Forsan Salaf

Beranda » Majelis Ifta' » Benarkah Susu Ternak Makanan yang Buruk bagi Manusia?

Benarkah Susu Ternak Makanan yang Buruk bagi Manusia?

Mengomentari kiriman artikel akhina Syahrul Fanani dengan judul “Susu Sapi Bukan Untuk Manusia” yang disadur dari buku Prof.Dr.Hiromi Shinya yang berjudul “The Miracle of Enzyme” (Keajaiban Enzim). Dalam sebagian pernyataannya “Susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia.”

Kami sangat tidak setuju dengan tulisan atau pernyataan itu, karena bertentangan dengan ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Sebagai seorang muslim kami menolak keras anggapan itu dan untuk meluruskan hal ini,  kami berikan sanggahan dan bukti-bukti berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW  sebagai berikut.

Susu adalah makanan/minuman yang baik

Diriwayatkan oleh Imam Abi Daud dari hadits Ibn Abbas :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ طَعَامًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَارْزُقْنَا خَيْرًا مِنْهُ وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ فَإِنِّي لَا أَعْلَمُ مَا يُجْزِئُ مِنْ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ إِلَّا اللَّبَنُ

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diberikan makanan oleh Allah, maka ucapkanlah “Ya Allah berilah keberkahan kepada kami di dalam makanan ini, dan berilah kami rizqi yang lebih baik lagi”, dan barangsiapa yang diberikan oleh Allah berupa minuman susu, maka ucapkanlah “Ya Allah berilah keberkahan kepada kami di dalam minuman ini dan tambahkanlah kepada kami darinya, karena sesungguhnya aku tidaklah mengetahui apa yang bisa mencukupi dari makan dan minum kecuali susu.”

Bisa kita cermati dari hadits diatas bahwa Rasulullah membedakan dalam berdoa ketika mengkonsumsi sesuatu antara makanan dan susu. Dalam makanan Nabi menggunakan konteks “وارزقنا خيرا منه” (berilah kami rizqi yang lebih baik lagi) tapi ketika berupa susu nabi menggunakan konteks “وزدنا منه” (dan tambahilah kami darinya), ini menunjukkan adanya sesuatu kekhususan pada susu yang tidak didapati pada makanan lainnya dengan bukti nabi hanya meminta tambahan kenikmatan susu karena sudah mengetahui dengan keistimewaan yang ada di dalamnya. Berbeda dengan makanan, nabi justru meminta kenikmatan yang lebih baik lagi. Beliau pun menjelaskan kelebihan susu dalam ucapan setelahnya “karena sesungguhnya aku tidaklah mengetahui apa yang bisa mencukupi dari makan dan minum kecuali susu.”

Di dalam kitab Tuhfatul Akhwadzi syarh sunan At-Tirmidzi juz 8 hal 353 disebutkan bahwa alasan kenapa nabi menggunakan konteks “وَزِدْنَا مِنْهُ” pada susu, tidak menggunakan “وارزقنا خيرا منه” karena memang tidak didapatkan makanan yang lebih bagus dari susu dan tidak ada yang bisa menghilangkan rasa lapar dan dahaga sekaligus kecuali susu.

وَزِدْنَا مِنْهُ وَلَا يَقُولُ خَيْرًا مِنْهُ لِأَنَّهُ لَيْسَ فِي الْأَطْعِمَةِ خَيْرٌ مِنْهُ (لَيْسَ شَيْءٌ يُجْزِئُ) بِضَمِّ الْيَاءِ وَكَسْرِ الزَّايِ بَعْدَهَا هَمْزٌ أَيْ يَكْفِي فِي دَفْعِ الْجُوعِ وَالْعَطَشِ مَعًا

Susu, anugerah Allah yang menakjubkan

Jika kita mau meneliti asal usul dari susu, maka sungguh mengagumkan, karena menunjukkan kepada kita begitu besar kekuasaannya Allah SWT. Bagaimana tidak, Allah menciptakan susu yang suci lagi bermanfaat diantara 2 tempat yang najis dan menjijikkan yaitu kotoran di usus besar dan darah, sebagaimana yang termaktub didalam Al-Qur’an surat An-Nahl:66.

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

Artinya: “Dan sesungguhnya bagi kalian didalam binatang-binatang ternak ada satu pelajaran. Kami memberi kalian minum dari apa yang ada di perutnya (berupa) susu yang bersih diantara kotoran dan darah yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.

Pada ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa Allah memberikan kita minuman dari dalam perut binatang ternak yang mencakup onta, sapi, dan kambing berupa susu yang suci lagi bermanfaat bagi siapa saja yang mau meminumnya (baik untuk anak yang masih kecil ataukah orang yang sudah dewasa). Berarti tidaklah benar bahwa minum susu itu hanya dikhususkan bagi yang masih kecil atau hanya pada susu ASI bukan dari susu binatang ternak, karena bagaimana mungkin kita akan mencela apa yang diberikan oleh Allah SWT.

Susu, minuman Nabi

Rasulullah SAW begitu sering meminum dan memuji susu. Beberapa hadits di bawah ini menjelaskan tentang hal itu, diantaranya:

1. Di dalam shohih Muslim diriwayatkan hadits dari Maimunah

شرح النووي على مسلم – ج 4 / ص 113

و حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو عَنْ بُكَيْرِ بْنِ الْأَشَجِّ عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ إِنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِي صِيَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ مَيْمُونَةُ بِحِلَابِ اللَّبَنِ وَهُوَ وَاقِفٌ فِي الْمَوْقِفِ فَشَرِبَ مِنْهُ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ

Berkata Maimunah (istri Rasulullah SAW) bahwa “Sesungguhnya manusia (para sahabat) meragukan puasanya Nabi di hari Arafah, maka sydt Maimunah mengirimkan kepada Nabi susu ketika Nabi wuquf di Arafah, lalu Nabi meminum susu tersebut.”

2. Di dalam musnad Imam Ahmad, dirawayatkan hadits Dliror bin Auzar:

المعجم الكبير للطبراني – ج 7 / ص 344

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بن الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا حَفْصُ بن غِيَاثٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ يَعْقُوبَ بن بَحِيرٍ، عَنْ ضِرَارِ بن الأَزْوَرِ، قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بناقَةٍ هَدِيَّةٍ، فَقَالَ لِي:”قُمْ فَاحْلُبْهَا”، فَقُمْتُ فَحَلَبْتُهَا، فَلَمَّا ذَهَبْتُ لأُجْهِدَهَا، قَالَ:”دَعْ دَاعِيَ اللَّبَنِ

Berkata Dliror bin Auzar “Aku membawa kepada Rasulullah SAW onta hadiah, lalu Nabi berkata kepadaku, “Berdirilah dan perahlah susunya” maka akupun memerahnya, ketika aku bersemangat untuk memerah keseluruhannya, Nabi berkata “Tinggalkan sedikit sebagai perangsang keluarnya susu.”

3. Dalam sunan At-Tirmidzi

سنن الترمذي – ج 11 / ص 355

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عُمَرَ وَهُوَ ابْنُ أَبِي حَرْمَلَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ عَلَى مَيْمُونَةَ فَجَاءَتْنَا بِإِنَاءٍ فِيهِ لَبَنٌ فَشَرِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا عَلَى يَمِينِهِ وَخَالِدٌ عَلَى شِمَالِهِ فَقَالَ لِي الشَّرْبَةُ لَكَ فَإِنْ شِئْتَ آثَرْتَ بِهَا خَالِدًا فَقُلْتُ مَا كُنْتُ أُوثِرُ عَلَى سُؤْرِكَ أَحَدًا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ شَيْءٌ يُجْزِئُ مَكَانَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ غَيْرُ اللَّبَنِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَن

Ibn Abbas berkata, “Aku bersama Rasulullah dan Kholid bin Walid masuk ke rumah Maimunah, lalu Maimunah membawakan wadah berisi susu dan Rasul pun meminumnya sedangkan aku berada di sebelah kanan Rasulullah dan Kholid bin Walid di sebelah kirinya, maka Rasul pun berkata hak minum pertama susu ini untukmu (karena berada di sebelah kanan), kalau kau menghendaki aku dahulukan Kholid atas kamu, maka akupun berkata aku tidak akan mendahulukan sisa minumanmu kepada siapapun.”

4. Hadits yang diriwayatkan oleh Umi Muabbid tentang mu’jizat Nabi dengan susu:

الآحاد والمثاني لابن أبي عاصم – ج 9 / ص 464

حدثنا أحمد بن محمد ، ثنا عبد الرحمن بن محمد بن شعبة ، ثنا حزام بن هشام بن حبيش بن خالد بن خليد بن ربيعة الخزاعي ، ثنا أبي ، عن جده ، عن أخته أم معبد واسمها عاتكة بنت خالد الخزاعية قالت : لما أن هاجر رسول الله صلى الله عليه وسلم من مكة وخرج منها يريد المدينة ومعه أبو بكر الصديق ومولى لأبي بكر يقال له : عامر بن فهيرة وعبد الله بن الأريقط الليثي دليلهم فمروا بنا فدخلوا خيمتي وأنا مختبئة بفناء خيمتي أسقي وأطعم المارين فقال : ألا هل من لحم فبعثت إليهم بشاة ذات لبن فردها وبعثت إليه بعناق جذعة فقبلها وقال : إنما رددنا الشاة لأنها ذات لبن فهل عندك من تمر ؟ فقلت : لا والله ولو كان عندي ما تطلبون ما جاوزتم خيمتي وكانوا مرملين مجهودين فنظر النبي صلى الله عليه وسلم فإذا شاة بالفناء فقال : ما هذه الشاة يا أم معبد ؟ فقلت : شاة خلفها الراعي من الجهد ليس بها لبن ولا لحم قال : تأذنين لنا أن ندنو منها ونحلب ؟ قلت : نعم إن رأيت بها حلابا بأبي أنت وأمي فدعا بها رسول الله صلى الله عليه وسلم فمسح بيده ضرعها وقال : بسم الله ودعا ربه فتفاجت ودرت واجترت وكلفت ثم دعا بالإناء فأتيته بإناء لنا إذا ملأناه يربض الرهط فحلب منها حتى امتلأ وتدفق فسقاني حتى رويت ثم سقى أبا بكر ثم رجلا رجلا ممن معه ثم شرب النبي صلى الله عليه وسلم ثم ارتحل وارتحل أصحابه عنا وبايعه أهل الماء على الإسلام ثم جاء زوجي من الرعي يسوق أعنزا لنا عجافا فقربت إلى زوجي اللبن وأخبرته خبر النبي صلى الله عليه وسلم وأخبرته ببركته

Dalam hadits panjang diatas diceritakan dari Umi Mu’abbid ketika Nabi bersama rombongan termasuk Abu Bakar Assiddiq hijrah dari Makkah ke Madinah sampailah ke perkemahan Ummi Mu’abbid dalam keadaan payah, lalu mereka meminta kepada Ummi Mu’abbid makanan berupa daging, maka didatangkan seekor kambing yang menyusui, maka Nabi-pun menolak dengan alasan menyusui, maka didatangkan lagi seekor onta dan diterima oleh Nabi, ketika Nabi melihat di dalam kemahmya Ummi Mu’abbid, nampaklah seekor kambing, Nabipun berkata “Kambing apa ini wahai Ummi Mu’abbid?” akupun menjawab, “Kambing yang telah ditinggalkan oleh penggembalanya karena tidak mempunyai susu dan daging (kurus dan tidak sehat)” lalu Nabi berkata, “Apakah kau mengizinkan jika kami memerah susunya?” maka akupun menjawab “Ya, jika engkau menghendaki ya Rasullullah” maka Nabi mengambil dan mengusap kantung susu kambing tersebut, seketika itu kambing tersebut mempunyai susu yang berlimpah, dan Nabi-pun memerah susunya dan memberikan kepadaku dan para sahabatnya lalu terakhir beliau yang meminumnya.”

5. Hadits isro’ mi’roj Nabi Muhammad SAW:

وَفِي حَدِيث اِبْن عَبَّاس عِنْد أَحْمَد ” فَلَمَّا أَتَى الْمَسْجِد الْأَقْصَى قَامَ يُصَلِّي ، فَلَمَّا اِنْصَرَفَ جِيءَ بِقَدَحَيْنِ فِي أَحَدهمَا لَبَن وَفِي الْآخَر عَسَل ، فَأَخَذَ اللَّبَن ” الْحَدِيث ، وَقَدْ وَقَعَ عِنْد مُسْلِم مِنْ طَرِيق ثَابِت عَنْ أَنَس أَيْضًا أَنَّ إِتْيَانه بِالْآنِيَةِ كَانَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ قَبْل الْمِعْرَاج وَلَفْظه ” ثُمَّ دَخَلْت الْمَسْجِد فَصَلَّيْت فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْت فَجَاءَ جِبْرِيل بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْر وَإِنَاء مِنْ لَبَن ، فَأَخَذْت اللَّبَن ، فَقَالَ جِبْرِيل : أَخَذْت الْفِطْرَة . ثُمَّ عَرَجَ إِلَى السَّمَاء

Didalam hadits Ibn Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad “ketika Nabi sampai di Masjid Al-Aqsha, maka Nabi sholat, ketika beranjak dari sholat, Nabi diberi 2 wadah berupa susu dan madu, maka Nabi-pun mengambil susu.”

Dalam riwayat Imam Muslim dari hadits Anas “lalu aku (Nabi) masuk kedalam masjid dan sholat 2 rakaat, lalu aku keluar, datanglah Jibril dengan membawa susu dan khomr, maka akupun mengambil susu, lalu Jibril mengatakan “ kau telah mengambil yang suci (yaitu agama islam)”

Perhatikan hadits diatas! Nabi memilih susu daripada madu atau khomr dan Jibril menyatakan susu adalah lambang kesucian.

Dari Ayat al Qur’an dan hadits-hadits diatas dapat disimpulkan bahwa susu adalah makanan yang dianugerahkan oleh Allah untuk manusia. Bahkan kekasih Allah Muhammad Rasulullah serta para shahabat pengikut Rasul meminum susu. Sebagai orang yang beriman janganlah terpengaruh dengan tulisan Prof Dr Hiromi Shinya tapi lebih dahulukan ayat Ilahi dan hadits Nabi.


2 Komentar

  1. Purwanto mengatakan:

    Apa iya Nabi meminum susu setiap hari?
    Kalau kita cuma mencontoh minum susunya doang, tapi tidak mencontoh pola makan, istirahat, olahraga, dan pola hidup Nabi yang lain… apa bagus?

  2. Purwanto mengatakan:

    Seingatku malah Nabi juga sering puasa, dan juga sering makan buah (kurma) dan air karena saking bersahajanya. Kalau kita mencontoh pola makan Nabi tapi hanya sebagian kecil ya bisa kacau kesehatan kita. Seingatku tidak pernah Nabi minum susu setiap hari selama sebulan, kalau kurma dan air, iya.

    “Kami, keluarga Muhammad, pernah tidak menyalakan api (memasak makanan) selama sebulan penuh. Kami hanya makan kurma dan air.”

    Nabi lebih sering makan dengan menu yang sangat sederhana, air dan kurma, roti dan cuka dan labu. Aku sendiri penyuka susu, tapi berusaha meniru pola Nabi meminum susu, yaitu tidak setiap hari bahkan setiap hari seumur hidup.

    Menurutku, di jaman sekarang jarang minum susu lebih baik. Karena makin susah mendapatkan susu murni, yang banyak dan mudah didapat ya susu pabrikan yang bisa tahan berbulan-bulan atau bertahun-tahun di rak.

    Kesimpulanku, susu murni itu baik, kalau diminum secukupnya, tidak berlebih-lebihan dan tidak setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: