Forsan Salaf

Beranda » Artikel » Krisis Ulama’

Krisis Ulama’

2064083673_2fce5ecdbf_oAdanya keluhan di tengah masyarakat  tentang berkurangnya  ulama dan peranan ulama menurut pengamatan kita bukanlah hanya sekarang. Tetapi juga dahulu, di mana saja dalam Dunia Islam. Tidak pernah  terdengar  ada suatu masyarakat yang merasa ‘kebanyakan’ ulama.

Yang dikatakan ulama  ialah orang yang luas ilmu pengetahuannya dalam agama Islam, dan terus menerus mendakwahkan Islam dengan mengajar, bertabligh dan berceramah.  Betapapun tinggi ilmu pengetahuan seseorang, tetapi tidak memiliki banyak ilmu tentang Islam dan tidak terus menerus mendakwahkan Islam,  tidak dianggap sebagai seorang ulama.

Dewasa ini perkembangan Islam di Indonesia cukup menggembirakan; kaum tua dan muda banyak beribadah, termasuk remaja dan para pejabat. Ini adalah fakta  bahwa jumlah ulama tidak berkurang, begitu juga  peranannya. Hanya saja, peranan mereka kurang dalam bidang ekonomi dan politik. Dahulu yang sebenarnya ulama sedikit, tetapi menonjol karena sedikitnya. Sedang kini banyak, tetapi tidak menonjol karena banyaknya.

Karena perubahan dan kemajuan masyarakat  dalam segala bidang, maka perhatian manusia sekarang adalah untuk mendapatkan kekayaan. Bidang keulamaan tidak mendatangkan kekayaan yang diinginkan orang banyak itu. Bidang ini menjadi sepi. Jarang orang bercita-cita ingin menjadi ulama. Di sinilah letak bahaya yang dihadapi umat Islam, yang harus diikhtiarkan mengubahnya.

Jadi yang sebenarnya sekarang lebih banyak ulama dengan pengertian yang menguasai banyak ilmu agama Islam, tetapi karena dorongan materi, banyak yang tidak berfungsi sebagai ulama. Kebanyakan mereka menjadi pegawai negeri, pegawai kantor Departemen Agama, DPR, ataupun DPRD. Kebanyakan mereka kalau sudah menjadi pegawai, berkuranglah kegiatan    dakwahnya.

Cara mengatasi yang lebih baik menurut hemat kita adalah dengan mengarahkan agar siswa Madrasah, Pesantren dan IAIN untuk menjadi guru dan membuka sekolah-sekolah agama, atau memimpin masjid-masjid, lebih-lebih di daerah-daerah  minus ulama, yaitu pulau Jawa bagian selatan atau pedalaman di Kalimantana, Sulawesi, NTT dan Papua, yang sekarang sedang giat-giatnya diolah oleh missionaris Kristen. Untuk pengarahan harus dipikirkan penghasilan mereka, agar dapat hidup wajar dengan isteri dan anak-anaknya. Tidak ada salahnya diberi gaji oleh pemerintah, atau organisasi swasta agama Islam, atau masjid-masjid yang mampu menangani.

Baik dahulu atau sekarang, semua orang yang disebut ulama,  termasuk yang berwibawa atau menonjol, menjadi ulama bukan seluruhnya karena buah pendidikan, tetapi adalah karena cita-cita dan kesadaran mereka sendiri. Hampir semua, self-made-man.  Saya tahu betul karena memang saya juga keluaran sekolah agama, bahwa di antara berpuluh-puluh atau ratusan tamatan sekolah-sekolah agama atau pesantren, toh hanya satu, dua atau tiga orang saja yang menjadi ulama.

Banyak sekali keluaran sekolah agama yang lebih banyak ilmu pengetahuan agamanya, justru tidak menjadi ulama atau kiai. Ada yang menjadi pedagang, pegawai dan lain-lain. Kebalikannya ada yang tidak begitu ahli, tetapi berjiwa menegakkan agama Islam, sehingga ia rajin membaca buku agama, dan mengajarkan kepada masyarakat. Makin lama pengetahuan mereka semakin banyak dan memupuk, akhirnya menjadi ulama besar dan berwibawa.

Untuk memperbanyak ulama yang berwibawa dan alim demikian itu paling baik ialah bila tampak ada murid pesantren yang bercita-cita tinggi untuk menegakkan agama Islam, selepas sekolah, mereka mestinya diberi kedudukan memimpin sebuah sekolah, pesantren atau masjid. Jangan diiming-iming menjadi pegawai, atau profesi lainnya. Hendaknya ada pribadi-pribadi yang berada untuk senantiasa  menyokong kehidupan mereka beserta anak dan isteri. Jangan dibiarkan hidup melarat. Panggil dan undang mereka agar bertabligh dan berceramah.

Yang dimaksud Rasulullah SAW: Al-ulama’ waratsatu al-anbiya’ ialah bahwa setiap orang yang punya pengetahuan tentang agama harus menyebarkannya kepada masyarakat, seperti tugas para Nabi.  Bukan hanya orang yang banyak ilmu pengetahuan agamanya, tapi juga yang punya ilmu pengetahuan agama sedikit, namun selalu disebarkannya. Maka itulah ulama waratsatu al-anbiya’.

Bagaimana cara membedakan antara ulama dengan lainnya. Dibedakan dengan akhlak dan kegiatan hidupnya. Bila akhlaknya baik dan kegiatannya menyebarkan agama tampak, maka itulah ulama, sekalipun ilmunya sederhana sekali, tetapi akhirnya menjadi alim juga. Karena ia pasti banyak membaca buku. Tidak mungkin seseorang disebut ulama, namun tidak gemar membaca kitab.

Fungsi dan peranan ulama  ialah mempelajari agama lalu menyebarkannya terus menerus. Begitu juga fungsi lembaga fatwa. Memberi fatwa kepada siapa saja, termasuk pemerintahan  agar semua yang berlaku dalam masyarakat tidak menyimpang dari ajaran agama Islam. Setiap ulama memikirkan bagaimana agar masyarakat tidak kekurangan ulama, sesuai dengan ayat al-Qur’an, surah at-Taubah 122:

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu semua pergi ke medan perang. Di setiap golongan dari mereka harus ada beberapa orang yang berdalam-dalam mempelajari agama untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga diri.

Menurut pandangan saya, mereka yang bercita-cita menegakkan ajaran agama Islam, menjadi orang alim, mengetahui seluk agama Islam sedalam-dalamnya, di masa sekarang ini tidak berkurang dibanding masa yang silam. Bahkan mungkin sekarang lebih banyak.

Hanya syarat mutlak yang tidak boleh tidak untuk mendalami agama Islam ialah melalui pengetahuan Bahasa Arab. Pengetahuan Bahasa Arab harus lengkap dan sempurna, baru bisa menjadi ulama yang menonjol.

Di sini letak kekurangan sekolah-sekolah agama atau madrasah, pesantren dan termasuk IAIN yang sekarang ini. Hal ini gampang diatasi, yaitu dengan memperlengkap pelajaran Bahasa Arab di lembaga-lembaga pendidikan kita tersebut.

Perbedaan keulamaan menurut segi spesialisasi selalu ada dan sulit segi yang menjadi perhatian ulama ini disamakan. Ada yang gemar masalah hukum, keimanan, filsafat dan lain-lain. Ulama yang hobinya soal keimanan, tidak mungkin ia menjadi ahli pula dalam bidang hukum. Tetapi spesialisasi di sini tidak dapat disamakan dengan spesialisasi ilmu eksakta. Jadi spesialisasi ulama tidak konkrit, tapi samar.

Menurut pandangan umunya umat Islam di dunia, yang disebut ulama ialah orang yang ahli agama Islam, sedangkan kaum intelektual dan cendekiawan ialah orang yang ahli dalam ilmu yang bukan agama. Tetapi istilah Bahasa Arab mengartikan bahwa para ahli dalam segala bidang ilmu disebut ulama juga. Berhubung ulama ini sudah menjadi istilah khas keislaman, maka sungguh tak lucu bila agama lain menggunakan kata ulama buat rohaniwan mereka.


7 Komentar

  1. ahmad assegaf mengatakan:

    zaman sekarang adalah zaman dmana sngat mengerikan memang bener zaman ini bnayk sekali ulama’ tapi bkan ulama yang termasuk kriteria allah dan rasulnya .zaman dhulu seorang ulama sngat dicintai masyarakat karena ulama dulu slalu mengayomi masyarakat tp skarng malah menyengsarakan umat karena mereka sangat egois mereka terlalu individualis sifat trsbt dikarenakan 2 hal yaitu: jabatan dan uang,uang dan jabatan menjadikan mereka buta padahal 2 hal tersebut menjadikan mereka sengsara tapi merka tidak terasa…………..!afwan

  2. elfasi mengatakan:

    ana sangat setuju bahwa zaman ini udah banyak ualama’ yang udah tertipu dengan dua hal : dunia dan jabatan. tidak seperti ulama’ dulu yang sangat waro’ dan zuhud terhadap dunia, memegang teguh ajaran salaf,tidak mau mengikuti ajaran lain yang tidak sesuai dengan leluhur walaupun benar apalagi yang benar2 sesat….
    makanya mereka menjadi ulama’ dan wali besar seperti alhabib Abdullah Alhaddad, Syekh Abu Bakar bin Salim dan lain2

  3. bagus mengatakan:

    ak sangat ingin jadi orang alim

  4. 455394F mengatakan:

    zaman ini adalah zaman yang banyak ulama’ tetapi bukan ulama’ yang masuk kriteria rasul,,,ulama2 zaman ini adalah ulama’ SUK
    Mereka sangat mencintai uang bahkan apabila melihat uang seakan telah melihan kenikmatan yang abadi,yang ke 2 ulama’ sekarang telah tergila2 dgan jabatan maupun maqam(kedudukan)padahal kita lihat contoh2 ulama’ sepeti imam ali zainal abidin beliau berjalan di tangah malam dengan membawa kebutuhan pokok bagi masyarakat sekitarnya sampai2 masyarakat disitu hidup dengan sejahtera,pada waktu imam meninggal masyrakat sekitar mengalami kelaparan karena ditinggalkannya seorang iam ali zainal abidin,,itu lah sosok ulama’ dia tidak mengenyangkan perutnya tapi beliau lebih megenyangkan perut masyarakatnya tp kalau zaman sekarang malah terbalik banyak ulama’ yang asyik dengan hidup dunia,dia tidak mengurusi masyrakatnya tp dia mengurusi sikap keegoisiannya

  5. khrzk mengatakan:

    Bagus artikelnya, tapi yang dimaksud saya dalam tulisannya siapa?
    Kenapa tidak menggunakan Kami(Forsansalaf), atau sumber nama penulis?
    Meskipun di posting tertulis Forsansalaf.
    Afwan

  6. meri mengatakan:

    alhamdulillah tidak semua ulama hanya mementingkan dunia, tetapi banyak juga ulama yang zuhud dan berdakwah kemana-mana. tetapi yg lebih berbahaya yaitu ulama liberal yg sering melestarikan dan menyesuaikan pikiran barat dengan ajaran agama islam, sampai2 berani mengatakan bahwa alquran sekarang ini sudah tidak relevan. Mari kita saling doa agar lebih banyak ulama yang tetap menjalani sunnah Rasulallah saw.dan kita semua bisa belajar agama yg lebih mendalan.amin

  7. Abl mengatakan:

    Cuma iseng apakah benar ulama itu yang mengamalkan ilmunya sedang yang alim itu yg mengetahui ilmu agama, kalo ulama kebanyakan alim tp kalo alim belum tentu ulama, yg sulit zaman sekarang adalah alim ulama. kalo ulama zaman skrng memang bnyk dan yg alim juga bnyk tapi yg sulit itu alim +ulama (mungkin zmn sekarng 1001). Jika tulisan diatas keliru tolong d benarkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: