Forsan Salaf

Beranda » Umum » Habib Jakfar bin Syeikhon Assegaf

Habib Jakfar bin Syeikhon Assegaf

Telaga Al Qur’an di Timur Jawa
Buah jatuh takkan jauh dari tangkainya. Peribahasa tersebut sangat pas untuk melukiskan sosok Habib Jakfar bin Syeikhon Assegaf. Ayahnya adalah ulama besar berpengaruh. Demikian pula kakek dan datuk-datuknya. Seolah tak mau kalah, Habib Jakfar pun menjelma menjadi tokoh ulama setelah melalui usaha yang keras.
Mula-mula ayah Habib Jakfar, Habib Syeikhon bin Ali bin Hasyim Assegaf tinggal di Ghurof, Hadramaut bersama istrinya yang sholihah, Ruqayyah binti Muhammad Manqusy. Demi lebih mendekatkan diri kepada gurunya, yakni Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi, beliau kemudian pindah ke desa Ghurfah. Di desa itulah ia dikaruniai putra yang bernama Jakfar bin Syeikhon Assegaf, pada bulan Dzulhijjah 1298 H.

Allah Swt memberikan keistimewaan terhadap putra Habib Syeikhon Assegaf itu. Sejak kanak-kanak, Habib Jakfar telah menampakkan tanda-tanda kecintaannya pada ilmu pengetahuan, Kecerdasannya terlihat menonjol di antara teman sebayanya. Sejak usia tamyiz beliau mulai mempelajari Al Qur’an hingga khatam.
Usai mengkhatamkan Al Qur’an, Habib Jakfar menimba ilmu dari ayahandanya dan para ulama’ Hadramaut, diantaranya: Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Shohibul maulid), dan Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas.
Di usia yang ke 21, (tahun 1319 H) beliau berkunjung untuk pertama kalinya ke Indonesia. Di negeri kita tercinta ini, Habib Jakfar berpindah dari satu kota ke kota lain, selama setahun. Dari Indonesia beliau melanjutkan perjalanannya ke Makkah. Di sana beliau bermukim selama delapan tahun untuk memperdalam ilmunya pada Habib Husein bin Muhammad Al-Habsyi (Mufti Haramain) dan Habib Muhammad bin Salim As-Sary. Melihat kecerdasannya yang luar biasa, kedua gurunya menyuruh Habib Jakfar menghafal Al-Qur’an.
Setelah mentok memperluas pengetahuannya di sana-sini, Habib Jakfar pulang ke kampung halamannya, Ghurfah, Hadramaut untuk berdakwah dan menyebarkan ilmunya. Di tanah kelahirannya itu, beliau menjadi imam dan khotib di Masjid Jami’ selama delapan tahun. Kemudian Habib Jakfar hijrah ke kota Tarim dan mengajar di sana selama dua tahun. Di kota seribu wali ini beliau berhasil mencetak beberapa ulama.
Pada umur 40 tahun, tepatnya tahun 1338 H, Habib Jakfar hijrah ke Indonesia. Beliau pertama kali tinggal di Surabaya. Sebagaimana kunjungan pertamanya di Indonesia, beliau sering berpindah tempat dari satu kota ke kota yang lain. Kota Bondowoso menjadi tempat yang paling sering beliau singgahi, sebab di kota itu tinggal Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, salah seorang gurunya.
Habib Muhammad Al-Muhdor sangat menghormati Habib Jakfar. Beliaulah yang memberi gelar “Al Qur’an”. Kala Habib Jakfar berkunjung ke rumah Habib Muhammad, sang guru itu senantiasa menyambut penuh hangat sembari berseru, “Ahlan bil Qur’an wa ahlan bi ahlil Qur’an (Selamat datang Al Qur’an dan selamat datang Ahli Qur’an). Habib Muhammad pun kerap menunjuk muridnya itu sebagai imam salat.
Keluasan Ilmu
Julukan Al Qur’an untuk Habib Jakfar bin Syeikhon sangatlah tepat. Pasalnya, hafalan, bacaan dan pemahaman beliau terhadap Al Qur’an cukup kuat. Beliau mengeluarkan berbagai ilmu dari Al Qur’an yang bermanfaat dan pemahaman-pemahaman yang baik. Begitu kuat hafalan dan pemahamannya, hingga tidak jarang beliau menandai tanggal dengan ayat Al Qur’an.
Ketika Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi membangun masjid di Kwitang, Jakarta, Habib Jakfar mencatatnya dengan firman Allah Ta’ala :
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (Al-Hijr : 99)
Jumlah huruf-huruf yang ada dalam ayat ini menurut hitungan Abjad arab adalah 1356, persis dengan tahun pembangunan masjid itu (1356 H).
Pada kesempatan lain, ketika Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi bertemu dengan Habib Jakfar, beliau mencatat tahun pertemuan tersebut dengan firman Allah :
إِنَّ هَذَا أَخِي
Sesungguhnya ini adalah saudaraku (QS Shod,:23).
Jumlah hurufnya 1368, persis dengan tahun pertemuan itu, yakni 1368 H. Andai pertemuan tersebut tidak berlangsung saat itu, maka tidaklah “pas” ayat yang diucapkan beliau. Itu bukan suatu kebetulan, namun merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang diberikan kepada Al Habib Jakfar bin Syeikhon Assegaf.
Beliau juga mencatat tahun selesainya pembangunan Masjid Riyadh di Gurawan, Solo, dengan firman Allah :
فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ
“Lalu mereka menjadi orang-orang yang menang (dikenal).” (QS As-Shaf 14), yang hurufnya berjumlah 1354. Ayat itu sebagai pertanda bahwa Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi akan menjadi ulama masyhur (terkenal) menggantikan ayahnya, Habib Ali bin Muhammmad Al-Habsyi.
Keluasan ilmu beliau juga nampak saat menerangkan rahasia Asmaul Husna. Beliau mengatakan, ”Isim Dzat yang paling tinggi adalah Allah SWT, sedangkan nama-nama sesudahnya adalah sifat. Sifat yang pertama adalah Ar-Rahman dan sifat terakhir Ash-Shabur. Jumlah huruf masing-masing kedua sifat Allah itu sama, yaitu 298. Jumlah huruf kalimat ‘Abdun lillah’ (hamba Allah) dan ‘Isa’ juga sama, yaitu 141.”
Para ulama di masanya mengakui kapasitas keilmuan Habib Jakfar. “Jika semua makna ayat Al Qur’an, hadits-hadits Nabawiy, dan pemahaman-pemahaman sufistik dari lisan Habib Jakfar dicatat, maka akan banyak yang dapat dikumpulkan,” tutur menantunya, Habib Abdul Qadir bin Husain Assegaf dalam kitabnya, Layalil Qadr.
Ibadah dan Akhlaq
Habib Jakfar sangat teguh menjaga ajaran salafus sholeh dalam akhlaq dan amalnya. Bisa dikatakan beliau adalah “duplikat” para salafnya. Dalam shalatnya, beliau terlihat sangat khusyu’, tenang, bagaikan menara yang tak tergoyahkan.
Tak pernah sekalipun meninggalkan shalat berjamah dan shalat sunnah rawatib. Amal ibadah yang sering beliau lakukan dan paling diutamakan adalah membaca Al-Qur’an. Amalan ini yang menjadi keistimewaan beliau. Tiada hari bagi beliau tanpa mengkhatamkan Al Qur’an, dan bersholawat kepada Nabi SAW. Malam harinya dihidupkan dengan beribadah. Di tengah malam beliau menyendiri di tempat khusus dengan memperbanyak istighfar.
Pada saat tersebut, tak seorang pun di sisinya. Kecuali, bila ada tamu berkunjung dan menginap di rumahnya, maka menjelang fajar beliau bangkit untuk membuatkan kopi bagi tamunya. Begitulah kebiasaan beliau, menuangkan kopi sendiri dengan tangannya yang mulia, baik tamunya sedikit maupun banyak. Jarang beliau izinkan orang lain menggantikannya.
Pernah suatu ketika, salah seorang yang hadir dalam majelisnya menyarankan agar yang menuangkan kopi itu orang lain, tapi Habib Jakfar menolak. Pada kesempatan lain malah seorang tamunya berkata,
“Jangan engkau sendiri yang melakukannya.”
Beliau menjawab, “Apakah di hari kiamat kelak, ketika Rasulullah Saw memberi manusia minum dari telaga Kautsar dengan tangannya sendiri, kau akan berkata kepada beliau, “Jangan engkau sendiri yang melakukannya?” tepat sekali jawaban Habib Jakfar, bila di hari kiamat Rasulullah Saw sebagai pemilik Kautsar menuangkan minuman dengan tangan beliau sendiri, maka layaklah bila tuan rumah menuangkan minum untuk tetamunya.
Habib Jakfar juga pernah berpesan kepada seorang yang hendak minum kopi, “Minumlah terlebih dahulu -walaupun sedikit- sebelum kau letakkan di bawah, karena di situ ada ‘sir’ dari Allah SWT.”
Memang, rumah Habib Jakfar menjadi tempat tinggal para tamu, siang dan malam. Beliau terkenal sangat akrab dengan para tamunya, dan melayani mereka dengan tangannya sendiri.
Berdakwah Di Pasuruan
Rupanya Allah Swt memilih Pasuruan menjadi tempat tinggal dan persinggahan terakhir Habib Jakfar, hingga wafat, agar penduduknya mendapat berkah dari beliau. Di kota santri ini, beliau mendirikan majelis dzikir dan hizib. Majelis ini berlanjut hingga sekarang, tanpa mengalami banyak perubahan. Bahkan, hampir di seluruh masjid dan musholla mengamalkan wirid tuntunan beliau. Itu disebabkan, generasi penerus pasca beliau adalah santri-santri beliau yang telah menjadi ulama-ulama besar.
Habib Jakfar selalu memberi bimbingan dan nasihat kepada masyarakat Pasuruan dengan sabar. Sehingga masyarakat kota kecil di jalur Pantura (pantai utara Pulau Jawa) ini menjadikan beliau sebagai tempat rujukan untuk segala urusan. Beliau juga kerap menjadi juru damai antara pihak-pihak yang bertikai. Karena itu, tidak berlebihan jika masyarakat dari semua kalangan mencintai dan memuji Habib Jakfar. Tidak saja dari kalangan masyarakat awan, juga ulama, bahkan para auliya’, baik yang dikenal maupun tidak.
Beliau juga sosok ulama yang sangat sabar dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan. Selain menjadi teladan dalam kesabaran dalam berbagai kesempatan beliau juga berpesan untuk selalu bersabar, bahkan setelah wafat pun beliau muncul dalam mimpi anak cucunya untuk mewasiatkan kesabaran. Seperti diceritakan putra beliau, Abdullah bin Jakfar, “Aku bermimpi melihat ayahku di atas makamnya, maka aku merangkul beliau dan minta doa, lantas beliau berkata “Selalulah kamu bersabar..!”
Habib Jakfar bin Syeikhon Assegaf merupakan seorang ulama yang sempurna meneladani Rasulullah Saw. Hal itu menjadikan kedudukan beliau sangat dekat dengan Al-Musthafa Saw. Buktinya, banyak para solihin yang memimpikan Nabi Saw dengan wajah mirip Habib Jakfar, diantara mereka, Habib Zain bin Abdullah Al-Kaf dan Habib Abdulkadir bin Ahmad Bilfaqih (Malang). Ini adalah isyarat bahwa Habib Jakfar adalah Khalifah Rasulullah SAW.
Wafat
Kehidupan ini memang berada ditangan Allah Azza Wajalla, begitu pula kehidupan sang Wali pengabdi Al Qur’an, Al Habib Jakfar bin Syeikhon Assegaf, mengikuti ketentuan-Nya. Beliau pun memenuhi panggilan Allah Swt pada Senin, 14 Jumadal Akhirah 1374 H. Berita kemangkatan beliau tersebar hampir ke seluruh pelosok tanah air, sehingga pemakaman pun terpaksa diakhirkan hingga Selasa sore.
Orang berdatangan dari segala penjuru menuju Pasuruan. Puncaknya, ketika sholat jenazah berlangsung, rumah-rumah penduduk dan ruas-ruas jalan serta relung-relung kota penuh sesak dijejali manusia. Dan yang menjadi Imam dalam shalat jenazah beliau adalah Habib Ahmad bin Ghalib Al-Hamid. Jasad beliau yang mulia dimakamkan berdampingan dengan makam Habib Hadi bin Shadiq bin Syaikh Abi Bakar. Tahun wafatnya tercatat dengan hitungan Abjad أَبٌ حَافِظُ اْلقُرْآن (Sosok Ayah penghafal Qur’an).
Habib Jakfar bin Syeikhon Assegaf telah wafat, jasad beliau memang telah terkubur, namun semangat da’wah dan ibadah beliau tak pernah mati, masih meliputi kehidupan orang-orang yang dicintai, termasuk masyarakat Kota Pasuruan. Terbukti, majelis-majelis yang telah beliau rintis semasa hidupnya, kini justru semakin berkembang. Muslimin kota Pasuruan tambah hari kian bersemangat memakmurkan majelis-majelis khoir (kebaikan) itu.
Sepeninggal beliau majelis tersebut dilanjutkan oleh Habib Abdul Qodir bin Husein Assegaf, sang menantu. Saat ini, estafet dakwah diteruskan anak cucu beliau, diantaranya Habib Taufiq Assegaf, putra Habib Abdul Qodir. Beberapa tahun terakhir majelis itu kian makmur, diiringi perkembangan media dakwah lainnya seperti pesantren, radio dan televisi dakwah.
Semoga saja sirah ini tidak hanya mengundang decak kagum pembacanya, namun juga menumbuhkan semangat untuk mendekatkan diri pada kebaikan, bersama orang- orang yang baik.


8 Komentar

  1. Hasan Achmad mengatakan:

    Selamat atas blog barunya. Semoga bisa menjadi wadah komunikasi santri Sunniyah Salafiyah. Maju terus Sunsal….

  2. Fachry Ass mengatakan:

    Assalamualaikum Wr Wb. Ahlan wa sahlan, alhamdulillah skrg Sunsal dah pny blog jd kita2 bs silaturahmi dan saling kasih pendapat untuk kemajuan Sunsal dan da’wah Hb Taufik Ass. Kl boleh usul di blog ini ada forum khusus tanya jawab antara alumni santri/santri kepada Al Ust Taufik Ass. sekian trima kasih Wassalamualaikum wr wb

  3. chadiq mengatakan:

    Dukungan terus forsansalaf….
    Slamat atas peluncuran blog forsansalaf
    tambah majuuuu oooooy!!!

  4. lidya mengatakan:

    tiada hujan yang lebih diharapkan turunnya, dari pada hujan berkah dari semua cucu Baginda Nabi Muhammad SAW. semoga forsasalaf senantiasa sukses dalam segala dakwakwahnya.

  5. akbaralatas mengatakan:

    maju terus sunsal … semoga dngn adanya blog ini aliran2 sesat d negara kita akan musnah selama-lamanya………. hidup habib taufik!!!!

  6. M.Nasih Annaji mengatakan:

    sepasang suami isteri telah melaksankan nikah sirri, kemudian mereka ingin mendaptkan surat nikah resmi dari Kua, maka mereka melaksanakan akad nikah lagi di Kua, benarkah akad nikah yg kedua ini membatalkan akad nikah yang pertama? kalau benar di kitab mana dasarnya?

  7. naufal mengatakan:

    ana dari penggemar forsan salaf di BALI , …ada kejanggalan di salah satu masyarakat nguling dalam acara PERNIKAHAN yang baru 1-2 mngg ini terjadi ,ceritanya ana punya teman dr denpasar menikah sirri dengan wanita katanya alumni salah satu pondok..anehnya …….setelah terjadi pernikahan sirri itu, si laki2 yang asalnya dari DENPASAR ini, tidak di ijinkan membawa istrinya,harus nunggu sampai bulan syawwal , DENGAN ALASAN :
    – belum di adakan rame2 / walimah
    – belum di catatkan di KUA
    – belum berkumpulnya keluarga besarnya..
    apakah itu alasan masuk akal.?? dan benar menurut syare’at ..sekarang ini jadi perbincangan santer di salah satu wilayah denpasar,, sampai di angkat di khutbah jum;at.
    …ada sebagian saran orang2 tua yang tidak mengerti hukum , dia bilang batalkan saja ,dan tinggalkan ….jawaban sebagian . kan kasihan!!!!!!!!!
    pertanyaannya :
    1. APAKAH ADAT DI NGULING ITU SEPERTI ITU ?
    2.APA MEMANG DI BENARKAN ULAMA’ SETEMPAT,K.U.A, dan masyarakat lainnya
    3.gmn solusi yang tepat untuk sohib ana ini ?

  8. naufal mengatakan:

    mohon ya akhi yang ngerti untuk jawabannya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: