diperbolehkan.

    Jwb: Orang shalih meski sudah meninggal pada hakikatnya mereka tidak meninggal, sebagaimana :
    Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup , tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. 2:154

    Perlu diketahui tawasul hanya sekedar MENJADIKAN perantara sebagaimana perintah Allah dlm alqur’an, bukan meminta manfa’at dari orang sholeh yg meninggal trsbt. Kalau kita meminta kepada mereka dan berkeyakinan yang bisa memeberikan manfa’at & madhorot adalah mereka ini jelas HARAM karena menyekutukan Allah dalam segi sama2 bisa memberi manfaat dan madhorot. Bedakan antara menjadikan wasilah dan meminta kpd mereka!!!!

    Sebagai contoh dari bertawassul, seorang pengemis datang pada seorang saudagar kaya dan dermawan, kebetulan almarhumah istri saudagar itu adalah tetangganya, lalu saat ia mengemis pada saudagar itu ia berkata “Berilah hajat saya tuan …saya adalah tetangga dekat amarhumah istri tuan…” maka tentunya si saudagar akan memberi lebih pada si pengemis karena ia tetangga mendiang istrinya, Nah… bukankah hal ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati? Bagaimana dengan pandangan yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat?, Jelas-jelas saudagar itu akan sangat menghormati atau mengabulkan hajat si pengemis, atau memberinya uang lebih, karena ia menyebut nama orang yang ia cintai walau sudah wafat.

    Walaupun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahman Arrahiim, yang maha pemurah dan maha penyantun?, istri saudagar yang telah wafat itu tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang urusan hajat sipengemis pada si saudagar, NAMUN TENTUNYA SI PENGEMIS MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT

    For cah njeporo :
    Kalau meyakini bahwa tawasul kepada yang sudah mati diperbolehkan kenapa tanggung-tanggung tidak bertawasul kepada Rosulullah SAW, mungkin nanti sampeyan beranalogi Rosul SAW kan tidak kenal saya

    Jwb: hehehe……jangan ditanya lagi kalau kita bertawasul kepada nabi Muhammad saw, itu sudah pasti y akhi,…nabi sendiri aja ngajarkan. Dalam hadist diterangkan, nabi mengajarkan kepada seseorang untuk berkata:
    اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد صلى الله عليه وآله وسلم نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربك فيجلي حاجتي ليقضيها فشفعه في)
    (أخرجه الترمذي وصححه في كتاب الدعوات 3578)
    ya, Allah aku meminta dan mengahadap kepadamu dengan perantara nabimu Muhammad saw, nabi yg penuh rahmat. wahai nabi muhammad sesungguhnya aku bertawasul kepadamu untuk menghadap tuhanmu, maka mengemukakan hajatku supaya memenuhi hajtaku, maka berilah syafa’at/pertolongan kepadaku.

    Assyaikh muhammad bin Abdul wahab dan assyaikh imam ibnu taymiyah yang menjadi panutan orang wahaby aja memperbolehkan
    سئل رضي الله عنه : هل يجوز التوسل بالنبي صلى الله عليه وآله وسلم أم لا ؟ فأجاب :
    (الحمد لله التوسل بالإيمان به ومحبته وطاعته والصلاة والسلام عليه وبدعائه وشفاعته ونحو ذلك مما هو من أفعاله وأفعال العباد المأمور بها في حقه مشروع باتفاق المسلمين)
    (فتاوى الكبري 1/140)
    beliau ditanya tentang tawasul dengan nabi saw: intinya beliau mnjawab “itu dianjurkan dengan kesepakatan para muslimin”

    وسئل الشيخ محمد بن عبدالوهاب عن قولهم في الاستسقاء لا بأس بالتوسل بالصالحين فأجاب بكلام كثير منه:
    (… ولكن يقول في دعائه : أسألك بنبيك أو بالمرسلين أو بعبادك الصالحين أو يقصد قبرا معروفا أو غيره يدعو عنده)
    (فتاوي الشيخ محمد بن عبد الوهاب 68)

    dan syaikh muhammad bin abdul wahab juga ditanya tentang tawasul dengan orang2 sholeh: maka beliau menjawab “tidak apa-apa tawasul dengan orang2 sholeh” bahklan beliau mnjawab dg jawaban panjang lebar dan berdo’a “ya Allah aku meminta kepadamu deng sebab nabimu, rasul atau hambamu yg sholeh atau mengharap quburan yg ma’ruf berdo’a d samping qubur tsb.

    INI BUKTI BAHWA TAWASUL ITU DIPERBOLEHKAN.

    mungkin nanti sampeyan beranalogi Rosul SAW kan tidak kenal saya
    jwb: mungkin juga sehingga nabi prnah bersabda “sungguh celaka bagi orang yang tidak bisa melihatku besok dihari qiyamat”

  23. cah njeporo mengatakan:

    @abdullah 73: Kan Kumbara kayaknya sudah menjelaskan bahwa meminta doa yang tidak diperbolehkan kepada yang sudah mati sedangkan yang meminta doa kepada yang masih hidup itu diperbolehkan.

    Jwb: Orang shalih meski sudah meninggal pada hakikatnya mereka tidak meninggal, sebagaimana :
    Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup , tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. 2:154

    Perlu diketahui tawasul hanya sekedar MENJADIKAN perantara sebagaimana perintah Allah dlm alqur’an, bukan meminta manfa’at dari orang sholeh yg meninggal trsbt. Kalau kita meminta kepada mereka dan berkeyakinan yang bisa memeberikan manfa’at & madhorot adalah mereka ini jelas HARAM karena menyekutukan Allah dalam segi sama2 bisa memberi manfaat dan madhorot. Bedakan antara menjadikan wasilah dan meminta kpd mereka!!!!

    Sebagai contoh dari bertawassul, seorang pengemis datang pada seorang saudagar kaya dan dermawan, kebetulan almarhumah istri saudagar itu adalah tetangganya, lalu saat ia mengemis pada saudagar itu ia berkata “Berilah hajat saya tuan …saya adalah tetangga dekat amarhumah istri tuan…” maka tentunya si saudagar akan memberi lebih pada si pengemis karena ia tetangga mendiang istrinya, Nah… bukankah hal ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati? Bagaimana dengan pandangan yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat?, Jelas-jelas saudagar itu akan sangat menghormati atau mengabulkan hajat si pengemis, atau memberinya uang lebih, karena ia menyebut nama orang yang ia cintai walau sudah wafat.

    Walaupun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahman Arrahiim, yang maha pemurah dan maha penyantun?, istri saudagar yang telah wafat itu tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang urusan hajat sipengemis pada si saudagar, NAMUN TENTUNYA SI PENGEMIS MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT

    For cah njeporo :
    Kalau meyakini bahwa tawasul kepada yang sudah mati diperbolehkan kenapa tanggung-tanggung tidak bertawasul kepada Rosulullah SAW, mungkin nanti sampeyan beranalogi Rosul SAW kan tidak kenal saya

    Jwb: hehehe……jangan ditanya lagi kalau kita bertawasul kepada nabi Muhammad saw, itu sudah pasti y akhi,…nabi sendiri aja ngajarkan. Dalam hadist diterangkan, nabi mengajarkan kepada seseorang untuk berkata:
    اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد صلى الله عليه وآله وسلم نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربك فيجلي حاجتي ليقضيها فشفعه في)
    (أخرجه الترمذي وصححه في كتاب الدعوات 3578)
    ya, Allah aku meminta dan mengahadap kepadamu dengan perantara nabimu Muhammad saw, nabi yg penuh rahmat. wahai nabi muhammad sesungguhnya aku bertawasul kepadamu untuk menghadap tuhanmu, maka mengemukakan hajatku supaya memenuhi hajtaku, maka berilah syafa’at/pertolongan kepadaku.

    Assyaikh muhammad bin Abdul wahab dan assyaikh imam ibnu taymiyah yang menjadi panutan orang wahaby aja memperbolehkan
    سئل رضي الله عنه : هل يجوز التوسل بالنبي صلى الله عليه وآله وسلم أم لا ؟ فأجاب :
    (الحمد لله التوسل بالإيمان به ومحبته وطاعته والصلاة والسلام عليه وبدعائه وشفاعته ونحو ذلك مما هو من أفعاله وأفعال العباد المأمور بها في حقه مشروع باتفاق المسلمين)
    (فتاوى الكبري 1/140)
    beliau ditanya tentang tawasul dengan nabi saw: intinya beliau mnjawab “itu dianjurkan dengan kesepakatan para muslimin”

    وسئل الشيخ محمد بن عبدالوهاب عن قولهم في الاستسقاء لا بأس بالتوسل بالصالحين فأجاب بكلام كثير منه:
    (… ولكن يقول في دعائه : أسألك بنبيك أو بالمرسلين أو بعبادك الصالحين أو يقصد قبرا معروفا أو غيره يدعو عنده)
    (فتاوي الشيخ محمد بن عبد الوهاب 68)

    dan syaikh muhammad bin abdul wahab juga ditanya tentang tawasul dengan orang2 sholeh: maka beliau menjawab “tidak apa-apa tawasul dengan orang2 sholeh” bahklan beliau mnjawab dg jawaban panjang lebar dan berdo’a “ya Allah aku meminta kepadamu deng sebab nabimu, rasul atau hambamu yg sholeh atau mengharap quburan yg ma’ruf berdo’a d samping qubur tsb.

    INI BUKTI BAHWA TAWASUL ITU DIPERBOLEHKAN.

  24. abdullah73 mengatakan:

    To : Jah Njeporo

    Terima kasih commentnya.
    Kan sudah saya jelaskan dimana terjadi pertentangan antara yang MEMBOLEHKAN dan mengharamkan.
    Terima kasih telah menunjukkan dalil-dalil tentang DIBOLEHKANNYA bertawasul dengan kemuliaan orang yang sudah meninggal.

    Sampai saat ini saya masih berkeyakinan untuk mengikuti ulama yang mengharamkan (jikalau memang ini sebuah kebenaran semoga Allah menampakkannya sebagai kebenaran walaupun manusia berkumpul untuk mengingkarinya).
    Hal ini saya dasari juga dengan apa yang sudah saya tulis sebelumnya :
    1. Saya mengikuti istimbath Umar rodliyallahu anhu dan para shahabatnya waktu yang tertera di dalam shohih Bukhori dimana beliau RA TIDAK bertawasul dengan kemuliaan Rosulullah SAW setelah wafatnya pada saat yang genting tetapi bertawasul dengan pamannya Abbas RA untuk didoakan kepada Allah oleh Abbas RA.
    Bahkan hampir semua sahabat hadir pada saat itu, KALAULAH dengan kemuliaan Nabi diperbolehkan bahkan dianjurkan kita sangat yakini bersama Umar dan para shahabat yang lain rodliyallahu anhum MESTI AKAN bertawasul dengan kemuliaan Nabi SAW dimana KITA YAKINI BERSAMA kemuliaan nabi SAW JAUUUUUH LEBIH BESAR dari kemuliaan Abbas RA.

    2. Mengikuti pemahaman Khulafaur Rosyidin khususnya dan Shahabat pada umumnya diperintahkan Allah dan Rosulnya, jadi saya MENGIKUTI PEMAHAMAN MEREKA rodliyallahu anhum ajmain.
    Apalagi kita kenal bersama bahwa Umar terkenal dg Alfarouq.

    3. Syetan (yang terkutuk) sangat ingin sekali menjerumuskan umat manusia ke dalam KESYIRIKAN, sehingga mereka BEKERJA SANGAT KERAS untuk menjadikan manusia temannya yang abadi di neraka.
    –> Bukankah awal mula kaum MUSYRIK pada jaman Nuh adalah murid-murid dari orang Sholeh pada zaman itu ???, Dg kerja keras AKHIRNYA syetan berhasil MENJERUMUSKAN manusia kedalam kemusyrikan setelah beberapa generasi.

    Ini yang sangat ditakutkan terjadi pada kaum Muslim sekarang.
    Kalau kita membaca kitab-kitab ulama , maka kita dapati penyelewengan sebagian Muslim yang berdo’a : Ya syaikh fulan
    bantulah aku , ya syaikh fulan sembuhkanlah aku, dll (bukankah ini kesyirikan yang nyata).

    Sebagai bahan tambahan :
    saya sedikit cerita pengalaman ketika bareng istri saya berziarah ke makam sunan Kudus di Menara.
    Sungguh saya PRIHATIN melihat kontradiksi yang ada (yang kami pribadi) khawatir sebagian kaum muslimin akan terjatuh kepada kesyirikan.
    Kami melihat hal yang kontradiktif :
    – Di komplek makam tersebut orang-orang SANGAT TAWADLU ,
    merendahkan suara dan mereka berwudlu sebelum masuk ke makam
    Sementara di Komplek Masjid Sunan Kudus yang berbatasan
    langsung dengan komplek makam suasananya “kacau” , anak-anak
    pada berlari-larian, sebagian orang dewasa pada tidur-tiduran

    – Mereka sangat khusyu sekali berdo’a di makam sementara tidak ada yang berdo’a di masjid (bukankah ini hal yang sangat ironis)

    Saya teringat waktu mengaji riwayat tentang “PEMOTONGAN” situs bersejarah oleh Umar RA yaitu pohon yang digunakan untuk baiat Ridwan oleh Rosul dan para shahabatnya .
    Dimana beliau MEMOTONG pohon tersebut dalam rangka untuk TINDAK PENCEGAHAN kepada benih-benih kesyirikan setelah beliau melihat beberapa orang sholat dan berdo’a di sana.
    Oh andaikan Umar sang AlFarouq RA hidup pada zaman ini di tengah – tengah kita.

    Sekali lagi pemahaman saya ini bukan merendahkan kedudukan dan kemuliaan Rosulullah SAW dan para shalafus sholeh TETAPI hanya berusaha untuk mengikhlaskan TAUHID kepada ALLAH dimana Rosulullah diutus dan juga mengikuti pemahaman para shohabat yang TERBIMBING.

    Kebenaran dari Allah kesalahan dari diri saya yang dloif ini.

    Wassalam.

  25. elfasi mengatakan:

    @ abdullah 73, wah rupanya pemahaman anda sungguh payah……
    Sekarang dalil yang sering anda bawa dalam mengharamkan tawassul kan hadits :” Jika kalian meminta, maka memintalah kepada Allah…”.
    Jika kalian konsisten dengan pemahaman anda yang hanya mengambil dhohirnya saja, harusnya anda juga mengharamkan meminta doa kepada orang walaupun masih hidup, tp harus meminta langsung kepada Allah SWT.
    Anda katakan :” Kalau meyakini bahwa tawasul kepada yang sudah mati diperbolehkan kenapa tanggung-tanggung tidak bertawasul kepada Rosulullah SAW, mungkin nanti sampeyan beranalogi Rosul SAW kan tidak kenal saya”.
    == mas, apakah dalam bertawasul harus dengan Nabi dan bukan orang yang paling afdhol..???? bukankah sudah ditampilkan dalam artikel bahwa Rasulullah sendiri dengan kedudukan beliau sebagai pemimpin para Nabi namun beliau tetap bertawasul dengan para Nabi sebelumnya yang kedudukannya dibawah beliau….????
    Klo hadits syd Umar, rupanya anda kurang mengetahui hadits tersebut…ni ana tampilkan haditsnya :
    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ
    Dari Anas bin Malik bahwasanya syd Umar bin Khattab ra ketika terjadi kemarau meminta hujan dengan perantara syd Abbas bin Abdul Muthallib seraya berdoa :” ya Allah sesungguhnya kita (dahulu)bertawassul dengan Nabi Muhammad maka Engkau menurunkan hujan, (sekarang) kami bertawassul dengan paman Nabi kita syd Abbas bin Abdil Muthallib, maka turunkan kepada kami hujan. Lalu Anas berkata :” maka turunlah hujan”. (H.R. Bukhari).
    Saya ingin memaparkan beberapa hal yang menunjukkan ketidak pahaman anda pada Hadits di atas sebagai berikut :
    1. Hadits di atas bukan menerangkan tentang terjadinya kelaparan manusia, namun terjadinya kemarau panjang.
    2. Hadits di atas tidak menjelaskan sama sekali tentang keharaman bertawassul dengan orang yang sudah mati.
    Jika anda tanyakan “ kalau syd Umar tau bahwa bertawassul dengan orang yang sudah mati diperbolehkan, maka pastilah beliau bertawassul dengan Rasulullah bukan dengan syd Abbas “..maka saya jawab, ini sungguh analisa yang tidak berdasar sama sekali, dikarenakan ketika anggapan anda tawassul harus dengan orang yang lebih utama dan masih hidup, maka harusnya syd Umar bertawassul dengan syd Ali atau bahkan dengan diri beliau sendiri yang lebih afdhol daripada syd Abbas, bukan bertawassul dengan syd Abbas.
    3. Pada artikel telah ditampilkan juga dalil bagaimana Nabi bertawassul dengan para Nabi sebelumnya, padahal mereka sudah mati.
    Oleh karena itu, jika anda menganggap tawassul haram, maka tunjukkan dalil yang menerangkan secara jelas tentang keharaman bertawassul, dan jangan hanya sekedar analisa anda sendiri yang justru jauh dai maksud dalil…….!!!!!

  26. muhibbin mengatakan:

    @ Abdullah 73 n akhina elfasi, ikutan nimbrung nih….
    Jika memang tawasul tuh haram, apalagi orang2 wahhabi yang suka menvonis menyatakan syirik tawassul khususnya dengan benda mati, maka bagaimana ya dengan yang dilakukan oleh Nabi Yusuf ketika bertemu dengan saudara2nya dan mendengar bahwa ayahnya yaitu Nabi Ya’kub mengalami kesedihan mendalam hingga buta….Nabi Yusuf bukan mendoakannya tapi malah memberikan gamis warisan Nabi Ibrohim agar diusapkan kpd Nabi Ya’kub hingga penglihatannya pulih kembali…sebagaimana ayat berikut :
    اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ (93)
    Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku.” (Q.S. Yusuf : 93).
    Jika memang bertawassul dengan benda mati itu satu kesyirikan, apakah akan dilakukan oleh seorang Nabi…???? apakah mungkin Nabi mengajarkan kesyirikan kepada umatnya..???
    @ all pengunjung, coba anda lihat bagaimana orang wahhabi yang dengan mudahnya menvonis syirik dan kafir bahkan kepada orang yang masih mengakui bahwa segalanya adalah dari Allah semata…???
    Coba anda bandingkan juga, manakah yang benar ? apakah meluruskan orang yang berziaroh kubur agar dalam memohon bukan kepada kubur tapi tetap kepada Allah dengan cara bertawassul kepada orang sholeh yang diziarahi ataukah hanya menvonis orang ziaroh kubur dengan bertawassul kafir dan masuk neraka selamanya padahal masih meyakini bahwa segalanya adalah dari Allah semata…????? apalagi vonisnya hanya dengan analisa atau pikiran mereka saja tanpa dalil yang jelas sebagaimana yang telah dijelaskan oleh akhina elfasi di atas…
    Salam ukhuwwah..

  27. cah njeporo mengatakan:

    @abdullah 73:

    Kan sudah saya jelaskan dimana terjadi pertentangan antara yang MEMBOLEHKAN dan mengharamkan.
    Terima kasih telah menunjukkan dalil-dalil tentang DIBOLEHKANNYA bertawasul dengan kemuliaan orang yang sudah meninggal.

    Kami tidak pernah memperdebatkan kpd orng yg mengharamkan atau memperbolehkan,..siapa yg mengambil pendapat yg mengharamkan ya silahkan aja, siapa yg mengambil pndpat yg memeperbolehkan ya boleh-boleh juga.,, yang kita tidak bisa terima, amalan tawasul dikatakan SYIRIK, KUFUR dan dilontarkan kpd org yg menjalankan tawasul,, sedangkan kita dituntut untuk membentengi masyarakat dengan pemahaman-pemahaman yang benar….supaya tidak tertipu dengan faham-faham yang melenceng dari Aqidah ahlus-sunnah wajama’ah. apa ada nash yg jelas tentang tawasul itu syirik/kufur???
    kami sangat berterimakasih kpd forsansalaf yg mahu meluangkan waktunya untuk memberikan pencerahan kpd masyarakat. Selamat berjuang terus forsan salaf.

    Saya mengikuti istimbath Umar rodliyallahu anhu dan para shahabatnya waktu yang tertera di dalam shohih Bukhori dimana beliau RA TIDAK bertawasul dengan kemuliaan Rosulullah SAW setelah wafatnya pada saat yang genting tetapi bertawasul dengan pamannya Abbas RA untuk didoakan kepada Allah oleh Abbas RA.

    Jwb: tawasulnya syidina umar dengan sayidina abbas bukan berarti tidak diperbolehkan tawasul dengan selain orang yg hidup, hanya saja sayidina umar tawasul dengan sayidina abbas untuk menjelaskan kepada manusia bahwa tawasul dengan selain nabi itu diperbolehkan dan tidak dosa. Hanya saja sayidina umar bertawasul dengan syidina abbas bukan dengan para sahabat yg lain karena untuk menunjukkan kemulyaanya keluarganya Rasulullah saw.

    Apa buktinya bahwa para sahabat tawasul dengan nabi ketika beliau sudah meninggal??

    Diceritakan oleh imam baihaqi dan ibnu abi syaibah dengan sanad yg sohih: “sesungguhnya manusia tertimpa musim paceklik dizaman sayidina umar radhiyallah ‘anhu, maka bilal bin harist mendatangi maqomnya nabi Muhammad saw dan berkata: ya rasulallah, mintalah hujan kepada umatmu karena mereka hampir binasa. Kemudian Rasulullah mendatangi sayidina bilal lewat mimpi dan berkata: Wahai bilal datangilah umar bin khottob dan sampaikan salamku kepadanya serta berikanl;ah kabar gembira kpd mereka bahwa mereka akan di beri hujan”. Maka sydina bilal mendatangi syidina umar dan menceritakanya, lalu sydna umar menangis, dan merekapun diberi hujan. (dalaail 7:47)(ibnu abi syaibah 6:356)

    jadi saya MENGIKUTI PEMAHAMAN MEREKA rodliyallahu anhum ajmain.
    Apalagi kita kenal bersama bahwa Umar terkenal dg Alfarouq.

    Kalau memang mengikuti seharusnya kalian itu tdk sampai menyirikkan/mengkufurkan yg menjalankan tawasul (ana baca cmentar dr kalian banyak yg mensyirikan tawasul). Saydina umar dan sahabat-sahabat lain tidak ada yg inkar dengan tawasulnya sydina bilal bin harist
    Kalau memang benar itu syirik/kufur, Kenapa sayidina Umar al-faruq tidak marah dan menghunuskan pedangnya untk amar ma’ruf nahi munkar?????

    Walhasil, tawasul itu memang boleh. Kalau kalian tidak mahu manjalankan amalan tawasul ya silahkan tidak dosa, asal jangan mudah-mudah mensyirikkan atau menkafirkan suatu amalan yg memang tidak ada nash yang sorih tentang kesyirikanya.

  28. abdullah73 mengatakan:

    Cah Njeporo, Muhibbin dan yang lain.

    Tolong baca sekali lagi comment saya diatas, dibagian mana saya
    membuat statement Musyrik / kafir kepada orang yang bertawasul dg berdoa kepada Allah lewat perantaraan orang yang sudah meninggal ???.

    Diatas saya hanya menyebutkan : tolong perhatikan sekali lagi
    tulisan saya :
    “Ini yang sangat ditakutkan terjadi pada kaum Muslim sekarang.
    Kalau kita membaca kitab-kitab ulama , maka kita dapati
    penyelewengan sebagian Muslim yang berdo’a : Ya syaikh fulan
    bantulah aku , ya syaikh fulan sembuhkanlah aku, dll
    (bukankah ini kesyirikan yang nyata)”.

    Sebagian kaum muslim meminta tolong kepada orang yang sudah meninggal bukan sebagai perantaraan lagi kepada Allah.
    Ataukah kalian mengingkari bahwa itu sebuah kesyirikan ???.

    Ucapan serupa juga pernah saya dengar sendiri dari bibi saya
    ketika pada suatu malam “diganggu orang / disantet” maka beliau
    mengatakan “ya syekh abdul qodir Jailani tolonglah saya”
    (semoga Allah menunjukkan beliau jalan tauhid yang lurus)

    Jadi perlu diingat saya pribadi TIDAK PERNAH MENSYIRIKAN orang yang
    bertawasul untuk meminta kepada Allah dengan perantaraan orang yang sudah meninggal.

    Saya hanya menjelaskan bahwa akibat ghuluw yang berlebihan bisa menuju ke KESYIRIKAN seperti yang pernah terjadi pada kaum Nabi Nuh dan ungkapan sebagian kaum muslimin sekarang yang sudah saya sebutkan diatas.
    Jadi perhatikan betul tulisan tulisan saya.

    @cah jeporo
    mengenai hadits yang anda bawakan , kebetulan saya belum familiar
    dg hadits tsb maklum masih butuh banyak belajar.
    Kalau dilihat sepintas kelihatannya terjadi kontradiksi antara hadist yang dibawakan dalam shohih bukhori (yang InsyaAllah shohih) dengan hadits yang dibawakan Baihaki rohimahullahu anhum ajmain)

    – Apakah musim kemarau yang terjadi pada zaman Umar RA terjadi dua kali ???
    karena : Dalam Hadits Bukhori diriwayatkan Umar RA bertawasul (dengan minta didoakan oleh Abbas RA) , tetapi dalam hadits Baihaki diriwayatkan Bilal RA bertawasul kepada Rosul SAW.

    – kalau terjadi dua kali mungkin anda tahu kapan saja terjadinya, karena sepanjang pengetahuan saya Umar RA memerintah dalam waktu yang sangat singkat

    – Kalau terjadi sekali berarti ada dua kondisi yang berbeda yang diceritakan dalam riwayat Bukhori dan Baihaqi rahimahullahu anhum ajmain.
    Tolong dijabarkan pertanyaan saya diatas

    Sekali lagi camkan :
    1. Tidak ada statement saya yang MENGKAFIRKAN orang yang bertawasul dg berdo’a kepada Allah melalui perantara orang yang sudah meninggal.

    2. Statement saya yang ada adalah “kami takur sebagian kaum muslimin akan TERJATUH dalam kesyirikan ketika ghuluw kepada orang-orang Sholeh .

    2. Tetapi saya sampai saat ini MENGIKUTI ULAMA yang mengharamkan tawasul kepada orang yang sudah meninggal dan sampai saat ini saya masih mengikuti pemahaman Umar RA dan para shahabat dalam masalah ini sesuai dg riwayat dari Bukhori diatas.

    Semoga dg ini kalian menjadi jelas.

    To : Muhibbin
    Saya sering tersenyum melihat commnet anda , karena begitu besar kali kebencian anda sering anda sering menyumpah serapahi orang dengan gelar Wahabi.
    Mas kasian syekh Abdul Wahab, KAN YANG BERBUAT TIDAK BENAR MENURUT ANDA NAMANYA MUHAMMAD bukan ABDUL WAHHAB yaitu anaknya.

    Takutnya nanti anda dituntut di akherat karena sering sekali MENYUMPAH SERAPAHI syekh ABDUL WAHHAB lho.

    Bukankah kalian bilang sendiri ayah Muhammad bin Abdul Wahhab
    MENENTANG dakwah anaknya ???.

    kenapa kalian MAKI-MAKI AYAHNYA yang dakwahnya sesuai dengan pemahaman kalian
    @ all pengunjung
    Lihatlah kelucuan dari Muhibbin ini , dia memaki-maki tapi SALAH ALAMAT, he.he

  29. elfasi mengatakan:

    @ abdullah 73,
    Anda katakan :” Saya mengikuti istimbath Umar rodliyallahu anhu dan para shahabatnya waktu yang tertera di dalam shohih Bukhori dimana beliau RA TIDAK bertawasul dengan kemuliaan Rosulullah SAW setelah wafatnya pada saat yang genting tetapi bertawasul dengan pamannya Abbas RA untuk didoakan kepada Allah oleh Abbas RA.
    Bahkan hampir semua sahabat hadir pada saat itu, KALAULAH dengan kemuliaan Nabi diperbolehkan bahkan dianjurkan kita sangat yakini bersama Umar dan para shahabat yang lain rodliyallahu anhum MESTI AKAN bertawasul dengan kemuliaan Nabi SAW dimana KITA YAKINI BERSAMA kemuliaan nabi SAW JAUUUUUH LEBIH BESAR dari kemuliaan Abbas RA.”
    == mas, pemahaman semacam apa dr syd Umar, apakah riwayat itu sudah mmberikan pngertian bhwa tawassul dgn org mati haram…??? Krn gk tawassul dgn Nabi yg sudah wafat karena kemuliaannya…??? Klo bgtu hrusx tawassulx syd Umar dgn syd Ali atau bhkan dgn dirinya sendir yg lbh mulia drpd syd Abbas…????? Tp knpa kok dgn syd Abbas…ini membuktikan bhwa tawassul tidak harus dgn org yg lbh mulia atau org yg masih hidup, tp boleh walau dgn org yg lbh rendah darinya sekalipun…
    Klo memang gk boleh tawassul dgn org yg sudah mati, bagaimana dgn tawassulx Nabi dgn para Nabi seblumx spt yg dipaparkan dlm artikel…???? Apakah Nabi akan mngajarkan umatx untuk berbuat haram..??? apakah syd Umar menentang dan tidak setuju dgn yg dilakukan Nabi ???
    Mas, memahami dalil dgn dalil juga bukan dgn otak anda sndiri yg msh kurang dan persangkaan sendiri…..jadinya salah mentafsiri hadits..
    Anda katakan :” Diatas saya hanya menyebutkan : tolong perhatikan sekali lagi
    tulisan saya : “Ini yang sangat ditakutkan terjadi pada kaum Muslim sekarang. Kalau kita membaca kitab-kitab ulama , maka kita dapati penyelewengan sebagian Muslim yang berdo’a : Ya syaikh fulan bantulah aku , ya syaikh fulan sembuhkanlah aku, dll
    (bukankah ini kesyirikan yang nyata)”. “
    Mas, anda rupanya kurang memahami tentang hakiki dan majazi…baca dgn cermat artikel di atas udah dipaparkan scra jelas oleh admin..jd gk perlu lg diperpanjang…
    Sekarang cb anda perhatikan hadits riwayat at-Thabarani berikut biar anda tau betul tawassul itu haram apa tidak :
    عن عتبة بن غزوان عن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال إذا أضل أحدكم شيئا أو أراد أحدكم عونا وهو بأرض ليس بها أنيس فليقل يا عباد الله أغيثوني يا عباد الله أغيثوني فإن لله عبادا لا نراهم وقد جرب ذلك.
    Dari Utbah bin Ghqzwan dari Nabi SAW bersabda :” jika salah satu diantara kalian kehilangan sesuatu atau menginginkan pertolongan sedangkan ia di daerah tanpa ada orang terdekatnya, maka ucapkanlah “ wahai hamba-hamba Allah tolonglah aku, wahai hamba Allah tolonglah aku, karena sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang tidak bisa kita lihat “ (H,R, Thabrani).
    Lihat mas, bagaimana Rasulullah mmerintahkan untuk meminta bantuan kepada hamba Allah dan tidak meminta langsung kepada Allah….??? Apakah Nabi akan mengajarkan kepada umatnya kesyirikan…????? Ataukah justru anda yng memang tidak memahami makna hadits lalu memaksakannya dengan keyakinan anda,…????

  30. abdullah73 mengatakan:

    To : Elfasi
    Terima kasih tanggapannya :
    – Berarti PEMAHAMAN anda bahwa
    “MEMINTA TOLONG KEPADA ORANG YANG MENINGGAL (bukan hanya sebagai perantara) ADALAH DIPERBOLEHKAN DAN BUKAN SEBAGAI PERBUATAN KESYIRIKAN”.

    “Jadi kalau orang datang ke KUBURAN orang SHOLEH dan mengatakan
    Ya syekh Fulan Tolonglah aku, mudahkanlah jodohku dll adalah
    DIPERBOLEHKAN”.????
    (maaf saya menggunakan contoh yang amat sangat mendasar biar orang yang awam seperti saya juga mudah mengerti).

    – Kalau begitu maaf kalau saya tanya lagi.
    Apa BEDA pemahaman anda dengan pemahaman kaum nabi NUH ?
    Bukankah mereka MENYEMBAH berhala dimana berhala tersebut
    adalah’ sebagai perwujudan dari orang-orang SHOLEH pada zaman mereka Yaguts, Suwa, Wadd dll ???.

    Bedanya dulu dalam bentuk Patung tetapi sekarang dalam bentuk KUBURAN
    (maaf bagi yang lain, di sini saya tidak menunjukkan MUSYRIKNYA orang yang ziarah kubur tetapi pemahaman saya adalah MUSYRIKNYA orang yang “MENYEMBAH KUBUR” yaitu orang yang MEMOHON PERTOLONGAN kepada orang mati bukan menjadikannya sebagai perantara kepada ALLAH)

    – Mengenai Hadits yang anda bawakan dari riwayat Thobroni rahimahullah tolong dijelaskan derajat haditsnya dishahihkan oleh siapa ?. karena sudah ribuan hadits YANG DIPALSUKAN orang (dijelaskan dalam riwayat bahwa ketika salah seorang dari 4 besar PEMALSU HADITS akan DIHUKUM MATI oleh khalifah pada waktu itu, dia menginformasikan bahwa dia TELAH MEMALSU +/- 14 ribu hadits).

    Karena pengertian saya hadits tersebut salah satunya adalah DIBOLEHKANNYA MEMINTA PERTOLONGAN JIN (karena jin adalah salah satu hamba Allah yang tidak terlihat).

    – Hal ini BERTENTANGAN dengan firman ALLAH : dalam surat al Jin : 6
    “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia
    meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin,
    maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.
    (Al-Jin: 6).

    Imam At-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan: “Ada penduduk kampung dari bangsa Arab yang menuruni lembah dan menambah dosa mereka dengan meminta PERLINDUNGAN KEPADA JIN PENUNGGU LEMBAH TERSEBUT , lalu jin itu bertambah berani mengganggu mereka.

    Juga saya melihat PEMAHAMAN anda BERBEDA dengan PEMAHAMAN saudara Muhibbin dimana pd tgl 28 Sep memberikan comment kepada saya sbb :

    “Coba anda bandingkan juga, manakah yang benar ? apakah meluruskan orang yang berziaroh kubur agar dalam memohon ##BUKAN KEPADA KUBUR## tapi tetap kepada Allah dengan cara bertawassul kepada orang sholeh yang diziarahi ataukah hanya menvonis orang ziaroh kubur dengan bertawassul kafir dan masuk neraka selamanya padahal masih meyakini bahwa segalanya adalah dari Allah semata…?????”

    Pemahaman saudara Muhibbin adalah Tawasul kpd orang sholeh diperbolehkan TETAPI HANYA sebagai PERANTARA dalam berdo’a kepada Allah (saya pakai huruf besar).
    Sedangkan Pemahaman saudara Elfasi BOLEH KITA MEMINTA kepada orang yang sudah meninggal.
    –> Mungkin bisa diklarifikasi oleh Saudara Muhibbin dan Elfasi tentang hal ini.

    @Cah Jeporo
    Oh ya saya belum mendapatkan klarifikasi anda tentang “PERTENTANGAN” antara hadits Umar RA ketika bertawasul riwayat Bukhori dengan riwayat Ibn Abi Syaibah.
    Tolong KLARIFIKASINYA.
    Maaf saya masih pakai kata “pertentangan” karena saya belum mendapat klarifikasi dari sdr Cah jeporo.

    “Ya Allah tunjukkanlah kami semua kedalam JalanMu yang lurus dengan MentauhidkanMu sesuai Petunjuk Nabimu yang mulia SAW”

  31. elfasi mengatakan:

    @ Abdullah 73,
    Mas, ini sungguh menunjukkan bahwa anda kurang memahami tentang hakiki dan majazi…..sekarang jawab : ketika anda memintaq kpd ustad anda untuk mengajari anda ilmu, apalah yg demikian anda katakan sbg kesyirikan krn minta ilmu kpd orang bukan langsung kpd Allah padahal hanya Allah yg member ilmu…????? Ketika anda banyak tugas lalu anda minta bantuan temen anda untuk menyelesaikannya, apakah anda anggap seperti ini sebagai kesyirikan..????
    Inilah mas permasalahan hakiki dan majazi …jika orang brtawasul dgn meyakini bahwa yang memberikan pertolongan adalah org sholeh itu bukan Allah, maka inilah hakikat kekufuran sbgaimana umat Nabi Nuh yg menjadikan berhala sebagai sesembahannya bukan Allah. Tapi jika masih meyakini bhwa Allah adalah yg memberikan segala sesuatu, hnya saja melalui perantara orang sholeh, maka yg demikian majazi….
    Sekarang anda jawab : apakah anda telah mengetahui betul bahwa org yg mengucapkan demikian dgn meyakini bahwa yg membrikan prtolongan adalah orang sholeh itu bukannya Allah, ataukah hanya sangkaan anda padahal mrk masih meyakini bahwa pada dasarnya pertolongan yang mereka dapatkan adalh semata2 dr Allah hanya saja melalui org sholh anda anggap mrk kafir…???? Jika anda tidak tau, brrti anda telah mengkafirkan banyak orng muslim……??? Inikah ajaran Nabi mengkafirkan org mukmin bukan malah mengajak mereka kpd iman…????
    Permasalahan riwayat Thabrani, silahkan anda lihat sendiri di Mu’jam Thabarani, Majma’u zawaid dan di bbrapa kitab lainnya….
    Sekarang ana Tanya mas, mana dalil anda yg menyatakan bahwa syd Umar tidak tawassul dgn Nabi adalah krn keharaman tawassul dgn org yg sudah mati…??? Adakah pernyataan dr beliau bhwa bertawassul dgn Nabi waktu itu haram krn Nabi udah meninggal ???? ataukah justru anda sendiri yg mentafsiri dgn otak dan pemikiran anda sendiri…????

  32. muhibbin mengatakan:

    @ abdullah 73,

    mengenai hadits yang anda bawakan , kebetulan saya belum familiar
    dg hadits tsb maklum masih butuh banyak belajar.

    Jadi geli ana ngedengerx mas, gak familiar ma dalil2 tentang tawassul tp anda sudah brani mengatakan haram,…mankax belajar tuh pake kitab mas jangan buku terjemahan aja, jadinya kayak gini mudah di bohongi n terpedaya oleh doktrin dr org2 wahhabi….
    Anda katakan “Mas kasian syekh Abdul Wahab, KAN YANG BERBUAT TIDAK BENAR MENURUT ANDA NAMANYA MUHAMMAD bukan ABDUL WAHHAB yaitu anaknya.”
    Wahhhh jadi tambah geli n ketawa ngedengerx….jadi jelas bnget antum kurang paham betul banyak hal…mas, madzhab Syafi’I tuh nama aslix Muhammad bin Idris tp disebut dgn Imam Syafi’I …..madzhab Imam Ahmad bin Hambal tp disebut madzhab hambali..harusnya madzhab ahmadi…..
    Sungguh kacau…belajar lagi mas…
    Klo anda katakan ane beda ma elfasi tuh krn anda kurang paham juga, ane cmn nerangkan yg terpenting I’tiqod kita tidak sampai menghilangkan takdir dan kehendak Allah..sedangkn akhina elfasi menerangkan lebh jelasnya yaitu pembahsan masalah hakiki dan majazi..

  33. saliq mengatakan:

    @ abdullah 73(salafi)
    ass..numpang koment…
    sampean mulai ngos-ngosan ngadepi kang muhibbin & kang elfasi..
    minum EXTRA JOSS dulu biar RUSSO..RUSSO..RUSSO…

    he..he….he…

  34. asSafanjany mengatakan:

    WAHABI…
    SUNGGUH ANEH AJARAN INI…
    NGAKUNYA PEJUANG TAUHID, KOK MALAH TERBALIK BEGINI…

    TENTANG “TAWASSUL” MENJADI SAKSI…
    BAHWA WAHABI HANYA BERORASI…
    TAK PUNYA DALIL DAN ILMU YANG BERARTI…

    KATANYA TERLARANG “TAWASSUL” PADA YANG MATI…
    TETAPI BOLEH KEPADA YANG MASIH HIDUP DIDUNIA INI…
    SUNGGUH INI ANEH, BAGI YANG AKALNYA BERISI…

    BERARTI, ALLOH TIDAK BISA DISEKUTUKAN KEPADA YANG MATI…
    TETAPI KEPADA YANG HIDUP, ALLOH BOLEH DISEKUTUKAN SECARA PASTI…
    SUNGGUH INI LUCU BIKIN GELI…

    MUNGKIN, BEGINI MAUNYA WAHABI…
    YANG HIDUP KAN MASIH BISA MENOLONG & MEMBERI…
    YANG MATI BISANYA CUMA MENUNGGU DIDALAM BUMI…

    SEPINTAS ITU ENAK DIFAHAMI…
    KHUSUSNYA BAGI YANG NGGAK PERNAH NGAJI…
    DAN ITU BAGINYA, MASUK AKAL SEKALI…

    TAPI ITU AKAL YANG DUNGU, SEKALI LAGI…
    AKAL YANG TAK PERNAH DIAJAK MENELITI & MENGKAJI…
    AKAL YANG TERBALIK DAN TERACUNI…

    FAHAMILAH KALIAN WAHABI…
    TENTANG INTI AJARAN KAMI…
    MENGENAI “TAWASSUL” INI…

    BAHWA, YANG HIDUP DAN YANG MATI…
    ITU SAMA BAGI KAMI…
    TAK SATU-PUN YANG BISA MEMPENGARUHI…

    SEMUANYA HANYA “SEBAB” SAJA DIDUNIA INI…
    ALLOH-LAH YANG MENJADIKAN & YANG MENGHENDAKI…
    HANYA DIA-LAH YANG HAKIKI DIBALIK SEMUA INI…

    KALAU MAU JUJUR DAN BERANI…
    MAKA WALI ALLOH ITU, ADALAH MANUSIA SUCI…
    JIKA BELIAU DOSA SEKALI, TAUBATNYA BERIBU-RIBU KALI…

    DAN JUSTRU DISAAT BELIAU TELAH MATI…
    KESUCIAN ITU SEMAKIN SUCI…
    LANTARAN JASADNYA KINI TAK BERMAKSIAT LAGI…

    JADI LEBIH BERHAK DI_TAWASSULI…
    MENGERTILAH HAL INI…
    SAUDARAKU WAHABI…

    KAMI TAHU MEREKA SAMA-SAMA MAKHLUK TUHAN KAMI…
    TIDAK DAPAT MENOLONG KECUALI JIKA ALLOH YANG MENGHENDAKI…
    JADI BUKAN KYAI, BUKAN WALI…

    ITULAH TAUHID SEJATI…
    TIDAK MENYEKUTUKAN ALLOH SAMA SEKALI…
    BAIK KEPADA YANG HIDUP, TERLEBIH YANG MATI

    MAKANYA DIKAJI LAGI…
    JANGAN ASAL BUNYI…
    MENUDUH TANPA BUKTI…

    SEKARANG AJARAN MANA YANG MURNI…
    WAHABI ATUKAH AHLUSSUNNAH KAMI…
    RENUNGKAN DALAM HATI…

    KALAU KALIAN MASIH MAU MENYANGKAL LAGI…
    MENGATAKAN, KENAPA TIDAK MINTA LANGSUNG SAJA KEPADA ALLOHU RABBI…
    ITU SEMAKIN MENUNJUKKAN KALAU OTAK KALIAN ITU SEPERTI TRASI…

    SEMAKIN MEMBUKTIKAN BAHWA KALIAN TAK MAU BERFIKIR DAN MENGKAJI…
    MAUNYA MATANG, TINGGAL TELAN, ALIAS SUDAH JADI…
    BACALAH AYAT SUCI, DAN HADITS NABI LAGI…

    JANGAN TERTIPU OLEH PENDIDIKAN SAUDI…
    YANG MENGAJARKAN RADIKALISME DAN PERANG SUCI…
    PADAHAL ITU DEMI KEKUASAAN MEREKA SENDIRI…

    KETAHUILAH WAHABI…
    KALIAN ITU CUMA BONEKA TAK BERARTI…
    DIPERALAT OLEH INGGRIS DAN YAHUDI…

    DENGAN MENGGUNAKAN TANGAN-TANGAN SAUDI…
    KALIAN SEOLAH DISURUH BENCI KEPADA ZIONIS YAHUDI…
    PADAHAL MEREKA ITU TEMAN ABADI SAUDI…

    SENGAJA KALIAN DIFORMAT RADIKAL PENUH BENCI…
    AGAR BIKIN KEKACAUAN & KERIBUTAN DISANA-SINI…
    SAMPAI NANTI AMERIKA DATANG KESINI…

    MENGAKU SEBAGAI POLISI BAGI DUNIA INI…
    PADAHAL MEREKA MAU MENCENGKRAM KITA DISINI…
    MENGATUR & MENGUASAI…

    SADARILAH WAHABI…
    LIHATLAH PADA FOTO RAJA SAUDI DI_GOOGLE INI…
    MEREKA BERKALUNG SALIBI…

    DIPAKAINYA UNTUK MENGHORMAT KEPADA MAJIKAN SEJATI…
    RATU ELISABETH, SANG PUTERI…
    SEPERTI INIKAH, PENEGAK PANJI ILAHI…

    COBALAH BACA SEJARAH TENTANG BERDIRINYA SAUDI…
    MEREKA DIDUKUNG OLEH INGGRIS DAN YAHUDI…
    MEMERANGI & MEMBUNUH SAUDARA SENDIRI…

    JIKA MEMANG TERHADAP TERORIS, MEREKA ANTI…
    DAN MEREKA MAU MEMBERANTAS DARI MUKA BUMI…
    ITU BAGI MEREKA MUDAH SEKALI…

    CUKUP BILANG KEPADA SAUDI…
    HENTIKAN PENGAJARAN RADIKAL DAN JIHAD BOM BUNUH DIRI…
    HENTIKAN PULA MENYEBARKANNYA KE BERBAGI NEGERI…

    MAKA BERESLAH SEMUA INI…
    TAK AKAN ADA LAGI DR.AZHARI DAN AMROZI…
    SEMUA AKAN TENANG KEMBALI…

    MAKA BERSATULAH UNTUK NEGERI TERCINTA INI…
    KAMI TIDAK BERMAKSUD MEMUSUHI…
    JIKA ADA KASAR, ITU KARENA KALIAN MENDAHULUI…

    MAKA MAAFKAN KAMI…

  35. cah njeporo mengatakan:

    @cah jeporo
    mengenai hadits yang anda bawakan , kebetulan saya belum familiar
    dg hadits tsb maklum masih butuh banyak belajar.
    Kalau dilihat sepintas kelihatannya terjadi kontradiksi antara hadist yang dibawakan dalam shohih bukhori (yang InsyaAllah shohih) dengan hadits yang dibawakan Baihaki rohimahullahu anhum ajmain

    Kalau blm familiar, mugkin anda kurang membaca d kitab lain. Padahal ini disebutkan bukan hanya dalam satu kitab tapi beberapa kitab dan ini sdh mutawatir d kalangan para ulama’ dan kalangan orang ‘awam spt ana ini…ini ana sebutin kitabnya, mungkin anda punya kitabnya bisa langsung meruju’nya. Diantaranya:
    1.dikeluarkan imam bukhori didalam tarikhnya 7/304
    2.imam baihaqi dlm dalailin nubuwah 7:47
    3.ibnu abi syaibah 6:356)
    4.alhafidz abu ya’la alkholili dlm kitab al-irsyad 63
    5.alhafid imam ibnu hajar dlm ktb fathul bari 2/495 sanadnya sohih
    6.ibnu katsir dlm ktb albidyah wannihayah 7/105
    7.ibnu katsir dlm tafsirnya 1/91 sanadnya sohih
    apa masih blm familiar???

    Ma’af mas ya, kalau melihat itu jangan sepintas, akhirnya pemahaman anda terlalu tergesa-gesa mangharamkanya….kalau melihat hadist itu jgan spintas tapi perlu buka syarah hadist dan perlu di teliti serta dikaji ulang bukan hanya sepintas doang….

    Tidak ada kontradiksi dalam dua hadist tsb, hanya pemahaman andalah yg belum pas,..
    Sydna umar tawasul dg syidina Abbas, apakah sydn umar/abbas brkata: ini tawasul karena Rasulullah sdh meninggal??? Kalau memang spt itu ya bisa dihukumi tawasul hnya kpd org hdup saja spt pemahaman anda, tapi Sydn umar maupun sydn abbas tdk pernah menjelaskan itu.

    Apakah meninggalkan sesuatu itu langsung dihukumi haram??? Sydn umar meninggalkan tawasul sa’at itu menunjukkan haram tawasul dg nabi yg sdh wafat???padahal nabi Muhammad saw juga banyak meninggalkan sesuatu yg mubah spt meninggalkan makan biawak, meninggalkan makan Bawang, apkh biawak/Bawang tadi itu haram???
    Saydn umar bertawasul selain nabi, ingin menjelaskan bahwa tawasul kepada selain nabi dari orang sholeh yg bisa diharapkan berkahnya itu diperbolehkan. Sehingga dari sinilah imam ibnu hajar brkata: diambil dr qisah ini maka disunahkan meminta tolong kepada orng soleh, org ahlil kher dan keluarganya nabi.

    Dari 2 hadist trsb bisa diambil kesimpulan dan bisa dikumpulkan bahwa tidak dilarang tawasul dengan yg hidup,…buktinya dijelaskan hadist yg lain sydn umar diam ktk sydna bilal tawasul dg nabi stelah meninggal…bahkan nabi sendiri tawasul dg para nabi-nabi terdahulu yg sdh meninggal. Ini menunjukkan tawasul dengan org yg sdh merninggal itu boleh.

    karena sepanjang pengetahuan saya Umar RA memerintah dalam waktu yang sangat singkat

    mas, kayaknya anda kurang memahami sejarah tapi sok tahu dengan sejarah. Yang paling singkat dlm memerintah itu sydn abu bakar mas, bukan sydn umar.
    1.sydn abu bakar asshiddiq memerintah selama 2 tahun dan 10 malam
    2.sydn umar al-faruq memerintah selama 10 tahun dan enam bulan empat hari
    3.sydn ustman bin affan memerintah selama 12 tahun
    4.sydn ali karramallah wajhah memerintah selama 4 tahun dan 9 bulan

    kalau terjadi 2 kali itu mungkin saja karena sydn umar mnjadi kholifah cukup lama, kalaupun seandainya terjadi sekali…apakah tdk boleh tawasul 2 kali???? mana buktinya?? Sehingga kamu kok memepermasalhkanya….

  36. abdullah73 mengatakan:

    To : Elfasi

    Sebelumnya sdr Muhibbin mengatakan bertawasul hanya sebatas sebagai perantara , kemudian setelah mas elfasi membolehkan minta tolong langsung kepada orang yang mati di jawab “berarti anda belum mengerti majaz dan hakiki”

    Baiklah saya mencoba menjawab apa yang anda tanyakan :
    Comment anda :
    “sekarang jawab : ketika anda meminta kpd ustad anda untuk mengajari anda ilmu, apalah yg demikian anda katakan sbg kesyirikan krn minta ilmu kpd orang bukan langsung kpd Allah padahal hanya Allah yg member ilmu…????? Ketika anda banyak tugas lalu anda minta bantuan temen anda untuk menyelesaikannya, apakah anda anggap seperti ini sebagai kesyirikan..????”

    saya mencoba menjawab :
    Tentu sama sekali BUKAN KESYIRIKAN karena kita disuruh untuk mencari sebab yang DIPERBOLEHKAN oleh syariat seperti mencari rizki, berobat, mencari ilmu dsb , untuk asalnya diantara kita SUDAH SEPAKAT bahwa itu semua dari ALLAH.
    Yang tidak kita SEPAKATI adalah caranya.

    Bagi SAYA JELAS SEKALI perbedaan antara meminta tolong kepada yang masih HIDUP dg yang SUDAH MATI (semoga anda diberi KEJELASAN yang sama).
    Kita MEMINTA TOLONG kepada yang MASIH HIDUP karena kita melihat bahwa mereka MAMPU untuk melakukannya atas izin ALlah tentunya.
    Contoh :
    – Berguru kepada Ust yang masih hidup
    (saya ambil contoh yang gampang biar orang AWAM termasuk saya
    bisa memahami dengan mudah ndak perlu berbelit-belit)
    > Di depan anda ada dua orang satu ustadz baru yang masih
    hidup satunya syekh kabir tapi baru saja meninggal.
    Ketika saya tanya kepada anda jika anda ingin BELAJAR
    agama (belajar ngaji iqro lah yang mudah), kepada siapa
    anda akan belajar kepada ustadz baru atau syekh kabir.
    saya kira anak TK pun tahu kita harus belajar kepada
    ustadz walaupun baru (KARENA DIA MASIH HIDUP) bukan
    kepada syekh kabir (karena sudah meninggal)
    ATAU anda menganggap lain dg belajar kpd syekh Kabir ???

    – Saya ambil contoh lagi (mencari rizki)
    -> Masih sama di depan anda ada 2 orang satu orang yang masih
    hidup dan satunya seorang syekh yang baru saja meninggal.
    Anda tentu YAKIN bahwa rizki datang dari ALLAH tetapi kita
    harus MENCARI sarana yang dibolehkan.
    * Coba mas anda minta uang kepada orang yang masih hidup
    (seribu rupiah ajalah buat beli minum karena sampeyan
    haus), saya yakin anda akan DIBERI (kalau dia mau, kalau
    tak mau ya kebangetan kelihatan bakhilnya)
    * Tetapi COBA mas ANDA minta uang 100 perak aja kepada si
    syekh alim / si mayyit (SAMPAI air mata sampeyan KERING
    karena MENGHIBA Nggak BAKALAN deh syekh ini MEMBERI anda,
    walaupun di sampingnya dia membawa uang milyaran rupiah)

    Karena persoalannya adalah MAMPU dan TIDAK MAMPU
    Silahkan para pembaca menganalisanya sendiri.

    Saya sudah coba menjawab pertanyaan anda tapi anda belum menjawab pertanyaan saya (comment saya sebelumnya) :
    1. Apa BEDA pemahaman anda dengan pemahaman kaum nabi NUH ?
    Bukankah mereka MENYEMBAH berhala dimana berhala tersebut
    adalah’ sebagai perwujudan dari orang-orang SHOLEH pada zaman
    mereka Yaguts, Suwa, Wadd dll ???.
    –> Anda belum menjawab pertanyaan saya ini.

    2. Anda juga belum menjawab derajat hadits riwayat Tobroni
    rohimahullah, karena riwayat ini BERTENTANGAN dg :
    a. Qur’an surat Aljin : 6 seperti pada comment saya sebelumnya.
    b. Hadist shohih riwayat Muslim dari

    Kemudian pertanyaan anda :
    ” Sekarang ana Tanya mas, mana dalil anda yg menyatakan bahwa syd Umar tidak tawassul dgn Nabi adalah krn keharaman tawassul dgn org yg sudah mati…??? Adakah pernyataan dr beliau bhwa bertawassul dgn Nabi waktu itu haram krn Nabi udah meninggal ???? ataukah justru anda sendiri yg mentafsiri dgn otak dan pemikiran anda sendiri…????”
    Ana coba jawab :
    Hal ini berkaitan dengan pertanyaan saya kepada sdr. Cah jeporo yang sampai SEKARANG BELUM TERJAWAB yaitu adanya PERTENTANGAN antara tawasulnya Umar RA dalam hadist shohih riwayat Bukhori dg riwayat Abi Syaibah rahimahullahum ajmain.
    (kalau anda kenal sdr. Cah jeporo tolong sampaikan pertanyaan saya ini mungkin beliau belum sempat buka email karena kesibukan beliau).

    To : Mas Muhibbin
    Terima kasih comment anda sbb :
    ” Wahhhh jadi tambah geli n ketawa ngedengerx….jadi jelas bnget antum kurang paham betul banyak hal…mas, madzhab Syafi’I tuh nama aslix Muhammad bin Idris tp disebut dgn Imam Syafi’I …..madzhab Imam Ahmad bin Hambal tp disebut madzhab hambali..harusnya madzhab ahmadi…”.

    Saya jawab :
    Alhamdulillah saya telah mengetahui nama asli Al Imam Asysyafi’i rohimahullah sejak kelas 6 SD insyaAllah.
    Di sini berarti anda belum atau kurang mengerti tentang nasab yang baik dan yang jelek.
    Saya kasih contoh :
    1. Anda punya anak sholeh, alim, waro dan dikenal seluruh orang,
    ketika ada orang menyebut kebaikan anak anda dan menyebut
    namanya dgn Ibn Muhibbin saya yakin anda akan sangat , sangat
    meridloi sekali karena juga merupakan kebanggan bagi leluhur

    2. Anda punya anak yang anda anggap Durhaka, suka memfitnah ,
    mencuri merampok dan kejelekan-kejelekan yang lain dan namaya
    sudah dikenal luas oleh masyarakat.
    ketika suatu saat masyarakat menyebut nama dan kejelekannya dan
    menisbatkannya kepada anda dg Ibn Muhibbin apa reaksi anda :
    – sama seperti point 1 (saya yakin tidak mungkin)
    – saya yakin anda akan tidak menganggap anak anda sebagai
    anak atau paling tidak anda BERLEPAS DIRI dari perbuatannya
    dgn harapan masyarakat tidak menisbatkan anak anda kpd anda.
    Dan inilah yang terjadi dg syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahullah dimana MENURUT kalian orang tuanya BERLEPAS DIRI dari dakwah dan pemikiran beliau.

    Semoga anda MEMAHAMI korelasi contoh saya dengan ungkapan sumpah serapah anda.
    Terima kasih atas saran anda untuk senantiasa belajar.
    ya InsyaAllah saya akan belajar terus semoga Allah mudahkan seperti imam Ahmad rohimahullah ketika ditanya kapan anda akan berhenti belajar kmd beliau jawab sampai pena ikut ke liang lahat.
    Semoga saya bisa mengikuti (walaupun sepersekian persen) semangat beliau dalm menuntut ilmu diin.

    Ya Robbal arsyil adhiim
    Ya Muqallibal qulub
    Condongkanlah hati kami dan seluruh pembaca blog ini untuk
    Menerima kebenaran dengan Memurnikan Tauhid kepadaMu.
    Sesuai dengan apa yang Rosulmu SAW sampaikan dan
    Para shahabat praktikkan.

    Janganlah kau tanamkan KESOMBONGAN dalam hati kami
    Ya Allah lembutkanlah hati kami dalam menerima KEBENARAN.

  37. elfasi mengatakan:

    @ Abdullah 73,
    Anda katakan :” Tetapi COBA mas ANDA minta uang 100 perak aja kepada si syekh alim / si mayyit (SAMPAI air mata sampeyan KERING karena MENGHIBA Nggak BAKALAN deh syekh ini MEMBERI anda, walaupun di sampingnya dia membawa uang milyaran rupiah). Karena persoalannya adalah MAMPU dan TIDAK MAMPU
    Silahkan para pembaca menganalisanya sendiri.
    == sungguh lucu mas, anda membuat gambaran yang sangat tidak sesuai dengan permasalahan tawassul hingga anda katakan tawassul dgn org mati haram dan syirik…….
    Mas, org hidup bs ngasih sesuatu pada anda itu anda krn pemberian dia atau pada hakikatx Allah-lah yg memberix melalui perantara org tersebut…???? Klo anda katakan org itulah yg member, maka inilah kesyirikan yg sebenarnya……
    Permasalahan dalam tawassul itu masalah I’tiqad mas, dgn perantara apapun yg terpenting keyakinan kita semua manfaat itu hakikatx dar Allah, maka diperbolehkan…baik mash hidup ataukah udah mati….kita bertawassul itu hanya menggunakan para org sholeh yg mati itu sebagai wasilah krn kedudukan mrk di sisi Allah dan amal soleh mrk, dan tidak ada keyakinan bhw mreka bs mmberikan manfaat….klopun anda hnya memperbolehkan tawassul dgn org yg msh hidup saja, tp dgn meyakini bhw org hidup itu bs mmbrikan manfaat, maka inilah kesyirikan yg sesungguhnya…..
    Anda katakan :” Apa BEDA pemahaman anda dengan pemahaman kaum nabi NUH ? Bukankah mereka MENYEMBAH berhala dimana berhala tersebut adalah’ sebagai perwujudan dari orang-orang SHOLEH pada zaman mereka Yaguts, Suwa, Wadd dll ???.
    –> Anda belum menjawab pertanyaan saya ini.
    ==sungguh mnunjukkan bhw anda tidak mengerti sama sekali apa itu tawassul..??? mas, kaum Nabi Nuh tuh mnjadikan berhala sbg sesembahan n meyakini bhw berhala itu sbg tuhan n bs ngasih manfaat apa tidak ???? apakah sama dgn org tawassul yg tetap meyakini tuhannya adalah Allah n yg ngasih manfaat adalah Alla bukan org yg ditawassuli…????
    Klo gk sama, berarti anda telah menuduh org yg beriman sbg org musyrik…….
    Anda katakan :” Hal ini berkaitan dengan pertanyaan saya kepada sdr. Cah jeporo yang sampai SEKARANG BELUM TERJAWAB yaitu adanya PERTENTANGAN antara tawasulnya Umar RA dalam hadist shohih riwayat Bukhori dg riwayat Abi Syaibah rahimahullahum ajmain.
    ===sungguh jawban tidak berdalil……mas, itu sih bukanlah pertentangan antara kedua riwayat itu, tp andalah yg sudah terdoktrin oleh guru anda bhw tawassul dgn org mati adalah syirik…yg ada justru riwayat Abi Syaibah mentafsiri riwayat syd Umar bhw tawassul itu tidak harus dgn org yg mash hidup, tp boleh dgn org yg mati…skrg tunjukkan ke smua pengunjung disini, mana dalil anda yg menunjukkan bahwa syd Umar tdk bertawassul dgn Nabi krn tawassul dg org mati adalah haram….???? Klo gk ada, brrti anda telah mentafsiri hadits dg pemikiran anda sndiri yg jauh dr maksud hadits………

  38. muhibbin mengatakan:

    @ abdullah73,

    Anda punya anak yang anda anggap Durhaka, suka memfitnah , mencuri merampok dan kejelekan-kejelekan yang lain dan namaya sudah dikenal luas oleh masyarakat. ketika suatu saat masyarakat menyebut nama dan kejelekannya dan
    menisbatkannya kepada anda dg Ibn Muhibbin apa reaksi anda :
    – sama seperti point 1 (saya yakin tidak mungkin)
    – saya yakin anda akan tidak menganggap anak anda sebagai
    anak atau paling tidak anda BERLEPAS DIRI dari perbuatannya dgn harapan masyarakat tidak menisbatkan anak anda kpd anda. Dan inilah yang terjadi dg syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahullah dimana MENURUT kalian orang tuanya BERLEPAS DIRI dari dakwah dan pemikiran beliau.

    Wahhh…wahhh….contoh yg sangat tepat sekali, itulah gambaran Muhammad bin abdul wahab yg durhaka ma org tuanye , gk mau sejalan bhkn menntang org tuanya…..gambaran gmne seorang anak yg durhaka n menentang orang tuanya bs merusak reputasi dan nama baik org tuanya sebagai ulama’ besar pun mnjd rusak gara” anak yg gk mau sejalan dgnx….
    Ya Allah mudah2an kisah ini mnjadi ibroh bg kami shgg kami bisa menjaga anak2 kami agar selalu sejalan dengan orang tua dan datuk2nya, menjadi anak yg sholeh dan tidak durhaka hingga bisa membanggakan hati kami bukan malah mencemarkan nama baik orang tuanya dan keluarganya…amin..

  39. abdullah73 mengatakan:

    Assalamu’alaikum
    Cah jeporo

    Terima kasih atas informasinya.
    memang saya belum familiar dg hadits tersebut
    mungkin karena sangat miskinnya ilmu.
    Alhamdulillah atas karunia Allah kemarin dimudahkan
    untuk “mengunduh” beberapa kitab diantaranya
    Al Bidayah Wa Nihayah bab Khulafaur Rosyidin.

    Alhamdulillah saya jadi mengerti tentang masa-masa Khulafaur Rosyidin lewat jalur yang insyaAllah dapat dipercaya
    Di sana dijelaskan bahwa Umar RA diberi amanah untuk menjadi khalifah pada tahun 13 H dan meninggal th 20 H (artinya memerintah selama +/- 7 tahun).

    –> Ini berbeda dg informasi yang anda berikan.

    Di kitab AlBidayah Wa Nihayah di Bab Khalifah Umar Bin Khottob pasal kedua juga disebutkan tentang kejadian penting salah satunya adalah PACEKLIK / RAMADAH (karena kekeringan yang lama) pada tahun 18 H.
    –> Artinya ini TERJADI SEKALI SAJA pada masa pemerintahan Umar RA.
    Kalau dibuku saya hal 202 ~ 204

    Saya masih bertanya-tanya Harusnya anda (Cah Jeporo) mengetahui hal ini dimana anda bawakan kitab Albidayah Wa Nihayah tentang hadits Ibn Abi Syaibah (masalah tawasul seseorang kepada Rosulullah SAW) tetapi anda malah mengatakan
    “kalau terjadi 2 kali itu mungkin saja karena sydn umar mnjadi
    kholifah cukup lama, kalaupun seandainya terjadi sekali….”

    Sekali lagi saya jadi heran, harusnya anda MENGETAHUI dengan baik hal ini.
    (saya memang sebelumnya tidak tahu dan atas kemudahan dari ALLAH saya baru mengetahuinya kemarin, makanya saya tanyakan kepada anda barangkali anda tahu)

    Kemudian comment anda
    “kalaupun seandainya terjadi sekali…apakah tdk boleh tawasul 2
    kali???? mana buktinya?? Sehingga kamu kok mempermasalahkanya…”.

    Di sini saya lihat anda hanya berasumsi saja.
    Kalau saya JELAS saya pertanyakan (bukan permasalahkan) karena saya bermaksud mencari KEBENARAN bukan bermaksud mencari pembenaran, kalau memang itu datang dari Rosulullah dengan sanad yang SHAHIH dan pemahaman yang shahih pula semoga Allah memudahkan saya memahaminya
    Kenapa saya pertanyakan keabsahan salah satu dari hadits tsb :
    1. Karena peristiwa tsb terjadi SATU KALI SAJA
    (makanya saya tanya sebelumnya ke anda)

    2. CARA BERTAWASUL dalam dua riwayat itu BERLAINAN
    a. Dengan bertawasul dengan perantaraan do’a Paman Rosul SAW
    Abbas RA (dg do’a orang yang masih hidup)–> Hadist SHAHIH
    Riwayat Bukhori (InsyaAllah andapun sepakat dengan keshahihan hadits ini)
    Setelah itu terjadi TURUN HUJAN
    b. Dengan perantaraan tawasul kepada Rosulullah SAW yang sudah meninggal
    lewat mimpi seseorang (dalam satu riwayat adalah Bilal dan
    dalam riwayat yang lain adalah seorang Arab Badui)–>
    Hadits riwayat Ibn Abi Syaibah dimana Setelah itu TURUN
    HUJAN
    Jadi 2 HADITS tersebut TIDAK BISA DIKOMPROMIKAN sebagaimana
    persangkaan anda dengan dasar-dasar DIATAS.

    jadi menurut saya 2 hadits tersebut ADA yang Perlu
    DIPERTANYAKAN KEABSAHANNYA.
    Maaf di sini bukan saya bermaksud berlagak menjadi ahli hadits tetapi di sini saya hanya menyampaikan ganjalan2 saya tentang 2 hadits tersebut yang kita YAKINI bersama
    – Hadits yang shohih tidak mungkin bertentangan dengan ayat Qur’an
    – Hadits yang shohih (isnad dan matannya) tidak mungkin bertentangan dengan hadits shohih yang lain.

    (Saya jadi teringat dengan riwayat tentang jumlah rokaat sholat
    tarawih yang dilakukan oleh Umar RA dimana dalam satu riwayat
    disebutkan 11 rokaat dan di riwayat yang lain disebutkan 23
    rokaat dimana salah satu dari dua riwayat ini lemah berdasarkan penelitian para ulama)

    Dalam hal ini apakah anda SEPENDAPAT dengan saya bahwa salah satu hadist diatas ada yang perlu DIPERTANYAKAN keabsahannya.
    Atau anda punya pandangan lain ???.

    Dalam kitab AlBidayah wa Nihayah TERNYATA terdapat jawaban apa yang selama ini jadi pertanyaan saya.
    Saya kutipkan dari buku itu :
    – AthThabrani berkata : Kami diberitahu oleh Abu Muslim Al Kassyii, dia berkata Kami diberitahu oleh Muhammad bin Abdillah al atsari , dia berkata Kami diberitahukan oleh ayahku dari Tsumamah bin Abdillah bin Anas, dari Anas bahwa Umar keluar untuk melaksanakan do’a minta hujan. Baliau keluar bersama Abbas dan meminta kepadanya BERDO’A agar hujan diturunkan. Umar berdo’a sambil berkata : Ya Allah sesungguhnya apabila kami ditimpa kekeringan SEWAKTU ROSULULLAH MASIH HIDUP, kami meminta kepadaMu melalui Nabi kami dan SEKARANG kami meminta kepadaMu MELALUI paman Nabi kami SAW”.

    – Al Bukhori meriwayatkan dari Hasan bin Muhammad dari Muhammad bin Abdillah al Anshori dari jalur yang sama dengan lafaznya “Diriwayatkan dari Anas bahwa saat musim paceklik melanda Umar meminta hujan MELALUI DO’A Abbas bin Abdul Mutholib dan berkata : “Ya ALLAH sesungguhnya kami meminta kepadaMu melalui paman Nabi kami, maka berilah kami hujan. maka manusia pun akhirnya mendapatkan hujan.

    Cobalah dipahami (dengan hati yang ikhlas tanpa kesombongan hadits diatas terutama no.1 yang ditulis dengan huruf tebal).

    jadi sampai saat ini SAYA MASIH MENGIKUTI PEMAHAMAN SHAHABAT UMAR RA dan sahabat yang lain dalam masalah tawasul ini , yaitu dibolehkan bertawasul (minta tolong dido’akan oleh orang yang masih HIDUP dan hadir)

    tetapi untuk menambah wawasan saya, tolong sebutkan di bab apa hadits riwayat Ibn Abi syaibah itu ada :
    – Dalam tafsir Ibn Katsir (dalam tafsir qur’an surat apa ayat
    berapa)
    Saya akan coba mencarinya.

    – Dalam Albidayah wa Nihayah (yang saya punya tarikh Khulafaur Rsoyidin tetapi Ibn katsir tidak menyebutkan riwayat hadits ini.

    Ya Allah berilah petunjuk kepada kami
    petunjuk Tauhid yang Lurus sesuai dengan
    apa yang RosulMu SAW ajarkan dan para shahabat
    RosulMu SAW praktekkan.
    Lembutkanlah hati kami untuk menerima KEBENARAN.

    Untuk :
    Sdr Elfasi
    InsyaAllah besok kita lanjutkan diskusi kita

    Untuk Sdr Muhibbin
    Ya sudahlah saya tak comment lagi untuk comment anda,
    karena perkiraan saya jauh panggang dari api.

  40. abdullah73 mengatakan:

    Assalamu’alaikum Mas Elfasi,

    Terima kasih commentnya.
    Tapi sebelum saya lanjutkan sangat DISAYANGKAN anda tidak membaca comment saya, shg anda menjawab comment saya sbb :
    “sungguh lucu mas, anda membuat gambaran yang sangat tidak sesuai dengan
    permasalahan tawassul hingga anda katakan tawassul dgn org mati haram dan
    syirik Mas, org hidup bs ngasih sesuatu pada anda itu anda krn pemberian dia atau
    pada hakikatx Allah-lah yg memberix melalui perantara org tersebut…???? Klo anda
    katakan org itulah yg member, maka inilah kesyirikan yg sebenarnya (comment mas elfasi)

    Kan sudah saya sebutkan sebelumnya (coba lihat sekali lagi comment saya)
    Tentu sama sekali BUKAN KESYIRIKAN karena kita disuruh untuk
    mencari sebab yang DIPERBOLEHKAN oleh syariat seperti mencari
    rizki, berobat, mencari ilmu dsb ,untuk asalnya diantara kita
    “SUDAH SEPAKAT bahwa itu semua dari ALLAH”.
    Yang tidak kita SEPAKATI adalah CARANYA.

    Bagi SAYA JELAS SEKALI perbedaan antara meminta tolong kepada
    yang masih HIDUP dg yang SUDAH MATI (semoga anda diberi KEJELASAN
    yang sama).
    Kita MEMINTA TOLONG kepada yang MASIH HIDUP karena kita melihat
    bahwa mereka MAMPU untuk melakukannya atas “izin ALlah tentunya”.…
    Coba mas perhatikan lagi kalimat yang saya kasih tanda ” ” , padahal saya sudah kasih huruf besar tapi mas Elfasi kurang memperhatikannya sehingga masih memberi comment
    Seperti di atas (tolong perhatikan lagi jadi tidak berulang-ulang diskusinya) terima kasih.

    Kemudian anda comment :
    “sungguh mnunjukkan bhw anda tidak mengerti sama sekali apa itu tawassul..??? mas,
    kaum Nabi Nuh tuh mnjadikan berhala sbg sesembahan n meyakini bhw berhala itu
    sbg tuhan n bs ngasih manfaat apa tidak ???? apakah sama dgn org tawassul yg tetap
    meyakini tuhannya adalah Allah n yg ngasih manfaat adalah Alla bukan org yg
    ditawassuli…????

    Sebelum saya menjawab pertanyaan anda perlu saya garis bawahi bahwa yang saya tekankan di sini adalah KEYAKINAN anda dan sebagian saudara kita yang meyakini BOLEHNYA berdo’a dengan menyebut nama – nama orang sholih tersebut bukan menyebut nama Allah (yang menurut saya adalah keyakinan yang Membahayakan akidah), bukan orang yang berdo’a kepada Allah tetapi berwasilah kepada orang yang telah meinggal (kalau ini kita diskusikan nanti).

    Baiklah Saya coba jawab pertanyaan anda (semoga Allah memudahkan saya) :
    Mas Elfasi , darimana anda mengetahui bahwa kaum musyrikin Jaman Nabi Nuh dan juga zaman Nabi Muhammad meyakini bahwa berhala-berhala yang mereka SEMBAH SEBAGAI Tuhan?.
    Kalau anda meyakini seperti itu berarti menurut saya anda kurang mengetahui sebab-sebab kenapa kemusyrikan bisa terjadi pada zaman itu.

    Kan Allah azza wa jalla telah memberitahukan kepada kita bahwa mereka TIDAK meyakini berhala-berhala tsb sebagai Tuhan tetapi meyakini yang menciptakan bumi dan seisinya adalah Allah
    Coba Mas Elfasi buka lagi Qur’annya surat Lukman : 25.
    Dan Allah juga mengabarkan kepada kita bahwa mereka menjadikan berhala-berhala mereka sebagai WASILAH SAJA (UNTUK MENDEKATKAN DIRI) kepada Allah .
    Coba mas Elfasi buka lagi Qur’annya Surat Azzumar : 3.

    Jadi kesimpulan anda yang mengatakan bahwa kaum Nabi Nuh meyakini berhala-berhala mereka sebagai Tuhan adalah SALAH berdasarkan Alqur’anul Kariim.

    Baiklah saya akan coba membuat persamaan antara keyakinan seperti dengan keyakinan orang-orang zaman Jahiliyyah dulu ,
    Coba diklarifikasi pernyataan saya jika tidak benar silahkan dibetulkan tapi tolong lengkapi dengan dalil NAQL , sehingga apa yang kita diskusikan bisa diridloi Allah , karena ini menyangkut masalah yang sangat krusial yaitu Akidah kita..
    1. Awalnya Sama-sama GHULUW kepada Orang sholih
    “ Coba mas Elfasi pelajari lagi tentang AWAL MULA kesyirikan pada zaman Nabi
    Nuh (bisa di lihat di tafsir Ibn Katsir dari Ibnu Abbas rodliyallhu anhu ktk
    menafsiri Surat Nuh : 23) juga bisa dilhat di Fathul bari.
    Saya yakin anda sudah mengetahuinya, kalaupun belum mungkin bisa dicari di
    Kitab-kitab tersebut, kalau memang qodarullah belum dapat informasi mengenai
    hal ini InsyaAllah akan saya bawakan lain kali.

    2. Sama-sama menyebut nama orang-orang Sholih tersebut dalam berdo’a
    • dahulu mereka menyebut nama-nama Ya Nasr, Ya Wadd, Ya Laata, Ya Uzza ,Ya manat dll
    • Sekarang sebagian kaum muslimin menyebut nama-nama Orang sholeh Ya syekh baidawi, ya Syekh Abdul Qodir Jailani dll dalam berdo’a (Ya syekh tolonglah kami, mudahkanlah jodoh kami dll)

    3. Sama-sema berkeyakinan walaupun Menyebut nama-nama orang sholeh tersebut
    tetapi tetap meyakini bahwa yang memberi rizki, yang menciptakan mahluk
    HAKEKATNYA sama yaitu Allah
    • Maaf , coba dibuka kembali Qur’an surat Luqman : 25
    “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah : “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

    4. Sama-sama berkeyakinan bahwa menyeru nama-nama orang-orang sholeh tersebut
    dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah
    • Coba Mas Elfasi buka surat sekali lagi Qur’an surat Azzumar : 3
    “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

    Maaf Mas di sini perlu dipahami lagi bahwa saya TIDAK MENGKAFIRKAN anda tetapi hanya membuat persamaan keyakinan anda dengan keyakinan kaum jahiliyyah dulu berdasarkan Dalil Naql.

    Oh ya mengenai jawaban saya tentang masalah Tawasulnya Umar RA sudah saya jawab pada postingan saya sebelumnya untuk saudara Cah Jeporo (silahkan refer ke sana)

    Ya Rob tunjukkanlah kami (khususnya semua pengunjung blog ini ) ke jalan TauhidMu yang Lurus berdasarkan ajaran yang Rosulullah SAW ajarkan dan para sahabat beliau praktekkan.
    Tunjukkanlah kepada kami bahwa yang salah adalah salah dan berilah kemampuan kami untuk menjauhinya.
    Dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar adalah benar dan berilah kekuatan kepada kami untuk mengikutinya.

    Wassalam
    (maaf kalau terlalu panjang)

  41. adem ayem mengatakan:

    @ abdullah73 menulis
    Maaf Mas di sini perlu dipahami lagi bahwa saya TIDAK MENGKAFIRKAN anda tetapi hanya membuat persamaan keyakinan anda dengan keyakinan kaum jahiliyyah dulu berdasarkan Dalil Naql.

    Jawab:
    Alhamdulillah kalo anda “TIDAK MENGKAFIRKAN” (semoga yg laen bisa mengikuti jejak beliau)
    tapi aku penasaran dg PERSAMAAN KEYAKINAN..
    yg anda maksud persamaan keyakinan yg mana..?
    kalo keyakinan kita sama dg kaum jahiliyah bahwa yang memberi rizki, yang menciptakan mahluk HAKEKATNYA sama yaitu Allah (komen anda no 3)

    apa keyakinan sampeyan gak sama?…
    – kalo anda jawab sama.. berarti keyakinan anda pun gak beda dg kaum jahiliyyah..

    – kalo anda punya keyakinan beda.. (wal iyadzu billah) lalu menurut pak dolah sapa donk yg memberi rizki, yang menciptakan mahluk…??

  42. abdullah73 mengatakan:

    Mas Adem ayem,

    Mungkin akan lebih ahsan jika yang MENJAWAB adalah mas Elfasi, karena beliau yang lebih mengerti duduk persoalan.

    Kalau anda TELITI membaca comment saya maka anda akan menemukan jawaban pertanyaan anda.
    Tetapi anda tidak MEMBACANYA (dengan teliti) tetapi langsung memberi comment sehingga pertanyaan yang tidak semestinya dikeluarkan anda keluarkan.
    Semoga anda memahami.

  43. elfasi mengatakan:

    @ Abdullah 73, wa’alaikum salam Wr. Wb.
    Anda katakan :” Kan sudah saya sebutkan sebelumnya (coba lihat sekali lagi comment saya), Tentu sama sekali BUKAN KESYIRIKAN karena kita disuruh untuk mencari sebab yang DIPERBOLEHKAN oleh syariat seperti mencari rizki, berobat, mencari ilmu dsb ,untuk asalnya diantara kita “SUDAH SEPAKAT bahwa itu semua dari ALLAH”.
    Yang tidak kita SEPAKATI adalah CARANYA.
    Mas, anda sudah terpaku dengan persepsi bahwa yg mampu berbuat hanyalah orang yang masih hidup (walaupun dengan menyatakan bahwa semua itu dari Allah) dan bukan orang yang sudah mati. Coba anda jawab: gmana menurut anda meminta pertolongan kpd orang yang hidup dengan keyakinan bahwa org itu bs memberikan manfaat dan pertolongan kpd anda bukan Allah SWT ???
    Sungguh persepsi anda ini benar2 telah menutupi diri anda akan kekuasaan Allah yang bs menjadikan segala sesuatu sebagai wasilah dalam menyampaikan pemberian-Nya. Klo keyakinan anda segala sesuatu dari Allah dan mengakui kekuasaan Allah, maka harusnya anda meyakini juga bahwa benda matipun akan bs memberikan manfaat jika Allah tlah menghendakinya memberikan manfaat……sehingga tidak memandang pada siapa yang dijadikan wasilah, namun keyakinan kita bahwa semuanya adalah semata2 dari Allah dan bukan orang tersebut…….
    Anda katakan :” Kan Allah azza wa jalla telah memberitahukan kepada kita bahwa mereka TIDAK meyakini berhala-berhala tsb sebagai Tuhan tetapi meyakini yang menciptakan bumi dan seisinya adalah Allah. Coba Mas Elfasi buka lagi Qur’annya surat Lukman : 25. Dan Allah juga mengabarkan kepada kita bahwa mereka menjadikan berhala-berhala mereka sebagai WASILAH SAJA (UNTUK MENDEKATKAN DIRI) kepada Allah . Coba mas Elfasi buka lagi Qur’annya Surat Azzumar : 3.
    Jadi kesimpulan anda yang mengatakan bahwa kaum Nabi Nuh meyakini berhala-berhala mereka sebagai Tuhan adalah SALAH berdasarkan Alqur’anul Kariim.
    Mas, klo bawa ayat liat sekalian pendapat ahli tafsir..bukan mentafsiri dengan pemahaman sendiri yang sudah terkontaminasi dengan doktrin guru2 anda…..
    Masalah surat az-Zumar: 3, anda rupanya benar2 kurang memahami betul penafsiran ayat ini, serta anda memberikan terjemah yang telah anda pelintir biar org awam percaya dengan anda…nih ana bawakan ayatnya :
    أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ (3)
    “ingatlah hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang2 yang mengambil pelindung selain Dia (berkata) : kami tidak MENYEMBAH mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kapada Allah dengan sedekat2nya. Sungguh Allah akan memberi putusan diantara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak akan memberi petunjuk kepada pendusta dan orang2 yang sangat inkar “
    Ada dua kesalahan anda pada ayat di atas :
    1. anda telah memelintir makna ayat “وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ “ “dan orang2 yang telah menjadikan pelindung selain Allah berkata “kami tidak MENYEMBAH”, tapi anda artikan dgn “MENJADIKAN WASILAH”. Ini bukti anda memaksakan ayat sesuai dengan persepsi dan doktrin anda sendiri….
    2. ayat diatas adalah untuk org kafir dan pendusta yaitu orang yang disamping menyembah selain Allah tapi juga menyatakan bahwa Allah memiliki anak, sehingga Allah menyatakan pernyataan mereka “hanya untuk mendekatkan diri kpd Allah” hanyalah dusta semata (liat tafsir JALALAIN ). Hal ini dibuktikan dengan ayat selanjutnya :
    لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصْطَفَى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ سُبْحَانَهُ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (4)
    “ seandainya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang telah Dia ciptakan. Maha suci Dia. Dia lah Allah Maha Esa, Maha Perkasa”.
    Sungguh sangat berbeda keadaannya dengan org muslim yang bertawassul dengan org2 sholeh yang telah meninggal karena mereka tidaklah menyembah org sholeh itu, melainkan menjadikan mereka sebatas wasilah saja, selain itu mereka tidak lah pernah sekalipun menisbahkan anak pada Allah……
    Adapun awal mula penyembah berhala dari umat Nabi Nuh, anda perlu untuk membaca kembali sejarah dan tafsir (baca tafsir al-Baghowi, dalam syarh surat Nuh : 23) dijelaskan bahwa pengikut org2 sholeh dari umatx Nabi Nuh mereka buatkan karikaturnya untuk dibuat pembangkit semangat mereka dalam beribadah, dan bukan menyembahnya, namun kurun setelahx, iblis telah menyesatkan mereka hingga mereka mulai menyembah berhala….
    Anda katakan :” Oh ya mengenai jawaban saya tentang masalah Tawasulnya Umar RA sudah saya jawab pada postingan saya sebelumnya untuk saudara Cah Jeporo (silahkan refer ke sana) “
    Mas, dmana jawban anda ttg dalil anda pada postingan anda untuk cah jeporo, tolong anda tampilkan jg untuk ana, biar ana tau persis pengambilan dalil anda sehingga anda bisa menyatakan bahwa syd Umar tidak bertawassl dgn Nabi tp dgn Paman Nabi adalah krn tawassul dgn Nabi adalah haram krn sudah wafat…..?????
    Anda katakan :” Di kitab AlBidayah Wa Nihayah di Bab Khalifah Umar Bin Khottob pasal kedua juga disebutkan tentang kejadian penting salah satunya adalah PACEKLIK / RAMADAH (karena kekeringan yang lama) pada tahun 18 H.
    –> Artinya ini TERJADI SEKALI SAJA pada masa pemerintahan Umar RA.
    Kalau dibuku saya hal 202 ~ 204
    Mas, anda mmbawa kitab al-bidayah wa al-nihayah sbg referensi anda lalu anda menyatkan bahwa paceklik hnya terjadi sekali saja…sekarang bagaiman dgn riwayat Ibn Abi Syaibah yg anda tolak mentah2 padahal hadits itu jg diriwaayatkn oleh pengarang kitab tersebut bahkan beliau ktakan sbg hadits dgn sanad shohih….
    Nih ana bawakan (kitab albidayah wan nihayah juz 7 hal 91
    البداية والنهاية – (7 / 91)
    وقال الحافظ ابو بكر البيهقي اخبرنا ابو نصر بن قتادة وابو بكر الفارسي قالا حدثنا ابو عمر بن مطر حدثنا ابراهيم بن علي الذهلي حدثنا يحيى بن يحيى حدثنا ابو معاوية عن الأعمش عن ابي صالح عن مالك قال اصاب الناس قحط في زمن عمر بن الخطاب فجاء رجل الى قبر النبي ( ص ) فقال يارسول الله استسق الله لامتك فانهم قد هلكوا فأتاه رسول الله ( ص ) في المنام فقال ايت عمر فاقره مني السلام واخبرهم انه مسقون وقل له عليك بالكيس الكيس فاتى الرجل فاخبر عمر فقال يارب ما آلوا الا ما عجزت عنه وهذا اسناد صحيح
    Lalu anda katakan hanya terjadi sekali, padahal ada riwayat berbeda yg jg ditampilkan dalam kitab tersebut, dmana dalam riwayat lain syd Umar berdoa dgn istighfar tanpa tawassul dgn syd Abbas….apakah anda akan menolak jg riwayat ini…..???? ni matan haditsx :
    وقال ابو بكر بن ابي الدنيا في كتاب المطر وفي كتاب مجابي الدعوة حدثنا ابو بكر النيسابوري ثنا عطاء بن مسلم عن العمري عن خوات بن جبير قال خرج عمر يستسقى بهم فصلى ركعتين فقال اللهم انا نستغفرك ونستسقيك فما برح من مكانه حتى مطروا فقدم اعراب فقالوا يا امير المؤمنين بينا نحن في وادينا في ساعة كذا اذ اظلتنا عمامة فسمعنا منها صوتا اتاك الغوث ابا حفص اتاك الغوث ابا حفص

    Sungguh anda menyatakan bahwa hadits Ibn Abi Syaibah adalah hadits dhoif, padahal telah diriwayatkan oleh banyak perowi bahkan dinyatkan shohih dalam kitab albidayah wa – al-nihayahh adalah bentuk keberanian anda mentarjih hadits dengan kapasitas keilmuan hadits spt anda yang sangat minim……inikah yang anda ambil dr al-bani shg dalam menvonis satu hadits sbg hadits dhoif….?????
    Sangat jelas sekali mas, rupanya anda tidak benar membaca kitab itu, tp hnya anda dapatkan dari guru anda atau dr kitab terjemahan aja…..atau and abaca tp hny sepenggal saja tidak secara lengkap smua permasalahannya…
    Mas, sekali lagi analisa anda tentang keharaman tawassul dgn orang mati sungguh menunjukkan bhw anda benar2 telah terdoktrin oleh guru2 anda shg tidak anda hiraukan hadits2 lain yg banyak padahal jika diteliti kembali, tidak ada pertentangan dgn hdits riwayat syd Umar (krn penafsiran anda pd riwayat Umar tidak berdalil)…..anda akan menghilangkan riwayat Ibn Abi Syaibah yg jg diriwayatkn oleh Bukhori dlm ktb tarikhnya juz 7 hal 304, al-Baihaqi dlm ktb Dilalah al- Nubuwwah, Ibn Hajar dlm fathul baari juz 2 hal 495 dan dinyatkan sbg hadits shohih….juga anda akan menghilangkan hadits tawassul Nabi dgn para Nabi sebelumnya yg telah diriwayatkn oleh at-Thabrani, Abu Nu’aim , dll berikut :
    اللهم بحقي وحق الأنبياء من قبلي ، اغفر لأمي بعد امي
    “ya Allah dgn hakku dan hak para Nabi sebelumku, ampunilah ibuku setelah ibuku “
    Mas, harusnya ketika ada riwayat lain yang juga dinyatakan shohih, maka dicarikan IMKANUL JAM’I (kemungkinan untuk mempertemukan maksud keduanya), bukan malah membuang salah satunya seperti yg anda lakukan apa lagi pertentangan yg anda maksudkan adalah dari penafsiran anda sendiri tanpa didasari dg dalil yang jelas…….

  44. kumbara mengatakan:

    @adem ayem
    Kalo sy bc sepertinya sudah sangat jelas ya apa yg dimaksud abdullah 73 dengan “PERSAMAAN KEYAKINAN” yg anda tanyakan itu. Yaitu persamaan orang2 musrikin dengan orang2 yang bertawassul dengan menyebut2 nama selain Allah, (sy kutip dari perkataan abdullah 73) “…bahwa yang saya tekankan di sini adalah KEYAKINAN anda dan sebagian saudara kita yang meyakini BOLEHNYA berdo’a dengan menyebut nama – nama orang sholih tersebut bukan menyebut nama Allah (yang menurut saya adalah keyakinan yang Membahayakan akidah), bukan orang yang berdo’a kepada Allah tetapi berwasilah kepada orang yang telah meinggal (kalau ini kita diskusikan nanti).”

    Selanjutnya abdullah 73 merincinya menjadi 4 point dan itu pun sudah sangat jelas, juga telah disertai dengan dalil Naql, silahkan anda baca lagi.

    Bagi sy jelas sekali kalo abdullah 73 dan insyaAllah sy berbeda keyakinannya dg orang2 musrikin dalam konteks pembicaraan kita yakni: kami insyaAllah tidak akan berdoa/memohon kepada Allah dengan menyebut nama2 orang saleh yang telah meninggal, walaupun dengan maksud sebagai wasilah (bertawassul).

    @cah njeporo
    Tentang analogi tawassul yang anda contohkan, ingatlah “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia…. (QS. Asy-Syura: 11). Jadi jangan sekali-kali kita kepada Allah: menyerupakan (tamtsil = menyebutkan bentuk sifat dikaitkan dengan contoh tertentu) dan membagaimanakan (takyiif = menyebutkan atau menggambarkan bentuk sifat tanpa acuan tertentu).

    @elfasi

    Meminta pertolongan kepada orang yang hidup ataupun berwasilah kepada nya telah jelas tidak ada masalah antara kami dan anda, tentunya dengan keyakinan semua dapat terjadi atas izin Allah. semata-mata karena jelas tidak ada pertentangan dalil naql. tapi berbeda dengan minta tolong atau menjadikan wasilah orang2 yang telah mati walaupun ada keyakinan semua terjadi atas izin Allah juga semata-mata adalah karena dalil-dalil sahih yakni aquran telah menjelaskan bahwa itu termasuk bagian kesyirikan.

    Orang2 musrikin yang Allah sebutkan dalam Alquran yakin benar bahwa Allah lah yang menciptakan alam semesta beserta semua isinya. Kita mengetahui ini karena Alquran telah menjelaskannya pada kita surah Luqman : 25
    “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah : “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

    Walaupun mereka (orang2 musrikin) yakin bahwa Allah yang menciptakan alam semesta beserta semua isinya tetapi mereka tidak menyembah Allah sebagaimana yang Allah perintahkan sebab dalam ibadah mereka ada kesyirikan. Antara lainnya adalah orang beribadah ataupun memohon kepada Allah dengan dengan menyeru/menyebut2 selain Allah (bertawassul dengan menyeru/menyebut nama2 selain Allah dengan maksud agar do’anya lebih mudah/cepat terqobul atau pun agar orang2 yang mereka sebut dapat mendekatkan mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya atau pun agar mendapatkan syafaat). Kita mengetahui ini karena Allah berfirman dalam Alquran :

    Surah Azzumar : 3
    “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

    Lebih jelasnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Saba’: 22-23
    “Katakanlah: Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi. Dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu…”

    Allah Azza wa Jalla telah memutus semua alasan-alasan yang dipegang oleh kaum musyrikin. Seorang musyrik mengambil sesembahan hanyalah karena harapan adanya manfaat. Sedangkan manfaat tersebut tidak akan didapati, kecuali jika sesembahan tersebut memiliki salah satu dari empat kriteria:

    1.Bisa jadi karena sesembahan tersebut dianggap pemilik dari apa yang diinginkan oleh penyembahnya.
    2.Sesembahan tersebut dianggap bersekutu dengan pemiliknya (Allah).
    3.Sesembahan tersebut dianggap sebagai pembantunya.
    4.Sesembahan tersebut dianggap dapat menjadi pembelanya di hadapan sang pemilik.

    Maka Allah meniadakan keempat alasan tersebut dengan peniadaan yang berurutan, berpindah dari yang paling tinggi kepada yang di bawahnya. Pertama, Allah membantah adanya pemilik selain Dia. Kemudian meniadakan adanya sekutu yang bersekutu dengan-Nya. Kemudian meniadakan pula adanya pembantu bagi Allah dan terakhir meniadakan pula syafaat yang diharapkan oleh si musyrik tersebut. Setelah itu Allah menetapkan adanya syafaat, dimana kaum musyrikin tidak akan mendapatkan bagian daripadanya. Yaitu syafaat orang yang diizinkan untuk orang yang diridlai.

    Maka cukup lah hadis Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut menjadi pijakan kita untuk mendapatkan syafaat di hari kiamat nanti.
    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, siapa yang berbahagia karena mendapat syafa’atmu di hari kiamat nanti?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Abu Hurairah, aku merasa tidak ada yang bertanya kepadaku tentang hal ini selain engkau. Yang aku lihat, ini karena semangatmu mempelajari hadits. Yang berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya.” (HR. Bukhari no. 99)

    Teman2 mari kita lebih banyak belajar lagi ilmu agama tapi tentu pilihlah ustadz2 yang akan mengajar kita dan buku2 bacaan kita, sehingga dalam beragama kita akan selamat dunia dan akhirat. Sebagaimana kita sering berdoa “wahai Allah berikanlah kepada ku kebaikan dunia yakni ilmu yang dapat menuntun ku beramal sesuai Quran dan Sunnah menurut pemahaman yang benar, kebaikan akhirat yakni surga dan jauhkanlah aku dari siksa api neraka.”

  45. cah njeporo mengatakan:

    @Abdullah73&kumbara : wa’alaikum salam warahmatullah.

    Ma’af selama beberapa hari ini tidak bisa mengikuti cment krena cmpter yg biasa ana pake lg eror, jadi untuk mas Abdullah hrus sabar mnunggunya.
    Untuk teks asli dikitab albidayah wannihayah yg antum tidak ada hadist tsb, itu sdh d tunujukan olh saudara elfasi jadi g prlu d ulangi lgi. Dan lihat hadisnya juga SOHIH jgn anda buang bgtu saja.

    Ma’af ya, dalam mencotohkan itu tidak harus menyamakan……yg tidak boleh itu menyamakan persis spt Allah…tentunya sifat Allah tidak sama dengan makhluk krn Allah mempunyai sifat MUKHOLAFATUN LILHAWADIST.
    Inti dari tafsir ayat yg anda bawakan tadi stelah ana muthola’ahi: yg tdk d prblehkan adalah menyamakan persis dzatNya, sifatNya atau perbuatanNya, kalau cuman menyamakan sama-sama dermawan apa g boleh??sama-sama menolong pa g blh?? sama-sama murka pa g blh?? tp kedermawaan/pertolongan makhluq tentunya tidak sama dengan kedermawaanya Allah sungguh sangat jauh berbeda.
    Misalnya aja: ada orang yg sdah terkenal dermawan, kemudian ada orang lain meminta sesuatu dr org dermawan tsb, lalu permintaan org tadi dipenuhinya.
    kemudian kita Misalkan kepada Allah: Allah ya spt itu, jika dimintai langsung dikabulkan, kalau kita minta kepadanya pasti permintaan kita akan dikabulkan spt orang dermawaan. Lha… hambanya saja yg d mintai sesuatu langsung dipenuhi apalagi Allah, pasti akan lbih mudah dlm mengabulkannya!! Apa permisalan yg d sandarkan k Allah spt ini ga’ boleh??? Sungguh aneh.

    Diatas sdh d terangkan bahwasanya allah itu menjalakan pertolongan hambanya kadang itu lewat perantara maupun tidak lewat perantara. Ini ada bukti bahwa Allah itu kadang menolong hambanya lewat perantara, sesuai dengan hadist yg sohih: ketika sydina Adam melakukan kesalahan, Beliau berkata, “Wahai Tuhanku! aku meminta kepada-Mu dengan Hak Muhammad ampuni aku”. Kemudian Allah menjawab “Wahai Adam! bagaimana kamu mengetahui tentang Muhammad padahal Aku belum menciptakan-Nya?”. Adam berkata “Wahai Tuhanku! karena ketika Engkau ciptakan aku dengan kekuasaan-Mu dan Kau tiupkan ruh ke dalam diriku, setelah aku mengangkat kepalaku, aku melihat pada tiang Arsy tertulis “Lailaha illallah Muhammad Rasullullah” maka aku pun meyakini, tidaklah Kau sandarkan sebuah nama pada nama-Mu kecuali mahluk yang paling Engkau cintai, maka Allah berkata: benar Wahai Adam dia nabi Muhammad adalah makhluq yg paling aku cintai, jika kamu meminta kepadaku dengan haknya maka aku akan mengampunimu, seandainya bukan karena Muhammad aku tidak menciptakanmu”. (mohon ma’af forsan hadist ini ana ulangi lagi karena ada tambahanya sedikit yg tdk dsbtkn diartikel)perhatikan huruf yg tebal
    Ini adalah bukti bahwa Nabi Adam di ampuni dosanya lewat perantara nabi Muhammad Saw, padahal beliau belum wujud, berarti nabi adam syirik ya???

    Kang mas Abdullah & kumbara: jika tawasul dg yg hidup anda sudah sepakat bahwa itu diperbolehkan!! Ketahuilah nabi Muhammad juga masih hidup sampe skrg, walaupun jasadnya ada dimqom yg mulya, Pada hakekatnya mereka itu tidak meninggal. Kalau anda menyakini mereka sdh meninggal, keyakinan spti ini sdh menyalahi alqur’an dan hadist.

    قال الألباني رحمه الله:
    طالب الحق يكفيه دليل وصاحب الهوى لا يكفيه ألف دليل
    Berkata syekh albani rahimahullah:
    Orang yg mencari kebenaran cukup satu dalil, dan orang yg mempunyai hawa nafsu tidak mencukupi seribu dalil

    ma’af jika ada kesalahan.

  46. kumbara mengatakan:

    Alhamdulillah anda dan kami ada pemahaman yang sama tentang tawassul yang diperbolehkan yakni kepada orang yang hidup. Untuk memperjelas bahwa yang dimaksud bolehnya berwasillah kepada orang yang hidup adalah berwasilah dengan do’a nya. Semisal kita minta di doakan agar menjadi orang yang bertaqwa, agar didoakan mendapat rejeki yang berkah dan permintaan lain yang tidak terlarang oleh syariat. Tetapi jika kita meminta kepada Allah dengan mengatakan dengan nama Fulan… walaupun dia orang yang masih hidup ditempat lain, perbuatan ini bukanlah tawassul yang diperbolehkan. InsyaAllah ini lah pemahaman yang benar sebagaimana kami memahamkannya dari ulama2 yang mukhlisin.

    @cah njeporo
    Sebagaimana perkataan Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafii:
    “Aku beriman kepada Allah dan kepada semua perkara yang berasal dari Allah sesuai dengan apa yang Allah maksudkan. Dan juga aku beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dan kepada semua yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam sesuai dengan yang beliau maksudkan.”

    Maka kita mengatakan sama dgn yg Ia firmankan. Mensifati-Nya dg sifat yang ia berikan untuk Diri-Nya tidak menambahnya/mengurangi atau bahkan menolaknya. Tidaklah ia bisa disifati dgn sifat yang diberikan oleh mahkluk. Kita tidak boleh melampaui Al-Quran dan hadis dalam memberikan permisalan sifat kepada Allah.
    Ketika anda memberikan contoh untuk mensifati, menggambarkan atau menyerupakan Allah dengan sifat2 yg ada pada mahkluk dan itu tidak berasal dari quran dan hadist maka kemungkinan diri anda :
    1.Menganggap alquran belum sempurna  hal ini bisa berarti pengingkaran anda kepada Allah yang berarti kekufuran
    2.Menganggap lebih paham agama ketimbang Rosulullah  hal ini juga bisa berarti kekufuran
    Mudah2an pemahaman anda bisa berubah setelah apa yang disampaikan ini.

  47. kumbara mengatakan:

    @cah njeporo
    Mengenai hadis yang anda katakan sohih (tentang nabi Adam memohon ampunan kepada Allah dgn bertawassul kepada nabi Muhammad) sesungguhnya masih dipertentangkan kesohihannya. Dari keterangan2 yang ada pada saya memang ada beberapa ulama memasukkan hadis ini dalam karya-karya mereka. Mereka adalah Ibn al-Jauzi, al-Baihaqi, al-Hakim, al-Subki, dan Abu Nu’aim. Akan tetapi semua ulama ini mengetahui/mengakui adanya kelemahan dalam sanadnya yakni kelemahan seorang perawinya yang bernama Abdurrahman ibn Zaid.
    Sedangkan ibn Hibban mengatakan Abdurrahman ibn Zaid adalah seorang pemalsu hadis (Lisan al-Mizan Juz III hal. 360 dan 442).

    Hadits tsb diriwayatkan melalui banyak sanad, tetapi tidak luput juga dari adanya cela atas perawi didalamnya.
    Pakar hadist seperti adz-Dzahabi dan al-Asqalani mengatakan hadis ini batil sedangkan Ibn Hibban mengatakan sanad hadits tsb terdapat nama Abdulloh bin Muslim bin Rasyad. Dia tertuduh sebagai pemalsu hadits, sebab ia pernah terbukti memalsu hadits dari Laits, Malik, dan Ibn Luhay’ah”.

    Kalau anda berkata : bukankah kalau sebuah hadits diriwayatkan dengan banyak jalan, meskipun semuanya lemah, tapi karena banyak jalan maka hadits tersebut menjadi kuat dan boleh dijadikan sebagai hujjah?

    Jawab : Kaedah terangkatnya sebuah sanad lemah karena dikuatkan oleh jalan lainnya tidak boleh diterapkan secara mutlak.

    Al Hafidz Ibnu Katsir berkata :
    “Datangnya sebuah hadits dari banyak jalan tidak berkonsekwensi mesti menjadi hasan, karena kelemahan sebuah hadits ini bertingkat-tingkat, ada yang tidak bisa dihilangkan kelemahannya dengan mutabaah (adanya jalan lain) seperti riwayatnya para pendusta dan orang yang ditinggalkan haditsnya.”(Lihat Ikhtishor ulumil Hadits hlm:23)

    Syaikh Al Albani berkata :
    “Merupakan sesuatu yang masyhur dikalangan para ulama’ bahwa sebuah hadits apabila diriwayatkan dari banyak jalan, maka hadits tersebut menjadi kuat dan boleh dijadikan sebagai hujjah, meskipun satu persatu dari jalan tersebut lemah. Namun kaedah ini tidak berlaku secara mutlak, tapi hal ini hanya khusus bagi hadits yang sisi kelemahanya adalah kelemahan hafalan hafalan rowi, bukan karena tertuduh dalam kejujuran dan agamanya. Jika demikian maka hadits tersebut tidak bisa menjadi kuat meskipun diriwayatkan dari banyak jalan.”(Lihat Tamamul Minnah hlm:31)

  48. kumbara mengatakan:

    @cah njeporo

    Selanjutnya anda mengatakan: “….Ketahuilah nabi Muhammad juga masih hidup sampe skrg, walaupun jasadnya ada dimqom yg mulya, Pada hakekatnya mereka itu tidak meninggal. Kalau anda menyakini mereka sdh meninggal, keyakinan spti ini sdh menyalahi alqur’an dan hadist.”

    QS Albaqarah:154. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.

    Maksud kata “mereka itu hidup” ialah hidup di dalam alam yang lain (barzah) yang bukan alam kita ini. Sebagaimana dijelaskan di ayat lain: QS Almukminuun:99-100
    “….hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah Aku (ke dunia). Agar Aku berbuat amal yang saleh terhadap yang Telah Aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding (barzah) sampai hari mereka dibangkitkan.”

    Kematian seorang soleh dengan seorang kafir adalah sama2 menempati alam barzah sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan merekapun akan mati (pula).” (Az Zumar: 30).

    Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka Jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? (Al Ambiyaa’: 34)

    Silahkan tunjukkan bahwa adanya 1 saja ayat dari alquran yang jelas mengatakan bahwa kita orang hidup dapat mengambil manfaat dari orang yang mati, semisal syafaat, berkah dan lain2 walaupun yang mati adalah seorang Nabi.

    Saya sengaja tidak meminta hadis karena saya khawatir anda akan menyampaikan hadis dhaif lagi. Mohon maaf sebelumnya karena sy melihat kebanyakan hadis yg anda dan forsan salaf cs pakai ternyata tidak semua ulama ataupun pakar hadis mensepakati kesahihannya.

  49. muhibbin mengatakan:

    @ abdullah73, mas, sebenarx ana dah males jg ngomentari anda yg udah jadi kebiasaan org wahhabi memaksakan dalil sesuai doktrin anda sendiri dan didasari fanatik buta…
    Mas, klo anda bkan hanya fanatik buta tp anda nih udah buta malah ngikutin orang buta pula shgg bukan cma jauh dari panggang tp justru tangan anda yang anda panggang…
    Orang2 ahlussunnah gk komentar tuh bukan krn mereka gk bisa jawab tp krn males ma org wahhabi spt anda krn ujung2x pasti ngandalin kefanatikannya n doktrin guru hingga gk mau nerima paparan org lain walaupun para ulama’ dalam kitab2 sekalipun….

  50. elfasi mengatakan:

    @ kumbara, mas, dari mana sama pemahaman anda dengan kami…..anda cuma memahami bahwa tawassul adalah dgn meminta doa saja shgg hanya berlaku pada org yang masih hidup dan haram bahkan bs syirik jk pada org mati atau pada benda mati..bukankah begitu..???
    Klo anda minta dalil dlm alqur’an, liat aja dalam artikel..jangankan dgn orang yang sudah meniggal, dengan benda mati pun disebutkan bagaimana bertawassul dgn tabut..padahal benda mati jelas sekali tidak akan bisa memintakan doa……
    Sekarang ana tanya, mana dalil anda dalam al-Qur’an ttg keharaman tawassul dgn org mati…?? Klo hadits anda tidak mau mengakui hadits riwayat Ibn Abi Syaibah tentang tawassulx shabat dgn Nabi padahal Nabi sudah wafat dan Thabrani tentang tawassulnya Nabi dgn para Nabi2 sebelum beliau yg sudah meninggal…padahal tidak sedikit yang dari ahlu hadis spt Ibn Hajar al-sqolani yg menyatakan sbg hadits shohih lalu anda ingin membuang begitu saja….???
    Ms, kita bertawassul dgn para wali yang sudah meninggal tuh bukan karena meyakini mrk hakikatnya bs memberikan manfaat, tapi kami bertawassul dari amal shoeh dan kedudukan mereka disisi Allah….dgn tetap meyakini bahwa semata2 Allah-lah yang memberikan segalanya…tidak seperti anda, yg dengan tanpa meneliti terlebih dahulu dan tanpa dasar lalu dengan seenaknya mengkafirkan org yang masih mengakui Allah sbg tuhannya dan tiada yang bisa memberikan sesuatu kecuali atas izin Allah…????

  51. muhibbin mengatakan:

    @ elfasi, memang begitulah mas watak org wahhabi dari dulu yg selalu fanatik buta dengan syekh mrk saja…kefanatikan ini yg sampai membuat mereka buta dengan kebesaran para ulama’ hingga yg ada dimata mereka adalah ulama’ mrk spt albani….
    mereka akan menyatakan bid’ah jika tidak sepaham dgn syekh mereka sekalipun para sahabat bahkan Rasulullah-pun akan mereka katakan berbuat bid’ah…Kitab hadits paling shohih dikalangan mereka adalah hadits yg dinyatakan shohih oleh albani, bukan shohih Bukhori-Muslim, Abu Daud, Ibn Majah, Ahmad, dll…Hadits akan mereka anggap dhoif bahkan syadz jika telah didhoifkan oleh albani walupun diriwayatkan dan dinyatakan shohih oleh Bukhori-Muslim bahkan diakui keshohihannya oleh para ahli hadits dalam bberapa kurun lamax…
    Mangkanya sudah sangat malas sekali diskusi dengan mereka yang telah mengalami kebutaan mata hati mereka setelah menerima doktrin guru2 mereka..

  52. cah njeporo mengatakan:

    @kumbara:

    Maksud kata “mereka itu hidup” ialah hidup di dalam alam yang lain (barzah) yang bukan alam kita ini.

    Mas,..ini ada pendapat dari ulama’ besarnya wahaby yg menganggap nabi itu juga masih hidup. Gimana menurut pendapat anda???(monggo…!!)

    قال ابن تيمية في كتابه اقتضاء الصراط المستقيم ص 373 ما نصه : ما يروى من ان قوما سمعوا رد السلام من قبر النبي أو قبور غيره من الصالحين وان سعيد بن المسيب كان يسمع الأذان من القبر ليالي الحرة ونحو ذلك فهذا كله حق

    Berkata syekh imam ibnu taymiyah d dlm kitabnya iqtidhoas shirotol mustaqim 373 : sesungguhnya ada seorang kaum mendengar jawaban salam dari maqomnya nabi atau kuburnya orang sholeh, dan sa’id bin musayyib mendengar juga adzan dari mqomnya nabi dimalam harroh atau semisalnya INI ADALAH BENAR.
    Kalau memang hakikatnya nabi wafat, bagaimana nabi bisa adzan didalam maqomnya dan menjawab salam kpd org yg memberikan salam????

    coba sebutkan satu aja didalam alqur’an yang mengharamkan tawasul…..!!!!
    Kelihatanya anda ini, lebih fanatik ke imam2 anda, sehingga hampir semua hadist yg brtentgan dg anggapan mereka dikatakan dho’if, padahal ulama’-ulama’ besar yang mempunyai kapasitas ilmu yg sangat tinggi dan luas menganggap sohih.

    Beliau imam ibnu taymiyah juga pernah ditanya tentang tawasul dengan nabi saw: intinya beliau mnjawab “itu dianjurkan dengan kesepakatan para muslimin” (fatawa kubro 1/140)

    Mas,,ana juga memang sengaja tidak membawakan dalil dari hadist soalnya pasti akan anda dho’ifkan lagi….itu aja dari imam anda sdh ckup sbgai bukti bahwa d perblehkanya tawasul.

  53. kumbara mengatakan:

    @cah njeporo
    Imam Syafii berpesan bahwa “hadis yang shohih adalah mazhab ku”. Begitu juga adanya pengertian dari pernyataan semua ulama bahwa jika ada pendapat mereka yang bertentangan dengan hadis, maka mereka berpesan agar ditinggalkan pendapat mereka. Dan Imam Malik menyatakan “Siapa saja bisa diterima dan di tolak pendapatnya kecuali si empunya kubur ini (yakni Rosulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam).”

    Tulisan anda: Berkata syekh imam ibnu taymiyah d dlm kitabnya iqtidhoas shirotol mustaqim 373 : sesungguhnya ada seorang kaum mendengar jawaban salam dari maqomnya nabi atau kuburnya orang sholeh, dan sa’id bin musayyib mendengar juga adzan dari mqomnya nabi dimalam harroh atau semisalnya INI ADALAH BENAR.
    Kalau memang hakikatnya nabi wafat, bagaimana nabi bisa adzan didalam maqomnya dan menjawab salam kpd org yg memberikan salam????

    Maaf sy rasa tidak perlu dikomentari suatu riwayat/kisah yang tidak terpercaya dan aneh, apalagi telah jelas bertentangan dengan banyak dalil nqal yang shahih, bahkan juga akal.

    Tulisan anda:
    Beliau imam ibnu taymiyah juga pernah ditanya tentang tawasul dengan nabi saw: intinya beliau mnjawab “itu dianjurkan dengan kesepakatan para muslimin” (fatawa kubro 1/140)

    Tulisan tersebut maknanya menggantung, artinya bisa:
    1.anda bersalawat kepada Nabi saw seperti perkataan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad….” maka itu memang cara tawassul kepada Nabi sesuai tuntunan quran dan sunnah.
    2.jika anda maksudkan cara bertawassul dengan Nabi saw adalah dengan menyandingkan nama Allah dan nama Nabi (makhluk) dengan maksud penyebutan nama Nabi selain Allah supaya doa diterima oleh Allah. Maka ini yang terlarang.

    Dan siapapun orangnya jika membolehkan tawassul kepada orang mati atau makhluk atau benda mati maka dikatakan dia tergelincir dalam kesalahan dan kita menolak pendapatnya tersebut. Artinya kami memilih/melihat perkataan (pendapat) orang, bukan karena melihat orangnya. Dan yang kami pilih pendapat yang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits shahih.

    Gampangnya begini: dalam hal bertawassul maka pendapat yang kami pengang adalah pendapatnya Al Hafidz Ibnu Katsir seperti yang akan disampaikan dibawah (insyaAllah), tentu karena tidak bertentangan dgn Al-Quran dan Hadits shahih.

  54. kumbara mengatakan:

    @elfasi
    Mas ini yang anda minta:
    QS Al-Ma’idah: 35
    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

    Kata anda: “Klo anda minta dalil dlm alqur’an, liat aja dalam artikel..”

    Mudah2an yang nulis artikel itu bukan guru2 anda. Terlihat sekali keinginan hendak memelintirkan makna ataupun hendak berbohong. Ini sy bawakan tafsir ayat tersebut (QS Al-Ma’idah: 35). Agar semua pembaca bisa membuktikan sendiri silahkan lihat buku “Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir” pada jilid 2 penjelasan ayat ke 35 surah Al-Ma’idah. Sungguh bukan saya, kami atau orang2 yang awam yang berkata ini (sy kutip perkataan Ibnu Katsir):

    “Jika mereka (ahli tawassul) hendak membuktikan dengan hadis maka mereka hanya membuktikan dengan hadis-hadis yang lemah, maudhu, bohong, batil dan yang tidak berdasar sama sekali.”

    “Saya tidak tahu apakah hal itu dilakukan karena tahu atau tidak tahu. Jika karena tidak tahu, maka hal itu merupakan musibah. Dan jika karena tahu maka musibah itu lebih hebat lagi”.

    Berikut ini ringkasannya:
    Dalam tafsir Ibnu Katsir penjelasan ayat ini (QS Al-Ma’idah: 35) sangat panjang dan sy ringkas insyaAllah tidak akan merubah maknanya:
    Sesudah perintah Taqwa Allah berfirman “carilah jalan (wasilah) kepada Nya”, Ibnu Abbas berkata, “maksudnya kedekatan”. Menurut Qatadah, “Berarti bertaqarrub kepada-Nya dengan mentaati dan mengamalkan perbuatan yang diridhai-Nya.”

    Kemudian Ibnu Katsir menjelaskan lg bahwa mereka (sebagian) kaum Khalaf telah menyimpang dari kaum Salaf. Mereka tidak menempuh jalan kaum salafus saleh, tidak bersandar kepada sandaran syara’ apa pun, dan tidak mengandung topangan yang bersumber dari Al-Kitab yang mulia dan Sunnah yang sahih. Jika mereka hendak membuktikan dengan hadis maka mereka hanya membuktikan dengan hadis-hadis yang lemah, maudhu, bohong, batil dan yang tidak berdasar sama sekali.

    Bahkan Ibnu Katsir dengan heran mengatakan “Saya tidak tahu apakah hal itu dilakukan karena tahu atau tidak tahu. Jika karena tidak tahu, maka hal itu merupakan musibah. Dan jika karena tahu maka musibah itu lebih hebat lagi”.
    Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan pembagian tawassul yang boleh dan tidak boleh.

    Beliau (Ibnu Katsir) merinci tawasul yang boleh ada 3:
    1.Tawassul dengan zat Allah, sifat-sifat Nya yang agung dan dengan Asma’ul Husna.
    2.Tawassul kepada Allah dengan amal saleh orang yang bertawassul.
    3.Tawassul dengan doa sesama muslimin.
    Beliau menjelaskan inilah tawassul yang dilakukan oleh nabi Muhammad saw., para sahabatnya, para pelaku masa yang terpilih dan setiap orang yang mengikuti jalan mereka hingga hari kiamat.

    Sedangkan tawassul yang dilarang dijelaskan oleh Ibnu Katsir ialah tawassul yang tidak disyariatkan oleh Allah Ta’ala, tidak disampaikan oleh Rosul-Nya, dan tidak dikenal sebagai perbuatan sahabat, seperti tawassul melalui makhluk, baik dengan maksud meminta kepada Allah melalui mereka, atau menjadikan mereka sebagai perantara antara Allah dan makhluknya supaya doa diterima, atau menjadikan mereka sebagai orang yang dekat kepada Allah sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dan meminta petunjuk kepada Allah bagi kepentingannya.

    Dan masih panjang lagi penjelasan oleh Ibnu Katsir. Silahkan merujuk ke buku tafsir nya langsung jika ingin…

  55. elfasi mengatakan:

    @ kumbara,
    Anda katakan :” Berikut ini ringkasannya:
    Dalam tafsir Ibnu Katsir penjelasan ayat ini (QS Al-Ma’idah: 35) sangat panjang dan sy ringkas insyaAllah tidak akan merubah maknanya:
    Sesudah perintah Taqwa Allah berfirman “carilah jalan (wasilah) kepada Nya”, Ibnu Abbas berkata, “maksudnya kedekatan”. Menurut Qatadah, “Berarti bertaqarrub kepada-Nya dengan mentaati dan mengamalkan perbuatan yang diridhai-Nya.”
    Kemudian Ibnu Katsir menjelaskan lg bahwa mereka (sebagian) kaum Khalaf telah menyimpang dari kaum Salaf. Mereka tidak menempuh jalan kaum salafus saleh, tidak bersandar kepada sandaran syara’ apa pun, dan tidak mengandung topangan yang bersumber dari Al-Kitab yang mulia dan Sunnah yang sahih. Jika mereka hendak membuktikan dengan hadis maka mereka hanya membuktikan dengan hadis-hadis yang lemah, maudhu, bohong, batil dan yang tidak berdasar sama sekali.
    Bahkan Ibnu Katsir dengan heran mengatakan “Saya tidak tahu apakah hal itu dilakukan karena tahu atau tidak tahu. Jika karena tidak tahu, maka hal itu merupakan musibah. Dan jika karena tahu maka musibah itu lebih hebat lagi”
    .

    Mas, dmn ada nash spt yg anda utarakan itu..keliatan sekali anda tidak mmbaca tafsir Ibn Katsir atau hanya mmbaca terjemahan yg udh sarat dengan bnyak perubahan penyimpangan makna atau bhkan tidak membaca sama sekali tp hnya mendengar doktrin guru anda saja……..
    Yang ada hanyalah beliau menampilkan penafsiran dr Ibn Abbas dan Qotadah ttg makna dari “WASILAH” dlm ayat yaitu “bertaqarrub kpd Allah dgn taat dan berbuat dgn apa yg membuat Allah ridho “, kemudian beliau tidak membahas lg tawassul tp menampilkan hadits2 ttg makna lain dr wasilah yaitu derajat tertinggi di surga yg dikhususkan hnya untuk Rasulullah SAW…..
    Sebagai buktix biar semua pengnjung tau, saya tampilkan jg scan kitab aslix….klik [1] dan [2] ..

    nih sekarang ana mau bawakan yg dikatakan oleh Ibn Katsir dalam tafsirx di surat an-Nisa’ ayat 64 bagaimana beliau menyatakan tawassul kepada Nabi padahal Nabi sudah wafat…:
    وقوله: { وَلَوْ أَنْهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } يرشد تعالى العصاة والمذنبين إذا وقع منهم الخطأ والعصيان أن يأتوا إلى الرسول صلى الله عليه وسلم فيستغفروا الله عنده، ويسألوه أن يستغفر لهم، فإنهم إذا فعلوا ذلك تاب الله عليهم ورحمهم وغفر لهم، ولهذا قال: { لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا }
    “ dan jika mereka berbuat dholim pada diri mereka, maka mereka akan mendatangimu (wahai Muhammad) dan meminta ampunan kepada Allah dan Rasulullah memintakan ampunan bagi mereka, maka mereka akan mendapati Allah Maha penerima taubat dan Maha penyayang “
    Lalu imam Ibn Katsir menyatakan :” Allah memberi petunjuk bagi org2 yg bermaksiat dan berbuat dosa untuk mendatangi Rasulullah SAW dan meminta ampunan kpd Allah disisi Nabi dan meminta kpd Nabi untuk memintakan ampunan kpdnya krn sesungguhnya mrk jk melakukan yg demikian, maka allah akan menerima taubatnya, merahmatinya dan mngampuninya. Kemudian beliau menampilkan sebuah kisah untuk memperkuat penafsiran beliau ini sbagaimana yg diriwayatkan oleh Al-Utbi dimana ketika beliau duduk disamping kubur Nabi, datanglah seorang a’robi dan berkata :
    السلام عليك يا رسول الله، سمعت الله يقول: { وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } وقد جئتك مستغفرا لذنبي مستشفعا بك إلى ربي
    “ mudah2an keselamatan tercurahkan selalu atasmu wahai Rasulullah. Aku mendengar bhw Allah telah berfirman :” dan jika mereka berbuat dholim pada diri mereka, maka mereka akan mendatangimu (wahai Muhammad) dan meminta ampunan kepada Allah dan Rasulullah memintakan ampunan bagi mereka, maka mereka akan mendapati Allah Maha penerima taubat dan Maha penyayang “.
    Maka benar2 aku datang kepadamu memohon ampunan atas dosa2ku dan meminta syafaat kpd Tuhanku dgn perantaramu…” lalu a’robi pun mengucapkan beberapa bait syair pujian kpd Nabi dan beranjak dari kubur Nabi. Tidak lama setelah melihat kejadian itu, al-Utbi tertidur dan beliau meliat dalam tidurnya Rasulullah SAW berkata :” wahai Utbi, ikuti A‘robi itu dan beri kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosa2nya..”
    Sebagai buktinya, ana tampilkan scan kitab aslinya…klik [3] dan [4]
    Inilah yg diriwayatkan oleh Ibn Katsir yg anda jadikan hujjah akan keharaman tawassul padahal beliau justru meriwayatkan tawassul dgn Nabi yg sudah wafat…., sekarang bagaimana apakah anda masih akan mengikuti Ibn Katsir ataukah menghujatnya krn telah menghalalkan tawassul dgn org mati…????
    @ All pengunjung, lihatlah bagaimana org2 wahhabi begitu berani menampilkan pendapt dan doktrin mereka sendiri lalu mereka menisbahkannya kpd para ulama2 besar..ini suatu pembohongan besar dalam agama hnya untuk memuluskan jalan mrk menyebarkan doktrinnya…
    Oleh karena itu, jika anda mendapati mereka membawakan dalil dari satu kitab atau perkataan ulama’, maka janganlah menerima lalu menelannya dengan mentah2, tp buktikan terlebih dahulu dalam kitab aslinya yg belum mengalami perubahan oleh org2 spt mereka krn mereka bs menghalalkan segala cara demi menyebarkan doktrin mrk mengkafirkan dan menbid’ahkan org yg gak sepaham dgn mereka…..
    Sekarang kita tunggu aja, bagaimana jawaban dr saudara Kumbara dgn pernyataan dr Ibn Katsir ygn justru bertolak belakang dengan yg ia tampilkan krn hnya mengambil dari buku terjemahan yg sudah terkontaminasi dgn tipudaya dan sarat akan perubahan yg mrk lakukan agar sesuai dgn pemahaman mrk dan bukanlah mengikuti pemahaman ulama’……

  56. muhibbin mengatakan:

    waduhhh hebat jg ya org2 wahhabi ampe berani ngerubah perkataan ulama’ dan menipu umat dgn doktrinnya lalu menisbahkannya kpd para ulama’ demi lancarnya penyebaran doktrinasix mrk……waduuhhhh jd ngeri keliatannya..kayak org2 Yahudi ama Nashrani aje..hanya saja mrk merubah (mentahrif) kalam Allah Taurat dan Injil tp klo wahhabi merubah kalam ulama’ ahli tafsir..tp ttp jg walaupun bkn kalam Allah akibatnya akan merubah pemahaman orang ttg al-Qur’an…
    @ elfasi, terima kasih banget antum mau membuka kedok kejelekan n pembohongna mrk spt ini…mudah2an org2 awam tidak lagi tertipu dengan muslihat mrk…

  57. abdurahman88 mengatakan:

    berkata pengarang kitab chulashatul wafa bahwasnya tawassul dan tasyaffu dg nabi muhamad dan dg djahnya dan dg berkahnya adalah sunnah rosul dan amalan ulama2 salaf dan jg ulam2 kholaf.menurut saya beliu lebih pintar dan mengerti dari kita bagi saya sudah cukup,

  58. abdurahman88 mengatakan:

    mas kumbara bilang bahwa ahli tawassul mengambil hadis dari hadis dhoif,maudhu,bohong, lemah dsbgnya saya tidak perlu ngutip bunyi hadisnya anda buka saja sendiri kitabnya fathulbari juz 3 hal 150 HR IMAM BUCHORI buka sendiri pahami jangan sepotong2.maaf saya bukan ustad dan saya orang gaptek supaya saudara jangan asal ngomong bahwa kami bertawassul tanpa rujukan dr hadis soheh.

  59. elfasi mengatakan:

    @ Mas kumbara, apakah ketika sudah terbongkar kedok anda telah memalsukan perkataan Ibn Katsir lalu anda tidak muncul lagi…???? Mana pertanggung jawaban anda ???
    apakah anda sekarang beranggapan bahwa Ibn Katsir yang dulu anda pakai pendapatnya sebagai hujjah sekarang sudah menjadi ahli bid’ah dan syirik..????
    @ mas kumbara & Abdullah 73, kenapa anda berdua tidak bisa dengan tegas mengakui kesalahan anda bahkan pemalsuan mas kumbara terhadap perkataan Ibn Katsir setegas anda semua membid’ahkan bahkan mengakafirkan orang yang gak sepaham dengan anda…???? Apakah anda penegak tauhid ataukah anda menyebarkan pemusyrikan terhadap orang2 islam ???
    @ all pengunjung, pernahkah anda mendaptkan orang wahhabi yang jika terbukti kesalahannya mengakuinya ?? ini adalah bukti bahwa mereka orang yang terdoktrin untuk memusuhi orang2 islam yang tidak sepaham dengan mereka, bahkan mengkafirkan mereka.

  60. El_Muhibbin mengatakan:

    Gini saja saudara atau saudari ana sesama aswaja,mungkin orang wahaby akan mengatakan ini dan begitulah,apalah dan itulah tentang apa apa yang dibawakan oleh Ibnu Katsir dikitabnya ibnu katsir itu.Tetapi ana akan bawakan langsung kitab rujukannya dedengkotnya wahaby yang selama ini mereka gembar-gemborkan sebagai syeikhul islam itu. Ana akan membawakan kitab rujukannya dibawah ini di forum ini,selamat menyimak saudara-saudari semsa aswaja dan juga wahaby tapi jangan sesudah baca yang ana bawakan daripada kitabnya yang anda katakan dia itu syeikhul islam itu anda jangan kayak orang kebakaran jenggot ya…!!!!

    Selamat menyimak :

    Dari al Mujassim Ibn Taimiyah (w 728 H); imam terkemuka kaum Wahabi, menulis buku berjudul “al Kalim ath Thayyib”. Lihat, ia menamakan karyanya tersebut dengan “al Kalim ath Thayyib”; artinya “KATA-KATA YANG BAIK”. Dalam buku itu, cet. Dar al Kutub al Ilmiyyah Bairut Lebanon, t. 1417, h. 123, Ibn Taimiyah menuliskan riwayat sebagai berikut:

    “Dari al Haitsam ibn Hanasy, berkata: “Dahulu, ketika kami duduk di majelis sahabat Abdullah ibn Umar ibn al-Khath-thab (semoga ridla Allah selalu tercurah baginya), tiba-tiba kaki beliau terkena “kahdir”; yaitu semacam lumpuh tapi sesaat (tidak permanen), lalu ada seseorang berkata kepadanya: “Sebutkanlah orang yang paling engkau cintai?? Maka sahabat Abdullah ibn Umar berkata: “Yaa Muhammad….”. Kemudian saat itu pula beliau langsung sembuh dari sakitnya tersebut; seakan ia telah terlepas dari ikatan”.

    Perhatikan, Ibn Taimiyah meriwayatkan hadits tersebut dalam karyanya, lalu ia menamakan karyanya tersebut dengan judul “al Kalim ath Thayyib”; dengan demikian artinya ia menganggap kata-kata “yaa Muhammad…” sebagai kata-kata yang baik. Padahal saat itu Rasulullah telah lama meninggal, dan Abdullah ibn Umar memanggil (nida’) nama Rasulullah yang jelas-jelas tidak hadir (berada) di hadapannya. Kata “Yaa Muhammad…” adalah istighatasah atau tawassul; sahabat Abdullah ibn Umar meminta kepada Allah dengan menjadikan Rasulullah sebagai wasilahnya.

    Kaum Wahabi mengatakan bahwa istighatsah atau tawassul dengan memanggil nama seorang yang telah meninggal adalah perbuatan syirik dan kufur. Kita katakan kepada orang-orang Wahabi; “Apakah kalian akan mengatakan bahwa sahabat Abdullah ibn Umar telah musyrik karena telah mengatakan “Yaa Muhammad…”????? ataukah kalian akan melepaskan keyakinan sesat kalian???? kalau kalian tidak melepaskan keyakinan sesat tersebut maka berarti kalian telah mengkafirkan sahabat Abdullah ibn Umar.

    Kaum Wahhabi.. kalian menamakan Ibn Taimiyah sebagai “Syaikh al-Islam” karena dia Imam “tanpa tanding” bagi kalian. Dia menyebut kata “yaa Muhammad…” sebagai kata-kata yang baik, sementara kalian menamakan itu sebagai kekufuran!!! artinya, seharusnya kalian menamakan IbnTaimiyah bukan “Syaikh al-Islam”, tetapi”Syaikh al-Kufr” sesuai dasar aqidah kalian tersebut.

    Ini adalah BUKTI NYATA bahwa ajaran Wahabi adalah ajaran aneh

    Hadits tentang sahabat Abdullah ibn Umar di atas juga telah dikutip oleh al Imam al Bukhari dalam kitab al Adab al Mufrad.

    Kita katakan kepada orang-orang Wahabi: “Apakah kalian akan mengkafirkan Imam al Bukhari?????”, ataukah kalian akan melepaskan ajaran sesat kalian???? bila kalian tetap menganggap kata “yaa Muhammad” sebagai kekufuran dan syirik; maka berarti kalian telah mengkafirkan Imam al Bukhari, dan berarti juga kalian telah mengkafirkan setiap para ahli hadits dan para ulama terkemuka yang telah meriwayatkan hadits tersebut; termasuk sahabat Abdullah ibn Umar di atas. Na’udzu Billah…..

    Semoga kita dihindarkan oleh Allah S.W.T dari ajaran sesat Wahabi, Amiin

    Semoga yang ana bawakan ini mermanfaat bagi sadara dan saudari sesama aswaja diforum ini, dan bagi yang pengen print kitabnya al-mujassim ibn taimiyah yang ana bawakan ini silahkan alias monggo g usah ijin langsung aja print dan cetak yang banyak untuk disebarin kepada keluarga,tetangga kerabat dan sahabat-sahabat kita supaya terjauh daripada virus yang paling ganas daripada virus hiv aids yaitu virus wahaby

    Allahu Akbar …
    Allahu Akbar …
    Allahu Akbar …

    Allahumma Sholli ala muhammad wa ala alihi wasahbihi ajma’in , amiin

  61. abdullah73 mengatakan:

    Assalamu’alaikum,

    Maaf baru muncul karena ada kesibukan kerja dan di rumah.

    Mas Elfasi dan yang lain sebelumnya saya ungkapkan bahwa dalam diskusi sebelumnya saya tidak pernah mengkafirkan anda (bisa dilihat di comment2 saya sebelumnya).
    Dan Alhamdulillah saya tidak terdoktrin oleh siapa-siapa seperti yang antum katakana, saya hanya senantiasa berdo’a kepada Allah untuk ditunjukkan jalan Tauhid yang LURUS dan Hanif.

    Sebelumnya juga saya informasikan bahwa tujuan saya untuk berdiskusi ini adalah untuk mencari KEBENARAN bukan pembenaran.

    Jadi kalau memang kebenaran ada di pihak anda semoga Allah memberi saya hidayah taufik untuk mengikutinya.
    Dan jika memang nanti kebenaran ada pada pihak yang berseberangan dengan anda semoga saya diberi hidayah untuk istiqomah di jalanNya.

    Mungkin setelah ini saya akan UNDUR dulu dari diskusi ini semoga Allah memudahkan dan membimbing ke Jalan Yang lurus untuk mengikuti Tauhid yang lurus sesuai dengan apa yang Rosulullah bawa dan para shahabat amalkan.
    Karena terus terang saya masih perlu banyak belajar untuk memilih “kebenaran” dengan melihat dalil-dalil yang ada antara yang membolehkan Tawasul dan yang mengharamkannya.
    Semoga Allah memudahkan saya untuk menemukan kebenaran tersebut.

    Karena bagi saya ini masalah akidah Tauhid yang jika salah jalan maka konswekensinya akan sangat berat. Karena Rosulullah SAW insyaAllah pernah menyampaiakan dalam riwayat Abi Hatim “kesyirikan dalam umat ini lebih samar daripada gerakan semut.

    Ya Allah mudahkanlah hambaMu ini untuk menemukan kebenaran masalah ini dan berilah keistiqomahan di dalamnya.

  62. saliq mengatakan:

    @ abdullah n the gank..

    WAHABI..WAHABI..kebenaran sudah di depan mata..eh masih bela diri..

    ibnu katsir lu lawan..

  63. elfasi mengatakan:

    @ abdullah 73, alhamdulillah mas..ini bisa jadi gambaran bagi anda bahwa org diam tuh bukan berarti tidak bisa..tapi karena udah males ngeladeni org yang gak ngerti….dengan hanya mndengar doktrin dari guru lalu ikutan menvonis orang yang gak sepaham bid’ah dan kafir…..
    Kirim salam mas ma ustad2 anda jangan suka menvonis bid’ah atau bahkan kafir kepada orang yang gak sepaham dengan anda…
    Mas, ana akan menantikan kembalinya anda di forum ini setelah anda belajar lagi, atau mengajak sekalian guru2 anda….
    @ kumbara, dimana anda sekarang mas, kog gak muncul lagi….bisa gak kita tuntaskan diskusi kita..???
    Anda mau tanya :” sudahkah anda baca tafsir Ibn Katsirnya ?? atau anda hnya membaca buku2 yang dinisbahkan kepada Ibn Katsir ?? berpa banyak kebohongan yang anda lakukan hnya untuk menyebarkan doktrin anda….???
    Mas, sebenarnya kami punya kitab yang anda maksudkan, bukan perkataan dari Ibn Katsir tp dinisbahkan kpd beliau, saran ana, jangan jadi org yang gampang percaya dgn org yang bawa dalil, tapi cek kebenarannya…krn bisa jadi spt anda ini yang ana rasa udah menjadi korban org2 wahabi….

  64. saliq mengatakan:

    @ abdullah73 n wahabi the gank

    pelaku bid’ah memang susah di ajak bertaubat…!!!

    example: abdullah73 the gank…

    memah lebih mudah mengajak pelaku maksiat untuk bertaubat…

    example:jhony indo,anton medan, hercules dll.

  65. kumbara mengatakan:

    @all,
    Beberapa kali sy coba buka situs forsan salaf tidak bisa, dengan sebab yang tidak jelas. Bahkan posting saya sebelum ini ternyata tidak tampil.

    Sebelumnya saya minta maaf karena salah memahami apa yang sy baca dari “Rinkasan Tafsir Ibnu Katsir”. Kesalahan itu sebab kekurangan ketelitian atau pun sebab kekuranghatian sy. Dan perlu digaris bawahi itu bukanlah karena kesengajaan saya atau pun dengan maksud berbohong seperti yang bebarapa teman katakan. Memang yg saya tulis tersebut ternyata sebagian besar adalah penjelasan dari yang meringkas tafsir Ibnu Katsir tsb. Yakni Muhammad Nasib Ar-Rifa’i.

    Tapi walau begitu tidaklah akan merubah pemahaman yang sy anut dan semua orang yang sepemahaman dengan saya.

    Buku dan penulis “Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir” (yang ada pada saya berbahasa Indonesia, penerbit Gema Insani, Cetakan ke 15 / Desember 2008), adalah buku dan seorang yang telah diakui/dipuji baik oleh ulama2 besar masa kini, setidaknya kita bisa ketahui itu dari kata sambutan ulama2 besar dari beberapa negara, lembaga dakwah, lembaga pendidikan dan cendekiawan islam dibagian depan buku jilid 1 (buku tersebut ada 4 jilid).
    Saya sebutkan saja, tanpa mengurai isi sambutannya (karena disebabkan akan sangat panjang, silahkan merujuknya langsung):
    1.Sambutan Lembaga Fatwa dan Pengawasan Urusan Agama, kerajaan Arab Saudi.
    2.Sambutan al-Allamah Syekh Abdul Aziz bin Baz, Rektor Universitas Islam Madinah.
    3.Sambutan Syekh Abdul Malik bin Ibrahim, keluarga Syekh Ketua Umum Lembaga Amar Ma’ruf di Hejaz.
    4.Sambutan al-Allamah Dr. Taqiyuddin al-Hilali, Dosen Universitas Islam di Madinah al-Munawwarah.
    5.Sambutan Cendekiawan Suriah, Syekh Muhammad Bahjah al-Baithar.
    6.Sambutan yang Mulia Ahmad Ali al-Adluni al-Hasani, Mufti Marrakisy (Maroko) dan Jabal Athlas.
    7.Sambutan Syekh Hasan Khalid, Mufti Republik Lebanon.
    8.Sambutan Syekh Muhammad Fahiim Abu ‘Abiyyah, Ketua Delegasi Al-Azhar asy-Syarif di Lebanon.
    9.Sambutan Syekh Muhammad Amin al-Mishri, Ketua Jurusan Studi Tingkat Tinggi Fakultas Syariah al Mukarramah.
    10.Sambutan Syekh M. Salim al-Baihani, Cendekiawan Yaman.

    Kalo sy salah/khilaf itu hal yang menurut saya lumrah sebagai seorang awam. Tapi tentu kemungkinan kecil atau mustahil dapat terjadi pada mereka ulama2 besar dan banyak tersebut…

  66. kumbara mengatakan:

    @elfasi & El_Muhibbin,
    menurut sy anda pasti lebih banyak belajar agama atau membaca kitab ulama dibanding saya, dari itu pula ilmu anda pasti jauh diatas saya. Tapi ketahuilah ilmu anda itu akan sangat kecil jika dibandingkan salah seorang dari 10 ulama besar tersebut diatas.

    Dan perlu kita semua ketahui bahwa tidak ada jaminan terbebas dari kesalahan semua kitab yang ada di muka bumi ini kecuali Al-Quran. Karena firman Allah:

    QS. Al-Israa’:88
    Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.

    QS. Al-Hijr:9
    “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya”.
    (Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya)

    Oleh karena itu apapun kitabnya: sahih Bukhori, sahih Muslim dan siapapun orangnya apakah Syekh Albani, Imam Nawawi dan lain-lain tidak akan kita dapati kesempurnaan dari kitab-kitab/hasil karya mereka, karena memang tidak ada kitab yang bisa sempurna tanpa cacat seperti al-quran. Atau dengan kata lain, selain al-quran tidak ada kitab yang terjamin terbebas dari kesalahan.

    Oleh karena itu ketika ada pendapat seorang ulama atau siapapun yang bertentangan dengan dalil naql hadis sahih atau bahkan Al-Qur’an yang telah terang/jelas maknanya maka wajiblah kita tolak.

    Ketika anda mengemukakan hujjah untuk mendukung pemahaman anda dengan menggunakan dalil2 yang tidak terpercaya ataupun ayat-ayat al-quran yang maknanya belum jelas (mutasyaabihaat) maka anda adalah orang2 yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, sebagai mana firman Allah:
    QS. Ali Imran:7
    Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat*, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat**. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

    * Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas Maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.
    ** Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya Hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib.

    Akhirnya dalam masalah tawassul ini mau saya katakan bahwa sadarkah anda betapa banyaknya dalil quran yang telah jelas maknanya (muhkamaat) yang kalian tentang dan kalian pelintirkan maknanya sesuai dengan keinginan kalian. Dan tahukah kalian bahwa kalian selalu mengemukakan dalil2 yang tidak sahih ataupun ayat2 al-quran yang masih samar (mutasyaabihaat) untuk mendukung pemahaman anda.

    Tidak perlu kami tunjukkan ayat muhkamat mana yang kalian tentang dan kalian pelintirkan maknanya dan dalil2/ayat2 mutasyaabihaat mana yang kalian pakai untuk mendukung pemahaman kalian yang melenceng. Silahkan anda orang yang berakal memikirkannya.

  67. El_Muhibbin mengatakan:

    Memang sudah ngomong sapa orang kayak wahaby siji iki. Apa diatas itu masih kurang jelas siapa yang suka melintirkan itu…?. Apa nt sudah g inget akan perkataannya Ibnu Katsir yang sudah anda pelintirkan untuk memuluskan pemahamannya anda itu…?. Udah mas disini ini udah keliatan siapa yang berbohong dan siapa yang tidak mas. Dan anda sampai anda berani-berani membawakan perkataannya Ibnu Katsir yang sudah anda pelintirkan itu. Udah mas jadi orang itu g usah munafik. Eamng males ngomong sama orang wahaby iki. jarene njalok dalil wes dikei dalil,njalok hujjag wes dikei hujjah,njalok pemahamannya para salaf minta poemahamannya salaf tapi yang diikuti salaf yang mana ana sendiri juga ndak faham. kalo sudah terpojok ngomonge nggak karuan koyok wong bingung. Dan anda mengatakan bahwasannya yang membuat artikel ini mempunya keinginan hendak memelintirkan makna ataupun hendak berbohong. Mas apa anda ini g sadar,siapa yang suka memelintirkan,siapa yang suka berbohong apakah bukan anda itu yang suka memelintirkan dan suka berbohong. Sampai-sampai anda berani memelintirkan dan berbohong mengatas namakan Ulama besar seperti Ibnu Katsir itu. Tobatooo mas….!!!!,jangan suka menfitnah orang apalagi yang anda fitnah itu adalah keluarganya Rasulullah S.A.W mas. Yang suka berbohong dan memelintirkan itu siapa mas,bukannya anda…? kok malah anda menuduh orang yang melakukan itu semuanya…

  68. saliq mengatakan:

    @ kumbara
    coba tunjukan bagian mana yang di plintirkan oleh kang muhibbin…biar tidak menjadi FITNAH gtu lho..

    karena kebenaran sudah di depan mata..

  69. elfasi mengatakan:

    @ kumbara,
    Anda katakan :” Oleh karena itu apapun kitabnya: sahih Bukhori, sahih Muslim dan siapapun orangnya apakah Syekh Albani, Imam Nawawi dan lain-lain tidak akan kita dapati kesempurnaan dari kitab-kitab/hasil karya mereka, karena memang tidak ada kitab yang bisa sempurna tanpa cacat seperti al-quran. Atau dengan kata lain, selain al-quran tidak ada kitab yang terjamin terbebas dari kesalahan.”
    ==mas, awalx anda menjadikan Ibn Katsir sbg hujjah anda untuk mengharamkan tawassul, tp ketika terbongkar pemalsuan anda dan justru Ibn Katsir cnderung memperbolehkan, anda malah menyalahkan beliau dgn pernyataan anda bhw kitabnya tidaklah selamat dr kesalahan…..trus yg benar tuh yg mana mas..???? Ulama’ selevel Ibn Katsir seorg ahli tafsir yg mengetahui betul seluk beluk ayat, Imam Bukhori, Imam Nawawi ataukah anda dan org2 wahhabi lainnya padahal anda telah secara jelas terbukti memutarbalikkan isi kitab..???
    Inilah mas bukti anda dan semua org wahhabi lainnya, bhw ilmu anda bukanlah ilmiah dari kitab tapi doktrin semata sehingga anda akan dgn bgitu mudah menyalahkan kitab siapapun yg gak sesuai dgn doktrin yg anda terima…..
    Anda katakan :”Akhirnya dalam masalah tawassul ini mau saya katakan bahwa sadarkah anda betapa banyaknya dalil quran yang telah jelas maknanya (muhkamaat) yang kalian tentang dan kalian pelintirkan maknanya sesuai dengan keinginan kalian. Dan tahukah kalian bahwa kalian selalu mengemukakan dalil2 yang tidak sahih ataupun ayat2 al-quran yang masih samar (mutasyaabihaat) untuk mendukung pemahaman anda.”
    ==mas, justru kami yg mau Tanya, brp banyak ayat dan hadits yg telah kalian paksakan sbg hujjah utk memperkuat doktrin kalian…???? Brp banyak perkataan ulama’ yang kalian rubah hnya ingin mendapatkan simpati dr orang dgn menganggap telah sependapat dgn ulama’2 besar…??? Telah brp banyak org yang kalian syirikkan dan kalian bid’ahkan padahal kalian tidak mempunyai dalil yg jelas akan keharamannya…?? Padahal Nabi memperbolehkannya spt ziaroh kubur atau tawassul…???
    Anda katakan :”Sebelumnya saya minta maaf karena salah memahami apa yang sy baca dari “Rinkasan Tafsir Ibnu Katsir”. Kesalahan itu sebab kekurangan ketelitian atau pun sebab kekuranghatian sy. Dan perlu digaris bawahi itu bukanlah karena kesengajaan saya atau pun dengan maksud berbohong seperti yang bebarapa teman katakan. Memang yg saya tulis tersebut ternyata sebagian besar adalah penjelasan dari yang meringkas tafsir Ibnu Katsir tsb. Yakni Muhammad Nasib Ar-Rifa’i.”
    == Mas, namanya ringkasan tuh hanya mengambil inti isi kitab bukan malah menambahi isi lalu dinisbahkan kpd Ibn Katsir….bagaimana anda masih saja membela org yg telah salah menambahi di kitab Ibn Katsir apa yg bukan perkataan beliau lalu menisbahkannya kpd beliau….
    Klo sambutan ulama’2 yg anda sebutkan, maklum ajah mas, mreka smua segolongan…dan justru mengherankan, knp org yg telah sengaja menambahi isi kitab tapi mash dipuji oleh lain2nya..????
    Anda katakn :”Tapi walau begitu tidaklah akan merubah pemahaman yang sy anut dan semua orang yang sepemahaman dengan saya.
    ==mas, ana gk akan memaksa anda untuk merubah pemahaman anda, itu sangatlah sulit krn anda bukan ilmiah tp telah menerima doktrin yg telah mendarah daging di tubuh anda…tapi ini sbg satu peringatan buat anda dan org2 wahabi lainnya :” jangan gampang2 menuduh syirik atau kafir org yg gak sepaham dgn anda, krn kami juga punya dalil yg kuat….
    @ all pengunjung, anda bisa menilai sendiri ternyata yg fanatik bukan orang ahlussunnah melainkan mrk org wahhabi terbukti sudah jelas2 salah merubah isi kitab lal menisbahkan kpd ulama’ besar, tp ttp saja dibelanya…..ilmu mereka org2 wahhabi bukanlah ilmiah dr perkataan ulama’2 besar yg berdasar pada al-Qur’an dan Hadits tp berupa doktrin semata shgg apa yg gk sesuai dgn mereka skalipun seorang ulama’ besr dan diakui ratusan tahun lalu, ttp mereka tolak dan mereka salahkan….

  70. saliq mengatakan:

    @ kumbara
    anda berkata:
    Akhirnya dalam masalah tawassul ini mau saya katakan bahwa sadarkah anda betapa banyaknya dalil quran yang telah jelas maknanya (muhkamaat) yang kalian tentang dan kalian pelintirkan maknanya sesuai dengan keinginan kalian.

    di sebelah mana yang di plintir sama kang elfasi dan kang muhibbin..

    ayo…!! jangan nyerah…jadilah wahabi sejati…!!!!

    he..he..he…cuit..cuit…

  71. kumbara mengatakan:

    @elfasi
    mas pendapat yang diterima adalah pendapat siapapun yang sesuai dengan Quran dan sunnah yakni sesuai dengan pemahaman yang benar. tidak hanya Albani, Ibnu Katsir, Imam Nawawi bahkan seorang budak pun jika pendapatnya benar maka harus diambil.

    @saliq
    Sebenarnya sy enggan utk menunjukkan, krn akan percuma saja. Ada dalam pikiran saya elfasi saja yg sy anggap lebih banyak belajar agama dari saya, selalu berbicara dengan dalil2 (walau dalil2 berikut penjelasannya tidak semuanya kami sepakati, tentu berdasarkan pengetahuan yang ada pada kami), tutur katanya yg bisa dianggap cukup santun, tapi ternyata memiliki pemahaman seperti itu. Saya kira ini bukan dari dirinya yang tidak baik, tapi karena apa yang dia dapat dari guru2nya, buku-buku yang dia baca yang membentuk pemahamannya atau pandangannya tsb. Hal ini mungkin sama dengan seorang anak yang terlahir di negara Iran dengan orang tua dan lingkungan syiah nya. Maka kemungkinan besar dirinya akan mengaggap benar syiah itu, terkecuali jika hidayah taufik Allah datang kepadanya.

    Perlu kita ketahui bahwa hidayah Allah itu tidak datang dengan sendirinya tetapi harus diusahakan karena Allah telah memberikan manusia akal yang dapat membedakan antara salah – benar, Allah telah menurunkan Al-Quran dan suatu yang sama dengannya (as-Sunnah atau hadis sahih) sebagai petunjuk. Untuk itu jangan anda pakai hadis2 lemah atau palsu untuk menjelaskan hukum2 Allah atas ayat2 yang masih samar (mutasyaabihaat) atau menyembunyikan makna dari ayat2 yang telah terang atau jelas maknanya (muhkamaat) karena itu (hadis2 lemah atau palsu) bukan berasal dari Allah, tidak pantas perkataan manusia (setan dari jenis manusia atau orang2 pemalsu hadis) dijadikan penjelas dari firman Nya…!

    Buat semua forsan salaf cs khususnya mas elfasi, cobalah untuk mau membaca kitab-kitab dari orang2 yang anda cap sebagai wahabi. Semisal kitab tauhid “Fathul Majid” atau yang lainnya, insyaAllah jika niat kalian ikhlas mengharapkan keridhoan Allah semata, kalian akan merasakan kebenaran itu ada pada penjelasan2 dikitab tsb, bukan seperti yang selama ini dikatakan oleh guru2 atau yg tertulis di bacaan-bacaan anda.

    Baik langsung aja:
    Ayat2 muhkamat yang ditentang maknanya (mengenai syafaat):
    QS. Yunus: 18
    QS. al-An’am: 51
    QS. az-Zumar: 43-44
    QS. as-Sajdah: 4
    QS. an-Najm: 26
    QS. Saba’: 22-23
    (semua ayat yang disebut diatas telah disampaikan pada posting sy beberapa waktu lalu)

    Jelas di ayat2 tsb bahwa syafaat itu hanya milik Allah semata. Tidak ada satu pun mahluk yang berhak memberikan syafaat kecuali dengan seizin-Nya dan tidak akan mendapatkan syafaat kecuali orang yang diridlai-Nya. Adapun untuk mendapatkan syafaat lihat penjelasan dibawah.

  72. kumbara mengatakan:

    Ayat mutasyabihat yang dipelintirkan maknanya (dari artikel)
    QS Al-Ma’idah: 35
    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

    Anda lihatlah tidak ada disini dijelaskan wasilah seperti yang anda pahami, yang jelas dan sangat terang maknanya adalah “Carilah jalan (wasilah) kepada Nya”. Menurut Qatadah, “Berarti bertaqarrub kepada-Nya dengan mentaati dan mengamalkan perbuatan yang diridhai-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

    Lihat hadis sahih berikut: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, siapa yang berbahagia karena mendapat syafa’atmu di hari kiamat nanti?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Abu Hurairah, aku merasa tidak ada yang bertanya kepadaku tentang hal ini selain engkau. Yang aku lihat, ini karena semangatmu mempelajari hadits. Yang berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya.” (HR. Bukhari no. 99)

    Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan mengenai hadits ini, “Inilah sebab utama (paling besar) yang membuat seseorang bisa mendapatkan syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dengan memurnikan tauhid. Hal ini berkebalikan dengan kelakukan orang-orang musyrik yang meyakini bahwa syafa’at itu diperoleh dengan menjadikan para wali dan para hamba selain Allah sebagai syafi’ (pemberi syafa’at).
    Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membalikkan sangkaan mereka (orang-orang musyrik) yang dusta. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa sebab memperoleh syafa’at adalah dengan memurnikan tauhid. Dengan melakukan hal ini, barulah Allah mengizinkan pemberi syafa’at (syafi’) untuk memberikan syafa’at. Sungguh ini adalah kebodohan orang-orang musyrik. Mereka berkeyakinan bahwa siapa yang menjadikan para wali sebagai pemberi syafa’at, maka para wali tersebut akan memberi manfaat (dengan menolong mereka) di sisi Allah. Sebagaimana mereka menyangka bahwa para raja bisa menolong mereka karena adanya rekomendasi dari pembantu mereka. Padahal tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali melalui izin Allah. Tidak ada izin dari-Nya selain pada orang yang Dia ridhoi perkataan dan amalnya.” (Madarijus Salikin, 1/341, Maktabah Syamilah).

  73. kumbara mengatakan:

    (dari artikel)
    “Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu”.(QS Al-Baqarah 89)

    Lucu sekali ayat tersebut dikatakan sebagai tawassul orang2 Yahudi kepada sesuatu yang belum wujud. Sungguh aneh, yang jelas maknanya sebagaimana teks nya mereka (orang2 yahudi) biasa memohon kepada Allah yakni memohon kedatangan Nabi, agar Nabi dan mereka dapat berperang untuk mengalahkan orang-orang kafir.

    Pemahaman ini sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas: Mereka (orang2 yahudi) mengatakan bahwa pada akhir zaman akan diutus seorang Nabi, “Kami bersama-sama dengan dia (Nabi) akan memerangi kalian seperti halnya memerangi kaum Iram dan ‘Aad.”…. (di kutib dari buku “Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir”, penerbit Gema Insani, hal. 169 penjelasan surah Al-Baqarah:89).

    Kenapa mereka (orang2 yahudi) memohon kedatangan Nabi, karena hal tsb telah di jelaskan dalam kitab mereka. Adakah tawassul kepada yang belum wujud di situ, tidak… yang ada adalah mereka orang2 Yahudi memohon atau berdoa kepada Allah (untuk kedatangan Nabi, agar Nabi dan mereka dapat berperang untuk mengalahkan orang-orang kafir, hal ini tentu atas berita yang telah Allah sampaikan di dalam kitab taurat mereka) bukan bertawassul kepada Nabi yang kala itu belum ada. Garis bawahi bahwa orang2 yahudi itu memohon/berdoa bukan bertawassul..!!

    Kemudian dalam artikel membawakan hadis riwayat Umar bin Khatthab Ra. yang dikatakan sahih, tentang nabi Adam ketika melakukan kesalahan dia dengan bertawassul kepada nabi Muhammad yang kala itu belum ada. Tentang ini sudah kita bicarakan, lihat posting saya tanggal 15 Oktober lalu, intinya hadis itu masih dipertentangkan kesahihannya, bahkan sebagain ahli hadis mengatakan palsu ataupun batil.

  74. kumbara mengatakan:

    (dari tulisan elfasi sebelumnya)
    nih sekarang ana mau bawakan yg dikatakan oleh Ibn Katsir dalam tafsirx di surat an-Nisa’ ayat 64 bagaimana beliau menyatakan tawassul kepada Nabi padahal Nabi sudah wafat…:

    “ dan jika mereka berbuat dholim pada diri mereka, maka mereka akan mendatangimu (wahai Muhammad) dan meminta ampunan kepada Allah dan Rasulullah memintakan ampunan bagi mereka, maka mereka akan mendapati Allah Maha penerima taubat dan Maha penyayang “

    ayat itu kan berlaku hanya saat Nabi masih hidup saja, karena ada perkataan “dan Rosulullah memintakan ampunan bagi mereka”. tidak berlaku / tidak bisa disamakan ketika Nabi telah meninggal, anda datang ke kubur Nabi memohon ampunan kepada Allah dan Nabi, terus Nabi dalam kubur berdoa memintakan ampunan bagi anda… saya kira masih lebih terpuji orang nasrani yang datang ke pendetanya (yang masih hidup) meminta didoakan agar Tuhannya mengampuni dia.

    Walaupun scan kitab anda itu benar dari tafsir ibnu Katsir, kami orang awam tidak bisa membuktikan nya, kami hanya bisa mengerti ketika anda berbicara/menjelaskan dalam bahasa indonesia. Tetapi 1 hal yang kami percayai bahwa pemahaman anda seperti itu akan menuntun manusia untuk berlomba2 menjadi “penyembah kuburan”. Penjelasan lebih lanjut dari ayat tsb lihat tulisan berikutnya di bawah.

    (berikut ini kutipan dari buku “Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir”, penerbit Gema Insani, hal. 744 penjelasan surah An-Nisa’:64 pada catatan kaki),
    Ayat ini dijadikan dalil oleh sebagian kaum muslimin mengenai kebolehan bertawassul melalui Rosulullah setelah beliau wafat. Perbuatan ini jelas salah. Karena ayat itu menjelaskan bahwa barang siapa yang melakukan suatu dosa, kemudian datang kepada Rosulullah., dan ini tentu saja ketika beliau masih hidup, kemudian memohon ampun kepada kepada Allah di sisi Rosulullah. Lalu Rasulullah memohonkan ampun untuknya. Jika dia telah melakukan itu, niscaya Allah akan mengampuni dosanya berkat istighfar dia sendiri dan istighfar Rasulullah untuknya. Inilah maksud ayat diatas.
    Lalu, dikemanakan maksud tersebut oleh orang2 yang membolehkan bertawassul melalui Rosulullah setelah dia wafat? Jika mereka mengkaji ayat ini dengan cermat, niscaya mereka sadar bahwa pandangan mereka kehilangan satu unsur penting, yaitu istighfar Rosulullah untuk mereka. Ini tidak mungkin dilakukan lagi sekarang karena beliau telah wafat. Sesungguhnya unsur syafaat ketika beliau hidup tidak ada lagi setelah beliau wafat. Analogi keduanya adalah analogi perbedaan (kebalikan)*. Adapun hadits al-Utba (Utbi versi elfasi)* yang juga dijadikan dalil oleh mereka adalah hadits yang sama sekali tidak sahih sebab mengandung beberapa cacat seperti yang kami paparkan dalam buku kami “Pencapaian kepada Hakikat Tawassul”. Allahlah yang memberi taufik kepada kebenaran.

    *kata2 dalam kurung adalah tambahan dari saya.

    Nah saran saya buat ahli tawassul coba lah baca buku “Pencapaian kepada Hakikat Tawassul” yang di tulis oleh Muhammad Nasib Ar-Rifa’I (keilmuan nya telah diakui paling tidak 10 orang ulama besar dari beberapa negara, lembaga dakwah, lembaga pendidikan dan cendekiawan islam). Karena ini perkara yang sangat penting yakni akidah – tauhid. Ada hal yg besar diakhirat nanti yang akan membedakan antara dosa2 besar selain dosa syirik dengan dosa besar syirik itu sendiri, yakni dosa syirik akan menyebabkan pelakunya kekal di neraka…!

    Buat teman2 lainnya adalah baik sekali atau tidak ada salahnya jika memiliki buku “Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir” yang ditulis oleh Muhammad Nasib Ar-Rifa’i (telah diterjemahkan kedalam banyak bahasa termasuk bhs Indonesia). Bukan promosi tapi paling tidak karena buku tsb mudah dicerna dan dapat dijadikan tolak ukur pemahaman yang benar atas tafsir Al-Quran.

    InsyaAllah itu sudah cukup…..

  75. El_Muhibbin mengatakan:

    wes g usah diladeni wong wahaby,percuma ngandani endas watu…!!!

  76. baim mengatakan:

    alhamdulillah dengan saya bertawassul do’a saya dikabulkan

  77. Abu Muzakki mengatakan:

    Numpang liwat ….. semua kaum muslimin dari zaman Rosul – sahabat – tabi’ – tabi’ut yabi’in s/d saat ini semuanya BID’AH KOK,,, gitu aje KOK REPOTTTTTTTTTTTTTTTTTT, liat bacaAn TASYAHUT AWAL dan AKHIR SHOLAT yg diajarkan ROSULLULLOH ( ….. Assalamu’alaika Yaa …… , liat pula salam ketika ziaroh qubur …. ), saat beliau masih hidup s/d saat ini. SIAPA yg BERANI MENGATAKAN KLO ROSUL SUDAH WAFAT ,,,, BOLEHHHHH DIGANTI / DIBUANG … YAAAA nya…. HAYYO !!!!!!!!!!!!!!! … Ruapanya lupa yaaa… kan tiap 5 waktu sholat setiap hari + plus tathowwu’nya …. masa gak ilingggggg … atau mungkin sudah ada madzhab baru ketika basa tasyahut … redaksi Yaaaa …. nya diganti kali sehingga merasa tidak pernah menggunakan kata-kata,….. yaaa …. atau pula gakkk pernah ziaroh qubur … jangan-jangan ketika salam … redaksinya menggunakan … model yg mutachir …. madzhab ERA MILLANIUM … meraka yg mengingkari INILAH YG MASUK … SEBAGAI AHLI BID’AH …
    Wassalam

  78. Abu Muzakki mengatakan:

    Numpang Lagi Yaa…. saya kok bingung klo baca dari atas kebawah … Khusus buat MAS KUMBARA …. anda perlu memahami tawassul yg bagaimana sih yg biasa dilakukan oleh mereka yg bertawssul …. apa orang yg datang ke qubur nabi minta sama nabi, atau minta didoakan sama orang yg sudah mati ( wali / sholeh ) agar dapat syafa’at atau yg lainnya… ini sih namanya MUSYRIKKKK KABIIIERR, anak IBTIDAIYYAH saja tau ….. gitu kok repot …. yg jadi polemik adalah …. ketika orang berdo’a …. mengucap misal = ….Allohumma bihaqqi MUHAMMADIN ……. atau ALLOHUMMA BIJAHI MUHAMMADIN …….. Allohumma AS ALUKA BIBAROKATI MUHAMMADIN …. dan yg sejenis ….. yg dibaca / berdo’a baik selepas sholat – ketika ziyaroh , dlll. Intinya berdoa kepada ALLOH dengan menyebut : kedudukan – kemulyaan – barokah ROSUL disisi ALLOH. Klo yg datang ke qubur minta ama yg diqubur gakkk usaahhhh jauh-jauh bung liat aje acara TV, TRANS = REALIGI = ( biasanya MAs ERWIN ) ITU NYATA MUSYRIKNYA … gak perlu anda bandingkan dengan orang NASRANI yg MINTA DIDOAKAN AMA PENDETANYA ( tentunya yg masih hidup ) tayang beberakali dlm 1 minggu .. rasanya 4 – 5 x. INI namanya melecehkan sesama saudara MUSLIM. Apalagi mengatakan penyembah quburan …. masyaa ALLOH ……….. HATI ANDA …..sangat ….., supaya anda tidak salah dlm menilai orang orang … cobalah ziaroh ke Makam Rasul atau makam-2 orang sholeh lainnya… perhatikan dan dengarkan do’a yg mereka panjatkan ,,,, apakah meminta sama yg diqubur apa tidakkk… klo meminta sama yg diqubur … itu syririk langsung saja anda ingatkan ( nasehati ) klo mungkin …. setidaknya … anda dapat mengerti apakah setiap orang ziaroh qubur itu meminta sama yg di qubur apa tidak… jangan langsung vonis saja. ZIAROH QUBUR SUNNAH ROSUL siapa yg MEMBENCINYA PASTI AHLI BID’AH tentunya ziaroh yg sesuai syari’at. KLO DITANYA apakah ROSUL yg SUDAH WAFAT MENDO’AKAN orang yg memberi salam / membaca sholawat atas beliau, JAWABNYA IYA dan PASTI. ( HADIST MASYHUR ) …. ALLOH akan mengembalikan ruhku ke dlm jasad untuk menjawab salam mereka …… Saya tak perlu berdalil yg bejibun .. ( bukan berarti sy tidak membaca / tidak tau ) karena saya liat dalil yg anda pakaai & yg mereka gunakan ( pro atau kontra ) sudah biasa tak ada yg baru, para salaf / Kholaf / Imam / Syeick / Mufti / Ulama / Ustadz / orang awam dll dari dulu s/d sekarang juga menggunakan dalil tsb, apa ada yg baru ???????????????? sehingga pihak yg satu lebih unggul dari pihak lainnyaa. Klo saya dengan motode = Tatafakkarun = Tatadzakkarun = Tatadabbarun + hati yg jernih dan dengan kecerdasan ESQ + dalil2 yg sudah ada. WASSSPADA LAHHHH …. hati-2 mengatakan / memvonis orang sebagai penyembah quburan / musyrik kecuali terbukti akan kemusyrikkannya, ( ANDA LIAT dan DENGAR SENDIRI ),karena itu akan kembali ke diri orang yg mengatakannya kalau tak terbukti, kecuali anda katakan dan juga saya katakan = orang yg meminta dengan yg diqubur / sudah mati adalah MUSYRIKK ini BARU BENAR =, atau = Orang yg berkeyakinan bahwa orang yg sudah mati bisa memberi MANFAAT BAGINYA = INI JUGA SYIRIK. Yang bisa memberi SYAFA’AT HANYA ROSUL itupun setelah hari qiamat. HAL ringan yg sering terlupakan = Ketika Azan / iqomat selesai dimandangkan dan berdo’a ” ALLOHUMMA ROBBAHAJIHID DA’WATI ………. janji ROSUL = HALLAT LAHU SYAFA’ATI YAUMAL QIYAMAH, ( SHOHEH BUCHORI JUZ 1 ).

    Wassalam

  79. elfasi mengatakan:

    @ Kumbara, sudahlah mas, gak usah bertele lagi..ini sudah jadi trik orang2 wahhabi spt anda, ketika sudah terbongkar kesalahannya, maka akan memalingkan fokus pembahasan dengan cara spt menampilkan kembali dalil2 yang banyak..padahal sudah pernah di tampilkan dan telah terbantahkan….
    Mas, anda ini bukanlah orang yang mengikuti krn ilmu tapi krn sudah terdoktrin, sehingga ketika anda mendapati kesalahan pada apa yang telah anda terima dari guru anda (spt telah menipu umat dgn menambahi isi kitab tafsir Ibn Katsir lalu dinisbahka kpd beliau), anda pun tetap tidak mau sadar…makanya orang akan malas diskusi dgn anda jika anda model orang spt ini, bahkan sekalipun dibawakan dalil dr ulama’ yang sering anda jadikan hujjah pun spt Ibn Taimiyyah atau Ibnul Qoyyim yang menyatakan kebolehannya tawassul, mauled atau lainnya, akan bukan sadar lalu memperbaiki kesalahan anda tp anda justru akan menyalahkan mereka…..
    Anda katakan :”Buat semua forsan salaf cs khususnya mas elfasi, cobalah untuk mau membaca kitab-kitab dari orang2 yang anda cap sebagai wahabi. Semisal kitab tauhid “Fathul Majid” atau yang lainnya, insyaAllah jika niat kalian ikhlas mengharapkan keridhoan Allah semata, kalian akan merasakan kebenaran itu ada pada penjelasan2 dikitab tsb, bukan seperti yang selama ini dikatakan oleh guru2 atau yg tertulis di bacaan-bacaan anda.”
    Mas, belum anda minta, ana sudah baca kitab FATHUL MAJID SYARH KITABUT TAUHID, dan mungkin perlu ana tampilkan kembali bagaimana isi dari kitab itu,,, biar semua pengunjung bisa2 meliat bagaimana ekstrimnya orang2 wahhabi mengkafirkan umat muslimin scara missal…sampai2 menyatakan penduduk Syam sbg penyembah (tuhan mereka ) Ibn Arobi, penduduk Iraq sbg penyembah Abdulqodir al-Jaelani..nih ana tampilkan koment ana di artikel :”ALBANI, MUHADDITS TANPA SANAD ANDALAH WAHHABI”

    Fathul Majid Syarh kitab Tauhid karangan syekh Abdurrahman bin Hasan Al-Syekh yang ditahqiq oleh syekh Muhammad Hamid AlFaqi serta ditashih oleh syekh Isma’il Al-Anshori pada beberapa tempat sebagai berikut :
    – Halaman 180, disebutkan bahwa “ Imam Bushiri telah melampaui batas dalam memuji Rasulullah SAW sehingga menyebabkan kesyirikan dan kekufuran sebagaimana kekufurannya orang Nasrani dengan Isa bin Maryam.”
    – Halaman 218, disebutkan bahwa “benar-benar kesyirikan dalam beibadah terjadi pada sebagian umat ini secara nadhom atau natsr seperti tulisan Bushiri dan Bur’i atau selain keduanya”.
    – Halaman 220, disebutkan bahwa “ Paling besarnya tuhan penduduk Mesir adalah syekh Ahmad Albadawi. Penduduk Iraq dan sekitarnya seperti penduduk Oman meyakini pada syekh Abdul qodir aljaelani sebagaimana terjadi pada penduduk Mesir terhadap Ahmad Albadawi. Yang lebih berat lagi penduduk Syam terhadap Ibn Arabi begitu juga penduduk Hijaz dan Yaman serta daerah lainnya mereka menyembah Toghut, pohon-pohon, kuburan sebagaimana penyembahan mereka terhadap Jin. “

    .

    Inikah isi dari kitab tauhid, yang justru isinya pengkafiran kepada orang2 ahli tauhid….?????

    @ all pengunjung, liat ni ternyata orang2 wahhabi yang diskusi disini hanya orang yang selalu mengulang2 kembali dalil2 tapi tidak bisa meyakinkan kita semua akan kebnaran dalilx bahkan banyak terbongkar kebohongannya hingga memanipulasi dan merubah isi kitab demi lancarnya penyebaran doktrin mereka…. Ana berharapa ustad2 mereka yang bisa tampil disini hingga bisa kita buktikan kebenarannya….

  80. El_Muhibbin mengatakan:

    Kalo kitab Fathul Majid ana udah g kaget ya akhi. Malahan di kitabnya tauhidnya orang wahaby malah dikatakan.

    Abu jahal dan Abu Lahab lebih lebih banyak mentauhidkan Allah dan lebih lebih murni keimanannaya terhadap-Nya dari pada orang-orang Islam yang bertawassul dengan para wali dan orang-orang saleh dan mencari syafaat dengan jalan mereka kepada Allah. Padahal kita tau abu lahab dan abu jahal itu bukan orang islam yang nyata-nyata menyembah berhala yang dimana kita mengetahui berhala yang disembah oleh abujahal dan abu lahab itu,tapi yang ana herankan mereka kok dengan beraninya mengatakan bahwasannya orang islam yang ahli kiblat yang menyembah Allah S.W.T yang suka bertawassul kepada nabi,wali,dan sholihin malahan dikatakan syirik dan tauhidnya dibawahnya Abu-jahal dan Abu-Lahab dan ini dan itulah padahal tawassul itu dibolehkan,tapi yang jelas ada aturannya g ngawur.

    Dan ada lagi

    Abu jahal dan Abu Lahab lebih lebih banyak mentauhidkan Allah dan lebih lebih murni keimanannaya dari pada mereka orang-orang Islam yang mengucapkan “La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah”.

    Iki kitab tauhid opo…………..

  81. saliq mengatakan:

    لأ إله إلاّ لله ،محمّدرسول لله.

  82. saliq mengatakan:

    @ kumbara
    menurut saya:
    …bukti 1 lembar kitab lebih berharga, di bandingkan 111111111100000000,0000,2222oooooo ulama’ wahabi.

  83. baim mengatakan:

    ustadz ana mohon dibuat artikel tentang kejanggalan tauhid versi wahaby seperti mereka mengatakan Allah itu ada diatas ‘arsy

  84. kumbara mengatakan:

    @ Abu Muzakki
    Dalam shalat pada tasyawud ada perbedaan bacaan saat Nabi masih hidup dan setelah meninggal-nya. Hal ini ada dijelaskan pada buku “Sifat Shalat Nabi” oleh M. Nashiruddin Al-Albani. Penjelasan berikut ini diambil dari buku tsb.

    bacaan saat Nabi masih hidup … assalamu’alaika ayyuhannabiyyu…
    bacaan setelah Nabi meninggal … assalamu’alannabiy…
    Riwayat Ibnu Mas’ud (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ibnu Abi Syaibah (1/90/2) dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya (258/2)).
    Hal ini juga sebagimana riwayat Aisyah mengajari bacaan tasyahud dalam shalat dengan lafadz … assalamu’alannabiy… (hadis diriwayatkan oleh As-Sirraj dalam Musnad-nya (9/1/2) dan Al-Mukhalas dalam Al-Fawaid (11/54/1).

    Adapun bacaan salam/doa kepada ahli kubur sesuai tuntunan Nabi, lihat HR. Muslim “Assalamualaikum ahladdiyar… (Semoga keselamatan atas kalian wahai penghuni kubur…).

  85. kumbara mengatakan:

    @ Abu Muzakki
    Alhamdulillah, anda sepemahaman dengan kami bahwa meminta kepada orang mati di dalam kubur sekalipun seorang Nabi, atau minta di doa kan sama orang yang sudah mati (wali/orang soleh) agar dapat syafaat atau lainnya adalah perbuatan syirik. (istilah Abu Muzakki “MUSYRIKKKK KABIIIERR, anak IBTIDAIYYAH saja tau …..”). Tapi apakah forsan salaf cs juga tau..?

    Tulisan anda:
    …. yg jadi polemik adalah …. ketika orang berdo’a …. mengucap misal = ….Allohumma bihaqqi MUHAMMADIN ……. atau ALLOHUMMA BIJAHI MUHAMMADIN …….. Allohumma AS ALUKA BIBAROKATI MUHAMMADIN …. dan yg sejenis ….. yg dibaca / berdo’a baik selepas sholat – ketika ziyaroh , dlll. Intinya berdoa kepada ALLOH dengan menyebut : kedudukan – kemulyaan – barokah ROSUL disisi ALLOH.

    Itu bukan polemik mas karena anda telah terpengaruh dengan dalil2 dr hadis lemah ataupun palsu yg dibuat oleh pemalsu2 hadis. Cukup lah dalil2 Al-Quran dan hadis sohih yang menjadi pegangan.

    Perhatikan firman Allah :
    “Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidaklah memiliki manfaat atau dapat mencegah bahaya dari diriku sendiri kecuali yang Allah kehendaki. Kalau seandainya aku mengetahui yang ghaib maka tentunya aku dapat memperbanyak kebaikan untukku dan tidak ada satupun bahaya yang menimpaku. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (Al A’raaf:188).

    Sedangkan Rosul sendiri tidak lah memiliki manfaat atau dapat mencegah bahaya dari diri-nya sendiri kecuali yang Allah kehendaki. Bagaimana mungkin bisa dengan cara menyebut2 keberkahan, keutamaan Nabi lantas orang mendapatkan berkah, keselamatan, rezeki, syafaat dll.

    Perhatikan hadis berikut:
    Abu Hurairah r.a. berkata, “ Rasulullah saw. Menziarahi kuburan ibunya seraya menangis, dan menjadikan orang-orang disekitarnya ikut menangis. Kemudian bersabda, Aku telah meminta izin kepada Rabbku untuk meminta ampunan bagi ibuku, namun Allah tidak mengizinkanku…. (HR Muslim, Abu Daud, an-Nasa’I, Ibnu Majah, ath-Thahawi, al-Hakim, al-Baihaqi dan Ahmad).

    Perhatikan Rosulullah saw berdoa memohon ampunan ibunya saja Allah tolak, sebab apa hak mutlak mengabulkan do’a adalah Allah SWT semata.

    Kita sepakat bahwa jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah semata, berdoa itu merupakan suatu bentuk peribadatan yang berarti kita juga harus berdoa/memohon kepada Allah semata. Kita sama mengetahui bahwa Allah memberikan hak syafaat kepada para Malaikat, Nabi dan Rosul, orang yang mati syahid, orang2 soleh, anak kecil yg mati sebelum balig bagi orang tuanya. Tetapi perlu diingat bahwa mereka (pemberi syafaat) tidak bisa serta merta memberikan syafaat tanpa seizin Allah. Dalil2 yang pernah disampaikan sebelumnya sudah cukup sebagai hujjah dalam hal ini.

    “…Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya…” (al-Baqarah: 255)

  86. kumbara mengatakan:

    @Abu Muzakki
    Tentang perkataan “penyembah kuburan”, maaf saja bahasa apa yang lebih tepat untuk menunjukkan bahayanya perbuatan mereka ? (orang2 yang berlebihan dalam mengagungkan para orang soleh) yakni sebagaimana kaum nabi Nuh as. yang telah Allah jelaskan dalam surat Nuh:23, mungkin saat ini mereka hanya mengagungkan kuburan orang2 saleh atau para kuburan para wali (banyak kita lihat dengan alasan ziarah kubur para wali atau ziarah ke kubur orang2 saleh atau juga ziarah ke kuburan yang dikeramatkan mereka melakukan perbuatan yang tidak disyariatkan seperti berzikir, membaca al-quran dan berdo’a kepada Allah dengan disertai meminta keberkahan, keselamatan atau pun syafaat kepada ahli kubur bahkan dengan sangat khusu’-nya. Cobalah lihat di masjid sekitar makam org saleh atau kuburan wali atau kuburan yg dikeramatkan apakah mereka khusu’ sebagaimana di dalam makam..?), bukan mustahil nanti anak cucu manusia mungkin bukan 10 atau 100 thn mendatang tapi mungkin 1000thn mendatang tidak lagi mengagungkan tetapi menyembah-nya (kuburan). Sebagai mana kita ketahui asal mula penyembahan patung oleh kaum nabi Nuh as.

  87. kumbara mengatakan:

    @elfasi
    Anda katakan: @ Kumbara, sudahlah mas, gak usah bertele lagi..ini sudah jadi trik orang2 wahhabi spt anda, ketika sudah terbongkar kesalahannya, maka akan memalingkan fokus pembahasan dengan cara spt menampilkan kembali dalil2 yang banyak..padahal sudah pernah di tampilkan dan telah terbantahkan….

    Perlu anda ketahui sy tidak merasa sebagai orang wahabi, yang saya tau sy berusaha menerima pemahaman2 yang berdasarkan ayat2 Al-Quran yang telah terang/jelas maknanya dan hadis shahih. Dan menolak semua pendapat atau pemahaman yang tidak sesuai/menyelisihi Al-Quran dan hadis shahih.
    Dalil mana yang terbantahkan silahkan tunjukkan..!!! sudah jelas2 kalian memalingkan/ memelintirkan makna ayat-ayat al-quran…, bisa nga sich gunakan hadis sohih yang tidak ada pertentangan antara kami dan anda dalam berhujjah..!!! insyaAllah kalian akan mendapatkan sy orang yang tunduk pada kebenaran.

    Beberapa imam yang anda sebut sebagai ahlul tauhid :
    1. Imam Bushiri, berkata di dalam syairnya yang terkenal:
    Maka sesungguhnya diantara kedermawananmu (Muhammad) adalah adanya dunia dan akhirat
    Dan diantara ilmumu adalah ilmu tentang Lauhul Mahfudh dan Al Qalam (yaitu ilmu tentang segala
    takdir di alam semesta ini)
    (Burdatul Madiih hal. 35 yang terkenal dengan Qasidah Burdah).

    Anda tau kebatilan dari syair ini…? Kalau anda tidak tau lihat firman Allah:
    “Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidaklah memiliki manfaat atau dapat mencegah bahaya dari diriku sendiri kecuali yang Allah kehendaki. Kalau seandainya aku mengetahui yang ghaib maka tentunya aku dapat memperbanyak kebaikan untukku dan tidak ada satupun bahaya yang menimpaku”. (Al A’raaf:188).

    2. Ibnu Arabi, mengajarkan kitab Fushush Al-Hikam. Kitab tsb terlalu banyak penyimpangan2nya , anda tau penyimpangan2an nya?
    Buku tersebut berisi antara lain: mengkafirkan Nabi Allah, Nuh (hal. 70-72), meyakini bahwa Fir’aun itu telah beriman (hal. 21), membenarkan pendirian Samiri dan perbuatannya dalam membuat patung (yang menimbulkan fitnah di kalangan bani Israil) hingga mengibadahinya (hal. 188).

    Ibnu Arabi berkata : “Tidak ada yang tampak ini kecuali Allah, dan tidaklah Allah mengetahui kecuali Allah.” Ini merupakan pemahaman wihdah al-wujud kalo di Indonesia terkenal syekh Siti Jenar dengan “manunggaling kawulo gusti” syukur lah oleh para wali songo dipenggal kepalanya.

    3. syekh Ahmad Albadawi,
    Dari keterangan yang sy dapat, sebagian orang dalam beribadah seperti berdoa, meminta hajat, atau memohon pertolongan dengan perkataan ”Ya Sayyid Al-Badawi, mohonlah kepada Allah untuk kami”. Padahal dia (Al-Badawi) sudah mati. Tidak salah orang menganggap perbuatan ini berarti menjadikan al-badawi sebagai wakil atau pembantu tuhan atau bahkan tuhan2 lain selain Allah.

    4. syekh Abdul qodir aljaelani; tidak dipungkiri lagi sebgian orang2 dinegeri kita juga menjadikan syekh Abdul qodir aljaelani bagaikan tuhan yang bisa memberikan keselamatan, keberkahan atau pun rezeki. Dengan membaca sholawat syekh Abdul Qadir Al Jailani, yang sy ketahui/baca (karena dulu sy juga pemakainya he..he..he.. tp sekarang udah insyaf) kasiat doa/selawat ini berjubel atau solawat ini untuk 1001 macam hajad.
    Didalam salawat ini ada kebatilan semoga anda tau itu…!

  88. forsan salaf mengatakan:

    @ Kumbara, komentar anda sudah kemana-mana dan tidak fokus lagi terhadap pembahasan yaitu masalah tawassul. Sekarang inti pembahasan yang perlu anda jawab :
    1. Adakah nash shorih (jelas dan bukan dipaksakan) akan keharaman tawassul dan berdo’a atau membaca al-Qur’an di hadapan kubur ?.
    2. Hadits mana dalam artikel di atas yang anda anggap lemah ?.
    3. Ini kami bawakan sebagian dari pendapat ulama’ yang memperbolehkan tawassul.
    Tolong anda cek kembali !. :
    a. Pernyataan Syekh Muhammad bin Abdulwahab menanggapi persepsi orang dalam istisqo’ :
    لا بأس بالتوسل بالصالحين
    “ boleh bertawassul dengan orang2 sholeh”
    lalu beliau menjawab dengan jawaban yang panjang dan diantara jawabannya :
    ” ….. ولكن يقول في دعائه : أسألك بنبيك او بالمرسلين او بعبادك الصالحين او يقصد قبرا معروفا او غيره يدعو عنده “
    “ akan tetapi berkata dalam do’anya :” aku meminta dengan berkat Nabi-Mu atau dengan Rasul2-Mu ATAU DGN HAMBA2-MU YANG SHOLEH ATAU MENUJU KUBURAN TERKENAL ATAU LAINNYA DAN BERDO’A DISISINYA “ (liat Fatawa Syekh Muhammad bin Abdulwahab, qism 3 hal 68)
    b. Syekh Ibn Taimiyah dalam Majmu’ fatawanya :
    مجموع فتاوى ابن تيمية – (ج 1 / ص 30)
    وَسُئِلَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى هَلْ يَجُوزُ التَّوَسُّلُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْ لَا ؟ .
    الْجَوَابُ : فَأَجَابَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ . أَمَّا التَّوَسُّلُ بِالْإِيمَانِ بِهِ وَمَحَبَّتِهِ وَطَاعَتِهِ وَالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَيْهِ وَبِدُعَائِهِ وَشَفَاعَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا هُوَ مِنْ أَفْعَالِهِ وَأَفْعَالِ الْعِبَادِ الْمَأْمُورِ بِهَا فِي حَقِّهِ . فَهُوَ مَشْرُوعٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ

    “ syekh Ibn Taimiyah ditanya tawassul dengan Nabi diperbolehkan ataukah tidak ?, maka beliau menjawab :” Alhamdulillah, adapun tawassul dengan iman, kecintaan kepada Nabi, ketaatan kepadanya, dan shalawat kepadanya, do’anya, syafaatnya dan yang semisalnya daripada perbuatan beliau dan perbuatan hamba-hamba adalah masyru’ (diperintahkan) dengan kesepakatan orang-orang muslim “.
    Pada kitab yang sama di tempat yang lain beliau berkata :
    وَهَذَا التَّوَسُّلُ بِالْإِيمَانِ بِهِ وَطَاعَتِهِ فَرْضٌ عَلَى كُلِّ أَحَدٍ بَاطِنًا وَظَاهِرًا فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَعْدَ مَوْتِهِ فِي مَشْهَدِهِ وَمَغِيبِهِ لَا يُسْقِطُ التَّوَسُّلَ بِالْإِيمَانِ بِهِ وَبِطَاعَتِهِ عَنْ أَحَدٍ مِنْ الْخَلْقِ فِي حَالٍ مِنْ الْأَحْوَالِ بَعْدَ قِيَامِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ وَلَا بِعُذْرِ مِنْ الْأَعْذَارِ . وَلَا طَرِيقَ إلَى كَرَامَةِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ وَالنَّجَاةِ مِنْ هَوَانِهِ وَعَذَابِهِ إلَّا التَّوَسُّلُ بِالْإِيمَانِ بِهِ وَبِطَاعَتِهِ . وَهُوَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَفِيعُ الْخَلَائِقِ صَاحِبُ الْمَقَامِ الْمَحْمُودِ الَّذِي يَغْبِطُهُ بِهِ الْأَوَّلُونَ والآخرون فَهُوَ أَعْظَمُ الشُّفَعَاءِ قَدْرًا وَأَعْلَاهُمْ جَاهًا عِنْدَ اللَّهِ
    “ tawassul dengan iman kepada beliau dan ketaatan kepadanya adalah wajib bagi setiap orang secara dhohir baik ketika beliau masih hidup ataukan setelah beliau wafat, dihadapan beliau ataukah tidak….lalu berkata :” Dialah (Rasulullah SAW) pemberi syafaat kpd para makhluk, pemilik kedudukan yang tinggi yang diharapkan oleh orang2 terdahulu dan terakhir, dialah yang paling agung dan luhurnya pemberi syafaat kedudukannya “
    Pada kitab yang sama di tempat yang lain beliau berkata :
    وَأَمَّا التَّوَسُّلُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفِيهِ حَدِيثٌ فِي السُّنَنِ رَوَاهُ النسائي والترمذي وَغَيْرُهُمَا { : أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ : إنِّي أُصِبْت فِي بَصَرِي فَادْعُ اللَّهَ لِي فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأْ وَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ أَسْأَلُك وَأَتَوَجَّهُ إلَيْك بِنَبِيِّك مُحَمَّدٍ يَا مُحَمَّدُ إنِّي أَتَشَفَّعُ بِك فِي رَدِّ بَصَرِي . اللَّهُمَّ شَفِّعْ نَبِيَّك فِيَّ وَقَالَ : فَإِنْ كَانَتْ لَك حَاجَةٌ فَمِثْلُ ذَلِكَ فَرَدَّ اللَّهُ بَصَرَهُ . } فَلِأَجْلِ هَذَا الْحَدِيثِ اسْتَثْنَى الشَّيْخُ التَّوَسُّلَ بِهِ . وَلِلنَّاسِ فِي مَعْنَى هَذَا قَوْلَانِ : أَحَدُهُمَا : أَنَّ هَذَا التَّوَسُّلَ هُوَ الَّذِي ذَكَرَ ” عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ” رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ : كُنَّا إذَا أَجْدَبْنَا نَتَوَسَّلُ بِنَبِيِّنَا إلَيْك فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إلَيْك بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا فَقَدْ ذَكَرَ عُمَرُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – : أَنَّهُمْ كَانُوا يَتَوَسَّلُونَ بِهِ فِي حَيَاتِهِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ ثُمَّ تَوَسَّلُوا بِعَمِّهِ الْعَبَّاسِ بَعْدَ مَوْتِهِ ، وَتَوَسُّلُهُمْ بِهِ هُوَ اسْتِسْقَاؤُهُمْ بِهِ بِحَيْثُ يَدْعُو وَيَدْعُونَ مَعَهُ فَيَكُونُ هُوَ وَسِيلَتَهُمْ إلَى اللَّهِ وَهَذَا لَمْ يَفْعَلْهُ الصَّحَابَةُ بَعْدَ مَوْتِهِ وَلَا فِي مَغِيبِهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي مِثْلِ هَذَا شَافِعًا لَهُمْ دَاعِيًا لَهُمْ وَلِهَذَا قَالَ فِي حَدِيثِ الْأَعْمَى : اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ . فَعَلِمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَفَعَ لَهُ فَسَأَلَ اللَّهَ أَنْ يُشَفِّعَهُ فِيهِ . وَالثَّانِي : أَنَّ التَّوَسُّلَ يَكُونُ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَوْتِهِ وَفِي مَغِيبِهِ وَحَضْرَتِهِ وَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ : إنَّ مَنْ قَالَ بِالْقَوْلِ الْأَوَّلِ فَقَدْ كَفَرَ وَلَا وَجْهَ لِتَكْفِيرِهِ فَإِنَّ هَذِهِ مَسْأَلَةٌ خَفِيَّةٌ لَيْسَتْ أَدِلَّتُهَا جَلِيَّةً ظَاهِرَةً وَالْكُفْرُ إنَّمَا يَكُونُ بِإِنْكَارِ مَا عُلِمَ مِنْ الدِّينِ ضَرُورَةً أَوْ بِإِنْكَارِ الْأَحْكَامِ الْمُتَوَاتِرَةِ وَالْمُجْمَعِ عَلَيْهَا وَنَحْوِ ذَلِكَ . وَاخْتِلَافُ النَّاسِ فِيمَا يُشْرَعُ مِنْ الدُّعَاءِ وَمَا لَا يُشْرَعُ كَاخْتِلَافِهِمْ هَلْ تُشْرَعُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ عِنْدَ الذَّبْحِ ؛ وَلَيْسَ هُوَ مِنْ مَسَائِلِ السَّبِّ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ . وَأَمَّا مَنْ قَالَ : إنَّ مَنْ نَفَى التَّوَسُّلَ الَّذِي سَمَّاهُ اسْتِغَاثَةً بِغَيْرِهِ كَفَرَ وَتَكْفِيرُ مَنْ قَالَ بِقَوْلِ الشَّيْخِ عِزِّ الدِّينِ وَأَمْثَالِهِ فَأَظْهَرُ مِنْ أَنْ يَحْتَاجَ إلَى جَوَابٍ ؛ بَلْ الْمُكَفِّرُ بِمِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ يَسْتَحِقُّ مِنْ غَلِيظِ الْعُقُوبَةِ وَالتَّعْزِيرِ مَا يَسْتَحِقُّهُ أَمْثَالُهُ مِنْ الْمُفْتَرِينَ عَلَى الدِّينِ لَا سِيَّمَا مَعَ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { مَنْ قَالَ لِأَخِيهِ : كَافِرٌ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا } .
    Ini hanya beberapa ulama’ saja dan masih banyak lagi yang tidak dapat kami tampilkan semua disini. Kini tinggal bagaimana anda menanggapi terhadap perkataan ulama’ di atas.
    Kami juga memperingatkan kepada anda, jika komentar anda masih saja menyimpang dari pembahasan artikel, maka kami tidak akan meng-approvenya.

  89. saliq mengatakan:

    @ salafy wahabi

    klepek-klepek….

    hyo lho…mumet MUMET NDASMU…!!!

    he…he…he..

  90. El_Muhibbin mengatakan:

    Percuma saja Ustad Taufiq, Kumbara itu udah kenak doktrin dari Mbah-mbahnya wahaby.jadi yang ada diotaknya,dipemikirannya dan dipemahamannya cuman Mbah-mbahnya mereka itu,yang lain dianggap sesat.Sampai2 Akhina mas Elfasi mencomeni testimoninta kang @abdullah 73 seperti yang ana copas seperti dibawah ini:

    @ abdullah 73, alhamdulillah mas..ini bisa jadi gambaran bagi anda bahwa org diam tuh bukan berarti tidak bisa..tapi karena udah males ngeladeni org yang gak ngerti….dengan hanya mndengar doktrin dari guru lalu ikutan menvonis orang yang gak sepaham bid’ah dan kafir…..
    Kirim salam mas ma ustad2 anda jangan suka menvonis bid’ah atau bahkan kafir kepada orang yang gak sepaham dengan anda…
    Mas, ana akan menantikan kembalinya anda di forum ini setelah anda belajar lagi, atau mengajak sekalian guru2 anda….

    – 31 October 2010 at 12:40

    Isnya Allah bermanfaat

    Wallahu a’lam

  91. elfasi mengatakan:

    wahhhh…si kumbara muncul lagi setelah sekian lama vakum, rupanya telah belajar kpd ustad2nya buat cari jawaban untuk diskusi di web ini, sekarang kita liat hasil dari belajarnya selama ini, apakah masih bisa mengimbangi dalam diskusinya kali ini….
    @ kumbara, mas, udah lupa ya klo udah memelintir ayat atau perkataan ulama’. keliatan anda gak faham ama ucapan sndiri ajah, gimana dengan ucapan orang lain apalagi hadits n ayat al-Qur’an…???
    mas nih ana bawakan lagi kesalahan dan pemelintiran anda hnya untuk mencari dalil yang memperkuat perkataan anda :
    1. Anda telah merubah perkataan Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya hanya untuk menguatkan pemahaman anda (koment anda tertanggal – 19 October 2010 at 13:25 dan udah ana jawab dengan nash kitabnya tertanggal – 22 October 2010 at 12:35), ini adalah satu bentuk ketidak affairan dalam diskusi dan telah merusak kemasyhuran seorang ulama’. Inikah yang diajarkan oleh guru anda, demi mencari hujjah dengan menghalalkan segala cara walaupun dengan merubah perkataan ulama’ ???.
    2. Anda telah ikut2an dengan saudara Abdullah73 menyamakan orang yang bertawassul dengan penyembah berhala dari kaumnya Nabi Nuh, seperti pada surat az-Zumar ayat 3 dan surat Luqman ayat 25 (liat koment anda tertanggal – 10 October 2010 at 09:03), padahal secara jelas dalam tafsir ayat tersebut diperuntukkan untuk orang yang mensyirikkan Allah dengan menyembah selainnya walaupun tetap mengakui Allah sebagai pencipta langit dan bumi…
    3. Anda belum menanggapi sama sekali pada hadits riwayat at-Thabrani, Abu Nu’aim , dll berikut :
    اللهم بحقي وحق الأنبياء من قبلي ، اغفر لأمي بعد امي
    “ya Allah dgn hakku dan hak para Nabi sebelumku, ampunilah ibuku setelah ibuku “
    mas, untuk masalah Imam Bushiri yang anda anggap telah melakukan kebatilan dalam bait Burdatul Madiih-nya bahkan terkesan anda hukumi beliau telah melakukan kesyirikan, sebenarnya udah malas jawabnya karena gak sesuai dengan permasalahan artikel, tapi biarlah syekh anda Muhammad bin Abdulwahab sendiri yang jawab. Nih ana tampilkan perkataan syekh Muhammad bin Abdulwahab dalam Rasa’ilnya :
    ان سليمان بن سحيم افترى علي امورا لم اقلها ولم يأت اكثرها على بالي فمنها : اني اكفر من توسل بالصالحين ، واني اكفر البوصيري لقوله يا اكرم الخلق ، واني احرق دلائل الخيرات ، وجوابي عن هذه المسائل ان اقول : { سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ }
    “ sesungguhnya Sulaiman bin Suhaim, menuduh kepadaku beberapa perkara yang tidak aku katakan dan tidak terlintas kebanyakannya dalam hatiku, diantaranya (mengatakan bahwa) : aku telah mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang2 sholeh, aku kafirkan Imam Bushiri karena ucapannya (dalam Burdah-nya) :”wahai makhluk termulia”, dan aku bakar kitab Dala’il Khoirot, maka jawabku atas ini semua :” Maha Suci Engkau, ini adalah kedustaan yang besar”.
    @ Admin & all pengunjung, ternyata si Kumbara yang mengaku pengikut Muhammad bin Abdulwahab (wahhabi) hanyalah wahabi KTP saja, tp tidak membaca sama sekali kitab2 ulama’ mereka, tidak membaca kitabnya Ibn Taimiyah, dan Risalah syekh Muhammad bin Abdulwahab..terus kira2 yang dia ikuti dalam madzhab wahhabinya tuh sapa ya…???
    mas kumbara, ana sarankan..jangan mengklaim diri sebagai wahhabi dengan hanya mendengar dan dibodoh-bodohi ama ustadz2 anda yang baru belajar lalu mengklaim diri paling mengikuti sunnah.. tapi baca tuh kitab2 ulama’ wahabi anda semua, biar anda tau kebenarannya….

  92. kumbara mengatakan:

    @ forsan salaf (author), – 1 of 5 –
    Anda katakan:
    @ Kumbara, komentar anda sudah kemana-mana dan tidak fokus lagi terhadap pembahasan yaitu masalah tawassul. Sekarang inti pembahasan yang perlu anda jawab :
    1. Adakah nash shorih (jelas dan bukan dipaksakan) akan keharaman tawassul dan berdo’a atau membaca al-Qur’an di hadapan kubur ?.

    Jawab:
    Sepertinya forsan salaf (author) terlalu sibuk menanggapi komentar2 yang masuk disetiap artikelnya sehingga kelihatannya tidak sempat membaca tulisan2 secara menyeluruh, khususnya apa yang pernah sy sampaikan. begini lho… tidak ada yang mengharamkan tawassul secara mutlak. Yang diharamkan dari tawassul adalah tawassul yang menyalahi syariat. Hal ini tidak perlu sy jelaskan lagi silahkan lihat tulisan2 yang telah lalu.

    Adapun tuntunan amalan di kuburan saat berziarah yang sesuai syariat telah diajarkan oleh Nabi kita, yakni seperti membaca “Assalamualaikum ahladdiyar… (Semoga keselamatan atas kalian wahai penghuni kubur…). Sedangkan membaca al-Quran anda bisa simpulkan sendiri dg melihat dalil2 dari hadis yang banyak berikut. Oya perlu sy garis bawahi perkataan saya adalah “perbuatan yang tidak disyariatkan”, jadi sy tidak menghukumi haram membaca Al-quran di kuburan, sebagaimana terlihat di pertanyaan anda itu.

    Berikut ini beberapa hadistnya:
    1. Bumi semua adalah masjid kecuali kuburan dan kamar mandi (HR Abu Dawud)
    2. Aisyah r.a. dalam suatu riwayat bertanya kepada Nabi saw. mengenai ucapan saat ziarah kubur, “Apa yang mesti aku ucapkan wahai Rosulullah?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah, Semoga kesejahteraan bagi penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin… (HR Imam Muslim)
    3. Buraidah r.a. berkata, Adalah Rosulullah saw. Mengajarkan apabila berziarah kubur untuk mengucapkan doa, dan di antara mereka (para sahabat) ada yang berdoa, Semoga kesejahteraan dianugerahkan kepada penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin… (HR Muslim, an-Nasa’I, Ibnu Majah, Ibnu Abi Staibah, Ibnus Sunni, al-Baihaqi dan Ahmad)
    4. “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, karena sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibaca surah al-Baqarah.” (HR Muslim dan at-Tirmidzi)
    5. “Shalatlah kalian dirumah kalian dan janganlah kalian jadikan rumah2 kalian itu bagikan kuburan.” (HR Muslim dan Ibnu Umar)

    Dari hadis2 tersebut setidaknya 3 hal dapat kita pahami:
    1.Para sahabat tidak membaca al-quran (walaupun semisal surat al-fatihah) ketika berziarah kubur.
    2.Amalan saat ziarah kubur adalah dengan mendoakan penghuni kubur.
    3.Larangan melakukan amalan2 layaknya amalan di dalam masjid. Termasuk didalamnya membaca al-quran.

  93. kumbara mengatakan:

    @ forsan salaf (author), – 2 of 5 –
    2. Hadits mana dalam artikel di atas yang anda anggap lemah ?.

    Jawab:
    Ini saya kopas dari tulisan sy yang telah lalu (hadis ini tertera pada artikel):

    @cah njeporo
    Mengenai hadis yang anda katakan sohih (tentang nabi Adam memohon ampunan kepada Allah dgn bertawassul kepada nabi Muhammad) sesungguhnya masih dipertentangkan kesohihannya. Dari keterangan2 yang ada pada saya memang ada beberapa ulama memasukkan hadis ini dalam karya-karya mereka. Mereka adalah Ibn al-Jauzi, al-Baihaqi, al-Hakim, al-Subki, dan Abu Nu’aim. Akan tetapi semua ulama ini mengetahui/mengakui adanya kelemahan dalam sanadnya yakni kelemahan seorang perawinya yang bernama Abdurrahman ibn Zaid.
    Sedangkan ibn Hibban mengatakan Abdurrahman ibn Zaid adalah seorang pemalsu hadis (Lisan al-Mizan Juz III hal. 360 dan 442).

    Hadits tsb diriwayatkan melalui banyak sanad, tetapi tidak luput juga dari adanya cela atas perawi didalamnya.
    Pakar hadist seperti adz-Dzahabi dan al-Asqalani mengatakan hadis ini batil sedangkan Ibn Hibban mengatakan sanad hadits tsb terdapat nama Abdulloh bin Muslim bin Rasyad. Dia tertuduh sebagai pemalsu hadits, sebab ia pernah terbukti memalsu hadits dari Laits, Malik, dan Ibn Luhay’ah”.

  94. kumbara mengatakan:

    @ forsan salaf (author), – 3 of 5 –
    3. Ini kami bawakan sebagian dari pendapat ulama’ yang memperbolehkan tawassul. Tolong anda cek kembali !. :
    a.Pernyataan Syekh Muhammad bin Abdulwahab menanggapi persepsi orang dalam istisqo’ :

    Jawab:
    Dengan sangat menyesal sy tidak bisa memeriksa/cek seperti apa yang anda tuliskan tsb. Masalah utamanya adalah karena sy tidak memiliki bukunya, jika anda punya lebih dan berkenan untuk memberikan/meminjamkan kepada sy, saya akan kirimkan alamat saya pada anda.
    Walau begitu dari tulisan2 beliau pada buku Fathul Majid yang ada pada sy (buku tsb dalam bahas Indonesia yang sy beli sekitar awal November 2010) mungkin komentar saya atas yang anda tulis dapat saya sampaikan seperti yang ada didalam tanda kurung “()”.

    boleh bertawassul dengan orang2 sholeh (yang masih hidup, yakni dengan doa mereka)
    “ akan tetapi berkata dalam do’anya :” aku meminta dengan berkat Nabi-Mu atau dengan Rasul2-Mu ATAU DGN HAMBA2-MU YANG SHOLEH ATAU MENUJU KUBURAN TERKENAL ATAU LAINNYA DAN BERDO’A DISISINYA (seperti inilah yang terlarang).

    b.Syekh Ibn Taimiyah dalam Majmu’ fatawanya : …….

    Jawab:
    Dengan sangat menyesal sy juga tidak bisa memeriksa/cek seperti apa yang anda tuliskan tsb. Masalahnya juga adalah karena sy tidak memiliki bukunya, jika anda punya lebih dan berkenan untuk memberikan/meminjamkan kepada sy, saya akan kirimkan alamat saya pada anda.

    Tulisan anda:
    “ syekh Ibn Taimiyah ditanya tawassul dengan Nabi diperbolehkan ataukah tidak ?, maka beliau menjawab :” Alhamdulillah, adapun tawassul dengan iman, kecintaan kepada Nabi, ketaatan kepadanya, dan shalawat kepadanya, do’anya, syafaatnya dan yang semisalnya daripada perbuatan beliau dan perbuatan hamba-hamba adalah masyru’ (diperintahkan) dengan kesepakatan orang-orang muslim “

    Jawab:
    Dapat sy cocoki perkataan Ibn Taimiyah dengan perkataan Muhammad Nasib Ar-Rifa’i mengenai tawassul (telah sy sampaikan sebelumnya) seperti:

    1.Tidak adanya bertawassul kepada orang yang telah meninggal, perkataan:
    “do’anya” di situ adalah doa Nabi saat Beliau masih hidup. Karena telah mahsyur bahwa berdoa atau memohon kepada Allah SWT itu hanya bisa dilakukan saat masih hidup di dunia, tidak di alam barzah. Karena tidak ada satu nash dalam al-quran maupun hadis yang sahih tentang bisa/adanya/diterimanya do’a mayit didalam kubur sekalipun seorang Nabi.
    “syafaatnya” yakni nanti di alam akhirat kelak, sebagaimana hadis “…Yang berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya.” (HR. Bukhari no. 99).
    “dan semisalnya daripada perbuatan beliau” yakni bagi orang2 yang mencontoh/menjalankan sunnah2 beliau Rosulullah saw.
    “perbuatan hamba-hamba” yakni orang2 yang beramal soleh, tentu yang namanya amal soleh adalah setiap amalan yang sesuai dengan syariat Allah SWT dan Rosul-Nya.

    2.Tidak adanya bertawassul dengan sesuatu yang belum wujud.

    3.Tidak adanya bertawassul dengan benda2 mati.

  95. kumbara mengatakan:

    @ forsan salaf (author), – 4 of 5 –
    Kemudian tulisan anda:
    “ tawassul dengan iman kepada beliau dan ketaatan kepadanya adalah wajib bagi setiap orang secara dhohir baik ketika beliau masih hidup ataukan setelah beliau wafat, dihadapan beliau ataukah tidak….lalu berkata :” Dialah (Rasulullah SAW) pemberi syafaat kpd para makhluk, pemilik kedudukan yang tinggi yang diharapkan oleh orang2 terdahulu dan terakhir, dialah yang paling agung dan luhurnya pemberi syafaat kedudukannya “

    Jawab:
    Saya kira kalimat diatas tersebut tidak mengindikasikan tawassul seperti yang anda maksudkan ya…, maaf mengerti maksud saya?

    Baik biar anda lebih jelas / lebih mudah, susunan kalimatnya akan coba di balik dan sedikit diringkas.

    “dihadapan beliau (Rosulullah saw) atau pun tidak dihadapan beliau, baik ketika beliau masih hidup ataukan setelah beliau wafat adalah wajib bagi setiap orang untuk bertawassul kepada beliau dengan iman dan ketaatan kepada-nya (Rosulullah).”

    Sudah jelaskah bagi anda bahwa tawassul yang dimaksud disitu adalah dengan ketaatan kepada Rosul tentu setelah keimanan kepada Allah dan Rosul-Nya, begitulah cara untuk mendapatkan syafaat beliau Rosulullah saw. Hal ini semakna dengan hadis “…Yang berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya.” (HR. Bukhari no. 99).

    Mudah2an anda sudah mengerti, kalau anda masih belum megerti juga mungkin orang arab badui seperti yang dikatakan dalam ayat berikut jauh lebih pintar dari anda.

    “Di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa rasul. Ketahuilah, Sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. At Taubah:99)

    Oya tentang ayat ini juga (bersedekah/menafkahkan harta di jalan Allah) bisa diambil pelajaran ataupun sebagai contoh bentuk wasilah/cara/jalan (yang syar’i) untuk mendapatkan doa Rosul (ketika beliau masih hidup) mendekatkan diri kepada Allah SWT karena hal tsb sebagai bentuk amal-amal soleh (amal-amal soleh adalah salah satu cara/wasilah/jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah baik saat Rosulullah masih hidup atau setelah wafat).

    Untuk mendapatkan doa Nabi atau untuk mendekatkan diri kepada Allah perlukah kita datang ke kubur Nabi??? apalagi hanya ke kuburan orang soleh atau kuburan para wali…!!

    @ saliq
    Anda terlihat seperti orang yang tidak pernah belajar agama, taunya hanya berkata2 sinis.

  96. kumbara mengatakan:

    @elfasi, – 5 of 5 –
    Saya sudah siapkan jawaban untuk anda. Tapi mungkin tidak sekarang, khawatir terlalu panjang sehingga anda ataupun forsan salaf akan malas membacanya.

    Oya ada postingan sy untuk all pembaca yang lain dan juga buat El_muhibbin, kok tidak tampil ya? Mungkin dari situ saudara saya elfasi akan tau, alasan saya kenapa lama tidak ada dalam forum ini. Dan perlu anda ketahui belum pernah 1 kalipun saya berdiskusi dg teman atau guru dalam masalah tawassul ini, sehingga jika pun ada yang sy sampaikan salah itu adalah karena kobodohan saya sendiri dan saya mohon ampunan kepada Allah SWT, dan berharap semoga Allah Azza wa jalla menunjuki saya kebenaran2 sehingga saya kembali pada aqidah dan pemahaman yang tidak menyelisihi Allah dan Rosul-Nya.

    Anda tau kenapa? Karena mereka atau paling tidak seorang teman saya (yang sy anggap jauh ilmu agamanya disbanding sy) berkata seperti dalam jawaban emailnya….

    ****
    Kalo menurutku sih, akan menghabiskan waktu kita jika kita meladeni mereka.
    Insyaa Allaah da’wah yg haq akan trus ”berjalan”, dan hanya Allaah jalla wa ’alaa jua lah akan didatangkan hidayatut taufiiq.
    Kita berdoa saja agar mereka diberikan hidayatut taufiiq tsb.
    Selebihnya, kita sibukkan diri kita utk bergelut dgn ’ilmu diin yang bisa membawa kita meraih surga Nya.
    Aamiin.
    ****

  97. baim mengatakan:

    saya sebagai pengamat melihat dari komentar2 mas kumbara dia lebih mengutamakan akalnya sendiri daripada para ulama padahal ulama2 diatas ulama nya sendiri
    sungguh lucu
    hehehe

  98. Urang Bandung Thea mengatakan:

    Assalamulaikum Wr. Wb,,

    Bentuk tawassul yg paling sederhana sebenarnya ada dalam sholat sehari – hari, Contohnya tahiyat, khan ada Allhohumma sholli ala Muhammad sdtnya, kemudian Allohummasholli ala Ibrohim dsterusnya.., ya khan., atau dalam kita dalam kehidupan sehari – hari jangan mengingkari bahwa kita secara tdk sadar melakukan tawassul, seperti ketika mau nikah pasti di dilihat asal – muasal keturunannya, ketika berbisnis atau berinteraksi dengan berbagai kepentingan – kepentingan mungkin akan disebutkan saya anak si fulan bin fulan (sekalipun sudah meninggalkan dunia) ya khan .., jadi apalagi doa – doa…

    Wassalam mualaikum Wr. Wb..

    Salam Persaudaraan antar Muslim.

  99. saliq mengatakan:

    @kumbara
    sampeyan bilang:
    buku Fathul Majid yang ada pada sy (buku tsb dalam bahas Indonesia yang sy beli sekitar awal November 2010)
    ————————————————————-

    وَأَمَّا التَّوَسُّلُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفِيهِ حَدِيثٌ فِي السُّنَنِ رَوَاهُ النسائي والترمذي وَغَيْرُهُمَا { : أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ : إنِّي أُصِبْت فِي بَصَرِي فَادْعُ اللَّهَ لِي فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأْ وَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ أَسْأَلُك وَأَتَوَجَّهُ إلَيْك بِنَبِيِّك مُحَمَّدٍ يَا مُحَمَّدُ إنِّي أَتَشَفَّعُ بِك فِي رَدِّ بَصَرِي . اللَّهُمَّ شَفِّعْ نَبِيَّك فِيَّ وَقَالَ : فَإِنْ كَانَتْ لَك حَاجَةٌ فَمِثْلُ ذَلِكَ فَرَدَّ اللَّهُ بَصَرَهُ . } فَلِأَجْلِ هَذَا الْحَدِيثِ اسْتَثْنَى الشَّيْخُ التَّوَسُّلَ بِهِ . وَلِلنَّاسِ فِي مَعْنَى هَذَا قَوْلَانِ : أَحَدُهُمَا : أَنَّ هَذَا التَّوَسُّلَ هُوَ الَّذِي ذَكَرَ ” عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ” رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ : كُنَّا إذَا أَجْدَبْنَا نَتَوَسَّلُ بِنَبِيِّنَا إلَيْك فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إلَيْك بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا فَقَدْ ذَكَرَ عُمَرُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – : أَنَّهُمْ كَانُوا يَتَوَسَّلُونَ بِهِ فِي حَيَاتِهِ فِي الِاسْتِسْقَاءِ ثُمَّ تَوَسَّلُوا بِعَمِّهِ الْعَبَّاسِ بَعْدَ مَوْتِهِ ، وَتَوَسُّلُهُمْ بِهِ هُوَ اسْتِسْقَاؤُهُمْ بِهِ بِحَيْثُ يَدْعُو وَيَدْعُونَ مَعَهُ فَيَكُونُ هُوَ وَسِيلَتَهُمْ إلَى اللَّهِ وَهَذَا لَمْ يَفْعَلْهُ الصَّحَابَةُ بَعْدَ مَوْتِهِ وَلَا فِي مَغِيبِهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي مِثْلِ هَذَا شَافِعًا لَهُمْ دَاعِيًا لَهُمْ وَلِهَذَا قَالَ فِي حَدِيثِ الْأَعْمَى : اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ . فَعَلِمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَفَعَ لَهُ فَسَأَلَ اللَّهَ أَنْ يُشَفِّعَهُ فِيهِ . وَالثَّانِي : أَنَّ التَّوَسُّلَ يَكُونُ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَوْتِهِ وَفِي مَغِيبِهِ وَحَضْرَتِهِ وَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ : إنَّ مَنْ قَالَ بِالْقَوْلِ الْأَوَّلِ فَقَدْ كَفَرَ وَلَا وَجْهَ لِتَكْفِيرِهِ فَإِنَّ هَذِهِ مَسْأَلَةٌ خَفِيَّةٌ لَيْسَتْ أَدِلَّتُهَا جَلِيَّةً ظَاهِرَةً وَالْكُفْرُ إنَّمَا يَكُونُ بِإِنْكَارِ مَا عُلِمَ مِنْ الدِّينِ ضَرُورَةً أَوْ بِإِنْكَارِ الْأَحْكَامِ الْمُتَوَاتِرَةِ وَالْمُجْمَعِ عَلَيْهَا وَنَحْوِ ذَلِكَ . وَاخْتِلَافُ النَّاسِ فِيمَا يُشْرَعُ مِنْ الدُّعَاءِ وَمَا لَا يُشْرَعُ كَاخْتِلَافِهِمْ هَلْ تُشْرَعُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ عِنْدَ الذَّبْحِ ؛ وَلَيْسَ هُوَ مِنْ مَسَائِلِ السَّبِّ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ . وَأَمَّا مَنْ قَالَ : إنَّ مَنْ نَفَى التَّوَسُّلَ الَّذِي سَمَّاهُ اسْتِغَاثَةً بِغَيْرِهِ كَفَرَ وَتَكْفِيرُ مَنْ قَالَ بِقَوْلِ الشَّيْخِ عِزِّ الدِّينِ وَأَمْثَالِهِ فَأَظْهَرُ مِنْ أَنْ يَحْتَاجَ إلَى جَوَابٍ ؛ بَلْ الْمُكَفِّرُ بِمِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ يَسْتَحِقُّ مِنْ غَلِيظِ الْعُقُوبَةِ وَالتَّعْزِيرِ مَا يَسْتَحِقُّهُ أَمْثَالُهُ مِنْ الْمُفْتَرِينَ عَلَى الدِّينِ لَا سِيَّمَا مَعَ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { مَنْ قَالَ لِأَخِيهِ : كَافِرٌ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا } .
    artinya:
    tanya sama mbah google translate…!! ngaji sama mbah google..
    sanad bersambung dengan mozila firefox…lahir aliran nyleneh salafy wahabi,mahrus ali,lia edan dsb.

  100. elfasi mengatakan:

    @ Kumbara, mas, rupanya anda tak ubahnya orang2 wahabi yang telah ikutan diskusi disini sebelum anda yaitu menyimpulkan suatu dalil dgn pemikiran sendiri tanpa melihat bagaimana pendapat ulama’ yang telah berkompeten dalam bidangnya…
    Anda membawa dalil lalu anda simpulkan sendiri padahal kesimpulan anda sangat jauh dari pemahaman para ulama’ ahli hadits..anda menyatakan dilarang melakukan amalan2 di kuburan seperti membaca al-Qur’an, padahal tidak ada satu pun dari ulama’ ahli hadits menyatakan seperti itu, yang ada mereka katakan hadits itu adalah untuk kemakruhan shalat di kuburan saja dan bukan mengartikan larangan semua amal dikuburan seperti membaca al-Qur’an…(liat kitab fath al-baaari syarh shohih Bukhori)
    untuk masalah baca al-Qur’an di kubur sebenarnya udah malas mau nanggapinya mas, krn itu udah keluar lg dri pembahasan artikel n anda terkesan lari dari pembahasan semua yaitu tawassul…kita minta ajah pembahasan secara khusus dalam artikel khusus mengenai “PEMBACAAN AL-QUR’AN DI KUBURAN DAN SAMPAINYA PAHALA KE MAYIT”, jika bisa dibuatkan oleh admin, anda bisa mempersiapkan dari sekarang dan bisa kita diskusikan hingga tuntas. Namun agar tidak mengecewakan anda telah menampilkan beberapa dalil yang anda anggap sebagai hujjah larangan membaca al-Qur’an di kuburan, maka kami akan menjawab dengan beberapa pendapat ulama’ anda sebagai berikut :
    1. Syekh Ibn Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa-nya juz 24 hal. 298
    وَأَمَّا الْقِرَاءَةُ عَلَى الْقَبْرِ فَكَرِهَهَا أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ وَأَحْمَد فِي إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ . وَلَمْ يَكُنْ يَكْرَهُهَا فِي الْأُخْرَى . وَإِنَّمَا رَخَّصَ فِيهَا لِأَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَوْصَى أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ قَبْرِهِ بِفَوَاتِحِ الْبَقَرَةِ وَخَوَاتِيمِهَا ، وَرُوِيَ عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ قِرَاءَةُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ، فَالْقِرَاءَةُ عِنْدَ الدَّفْنِ مَأْثُورَةٌ فِي الْجُمْلَةِ وَأَمَّا بَعْدَ ذَلِكَ فَلَمْ يُنْقَلْ فِيهِ أَثَرٌ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .
    “ Adapun bacaan al-Qur’an di kuburan, maka Imam Abu Hanifah memakruhkannya, begitu juga menurut pendapat Imam Malik dan Ahmad dalam sebagian pendapatnya, dan tidak memakruhkan sama sekali dalam pendapat lainnya. Hanya saja memperbolehkan (untuk melaksanakannya) karena ada riwayat yang sampai kepadanya bahwa Abdullah bin Umar berwasiat agar dibacakan di kuburnya pembukaan surat al-Baqarah dan penutupannya, dan diriwayatkan dari sebagian shahabat bacaan surat al-Baqarah. maka bacaan al-Qur’an ketika prosesi penguburan mayit adalah disunnahkan secara global, adapun setelahnya maka tidak dinukil suatu atsar “
    Dan beliau juga mengatakan dalam kitab yang sama pada juz 24 hal. 366-367:
    وَأَمَّا ” الْقِرَاءَةُ وَالصَّدَقَةُ ” وَغَيْرُهُمَا مِنْ أَعْمَالِ الْبِرِّ فَلَا نِزَاعَ بَيْنَ عُلَمَاءِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ فِي وُصُولِ ثَوَابِ الْعِبَادَاتِ الْمَالِيَّةِ كَالصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ كَمَا يَصِلُ إلَيْهِ أَيْضًا الدُّعَاءُ وَالِاسْتِغْفَارُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ صَلَاةُ الْجِنَازَةِ وَالدُّعَاءُ عِنْدَ قَبْرِهِ . وَتَنَازَعُوا فِي وُصُولِ الْأَعْمَالِ الْبَدَنِيَّةِ : كَالصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ وَالْقِرَاءَةِ . وَالصَّوَابُ أَنَّ الْجَمِيعَ يَصِلُ إلَيْهِ
    “ Adapun bacaan al-Qur’an dan shodaqoh” dan selain keduanya dari amal2 kebaikan , maka tidak ada pertentangan di antara ulama’ ahlisunnah wal jama’ah akan sampainya pahala amal ibadah berupa harta seperti shodaqoh dan pembebasan budak sebagaimana sampainya kepada mayit do’a, istighfar, sholat jenazah, dan do’a di kuburnya. Namun terjadi pertentangan akan sampainya amal berupa pekerjaan badan seperti puasa, shalat dan bacaan al-Qur’an, pendapat yang tepat adalah semua itu sampai kepada mayit”
    2. Imam Ibn Qoyyim dalam kitabnya ar-Ruh hal 11 menjawab akan permasalahan sampainya amal orang yang hidup kepada mayit, beliau berkata :
    هذه النصوص متظاهرة على وصول ثواب الأعمال إلى الميت إذا فعلها الحي عنه وهذا محض للقياس فإن الثواب حق للعامل فإذا وهبه لأخيه المسلم لم يمنع من ذلك كما لم يمنع من هبة ماله في حياته وإبرائه له من بعد موته وقد نبه النبي بوصول ثواب الصوم الذي هو مجرد ترك ونية تقوم بالقلب لا يطلع عليه إلا الله وليس بعمل الجوارح على وصول ثواب القراءة التي هي عمل باللسان تسمعه الأذن وتراه العين بطريق الأولى ، ويوضحه أن الصوم نية محضة وكف النفس عن المفطرات وقد أوصل الله ثوابه إلى الميت فكيف بالقراءة التي هي عمل ونية بل لا تفتقر إلى النية فوصول ثواب الصوم إلى الميت فيه تنبيه على وصول سائر الأعمال
    “ Ini adalah nash yang menjelaskan akan sampainya pahala amal2 kepada mayit yang dikerjakan oleh orang yang hidup. ini adalah murni qiyas, karena sesungguhnya pahala adalah hak orang yang beramal, sehingga jika dia menghadiahkannya kepada saudaranya muslim, maka tidak ada halangan sama sekali sebagaimana tidak tercegah untuk menghadiahkan hartanya semasa hidup atau membebaskan hutangnya setelah mati. Nabi benar2 telah memperingatkan akan sampainya pahala puasa yang hanya berupa niat dalam hati yang tidak bisa mengetahuinya kecuali hanya Allah semata dan bukanlah termasuk amal badan, dan memperingatkan akan sampainya pahala bacaan al-Qur’an yang berupa amal lisan yang bisa terdengar oleh telinga dan Nampak oleh mata “
    3. Syekh Muhammad bin Abdulwahab dalam kitabnya ahkamu tamanni al-maut hal. 51-52 beliau menyatakan bahwa mayit mengetahui terhadap siapa yang menziarohinya bahkan menjawab salam dari peziaroh :
    اخرج اِبْن عَبْد الْبَرّ : قال النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” مَا مِنْ رَجُل يَمُرّ بِقَبْرِ أَخِيهِ كَانَ يَعْرِفهُ فِي الدُّنْيَا فَيُسَلِّم عَلَيْهِ إِلَّا رَدَّ اللَّه عَلَيْهِ رُوحه حَتَّى يُرَدّ عَلَيْهِ السَّلَام ” صححه عبد الحق وفي الباب عن ابي هريرة وعائشة ولأحمد والحاكم عنها قَالَتْ كُنْتُ أَدْخُلُ بَيْتِى الَّذِى دُفِنَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى فَأَضَعُ ثَوْبِى فَأَقُولُ إِنَّمَا هُوَ زَوْجِى وَأَبِى فَلَمَّا دُفِنَ عُمَرُ مَعَهُمْ فَوَاللَّهِ مَا دَخَلْتُ إِلاَّ وَأَنَا مَشْدُودَةٌ عَلَىَّ ثِيَابِى حَيَاءً مِنْ عُمَرَ. وللبيهقي والحاكم عن ابي هريرة مرفوعا أشهد أنكم أحياء عند الله فزوروهم وسلموا عليهم فوالذى نفسى بيده لا يسلم عليهم أحد إلا ردوا عليه إلى يوم القيامة
    Dari Ibn Abdil Bir berkata :” Rasulullah SAW bersabda :” tidak ada seseorang melewati kubur saudaranya yang dia ketahui di dunia lalu mengucapkan salam kepadanya kecuali Allah kembalikan ruhnya sehingga bisa menjawab salamnya” hadits yang dishohihkan oleh Abdul Haq. Dalam bab yang sama dari Abi Hurairah dan A’isyah berkata :” aku masuk rumahku dimana dikuburkan di dalamnya Rasulullah dan ayahku, akau melepas bajuku (membuka aurat) dan aku berkata :” beliau suami dan ayahku sendiri. Namun ketika dikuburkan Umar bersama mereka, maka demi Allah, aku tidaklah memasukinya kecuali aku ikatkan bajuku karena merasa malu kepada Umar r.a. Dan hadits riwayat al-Baihaqi dan Hakim dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda (ketika berziaroh kepada syuhada’):” aku bersaksi bahwa kalian adalah hidup disisi Allah, maka ziarohlah kalian kepada mereka dan ucapkan salam, karena demi Allah, tidaklah mengucapkan salam kepada mereka salah sati dari kalian kecuali mereka menjawab salamnya hingga hari kiamat “.

    Sebenarnya masih banyak yang tidak bisa ana tampilkan juga disini dari perkataan ulama’ anda sendiri, tapi yang menjadikan ana malas adalah pasti anda akan mengatakan sayang sekali saya tidak memiliki kitabnya, maka saya katakan kepada anda :” sebenarnya anda ini wahabi cap apa ? kog gak mengetahui akan perkataan ulama’ anda sendiri dan tidak mau memperdalam, tapi anda hanya membaca buku berbahasa Indonesia yang sudah sarat akan penipuan dari penterjemah ???

  101. elfasi mengatakan:

    @ kumbara, gini ini klo debat ma orang yang ama kitab syekhnya sendiri (khususnya yang berbahasa arab) gak tau sama sekali, tapi malah menggunakan buku bahasa Indonesia yang sangat memungkinkan terjadinya perubahan dari penterjemah….apakah karena gak punya atau emank gak bisa baca kitab bahasa arab kali…??
    mas, klo anda gak punya, coba tanyakan ustad anda yang memilikinya..klo kitab FATHUL MAJID kami punya redaksinya mas yang berbahasa arab, kitab yang isinya pengkafiran secara masal umat muslimin, tuduhan2 orang yang bertawassul sebagai penyembahan terhadap makhluk tanpa dasar yang jelas…..
    untuk masalah bertawassul dengan Nabi, jika anda tidak menyetujui tawassul dengan beliau (khususnya dengan dzat beliau) atau dengan do’a beliau karena beliau menurut anggapan anda telah mati, sehingga tidak bisa memberikan manfaat sama sekali, lalu anda tidak bisa menerima sama sekali bertawassul dengan ucapan :
    اَللَّهُمَّ بِحَقِّ النَّبِي atau اَللَّهُمَّ بِمُحَمَّدٍ , maka ana kasih solusinya, karena ana anggap anda tidak memahami sama sekali tentang ilmu bahasa, khususnya pembuangan mudhof..
    begini mas, anda bisa saja menggunakan kalimat di atas, tanpa merubah apapun namun dengan mengira-ngirakan adanya pembuangan kalimat yaitu mudhof sebelum kalimat محمد sesuai keyakinan yang anda anggap benar dalam bertawassul (seperti keimanan kepada Nabi, ketaatan kepada beliau atau lainnya)……yang demikian adalah diperbolehkan secara bahasa, dan tidaklah bertentangan dalam menurut pemahaman anda karena sudah sesuai dengan tatacara tawassul yang diperbolehkan menurut pemahaman anda…..
    @ admin, mohon dibuatkan di web ini artikel khusus tentang “BACAAN AL-QUR’AN DI KUBURAN DAN SAMPAINYA AMAL (PAHALA) KEPADA MAYIT”, agar bisa kami diskusikan disini dan kami harap mereka tidak lari lagi dengan mencari2 pembahasan baru yang tidak sesuai dengan ini artikel..
    @ all pengunjung, anda liat bagaimana si kumbara sudah mulai kebingungan dan tidak konsisten dengan pembahasan isi artikel tapi malah mencari2 pembahasan baru….ketika dibawakan pendapat dari ulama’ mereka yang justru bertentangan dengan pemahamannya, dia mengelak atau beralasan tidak memiliki kitab mereka, memang dia wahabi cap apa ya…??? masa memiliki pemahaman seperti itu tapi tidak tau pendapat ulama’ mereka sendiri seperti padahal bertentangan dengan pemahamanya..???
    kita liat nanti bagaimana tanggapan dia setelah ana bawakan lagi perkataan ulama’nya, apakah masih mengelak juga dan tidak memiliki lagi kitabnya ??? kita tunggu saja jawabannya…..
    anda juga bisa meliat bagaimana dia bak seorang ahli hadits yang sangat mengenal dengan rijal hadits (perowi hadits) lalu menyatakan suatu hadits adalah dhoif dan tidak bisa dibuat hujjah, padahal Imam Suyuthi telah menyatakan shohih, begitu juga dengan Imam al-Baihaqi, imam Qasthalany, Zarqany dan Imam Subuki ???… dan bagaimana pula dia telah melakukan penyimpulan sendiri pada suatu dalil tanpa meliat pendapat ulama’ yang sudah ahli, lantas mereka tuh mengikuti pendapat ulama’ ataukah melakukan pemahaman sendiri walaupun dari seorang kumbara dengan pemahaman yang sangat minim karena Nampak tidak memahami sama sekali tentang ilmu bahasa….???

  102. forsan salaf mengatakan:

    @ elfasi & all pengunjung, terima kasih atas permohonannya, insya Allah akan kami penuhi permintaan anda berupa artike mengenai “BACAAN AL-QUR’AN DI KUBURAN DAN SAMPAINYA PAHALA KEPADA MAYIT” , namun itu semua setelah artikel yang sudah menjadi agenda utama kami saat ini sebagaimana yang terpampang dalam Headline di atas yaitu “AHLU BAIT KETURUNAN RASULULLAH SAW “.
    Terima kasin atas kunjungan dan pertisipasi anda semua di website kami ini, mudah-mudahan bisa memberikan hasanah ilmu agama yang bisa didiskusikan secara ilmiah.

  103. muhibbin mengatakan:

    @ Kumbara,
    waduhhhh mas, ayat larangan untuk shalat di kuburan kog dibuat larangan ngaji (baca al-Qur’an) sih…udah kehabisan amunisi berupa dalil2 ya, ampe maksakan dalil yg gak berhubungan sama sekali seperti itu? atau memang nih sudah jadi cara anda dan para pengikut muhammad bin abdulwahab dalam mencari dalil sebagai hujjah ?.

  104. El_Muhibbin mengatakan:

    Ni ya akhi ana bawakan siapah guru dan bagaimanakah orang yang katanya selalu berada di Al-Qur’an Dan Sunnah ( wahaby ) kalo mau belajar belajar dengan siapa…?

    http://www.facebook.com/assunnah

    Anda bisa buka dari web facebook yang ana tulis itu dan lihat didinding orang itu bagaimana ketika dia ingin mencari riwayat hidup Ibnu ‘Atho-illah,anda bisa liat dia mencarinya dimana. jadi jangan kaget kalo orang-orang wahaby seperti itu lha wong belajar saja dengan guru yang salah. Guru kok google,lha terus ulama itu dianggap apa sama orang wahaby itu. Weess wes ruwet ruwet,jangan jangan aqidahnya juga aqidah googleliyah nih orang …😀

  105. ana mengatakan:

    mohon komentarnya tentang ibnu attoillah as sakandari,soalnya saya pernah tanya sama salah satu ustadz salafi katanya shekh ibn attoillah itu sufi yg aqidahnya melenceng dari assunnah,apakah benar pendapat tersebut,soalnya sy termasuk salah satu orang yg menyukai isi kitab hikam,maksih

  106. Mas Kate mengatakan:

    syukran atas pemahaman tentang tawasul. sungguh sangat bermanfaat,
    jadi jelas, tidak ada dalil yg mengharamkan tawasul. Harap Waspada orang yg mengatasnamakan islam tapi inkar sunnah. syukran/trimakasih

  107. avian mengatakan:

    Subhanallah,makin yakin dengan Tawassul,terima kasih akhiy…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: