Forsan Salaf

Beranda » Majelis Ifta' » Suami Minum Susu Istri, Hukum Pernikahannya?

Suami Minum Susu Istri, Hukum Pernikahannya?

123Kepada Team F.S

Assalamu’alaikum

Sewaktu duduk di bangku SMA, guru agama saya menerangkan tentang perempuan yang tidak boleh dinikahi, diantaranya saudari sepersusuan dan perempuan yang pernah menyusui kita.

Pertanyaan  :

Apabila ada suami (yang punya istri baru melahirkan) menyusu pada istrinya

a. Apakah status istri naik menjadi ibu (dari suaminya sendiri)?

b. Apakah status bapak dan anak menjadi sekaligus saudara sepersusuan?

c. Bagaimana status pernikahannya?

salam  sahrulxxx@unlever.xxx

NB . Mohon maaf bila pertanyaan dianggap kurang adab mengingat semakin

kompleksnya masalah saat ini.

FORSAN SALAF menjawab :Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh

Syarat-syarat menyusu yang menjadikan mahram ada 5: [1]

  • Usia anak yang menyusu tidak lebih dari 2 tahun Hijriyah.

Hal ini didasarkan ayat :

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آَتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (233)

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah-233)

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Daruqutni dari Sahabat Ibn Abbas Rasulullah SAW bersabda:

لاَ رَضَاعَ إِلاَّ مَا كَانَ فِى الْحَوْلَيْنِ

Tidak ada hukum persusuan kecuali dalam usia kurang dari dua tahun”

  • Air susu berasal dari perempuan yang sudah berumur 9 tahun Hijriyah.
  • Keluarnya susu pada waktu masih hidup.
  • Susu yang diminum sampai ke perut besar atau otak si anak.
  • Masuknya air susu di waktu si anak dalam keadaan hidup dan tidak kurang dari lima kali susuan.

Karenanya, bila seorang lelaki dewasa yang minum susu istrinya hal ini tidak berpengaruh terhadap hukum mahram, dalam arti istrinya tidak menjadi ibu susuan.

Namun bila suaminya adalah seorang bayi yang kurang dari 2 tahun (mungkin ini belum pernah terjadi, namun tetap sah secara syariat) dan memenuhi syarat di atas maka dia menjadi anak susuan,  istrinya menjadi ibu rodho’ dan status pernikahannya batal.

Contoh : seorang anak bayi yang belum genap 2 tahun dinikahkan dengan janda yang baru melahirkan. Kemudian istri menyusui suami kecilnya sampai lima kali susuan maka status pernikahannya batal, status istri berubah menjadi ibu rodlo’, mantan suaminya menjadi ayah rodlo’, dan suami kecilnya menjadi anak rodlo’. [2]

[1] فتح المعين – (ج 3 / ص 329(

(تنبيه) الرضاع المحرم وصول لبن آدمية بلغت سن حيض، ولو قطرة، أو مختلطا بغيره – وإن قل – جوف رضيع لم يبلغ حولين يقينا خمس مرات يقينا عرفا، فإن قطع الرضيع إعراضا وإن لم يشتغل بشئ آخر أو قطعته المرضعة ثم عاد إليه فيهما فورا فرضعتان، أو قطعه لنحو لهو كنوم خفيف وعاد حالا أو طال والثدي بفمه أو تحول ولو بتحويلها من ثدي لآخر أو قطعته لشغل خفيف ثم عادت إليه فلا تعدد في جميع ذلك، وتصير المرضعة أمه، وذو اللبن أباه. وتسري الحرمة من الرضيع إلى أصولهما وفروعهما وحواشيهما نسبا ورضاعا، وإلى فروع الرضيع – لا إلى أصوله وحواشيه – ولو أقر رجل وامرأة قبل العقد أن بينهما أخوة رضاع وأمكن حرم تناكحهما، وإن رجعا عن الاقرار أو بعده فهو باطل، فيفرق بينهما.

روائع البيان /1/271

ما هي مدة الرضاع الموجب للتحريم ذهب جمهور الفقهاء مالك والشاعي واحمد الى ان الرضاعة الذي يتعلق به حكم التحريم ويجري به مجرى النسب بقوله عليه السلام يحرم من الرضاع ما يحرم من النسب هو ما كان في حولين واستدلوا بقوله تعالى “والوالدات يرضعن اولادهن حولين كاملين” . وبما روي عن ابن عباس رضي الله عنهما “ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا رضاع الا ما كان في حولين “. وذهب ابو حنيفة الى ان مدة الرضاع المحرم سنتان ونصف لقوله تعالى “وحمله وفصاله ثلاثون شهرا”,.

قال العلامة القرطبي “والصحيح الاول لقوله تعالى حولين كاملين “. وهذا يدل على ان الحكم ان لا حكم لمن ارتضع المولود بعد الحولين ولقوله عليه السلام “لا رضاع الا ما كان في حولين”. وهذا الخبر مع الاية والمعنى ينفي رضاعة الكبير وانه لا حرمة له . وقد روي عن عائشة القول به وبه يقول الليس بن سعد انه يرى رضاع الكبير وروي عنه الرجوع عنه.

]2[ روضة الطالبين وعمدة المفتين – (ج 3 / ص 275)

ولو كانت تحته كبيرة فطلقها فنكحت صغيراً وأرضعته بلبن المطلق حرمت على المطلق أبداً كما تحرم على الصغير لأنها زوجة أبيه.ولو نكحت صغيراً ففسخت نكاحه بغيبة ثم نكحت آخر فأرضعت الأول بلبن الثاني انفسخ نكاحها وحرمت عليهما أبداً لأن الأول صار ابناً للثاني فهي زوجة ابن الثاني وزوجة أبي الأول. ولو زوج مستولدته بعبده الصغير فأرضعته بلبن السيد حرمت على السيد والصغير معاً أبداً وحكى ابن الحداد أن المزني نقل عن الشافعي أنها لا تحرم على السيد وأن المزني أنكره على الشافعي وعلى ذلك جرى ابن الحداد والأصحاب فجعلوا نقل المزني غلطاً قال الشيخ أبو علي لكن يمكن تخريج ما نقل على قول في العبد الصغير أنه لا يجوز إجباره على النكاح أو على قول في أن أم الولد لا يجوز تزويجها بحال أو على وجه ذكر أنه لا يجوز للسيد تزويج أمته بعبده بحال فإنا إذا لم نصحح النكاح على أحد هذه.الآراء لم تكن زوجة الإبن فلا تحرم على السيد.ولو أرضعته بلبن غير السيد انفسخ نكاحه لأنها أمة ولا تحرم على السيد لأنه لم يصر ابناً له وكذا لو أرضعت المطلقة الصغير الذي نكحته بغير لبن الزوج انفسخ النكاح ولا تحرم هي على المطلِّق.

روضة الطالبين وعمدة المفتين – (ج 3 / ص 267)

الباب الأول في أركانه وشروطه أما الأركان فثلاثة.: الأول المرضع وله ثلاثة شروط الأول كونه إمرأة فلبن البهيمة لا يتعلق به تحريم فلو شربه صغيران لم يثبت بينهما أخوة ولا يحرم لبن الرجل أيضاً على الصحيح وقال الكرابيسي يحرم ولبن الخنثى لا يقتضي أنوثته على المذهب فلو ارتضعه صغير توقف في التحريم فإن بان أنثى حرم وإلا فلا. الشرط الثاني كونها حية فلو ارتضع ميتة أو حلب لبنها وهي ميتة لم يتعلق به تحريم كما لا تثبت حرمة المصاهرة بوطء الميتة.ولو حلب لبن حية وأوجر الصبي بعد موتها حرم على الصحيح المنصوص. الشرط الثالث كونها محتملة للولادة فلو ظهر لصغيرة دون تسع سنين لبن لم يحرم وإن كانت بنت تسع وإن لم يحكم ببلوغها لأن احتمال البلوغ قائم والرضاع كالنسب فكفى فيه الإحتمال. سواء كانت المرضعة مزوجة أم بكراً أم بخلافهما وقيل لا يحرم لبن البكر والصحيح الأول ونص عليه في البويطي.


8 Komentar

  1. Muhammad Sadullah mengatakan:

    saya baca disalahsatu situs begini :
    “Dari Ummi Salamah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,Penyusuan itu tidak menyebabkan kemahraman kecuali bila menjadi makanandan sebelum masa penyapihan.
    .
    Hadits terakhir menjelaskan bahwa bila telah lewat masa penyapihanseorang bayi lalu dia menyusu lagi, maka bila dia menyusu lagi tidakberdampak pada kemahramannya. Namun dalam hal ini para fuqoha berbedapendapat:

    1. Al-Malikiyah berpendapat bahwa hal itu tidak menyebabkankemahraman dengan bayi yang menyusu pada wanita yang sama. Karenakedudukan air susu itu baginya seperti minum air biasa.
    Dengan demikian maka bila seorang suami menyusu pada istrinya, jelastidak mengakibatkannya menjadi saudara sesusuan, karena seorang suamibukanlah bayi dan telah tidak menyusu sejak lama. Suami itu sudahmelewati usia dua tahunnya, sehingga ketika dia menyusu kepada seorangwanita lain termasuk istrinya, tidak berpengaruh apa-apa.

    2. Namun sebagian ulama mengatakan bila seorang bayi sudah berhentimenyusu, lalu suatu hari dia menyusu lagi kepada seseorang, maka halitu masih bisa menyebabkan kemahramannya kepada saudara sesusuannya. Diantara mereka adalah Al-Hanafiyah dan Asy-Syafi`iyyah. Termasukpandangan ibunda mukimin Aisyah ra.
    Pendapat mereka itu didasarkan pada keumuman hadits Rasulullah SAW:
    Sesungguhnya penyusuan itu karena lapar ..
    Dan dalam kondisi yang sangat mendesak, menyusunya seseoranglaki-laki kepada seorang wanita bisa dijadikan jalan keluar untukmembuatnya menjadi mahram. Hal itulah yang barangkali dijadikan dasaroleh Aisyah ra. tentang pengaruh menyusunya orang dewasa kepada seorangwanita.
    Rasulullah SAW memerintahkan Sahlah binti Suhail untuk menyusuiSalim maka dikerjakannya, sehingga dia berposisi menjadi anaknya. .
    Namun menurut Ibnul Qayyim, hal seperti ini hanya bisa dibolehkandalam kondisi darurat di mana seseorang terbentuk masalah kemahramandengan seorang wanita. Jadi hal ini bersifat rukhshah . Hal senadadipegang oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah.
    Wallahu A`lam”

    jadi dari keterangan diatas dijelaskan kalo menjadikan kenyang ataupun meredakan haus, suami tetap bisa jadi mahrom nya istri?
    apakah benar? mohon konfirmasinya…
    maturnuwun…

  2. forsan salaf mengatakan:

    @ muhammad sadullah, perlu diketahui bahwasanya syarat sahnya rodho’ (menyusui) hingga menjadikannya mahram harus bayi yang berumur tidak lebih dari 2 tahun. Ini adalah kesepakatan dari pendapat imam Asyafi’i. imam Malik dan imam Ahmad bin Hambal. sedangkan menurut imam Abu Hanifah ditambah 6 bulan sehingga batas akhirnya umur 2 tahun 6 bulan.
    Adapun pendapat yang menyatakan sahnya menyusui anak yang sudah besar dengan berdasar pada hadits Umi salamah menyusui salim hanya dari kalangan ulama’ dhohiriyah seperti daud addhoiri dimana menurut kalangan ulama’ ahlussunah wal jamaah tidak bisa dipakai. para imam madzhab empat mengarahkan hadits itu sebagai kekhususan Rasulullah pada salim sehingga tidak bisa diamalkan untuk orang lain.

  3. munawaroh mengatakan:

    aku adalah anak yang telah menjauh dari orang tua.karna aku menjaga nama baik suamiku.jika aku berkomonikasi ama orang tuaku maka suamiku akan terjatuh nama baiknya.tapi aku berniat buruk pada mereka,aku cuma ingn menjalani peraturan agama.namun mereka selalu mencari kabar atas diriku.aku jadi bingung bagaimana ngambil keputusan.hanya ALLAH yang tahu apa niatku.yang mau ku tanyakan sikap apa yang harus aku lakukan?mohon bimbing aku!

  4. munawaroh mengatakan:

    orang tuaku mnyerahkan asuh pada orang lain.12 tahun aku jauh dari mereka.dikarnakan ada sebab yang tdk aku tahu.setelah aku besar aku baru tahu siapa orang tuaku sebenarnya.apakah aku wajib patuh pada mereka?

  5. munawaroh mengatakan:

    aku punya teman orang luar muslim tapi dia baik malah memperingati aku shalat.yang aku takutkan .aku terpengaruh.apa hukum jika aku makan masakan yang dia masak?n apa hukum jika aku ngasih makan padanya ?sedangkan ini dalam kerja yangmana aku tidak bisa menghindar darinya.yang aku tahu haram mengasih makan pada orang luar muslim.mohon jelaskan?

  6. forsan salaf mengatakan:

    @ munawaroh, seorang anak adalah darah daging orang tua. Hubungan diantara keduanya Allah persatukan dengan pertalian darah yang tidak bisa terputus selamanya. Oleh karena itu, bagaimana pun keadaan orang tua bahkan bukan muslim sekalipun, tetap wajib bagi anak untuk berbakti kepadanya selama tidak mengajak kepada kekufuran. Allah SWT berfirman :
    وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
    “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,” (Q.S Luqman :15).
    Apabila ada percekcokan antara anak dengan orang tua dan terasa berat bagi anak untuk menerimanya seperti permasalahan anda, maka ingatlah bagaimana beratnya mereka mengandung kita selama 9 bulan lebih dalam keadaan payah yang semakin bertambah, lalu mereka berjuang untuk melahirkan kita ke dunia dengan mempertaruhkan nyawa mereka, pantaskah perjuangan mereka seperti itu kita balas dengan kebencian kepada mereka ?.
    Ketika anda bisa berpikir demikian, maka anda akan menyadari betapa pentingnya keberadaan mereka dan akan selalu berharap mereka ada disisi anda.

    Hukum memakan makanan non muslim diperinci sebagai berikut :
    1.jika mengetahui akan keharamannya (seperti dari hasil kerja yang haram) atau kenajisannya (seperti menggunakan unsur babi, dll), maka haram memakannya.
    2. jika tidak mengetahuinya, namun ada keraguan akan keharamannya seperti dia mempunyai pekerjaan yang halal dan haram namun tidak mengetahui bahwa makanan itu dari hasil kerja yang haram, maka hukumnya makruh.
    3. jika tidak mengetahui sama sekali, maka boleh.

    Sedangkan memberi makanan kepada mereka, jika karena kekafirannya, maka hukumnya haram, namun jika karena hubungan kemanusiaan, maka boleh.

  7. adelin mengatakan:

    assalamu’alaikum
    ustd mau nyambung pertanyaan,kalau orang non muslim kan jelas tidak ada hukum masalah penajisan,jd walaupun tau dengan jelas bahwa pekerjaannya halal dan tidak ada unsur babi,harus bagaimana ustd??

  8. forsan salaf mengatakan:

    @ adelin, Wa’alaikum salam Wr. Wb.
    Kami kurang memahami pertanyaan yang anda maksud. Jika yang anda maksudkan adalah pertanyaan di atas yaitu menerima makanan dari orang kafir, maka ketika dipastikan bahwa makanan itu hasil dari pekerjaan yang halal dan tidak mengandung unsur najis, maka diperbolehkan dan tidak makruh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: