Forsan Salaf

Beranda » Artikel » Hidup Sehat dengan Shalat

Hidup Sehat dengan Shalat

135518398_6660c06c1dDi dalam Islam terkandung nilai-nilai syariat yang begitu indah dan berkeadilan. Setiap diri — baik Muslim maupun non Muslim — tidak dirugikan sedikit pun oleh Islam. Hukum, aturan, nilai, dan etika dalam syariat Islam adalah paling sempurna. Setiap bagian dari ajaran Islam mengandung hikmah. Di balik hukum-hukum dan kewajiban syariat yang telah ditetapkan Allah SWT, terkandung rahasia-rahasia yang mendalam dan hikmah-hikmah yang menakjubkan. Akal manusia terlalu pendek untuk menyelami segala rahasia dan hikmah itu. Syariat ini diturunkan kepada manusia melalui Nabi dan Rasul, tidak lain adalah demi kebaikan dan kemaslahatan manusia itu sendiri, baik duniawi maupun ukhrawi.

Tak terkecuali shalat, dari kalimat yang kita dengar sehari lima kali, “Hayya ‘alas shalah, hayya ‘alal falah,” (Marilah melakukan shalat, marilah menuju kebahagiaan) jelas tersurat bahwa dengan menegakkan shalat, manusia akan menemukan kebahagiaan. Allah menyatakan,

“Sungguh berbahagialah orang-orang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya“.

Dari penjelasan ini nyata bahwa shalat yang khusyuk akan mengantarkan seorang hamba Allah kepada kebahagian sejati. Kebahagiaan itu berupa kenikmatan abadi yang akan dikaruniakan Allah di akhirat kelak. Di dunia, orang yang shalatnya khusyuk akan merasakan kebahagiaan dan ketentraman hati.

Ibadah shalat merupakan bentuk dzikir yang paling luhur, perilaku taat yang paling utama sebagai refleksi dari puncak kepatuhan dan penghambaan diri. Di dalamnya, terwujud kebesaran Sang Pencipta dan kenistaan makhluk. Dari itu, shalat menempati posisi kedua dalam rukun Islam setelah mengucapkan kalimat syahadat.

Bagi para shalihin, bertemu Allah lewat shalat adalah saat yang paling dinantikan, karena pada waktu itulah ia bisa mencurahkan semua isi hati dan bermi’raj menuju Allah. Sesuai sabda Nabi SAW,

الصَّلاَةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Ibadah shalat adalah mi’raj bagi orang mukmin”

Seorang muslim yang sadar bahwa dirinya adalah hamba Allah, akan menandai terbit fajar sebagai awal pergantian malam dan siang dengan menghadap Allah melalui shalat Subuh. Ia membuka rutinitas kesehariannya, mensyukuri keselamatan yang  dianugerahkan ketika ia bangun dari tempat tidurnya untuk kemudian bekerja keras dan mencari rejeki Allah.

Matahari bergeser dari atas ubun-ubun, otak dan hati i disejukkan kembali dengan bertemu Allah dalam shalat Dhuhur. Ketika matahari condong ke arah barat, sebagian manusia istirahat dan melepas lelah, ada pertemuan lagi dengan Allah dalam shalat Ashar, demi mensyukuri nikmat atas petunjuk Allah dalam setiap usahanya. Matahari terbenam dan siang telah berganti malam, stamina tubuh yang mulai bugar diajak bersujud kepada Allah dengan shalat Maghrib. Saat bintang-bintang bertaburan memenuhi langit yang hitam kelam, dan manusia hendak menikmati istirahat malam, ia menghadap dulu kepada Al-Khaliq sambil bersyukur dalam shalat Isya’.

Begitulah perjalanan hidup seorang mukmin, hari demi hari ditandai dengan menghadap Allah, menjadikan hidup penuh arti. Karena setiap pertemuan dengan Allah di dalam shalat akan mempunyai nilai tak terduga dan rahasia tersendiri. Selanjutnya, ia akan kembali lagi ke alam realitas untuk mengaplikasikan nilai-nilai yang didapat dari shalatnya. Inilah makna sesungguhnya dari shalat.

Shalat adalah  tolok ukur kedudukan seseorang dalam Islam. Sesungguhnya setiap orang yang menganggap ringan dan meremehkan shalat, maka pasti ia juga menganggap ringan dan meremehkan dinul Islam, Bila ingin mengetahui kadar perhatian Anda terhadap Islam, maka periksalah perhatian Anda terhadap shalat, sebab kadar keislaman di hati Anda adalah seukuran kadar shalatnya. Bila Anda ingin mengukur keimanan seseorang, maka lihatlah seberapa besar ia mengagungkan shalat.

 

RAHASIA dan HIKMAH

Latar belakang disyari’atkannya shalat di satu sisi sebagai pembuktian ketundukan dan penghambaan diri terhadap Allah dan di sisi lain sebagai bentuk syukur terhadap nikmat dari Yang Maha Besar, diantaranya adalah, nikmat penciptaan makhluk; Allah telah menjadikan manusia dengan bentuk yang paling sempurna, hingga tak seorang pun berharap diciptakan dengan selain bentuk ini. Allah berfirman,

“Sungguh kami telah ciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik”.

 Begitu pula nikmat sehat, karena dengan kesehatan anggota badan, seseorang mampu berbuat banyak kebajikan. Termasuk di dalamnya nikmat pemberian sendi-sendi yang elastis dalam anatomi tubuh yang sempurna sehingga dapat difungsikan dalam kondisi apapun. Allah kemudian memerintahkan kita untuk menggunakan nikmat-nikmat itu dalam kepatuhan.  Dalam shalat, kita padukan angggota badan, lisan, hati serta jiwa untuk berlutut dan memuja kepada-Nya, agar semua anggota dapat mensyukuri nikmat-nikmat yang ada.

Diantara hikmah yang terkandung dalam shalat adalah disiplin waktu, orang yang shalat tepat pada waktunya dapat dilihat dari sikapnya yang efektif menggunakan waktu. Ia tidak membiarkan nikmat yang mahal harganya ini berlalu sia-sia.

Pelajaran berikutnya dari shalat adalah kebersihan. Shalat tidak sah dilakukan apabila tidak diawali dengan bersuci. Hikmahnya, orang yang shalatnya khusyu’ akan cinta dengan hidup bersih, dan akan selalu berpikir bagaimana lahir batinnya bisa selalu bersih. Termasuk rukun shalat adalah niat. Seorang yang shalatnya khusyu’ akan selalu menjaga niat dalam setiap perbuatan yang dilakukannya. Ia tidak mau bertindak sebelum yakin niatnya lurus karena Allah. Shalat juga memiliki rukun yang tertib urutannya. Jadi, hikmah yang bisa diraih adalah cinta keteraturan. Shalat mengajarkan agar seorang mukmin senantiasa tertib, teratur, dan prosedural dalam hidupnya. Selain itu, shalat melatih kita untuk tawadhu’,  ketika sujud,  kepala dan kaki sama derajatnya. Bahkan dalam shalat setiap orang sama derajatnya. Setidaknya hal itu bermakna, dalam hidup kita harus tawadhu’, sebab kemuliaan hakiki hanya pantas dimiliki Allah SWT.

Shalat ditutup dengan salam, yang merupakan sebuah doa agar orang di sekitar kita diberi keselamatan dan keberkatan dari Allah. Ucapan salam ini sekaligus ‘garansi’ bahwa diri kita tidak akan pernah berbuat dzalim pada orang lain.

Dalam hadits Nabi SAW menegaskan,

اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ اْلمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah dia yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

Hikmah lain di balik sejumlah kewajiban shalat sehari semalam adalah agar selalu berlangsung hubungan  (munajat) antara hamba dan Tuhannya dalam ketaatan yang kontinyu, sehingga dia selalu sadar berada dalam pengawasan-Nya dan selalu takut kepada-Nya. Bila seorang hamba menghadap Tuhannya sehari lima kali, selalu ingat pada-Nya setiap saat, menyadari bahwa AlIah Yang Maha Tahu mendeteksi semua rahasia dan mengetahui bahwa Allah akan menghitung semua amal, baik yang kecil maupun yang besar, maka jelas hal itu akan mengantarkan seorang hamba untuk melaksanakan hak-hak agama, senantiasa takut kepada  Allah dan berharap untuk meraih pahala. Sehingga bila terjebak dalam perbuatan dosa, maka ia cepat-cepat bertaubat memohon pengampunan dari-Nya.

Disamping hal-hal di atas, shalat juga membina rasa persatuan dan persaudaraan diantara muslimin. Umat Islam di seluruh dunia menghadap kiblat yang sama, yaitu Ka’bah. Hal ini akan membawa dampak psikologis yaitu persatuan, kesatuan, dan kebersamaan umat. Contoh lain adalah pada shalat berjamaah, setiap makmum mempunyai kewajiban mengikuti gerakan imam, sedangkan apabila imam melakukan kesalahan, maka makmum mengingatkan. Sehingga akan timbul diantara jama’ah rasa kebersamaan, persatuan, persaudaraan dan kepemimpinan.

 

SUJUD TAMBAH KECERDASAN

Disamping mengandung hikmah secara moral seperti diuraikan di atas, shalat juga mengandung hikmah secara fisik. Banyak ahli-ahli (sarjana) kedokteran termasyhur membuktikan manfaat shalat terhadap kesehatan. Berikut studi pembuktiannya, dimulai dari bersedekap setelah takbirotul ihrom, meletakkan telapak tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri merupakan istirahat yang paling sempurna bagi kedua tangan. Sikap seperti ini memudahkan aliran darah mengalir kembali ke jantung, serta memproduksi getah bening dan air jaringan dari persendian tangan menjadi lebih baik sehingga gerakan di dalam persendian akan menjadi lancar. Hal ini menghindari timbulnya penyakit persendian seperti rheumatik. Sebagai contoh, orang yang mengalami patah tangan, maka lengan penderita tersebut dilipatkan di atas perut dengan mitella yang disangkutkan di leher.

Kedua, ruku’,  membungkukkan badan dan meletakkan telapak tangan di atas lutut sehingga punggung sejajar membentuk suatu garis lurus. Sikap yang demikian ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Selain itu, rukuk merupakan latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat

Ketiga, I’tidal, yaitu bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak. Variasi gerakan berdiri, ruku’, berdiri lagi, kemudian sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.

Keempat, sujud, Dengan sikap sujud ini maka dinding dari urat-urat nadi yang berada di otak terlatih untuk menerima aliran darah yang lebih banyak dari biasanya, karena otak  pada waktu itu terletak di bawah. Latihan semacam ini dapat menghindarkan mati mendadak akibat tekanan darah secara tiba-tiba yang menyebabkan pecahnya urat nadi bagian otak karena emosi yang berlebihan dan sebagainya.

Seorang dokter neurology asal Amerika -yang akhirnya masuk Islam- menemukan, di dalam otak manusia terdapat beberapa syaraf yang tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci dari otak memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi sempurna. Tetapi ketika seseorang sujud, darah dapat mengalir memasuki urat syaraf tersebut. Urat ini memerlukan darah pada saat-saat tertentu saja. Artinya kebutuhan ini terpenuhi hanya pada waktu shalat.

Posisi sujud juga mengalirkan darah kaya oksigen secara maksimal dari jantung ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Dengan kata lain, sujud yang tuma’ninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan. Karena itu, lakukan sujud dengan tuma’ninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak.

Kelima, Duduk Iftirasy (tahiyat awal), posisi duduk seperti ini menyebabkan tumit menekan otot-otot pangkal paha. Pijitan tersebut dapat menghindarkan penyakit saraf pangkal paha (neuralgia) yang menyebabkan tidak dapat berjalan. Disamping itu, tumit menekan aliran kandung kemih, kelenjar kelamin dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, postur ini bisa mencegah impotensi.

Dan yang terakhir, salam, Memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal. Hal ini sangat berguna untuk relaksasi otot sekitar leher dan kepala, menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.

Satu lagi penelitian para ahli yang menjawab rahasia di balik anjuran shalat Tahajjud. Cuaca di malam hari yang  biasanya dingin dan lembab menyebabkan banyak lemak jenuh melapisi saraf kita hingga menjadi beku. Kalau tidak segera digerakkan, sistem pemanas tubuh tidak aktif, saraf menjadi kaku, bahkan kolesterol dan asam urat merubah menjadi pengapuran. Tidur di kasur yang empuk akan menyebabkan urat syaraf yang mengatur tekanan ke bola mata tidak mendapat tekanan yang cukup untuk memulihkan posisi saraf mata kita. Jadi, dengan shalat malam urat tidur kita lebih terkendali.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa shalat disamping merupakan ibadah yang wajib dan istimewa ternyata juga mengandung manfaat yang sangat besar bagi kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup umat manusia. Shalat adalah anugerah terindah dari Allah bagi hamba beriman.


2 Komentar

  1. fathur rahman eLKISI mengatakan:

    Shalat adalah perintah Allah yang mempunyai hikmah luar biasa bagi pelakunya. Dengan ketentuan, shalat yang dilakukan adalah benar tatacara (kaifiat)nya, do’anya, dan juga waktunya. Selain itu dampak shalat akan benar-benar dapat dirasakan apabila shalat itu dilakukan dengan khusyu’ dan thuma’ninah.
    Bermalasan dalam shalat adalah salah satu ciri dari orang munafiq “Idza qoomu ilash shalaati qoomu kusaala” (apabila mereka (orang munafiq) berdiri shalat, maka dilakukan dengan kemalasan dan ria terghadap nmanusia. (Fathur Rahman, direktur eLKISI Sidoarjo)

  2. Hudan mengatakan:

    Ijin ketik ulang untuk di muat di web

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: